SILABUS DAN RPP BLOG

RPP lengkap Kurikulum 2013 dan KTSP

CONTOH SKRIPSI ILMU TARBIYAH AJARAN ISLAM ATAU LEBIH KHUSUS SYARI’AT ISLAM



BAB II
LANDASAN TEORI

A.      Tinjauan Tentang Kehidupan Sosial

1.      Pengertian Sikap Sosial
Ajaran Islam atau lebih khusus syari’at Islam mempunyai titik singgung yang sangat kompleks dengan masalah-masalah sosial. Karena syari’at Islam itu sendiri justru mengatur hubungan antara manusia (individual maupun kelompok) dengan Allah SWT, antara sesama manusia dan antara manusia dengan alam.[1]
Hubungan pertama terumuskan dalam bentuk ibadah (baik individual maupun sosial). Interaksi kedua terumuskan dalam bentuk mu’amalah dan mu’asyarah.[2] Prinsip mu’amalah dalam Islam tidak menitikberatkan pada penguasaan mutlak bagi kelompok saja, tetapi Ia juga tidak menitikberatkan penguasaan bagi individu secara mutlak yang cenderung pada sikap monopoli tanpa memiliki konsen (kepedulian) terhadap yang lain, sebagaimana dalam kapitalisme (al-ra’sumaliah al-mutlaqah).
Akan tetapi Islam menghargai hak penguasaan individual yang diimbangi dengan kewajiban dan tanggung jawab masing-masing dan tanggung jawab kelompok. Pembuktian prinsip ini bisa dilihat pada pelbagai hal, antara lain berlakunya hukum waris, zakat, kebutuhan pokok sehari-hari dan lain-lain.
Sedangkan prinsip mu’asyarah dalam Islam dapat dilihat dalam berbagai dimensi kepentingan dan struktur sosial. Dalam kepentingan kemaslahatan umum, kaum muslimin dituntut oleh ajaran Islam sendiri agar bekerja sama dengan penuh  dengan pihak-pihak di luar Islam.[3] Sedangkan antara kaum muslimin sendiri, Islam telah mengatur hubungan interaksinya dalam kerangka ukhuwah Islamiyah bagi segala bentuk sikap dan perilaku pergaulan sehari-hari.[4]
Dari sisi struktur sosial yang menyangkut stratifikasi sosial bisa dilihat, bagaimana ajaran Islam mengatur interaksinya, misalnya hubungan lingkar balik. Pendek kata, dalam Islam terdapat aturan terinci mengenai mu’asyarah antara berbagai kelompok sosial dengan berbagai status masing-masing.


2.      Pengertian Akhlak
Perkataan akhlak berasal dari  bahasa Arab  jama'  dari “khuluqun” yang menurut lughat diartikan: budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat.
Adapun secara terminologi yang dikemukakan oleh ulama akhlak adalah sebagai berikut:

اَلأَخْلاَقُ هُوَ تَقْيِيْمُ اْلأَعْمَالِ اْلإِنْسَانْيَّةِ عَلَى ضَوْءِ تَحْدِيْدِهِ لِقِيْمَةِ كُلٍّ مِنَ الْخَيْرِ وَالشَّرِّ

“Akhlak ialah Munculnya perbuatan manusia atas dasar cahaya batasan manusia untuk munculnya suatu perkara yang baik dan buruk”.
Selain definisi diatas ada ulama’ lain yang berpendapat bahwa :
a.      Ilmu akhlak adalah ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk, antara yang terpuji dan tercela, tentang perkataan atau perbuatan manusia lahir dan batin.
b.      Ilmu akhlak adalah ilmu pengetahuan yang memberikan pengertian tentang baik dan buruk, ilmu yang mengajarkan pergaulan manusia dan menyatakan tujuan mereka yang terakhir dari seluruh usaha dan pekerjaan mereka.[5]
Jadi Ilmu Akhlak merupakan ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk, terpuji dan tercela, tentang perkataan atau perbuatan manusia lahir dan batin. Dengan lain perkataan, ilmu akhlak adalah,
a.      Menjelaskan arti baik dan buruk.
b.      Menerangkan apa yang seharusnya dilakukan.
c.      Menunjukkan jalan untuk melakukan perbuatan.
d.      Menyatakan tujuan di dalam perbuatan.[6]
Jadi ilmu akhlak adalah ilmu yang mempersoalkan baik buruknya amal, dan amal terdiri dari perkataan, perbuatan atau kombinasi keduanya dari segi lahir dan batin.
Sedangkan menurut Agus Sudjanto pengertian Akhlak sebagai berikut:
Akhlak ialah suatu ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh setengah manusia kepada lainnya menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat.[7]

Akhlak merupakan kelakuan yang timbul dari hasil perpaduan antara hati nurani, pikiran, perasaan, bawaan, dan kebiasaan yang menyatu, membentuk suatu kesatuan tindak akhlak yang dihayati dalam kenyataan hidup keseharian. Dari kelakuan itu lahirlah perasaan moral (moralsence), yang terdapat dalam diri manusia sebagai fitrah, sehingga ia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, mana yang bermanfaat dan mana yang berguna, mana yang cantik dan mana yang buruk.[8]

