SILABUS DAN RPP BLOG

RPP lengkap Kurikulum 2013 dan KTSP

KUMPULAN SKRIPSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN SIKAP TERHADAP PERGAULAN BEBAS REMAJA DI KAMPUNG JOYONEGARAN



BAB I
PENDAHULUAN

A.   Penegasan Judul

Untuk menghindari disinterprestasi (kesalahpahaman) dalam memahami judul skripsi ini, maka penulis memandang perlu untuk memberikan penegasan serta pembatasan lebih lanjut mengenai istilah-istilah dan maksud yang ada pada judul skripsi ini. Dalam judul ada beberapa istilah yang perlu penulis jelaskan dan dapat diuraikan sebagai berikut :
  1. Konsep Diri
Konsep diri menurut Hurlock dalam Catur merupakan pengertian dan harapan seseorang mengenai bagaimana dirinya yang dicita-citakan dan bagaimana dirinya dalam realita yang sesungguhnya, baik secara fisik maupun psikologiknya.[1] Konsep diri seseorang berkaitan dengan kepribadiannya. Kalau kepribadian seseorang dapat diamati dari perilakunya dalam berbagai situasi dari pola reaksinya maka konsep diri tidak langsung dapat diamati seperti halnya perilaku ekspresi seseorang, konsep diri terlihat dari pola reaksi seseorang dapat diamati dari reaksi yang tetap yang mendasari pola perilakunya.
Dalam penelitian ini penulis menegaskan ada 2 macam konsep diri yaitu konsep diri positif dan negatif. Seperti orang yang memiliki pola perilaku optimis, tidak mudah menyerah dan selalu ingin mencoba pengalaman yang baru yang dianggap berguna, pola perilaku tersebut merupakan pencerminan konsep diri positif. Sebaliknya orang yang menganggap kurang mampu, takut menghadapi hal-hal yang baru dan takut tidak berhasil maka perihal tersebut merupakan pencerminan dari konsep diri negatif.

2.   Sikap
Sikap atau attitude adalah kecenderungan untuk memberikan penilaian (menerima atau menolak) terhadap objek yang dihadapi. Pergaulan bebas adalah pergaulan yang tidak mengenal batas norma dan adat yang ada di lingkungannya. Sikap dikatakan sebagai respon evaluatif. Respons hanya akan timbul apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya reaksi yang dinyatakan sebagai sikap tersebut, timbulnya didasari oleh proses evaluasi dalam diri individu yang memberi kesimpulan terhadap stimulus dalam bentuk nilai baik- buruk, positif- negatif,  menyenangkan- tidak menyenangkan, yang kemudian mengkristal sebagai potensi reaksi terhadap obyek sikap.[2]
Berdasarkan definisi di atas maka penelitian ini penulis menekankan pada respons atau sikap remaja terhadap pergaulan bebas. Sikap atau responsnya cenderung menerima atau menolak terhadap pergaulan bebas.

3. Pergaulan Bebas
Menurut Sarwono dalam Catur pergaulan bebas adalah pergaulan yang melibatkan pembauran antara laki-laki dan perempuan dengan tidak mengindahkan norma dan adat yang ada dilingkungannya.
Dalam definisi di atas penulis menekankan pada pergaulan bebas seperti pacaran di luar batas, kumpul kebo, seks di luar nikah dan lain-lain.

4. Remaja
 Remaja merupakan masa transisi kehidupan antara masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang ditandai dengan perubahan-perubahan fisik dan psikologisnya. Dalam penelitian ini penulis menekankan pada remaja yang berusia 12 sampai 22 tahun.

B.   Latar Belakang Masalah

Manusia dalam kehidupannya selalu membutuhkan orang sebagai teman hidup, karena manusia tidak dapat hidup sendirian. Dalam menjalani kehidupannya manusia menempati lingkungan tertentu, sehingga manusia tersebut dapat melakukan peranannya dan dapat memenuhi kebutuhannya, yang menyebabkan manusia berbuat dan bertindak sebagai makhluk sosial. Manusia sebagai makhluk sosial selalu membutuhkan pergaulan dengan orang lain, agar mencapai taraf tingkah laku yang baik dalam hidupnya. Setiap individu bereaksi atau berinteraksi satu dengan yang lainnya, baik kelompok maupun dalam masyarakat. Dengan adanya interaksi ini akan menyebabkan adanya pergaulan antar individu dalam kelompok ataupun dalam masyarakat.
Dalam interaksi sosial ini terjadi proses pengaruh mempengaruhi, imitasi dan identifikasi, yang akhirnya akan terjadi perubahan sosial. Perubahan sosial yang tidak disertai dengan kesiapan diri dan peningkatan kehidupan spiritual menyebabkan mudah terjadinya pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan.
Dengan kebutuhannya terhadap orang lain maka manusia harus saling kenal mengenal agar dapat bergaul satu dengan yang lain seperti Firman Allah dalam surat Al-Hujurat ayat 13 :