B.       Kajian Tentang Prestasi Belajar

Masalah yang berkenaan dengan belajar ini cukup banyak mendapatkan perhatian dalam pendidikan, karena pada prinsipnya seluruh kemajuan manusia itu disebabkan karena adanya proses pembelajaran. Demikian pula bagi guru/ pendidik yang menghendaki keberhasilanya dalam proses kegiatan mengajar dituntut memahami mengenai apa, mengapa dan bagaimana proses belajar itu agar memperoleh hasil yang baik dalam proses belajar mengajar.
1.      Pengertian Prestasi Belajar
Istilah prestasi belajar terdiri dari dua kata yaitu prestasi dan belajar. adapun arti prestasi sendiri adalah "hasil yang dicapai, dilakukan, dikerjakan dan sebagainya. Menurut Mas'ud Khasan Abd. Qodir mengemukakan tentang prestasi adalah: "Apa yang telah didapat, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan bekerja".[9]
Menurut Syaiful Bahri Djamarah, bahwa prestasi adalah “hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan baik secara individu maupun kelompok”. Prestasi merupakan penilaian pendidikan tentang perkembangan dan kemajuan murid yang berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran yang disajikan kepada mereka serta nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum.
Sedangkan pengertian belajar menurut para ahli pendidikan diantaranya mengemukakan bahwa belajar adalah "Suatu proses kegiatan anak didik dalam menerima, menanggapi serta menganalisa bahan-bahan yang disaji-kan oleh guru yang berakhir pada kemampuan anak menguasai bahan pelajaran yang telah disajikan".[10] 
Pengertian lain mengenai belajar sebagaimana dikemukakan oleh Djusuf Djajadisastra, "Belajar adalah perubahan yang sedang dialami atau hasil yang telah diperoleh yang menyebabkan seseorang individu berubah dari keadaan semula kekeadaan yang baru yang sifatnya kwantitatif maupun kwalitatif lebih tinggi ".[11]
Affifudin SK, mengemukakan tentang definisi belajar "Belajar adalah suatu proses pembentukan tingkah laku yang mengarah kepada penguasaan pengetahuan, kecakapan, ketrampilan, kebiasaan sikap yang semuanya diperoleh disimpan dan dilaksanakan".[12]
Berdasarkan uraian tersebut di atas, dapatlah dipahami, bahwa dari banyak definisi mengenai belajar itu hampir semua ada unsur kesamaan yang terkandung didalamnya, yakni adanya perubahan dalam diri seseorang. Sedangkan perubahan itu dapat berupa kecakapan, ketrampilan, sikap, kebiasaan, pengertian, pengetahuan dan lain sebagainya baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya yang lebih tinggi.
Sedangkan prestasi belajar adalah penilaian hasil usaha kegiatan belajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol, angka, huruf maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak dalam periode tertentu.[13]
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah penilaian pendidikan yang berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran sebagai hasil suatu proses belajar yang dinyatakan dalam bentuk angka, huruf, simbol, atau kalimat sebagai bukti keberhasilan belajar siswa.
Prestasi di sini tidak bisa dihasilkan tanpa seseorang  melakukan suatu kegiatan. Dalam kenyataanya untuk mendapatkan prestasi tidak semudah yang kita bayangkan, tetapi penuh perjuangan dengan berbagai tantangan ataupun faktor-faktor yang mempengaruhi, baik dari dalam maupun dari luar yang harus dihadapi untuk mencapainya.
Agar dalam proses belajar dapat dilaksanakan dengan baik, memperoleh prestasi belajar yang baik pula, maka perlu memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhinya sehingga usaha untuk mencapai hasil optimal dari proses belajar dapat diupayakan dengan baik.
2.      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar.
Sebagai ciri dilakukannya belajar adalah perubahan, baik perubahan dalam pengetahuan, kecakapan maupun tingkah laku menuju tercapainya tujuan pendidikan yang dicita-citakan bersama. Dalam proses kegiatan belajar mengajar baik guru maupun murid menginginkan hasil yang baik atau prestasi yang baik pula.
Adanya pengaruh dari diri siswa merupakan hal yang wajar dan logis. Sebab hakekat belajar adalah perubahan tingkah laku individu yang diniati dan disadarinya. Oleh karena itu siswa harus merasakan adanya suatu kebutuhan untuk belajar dan berprestasi, dengan berusaha mengerahkan segala daya upaya untuk dapat mencapainya.
Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa belajar adalah masalah perubahan sikap dan tingkah laku ke arah yang lebih tinggi yang diusahakan oleh individu, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Swt. dalam QS. Ar-Ra'd ayat 11 yang berbunyi;
اِنَّ اللهَ لاَ يُغَيّرُمَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيّرُوْا مَا بِانَْفُسِهِمْ ( الرعد\13: 11)