Artinya: Hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Al-Hujurat  ayat 13)[3]

Pergaulan merupakan suatu hubungan antara manusia yang tidak dapat dihindarkan akan tetapi pergaulan ini seringkali menimbulkan persoalan, sehingga justru menimbulkan kesulitan bagi orang yang bersangkutan. Pergaulan yang mengakibatkan timbulnya kesulitan, kurang membantu kelancaran hidup bahkan menimbulkan kegoncangan jiwa dan akan menghambat dan merugikan individu yang bersangkutan.
Menurut Simanjuntak dalam Catur, pergaulan yang dilakukan oleh manusia akan mengakibatkan timbulnya persamaan dan perbedaan kepentingan, kewajiban dan hak. Kalau hal ini tidak diatur akan timbul kekacauan dan kerusakan. Pada hakikatnya pergaulan manusia harus tertuju pada keamanan. Ketentraman dan keselamatan maka akan menimbulkan suatu pergaulan yang hampir meremehkan moral, yang dengan kata lain disebut pergaulan bebas.[4]
Masyarakat Indonesia sedang mengalami perubahan sosial yang cepat akibat bertemunya berbagai kebudayaan dunia. Masyarakat Indonesia cenderung untuk mengikuti cara berpakaian, gaya hidup ataupun pergaulannya.
Masyarakat sebagai lingkungan yang terluas bagi remaja dan sekaligus paling banyak menawarkan pilihan dari mulai gaya hidup, nilai-nilai dan perilaku yang sebelumnya telah tertanam dalam diri remaja.
Secara fenomenal kebudayaan dalam era globalisasi mengarah kepada nilai-nilai sekuler yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa keagamaan, khususnya dikalangan generasi muda. Meskipun dalam sisi-sisi tertentu kehidupan tradisi keagamaan tampak meningkat dalam kesemarakannya, namun dalam kehidupan masyarakat global yang cenderung sekuler barangkali akan ada pengaruhnya terhadap pertumbuhan jiwa keagamaan pada generasi muda.
Dalam kehidupan remaja selalu datang kebudayaan yang belum tentu positif pengaruhnya bagi kehidupan remaja. Remaja yang selektif akan mempelajari dan menerima kebudayaan yang baru untuk menambah wawasan bagi dirinya, dan sebaliknya remaja yang berkonsep diri negatif akan mudah terbawa arus sehingga akan terjerumus dalam kebudayaan yang merusak kepribadiannya dan remaja tersebut akan mengalami keguncangan jiwa yang menjerumus kearah kenakalan remaja atau pergaulan bebas yang tidak Islami.
Menurut Sarwono dalam Primaria pergaulan bebas merupakan pergaulan yang tidak mengenal batas norma dan adat yang ada dilingkungannya.[5]
Remaja dalam menghadapi tantangan hidupnya perlu mendapatkan perhatian semua pihak. Namun demikian sebagai remaja mereka harus menyadari bahwa masa depan mereka ada ditangan mereka sendiri. Masa depan banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan, kebudayaan dan keluarga, akan tetapi faktor yang paling menentukan masa depan bagi remaja adalah remaja itu sendiri.
Masalah yang dihadapi remaja sangat kompleks karena pertumbuhan fisik dan mentalnya. Remaja harus menyesuaikan dari terhadap tuntutan dirinya dan harapan lingkungan yang mengakibatkan adanya perubahan pada kepribadiannya oleh karena itu remaja terkadang merasa gelisah dan cemas. Lingkungan yang baru dan norma yang ada pada lingkungan sering dirasa sebagai suatu keadaan yang menghambat remaja di dalam menyatakan dirinya secara wajar. Kondisi remaja yang seperti ini mengakibatkan kegagalan dalam menyesuaikan diri dan pencapaian konsep diri yang mantap karena ketidakmampuan dirinya berperilaku sebagai remaja yang bertanggungjawab.
Sikap dan pandangan individu terhadap seluruh keadaan dirinya merupakan pengertian konsep diri. Seseorang yang memiliki konsep diri yang baik akan mampu menghadapi tuntutan dari dalam diri maupun dari luar dirinya. Sebaliknya seseorang yang memiliki konsep diri negatif kurang mempunyai keyakinan diri, merasa kurang yakin dengan kepuasannya sendiri dan cenderung mengandalkan opini dari orang lain dalam memutuskan. Dan tiap orang memiliki konsep diri yang berbeda-beda, meskipun tidak ada yang orang yang betul-betul sepenuhnya berkonsep diri positif atau negatif.
Konsep diri merupakan serangkaian pendapat individu mengenai dirinya. Seseorang yang memiliki konsep diri positif akan mampu menjalani kehidupannya berdasarkan al-Qur’an dan hadist, akan tetapi remaja yang berkonsep diri negatif perilaku mereka tidak didasari oleh al-Qur’an dan hadist sehingga mereka cenderung mempunyai perilaku dan harapan yang rendah terhadap keberhasilannya.
Al-Qur’an ataupun hadist sangat menentukan dalam membentuk konsep diri seseorang. Karena konsep diri berperan dalam menentukan keberhasilan dan kegagalan remaja serta sangat mempengaruhi kepribadiannya dalam masyarakat.[6]
Keadaan serba tidak tahu banyak terjadi di negara-negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Dan ini sangat berbahaya pada masyarakatnya dan akan menimbulkan kebingungan, sebab masyarakat tidak tahu akan dirinya sendiri dan mereka harus berhadapan dengan pola kehidupan masyarakat Barat yang tidak berdasarkan atas al-Qur’an dan Hadist.
Dalam keadaan yang demikian remaja butuh suatu pegangan dalam dirinya yaitu suatu kejelasan konsep yang dapat dijadikan sarana untuk bertingkah laku dalam menghadapi segala masalah hidupnya.


C.   Rumusan Masalah

1.        Bagaimanakah konsep diri remaja?
2.        Bagaimana  sikap remaja terhadap pergaulan bebas?
3.        Apakah ada hubungan antara konsep diri dengan sikap terhadap pergaulan    bebas remaja di Kampung Joyonegaran Kelurahan Wirogunan Kecamatan  Mergangsan Kota Yogyakarta?

D. Tujuan Penelitian

1.   Untuk mengetahui konsep diri remaja.
2.   Untuk mengetahui  sikap remaja terhadap pergaulan bebas.
3.  Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara konsep diri dengan sikap terhadap pergaulan bebas remaja di Kampung Joyonegaran  Kelurahan  Wirogunan  Kecamatan Mergangsan Kota Yogyakarta.

E.   Manfaat Penelitian
Kegunaan penelitian ini adalah:
1.      Kegunaan Teoritis
Diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu dakwah, khususnya dalam hal   bimbingan konseling  terhadap remaja yang berkonsep diri negatif.



2.      Kegunaan Praktis
Dapat memberikan tambahan wawasan pengetahuan bagi konselor untuk menentukan suatu metode dalam melakukan konseling terhadap remaja yang berkonsep diri negatif.

F.   Kerangka Teori
1.   Sikap  
a. Pengertian Sikap
Sikap atau attitude adalah kecenderungan untuk memberikan penilaian (menerima atau menolak) terhadap obyek yang dihadapi.[7]
Ajzen dan Fishbein dalam Alimatul mengemukakan sikap merupakan perasaan yang mendalam seseorang terhadap suatu objek sikap, perasaan tersebut dapat positif maupun negatif. Sedangkan Trurstone dalam Alimatul mengatakan suatu tingkatan perasaan, baik yang mendukung atau favorabel, atau yang tidak mendukung atau unfavorabel terhadap objek sikap tersebut.[8]
W.A Gerungan berpendapat bahwa attitude dapat diterjemahkan dengan kata sikap terhadap objek tertentu, yang dapat merupakan sikap pandangan atau sikap perasaan, tetapi sikap mana disertai oleh kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan sikap terhadap objek. Jadi attitude lebih tepat diartikan sebagai sikap dan kesediaan bereaksi terhadap sesuatu hal.[9]
Sikap menurut Louis Thurstone, Rensis Linkert, Charles Osgood adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan.[10] Menurut Berkowitz sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorabel) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorabel) pada objek tersebut.[11]
Pengertian lain mengenai sikap dikemukakan oleh Secord dan Backman sikap sebagai keteraturan tertentu dalam hal perasaan (afeksi), pemikiran (kognisi), dan predisposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu aspek di lingkungan sekitarnya.[12]


Artinya: Hai orang-orang yang beriman jagalah dirimu sendiri. (Al-Maaidah:105)[13]

Menurut Cacioppo dan petty bahwa sikap merupakan evaluasi atau penilaian seseorang terhadap objek sikap yang tercermin dalam suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju, mendukung atau tidak mendukung sebagai potensi reaksi terhadap objek sikap tersebut.[14]
b. Struktur Sikap
Dari strukturnya sikap terdiri atas 3 komponen yang saling menunjang, yaitu :
1)      Komponen Kognitif (cognitive)
Komponen kognitif berisi persepsi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi objek sikap.[15]
Mann menjelaskan komponen kognitif berisi persepsi, kepercayaan dan stereotype yang dimiliki individu mengenai sesuatu. Seringkali komponen kognitif ini dapat disamakan dengan pandangan (opini), terutama apabila menyangkut masalah isyu, atau problem yang kontroversal.[16]
Krech dkk. dalam Alimatul, menyatakan komponen kognitif terbentuk dari pengetahuan atau kepercayaan yang dimiliki seseorang terhadap objek sikap, pengetahuan tersebut diperoleh dari informasi mengenai objek sikap, dan informasi ini dapat melalui pengalaman pribadi atau didapat dari orang lain, dari pengetahuan ini terbentuk keyakinan seseorang mengenai objek sikap.[17]
2)   Komponen Afektif
Komponen afektif menyangkut masalah emosional subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap secara umum komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu.
Mann berpendapat bahwa komponen afektif merupakan perasaan individu terhadap objek sikap dan perasaan menyangkut masalah emosional.[18]
Komponen afektif  merupakan emosional subjektif seseorang terhadap objek sikap yang berkaitan dengan perasaan seseorang mendukung  tidak mendukung, atau suka tidak suka terhadap suatu objek sikap.[19]
3)   Komponen Konatif
Komponen konatif atau konsep perilaku dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya. Pengertian kecenderungan berperilaku menunjukkan bahwa komponen konatif meliputi bentuk perilaku yang tidak hanya dapat dilihat secara langsung saja, akan tetapi meliputi pula bentuk-bentuk perilaku yang berupa pernyataan atau perkataan yang diucapkan seseorang.[20]
Brigham dan Azwar dalam Alimatul menyebut sebagai behavior component yaitu kecenderungan untuk berperilaku yang ada dalam diri seseorang yang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapi. Dengan demikian komponen konatif ini adalah kecenderungan seseorang untuk bertindak, yaitu menjauhi, atau mendekati terhadap suatu objek sikap.[21]
c. Ciri-ciri Sikap, yaitu :
1)      Sikap tidak dibawa sejak lahir, karena sikap didapat melalui proses belajar dan pengalaman.
2)      Sikap selalu berhubungan dengan objek yang dipersepsi oleh individu.
3)      Sikap melibatkan perasaan dan motivasi.
4)      Sikap dapat berlangsung sebentar, tetapi dapat menetap, tergantung kuat tidaknya keyakinan seseorang terhadap objek sikap tersebut.[22]
d. Faktor-faktor Dalam Pembentukan Dan Perubahan Sikap
1)   Faktor-faktor Pembentukan Sikap :
a)   Pengalaman Pribadi
Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat, karena sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan emosi. Penghayatan akan pengalaman akan lebih mudah mendalam dan lebih lama berbekas.
Middlebrook menyatakan bahwa tidak adanya pengalaman sama sekali dengan suatu objek psikologis cenderung akan membentuk sikap negatif terhadap objek tersebut.[23]
b)   Pengaruh Orang Lain Yang Dianggap Penting
Middlebrook pada masa anak-anak dan remaja, orang tua biasanya menjadi figure yang paling berarti bagi anak. Interaksi antara anak dan orang tua merupakan determinan utama sikap anak. Sikap orang tua dan sikap anak cenderung untuk selalu sama sepanjang hidup.[24]
Gerungan menambahkan bahwa dalam keluarga seseorang merasakan adanya hubungan batin karena norma-norma kebudayaan serta sikap-sikapnya terhadap berbagai hal adalah sesuai dengan diri pribadinya. Dengan demikian dari keluarga pula seseorang memperoleh norma-norma dasar dan sikap-sikap pertama.[25]
c)   Pengaruh Kebudayaan
Burrhus Frederic Skinner menekankan pengaruh lingkungan termasuk kebudayaan dapat membentuk pribadi seseorang. Kepribadian tidak lain dari pada perilaku yang konsisten yang menggambarkan sejarah reinforcement (penguatan, ganjaran) yang kita alami.[26]
d)   Media Massa
Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti TV, radio, surat kabar, majalah dll mempunyai pengaruh yang besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang lain. Gerungan berpendapat bahwa media massa berpengaruh besar dalam membentuk dan merubah sikap. Radio, TV, surat kabar, majalah dll relatif mudah membentuk sikap orang banyak.[27]
e)   Lembaga Pendidikan Dan Lembaga Agama
Lembaga pendidikan serta lembaga agama sebagai suatu sistem mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap karena keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman antara baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan, diperoleh dari pendidikan dan dari pusat keagamaan serta ajaran-ajarannya.
Dikarenakan konsep moral dan ajaran agama sangat menentukan sistem kepercayaan maka tidaklah mengherankan kalau pada gilirannya kemudian konsep tersebut ikut berperan dalam menentukan sikap individu terhadap sesuatu hal.[28]
f)    Pengaruh Faktor Emosional
Suatu bentuk sikap kadang-kadang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. Sikap demikian dapat merupakan sikap yang sementara dan segera berlalu begitu frustasi hilang akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang lebih persisten dan tahan lama.[29]
Gerungan memberi istilah faktor ini dengan faktor intern atau faktor individu itu sendiri, karena itu faktor ini justru menjadi penentu, apakah objek sikap tertentu itu akan diterima, apakah tidak. Adanya aksi dari luar akan diseleksi oleh subjek pemilik sikap, apakah positif atau negatif, apakah cocok dengan hal yang telah diketahui sebelumnya ataukah tidak, apakah menyenangkan atau menjerumuskan.[30]
2)   Faktor-faktor Perubahan Sikap :
                Kelman menyebutkan secara khusus tentang proses yang mempengaruhi perubahan sikap adalah:
a)       Kesediaan, dimana individu bersedia menerima pengaruh dari orang lain atau dari kelompok lain untuk memperoleh reaksi atau tanggapan positif dari orang lain.
b)      Proses identifikasi, terjadi apabila individu meniru perilaku atau sikap seseorang dikarenakan sikap tersebut sesuai yang dipilihnya.
c)       Proses imitasi, dimana proses ini terjadi apabila individu menerima pengaruh dan bersedia bersikap menurut pengaruh dari luar karena sikap tersebut sesuai dengan nilai yang dianutnya.[31]
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa sikap adalah suatu bentuk evaluatif atau reaksi perasaan seseorang terhadap objek adalah mendukung (favorable) atau tidak mendukung (unfavorable). Dapat dikatakan juga bahwa sikap merupakan suatu kesiapan mental dalam suatu tingkah laku yang dinyatakan langsung maupun tidak langsung. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan sikap adalah faktor dari dalam dan faktor dari luar. Adapun proses perubahan dan pembentukan sikap adalah kesediaan, proses identifikasi serta proses internalisasi. Sikap juga merupakan kecenderungan untuk bertingkah laku terhadap suatu objek, objek sikap berupa orang, benda atau situasi tertentu.

2.          Pengertian Pergaulan Bebas
Pergaulan merupakan suatu hubungan yang meliputi suatu tingkah laku individu. Pergaulan antar sesama manusia harus bertujuan pada keamanan, ketentraman, kesenangan dan keselamatan. Apabila dalam pergaulan khususnya remaja yang tidak bertujuan pada keamanan, ketentraman, kesenangan dan keselamatan, maka akan menimbulkan suatu pergaulan atau hubungan yang meremehkan moral.
Pergaulan bebas dan kenakalan remaja tidak dapat dilepaskan dari konteks kondisi sosial budaya jamannya. Pergaulan bebas dan kenakalan remaja berkaitan dengan kehidupan remaja yang pengaruh sosial dan kebudayaannya memainkan peranan  yang besar dalam pembentukan dan pengkondisian tingkah laku.
Menurut Gunarsa dalam Catur menyatakan pergaulan bebas adalah suatu pergaulan yang luas antara pemuda-pemudi pergaulan yang terbatas antara muda mudi yang berarti adanya suatu kekhususan, sehingga orang mengatakan bahwa kedua muda mudi tersebut berpacaran.[32]
Pengalaman berpacaran berpengaruh terhadap pergaulan bebas antara lawan jenis pada remaja. Hal ini disebabkan karena pacaran merupakan proses yang secara pasti dan perlahan-lahan menuju kearah keintiman yang lebih jauh sehingga berakibat semakin meningkatnya keinginan-keinginan seksual.
Menurut Sarwono pergaulan bebas merupakan pergaulan yang tidak mengenal batas norma dan adat yang ada dilingkungannya. Dalam pergaulan bebas yakni bergaul dengan siapa saja tidak pandang laki-laki ataupun perempuan.
a.   Fakta-fakta Yang Mempengaruhi Pergaulan Bebas Pada Remaja
         Menurut Gunarsa  fakta-fakta yang mempengaruhi pergaulan bebas , yaitu :
1)      Waktu, dengan adanya waktu luang yang tidak bermanfaat akan lebih mudah menimbulkan adanya pergaulan bebas. Dalam arti remaja putra-putri yang mementingkan hura-hura dan berkumpul dan bergadang akan lebih mudah terbawa arus pergaulan bebas.
2)      Kurangnya pelaksanaan ajaran agama secara konsekuen, terutama sekali bagi remaja yang kurang melaksanakan ajaran agama yang dianutnya.
3)      Kurangnya pengawasan terhadap remaja, orang tua terlalu ketat dan tidak memberikan kebebasan serta orang tua terlalu sibuk di luar rumah sehingga remaja kurang perhatian dan pengawasan.
4)      Adanya faham seks sekuler, yang sudah membudaya dalam pergaulan remaja dan masyarakat, misalnya :
a)       Cara-cara berpakaian yang tidak langsung menutupi bagian tubuh yang rahasia.
b)      Sistem pacaran atau tunangan yang tidak mengenal batas lagi. Dimana hubungan pria dan wanita sudah intim dan bebas layaknya suami istri yang sah.
c)       Pemilihan ratu-ratu kecantikan dan bermacam-macam kontes.
5)      Pengaruh norma baru dari luar, kebanyakan anggota masyarakat beranggapan bahwa setiap norma yang baru datang dari luar itulah yang benar, sebagai contoh ialah norma yang datang dari barat, baik melalui film, televisi, pergaulan sosial, model dan lain-lain. Remaja dengan cepat menelan apa saja yang dilihat dari film barat, contohnya pergaulan bebas.[33]
Akhir-akhir ini melalui berbagai alat komunikasi, baik melalui bacaan maupun film di televisi, remaja banyak dijadikan objek pembahasan. Pergaulan bebas pada layar televise maupun bioskop dapat merangsang remaja untuk turut membaca dan melakukan pergaulan bebas dan kenakalan remaja.
b.  Bentuk-bentuk Pergaulan Bebas
1)      Kumpul kebo yaitu pergaulan yang menjerumus ke arah seksual antara jenis kelamin yang berbeda tanpa adanya ikatan perkawinan atau hidup bersama sebelum menikah.
2)      Berpesta pora semalam suntuk tanpa pengawasan sehingga mudah menimbulkan tindakan-tindakan yang kurang bertanggung jawab atau amoral dan asosial.
3)      Ikut dalam pelacuran atau melacurkan diri baik dengan tujuan kesulitan ekonomi maupun tujuan lain.
4)      Keluyuran pergi sendiri maupun berkelompok tanpa tujuan, akan menimbulkan perbuatan iseng yang negatif.
5)      Pelecahan seksual (sexual harassment) berarti perilaku yang menyangkut pernyataan seksual. Berbentuk komentar-komentar, gerakan isyarat hingga kontak fisik yang dilakukan dengan sengaja dan berulang-ulang yang tidak bisa diterima oleh penderita. Ragam tindakan pelecehan ini dapat berupa siulan nakal, gurauan dan olok-olokan seks, pernyataan mengenai tubuh atau penampilan fisik, nyolek atau mencubit, memandang tubuh dari atas hingga bawah, memegang tangan, meletakkan tangan di atas paha, mencuri cium, memperlihatkan gambar porno ataupun mencoba memperkosa.
6)      Pacaran yang bukan sekedar berkumpul untuk belajar, akan tetapi ada unsur rasa senang dan perasaan bergelora dengan disertai peracikan bunga api cinta.[34]
                Remaja yang terjerumus ke pergaulan bebas karena ketidak mampuan remaja dalam memanfaatkan waktu luang dan tidak dapat mengendalikan diri terhadap dorongan meniru dan kurangnya pengetahuan tentang agama. Remaja yang terjerumus ke pergaulan bebas mempunyai perilaku seperti melakukan hubungan seks di luar nikah, minum-minuman keras, ataupun berjudi.
c.  Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Sikap Remaja Terhadap Pergaulan Bebas
1)    Pribadi subjek
2)    Lingkungan keluarga
3)    Lingkungan sosial[35]
      Faktor-faktor yang berpengaruh pada sikap remaja terhadap pergaulan bebas antar jenis, dapat dilihat dari pribadi yang meliputi faktor biologis, pengetahuan tentang seks yang dimiliki, pergaulan pribadi, kebebasan, kesempatan, anggapan yang salah, umur, jenis kelamin, pendidikan dan agama.[36]
Dalam pergaulan bebas yakni bergaul dengan siapa saja tanpa pandang laki-laki ataupun perempuan atau sebaliknya. Pergaulan bebas dapat diartikan sebagai suatu proses hubungan timbal balik antara individu yang satu dengan individu yang lain, dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi atau mengubah kelakuan individu yang lain.
Faturrochman menyatakan meluasnya perilaku pergaulan bebas remaja sekarang ini dikarenakan sekarang lebih bebas bertindak, mengeluarkan pendapat serta bebas dalam memilih teman, sehingga sedikit demi sedikit perilaku itu terbentuk.[37]
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pergaulan bebas merupakan hubungan timbal balik antar individu yang satu dengan individu yang lain tanpa memandang laki-laki ataupun perempuan yang saling mempengaruhi atau mengubah kelakuan individu yang lain tanpa mengindahkan batas norma agama dan adat yang ada dilingkungannya.

3.         Pengertian Sikap Terhadap Pergaulan Bebas Remaja
Kata remaja berasal dari istilah bahasa Inggris adolescence dan dari bahasa latin adolescere, artinya tumbuh menjadi dewasa dengan melalui masa peralihan yang disertai dengan perubahan-perubahan fisiknya yaitu antara usia 12-22 tahun. Menurut Gunarsa dan Turner Helms dalam Martha Yulia remaja merupakan masa transisi kehidupan antara masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang ditandai dengan perubahan-perubahan fisik dan psikologis. Sarwono menggunakan batasan usia 11 hingga 22 tahun merupakan mulainya perkembangan fisik, sosial dan psikologik.[38]
Gunarsa menyatakan ada beberapa ciri khas pada remaja yaitu:
a.       Ada perasaan canggung dan kaku dalam pergaulan, sehingga ada rasa rendah diri.
b.       Adanya ketidakseimbangan emosi, sehingga menyulitkan orang lain untuk mengadakan pendekatan dengan dirinya.
c.       Adanya perombakan pandangan dan pertunjuk hidup, menyebabkan perasaan kosong di dalam diri remaja.
d.      Sikap menentang orang tua atau orang dewasa lainnya.
e.       Konflik yang ada pada diri remaja sering menjadi pangkal penyebab timbulnya pertentangan dengan orang tua dan anggota keluarga lainnya.
f.        Kegelisahan dan keadaan yang tidak senang menguasai diri remaja. Banyak hal yang diinginkan remaja tetapi tidak semua sanggup dipenuhinya.
g.       Remaja mempunyai keinginan besar yang mendorongnya suka melakukan segala kegiatan orang dewasa.
h.       Eksplorasi (keinginan untuk menjelajahi lingkungan alam sekitar).
i.         Banyaknya fantasi, khayalan dan bualan merupakan ciri khas remaja.
j.         Kecenderungan membentuk kelompok dan melakukan kegiatan berkelompok.[39]
Artinya: Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan apa yang ada pada suatu kaum, hingga lebih dahulu mereka merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. (Ar-Ra’d:11)

Perubahan pokok dalam moralitas selama masa remaja terdiri dari mengganti konsep-konsep moral, khususnya dengan konsep-konsep moral tentang benar dan salah yang bersifat umum, membangun kode moral berdasarkan pada prinsip-prinsip moral individu dan mengendalikan perilaku melalui perkembangan hati nurani.[40]
Tugas perkembangan remaja adalah yang berhubungan dengan penyesuaian sosial. Remaja harus menyesuaikan diri dengan lawan jenis dalam hubungan yang sebelumnya belum pernah ada dan harus menyesuaikan dengan orang dewasa di luar lingkungan keluarga dan sekolah.[41]
Kadang-kadang remaja bersikap atau berperilaku di luar kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat, dengan tujuan ingin memperlihatkan kemampuannya kepada orang lain ataupun orang tuanya. Kenyataan ini terlihat dalam perilaku seksual yang berhubungan dengan pergaulan sosial remaja, seperti mendekati lawan jenisnya. Remaja pria mulai terdorong untuk mendekati remaja putri dan remaja putri mulai terdorong untuk mendekati remaja pria. Hal ini disebabkan remaja bersikap positif terhadap pergaulan bebas antar jenis kelamin, dimana pergaulan bebas sudah menjadi bagian dari kehidupannya. Akibatnya hamil di luar nikah merupakan fenomena yang dapat terjadi dimana-mana, baik di kota, di desa ataupun di lingkungan sekolah.

4.         Konsep Diri
a.    Pengertian Konsep Diri
Konsep dalam kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai pengertian, pendapat (faham), rancangan (cita-cita) yang telah ada dalam pikiran.[42]
Secara umum konsep diri (self-concept) merupakan cara keseluruhan informasi yang kompleks, yang secara keseluruhan membentuk diri seseorang.[43]
William mendifinisikan konsep diri sebagai pandangan dan perasaan kita tentang diri kita.[44]
Rahmad menyatakan konsep diri bukan hanya sekedar gambaran deskriptif  saja, tetapi juga penilaian individu terhadap dirinya. Jadi konsep diri meliputi apa saja yang dipikirkan dan apa yang dirasakan tentang individu sendiri.
Ada dua komponen konsep diri, yaitu :
1)      Komponen kognitif disebut citra diri (self image)
2)      Komponen afektif  disebut harga diri (self esteem)[45]
Komponen kognitif merupakan pengetahuan individu, gambaran diri tersebut akan membentuk citra diri. Sedangkan komponen afektif merupakan penilaian individu terhadap dirinya sendiri.
Mowen mendifinisikan konsep diri sebagai cerminan totalitas pemikiran dan perasaan individu yang merujuk pada diri sendiri sebagai sebuah objek.[46]
Mowen juga membagi tipe konsep diri menjadi delapan, yaitu : ideal self, social self, ideal social self, expected self, situasional self, extended self dan possible self.
Sementara Atwater membedakan konsep diri menjadi empat,   yaitu :
1)      Subjective self (diri subjektif) yaitu cara seseorang memandang dirinya sendiri.
2)      Body image (citra tubuh) yaitu cara seseorang memandang tubuhnya.
3)      Ideal self (diri ideal) yaitu diri yang diinginkan seseorang, termaksud aspirasi, moral ideal dan nilai.
4)      Social self  yaitu persepsi diri berkaitan dengan pengaruh sosial  yang ada.[47]
Menurut Carl Rogers dalam Yuni menyatakan konsep diri seseorang dalam kehidupan secara bertahap berkembang. Seseorang berusaha menjadi dirinya sendiri (diri aktual atau real self) dengan patokan yang disebut ideal self, yaitu diri ideal yang ingin dicapai seseorang. Keseimbangan atau ketidakseimbangan antara diri aktual dan diri ideal inilah yang menentukan kedewasaan (motority) penyesuaian (adjustment) dan kesehatan mental seseorang.[48]
Calhoun dalam Yuni menyatakan bahwa konsep diri terdiri dari tiga dimensi, yaitu:
1)      Pengetahuan terhadap diri sendiri.
2)      Harapan terhadap diri sendiri.
3)      Evaluasi terhadap diri sendiri.[49]
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konsep diri adalah persepsi individu terhadap dirinya sendiri. Persepsi terhadap diri sendiri itu bukan hanya penilaian terhadap diri sendiri melainkan juga penilaian atau penaksiran mengenai diri sendiri oleh individu yang bersangkutan. Persepsi terhadap diri sendiri ini dibentuk oleh pengalaman-pengalaman dan pendapat dari lingkungan yang dipengaruhi oleh penguatan, penilaian orang lain dan pribadi individu bagi tingkah lakunya, baik segi fisik, psikis dan sosial yang akan membentuk sikap, kepercayaan dan nilai diri individu. Oleh karena itu konsep diri mempunyai pengaruh besar terhadap tingkah lakunya


NB : JIKA SOBAT INGIN VERSI LENGKAP DARI SKRIPSI INI, SILAHKAN REQUEST DIKOLOM KOMENTAR DENGAN MENINGGALKAN E-MAILNYA........
Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "KUMPULAN SKRIPSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN SIKAP TERHADAP PERGAULAN BEBAS REMAJA DI KAMPUNG JOYONEGARAN "

PageRank

PageRank for wirajunior.blogspot.com
 
Template By Kunci Dunia
Back To Top