Terjemahnya: "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan mereka sendiri".[14] (QS.13:11)
Sebagaimana dijelaskan di atas, perubahan prestasi belajar yang dicapai seorang individu memang merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor, dan pengenalan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar penting sekali artinya dalam rangka membantu murid mencapai prestasi belajar yang sebaik-baiknya. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar pada garis besarnya yaitu:
a.      Faktor intern
Yang dimaksud dengan faktor intern di sini adalah semua faktor yang ada pada diri pribadi siswa, baik yang berhubungan dengan jasmani maupun rohaninya atau lebih dikenal dengan sebutan fisik dan psikis.[15] Aspek psikis antara lain adalah IQ, pembawaan, keadaan emosi, kemauan, daya fantasi logika. Sedangkan aspek fisik antara lain, keadaan alat indera, keadaan kesehatan, jasmani, keadaan anggota tubuh.[16]
Demikianlah faktor intern yang mempengaruhi prestasi belajar dengan berbagai aspeknya. Hal ini perlu mendapatkan banyak perhatian bagi setiap pendidik maupun orang tua murid agar faktor yang satu dengan faktor yang lain dapat saling mempengaruhi proses belajar.
b.      Faktor ekstern
Di samping faktor intern sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, faktor yang lain yang mempengaruhi prestasi belajar adalah faktor ekstern. Faktor ini berupa keadaan atau kondisi dan situasi yang terdapat di luar pribadi siswa.[17]
Adapun faktor ini terdiri dari faktor lingkungan sekolah, dan keadaan lingkungan masyarakat. Keberhasilan anak dalam kegiatan belajar juga banyak dipengaruhi oleh keadaan lingkungan sekolah itu sendiri. Begitu juga dengan keadaan lingkungan masyarakat. lingkungan masyarakat yang berpengetahuan cukup baik, akan berpengaruh terhadap dirinya dalam proses perkembangan pengetahuannya. Sedangkan corak pendidikan yang dialami oleh seorang anak dalam masyarakat berpengaruh sekali dalam segala bidang, baik pembentukan pengertian maupun pembentukan kesusilaan.[18] Demikianlah faktor ekstern dengan berbagai aspeknya yang ikut berperan dalam proses belajar, dan berdampak pada tinggi rendahnya prestasi belajar siswa.
Berdasarkan dari uraian di atas, dapat memberi pengertian pada kita bahwa dalam melaksanakan pendidikan harus memperhatikan kondisi fisik, kondisi psikis dan faktor yang dapat mendukung/membuat keberhasilan dalam belajar. Meskipun faktor-faktor tersebut saling berinteraksi secara langsung ataupun tidak langsung dalam mencapai prestasi belajar.
C.      Pengaruh Pola Kehidupan Sosial terhadap Prestasi Belajar
Secara konseptual dan teoritis pola kehidupan siswa adalah suatu bagian dari dasar-dasar suatu bagian kebudayaan. Menurut kalangan antropolog biasanya “pola” sendiri merupakan suata cultural activity atau trait complex atau kegiatan-kegiatan yang sudah membudaya.[19] Maka di sini pola kehidupan siswa itu adalah suatu aktivitas yang membudaya dalam diri manusia. secara lebih besar akan berkaitan dengan satu samalain dengan kehidupan lingkungan-lingkungan lainnya sebagai elemen-elemen di dalam kehidupan yang besar tersebut.
Elemen-elemen kehidupan sosial siswa terdapat sebuah disiplin sosial, yang secara sosiologis dapat diartikan suatu proses atau keadaan ketaatan umum atau dapat juga disebut “ketertiban umum”.[20] Ketertiban itu sendiri merupakan aturan mu’asyarah antar masyarakat, baik yang ditentukan oleh perundang-undangan maupun yang tidak tertulis, hasil bentukan suatu kultur atau budaya.
Bagi Islam, bentuk sikap sosial adalah kesadaran menghayati dan melakukan hak dan kewajiban bagi para pemeluknya, baik dalam sikap, perilaku, perkataan, perbuatan maupun pemikiran.[21] Dalam hal ini, di dalam Islam dikenal ada huquq Allah (hak-hak Allah) dan huquq al-Adami (hak-hak manusia).[22] Bila hak dan kewajiban masing-masing manusia bisa dipenuhi, maka akan timbul sikap-sikap sebagai berikut:
a.      Solidaritas sosial
b.      Toleransi
c.      Mutualitas/kerjasama
d.      Tengah-tengah
e.      Stabilitas [23]
Sikap-sikap itu merupakan sikap sosial yang sangat erat hubungannya dengan ajaran Islam yag mempunyai cakupan luas, seluas aspek kehidupan yang berarti bahwa Islam sebenarnya mampu menjadi sumber referensi nilai bagi bentuk-bentuk kehidupan sosial siswa. Lebih dari itu, mengimplementasikan sikap-sikap itu dengan motivasi ajaran dan perintah agama, berarti melakukan ibadah. Sikap sosial dapat juga identik dengan ibadah dalam Islam (amal).[24]
Dari uraian pada ketiga kerangka di atas, dapatlah diambil benang merah, bahwa masalah-masalah sosial keagamaan Islam meliputi semua aspek kehidupan sosial. Sementara itu ajaran Islam telah meletakkan landasan yang kuat dan fleksibel bagi sikap dan perilaku dalam kehidupan sosial bagi siswa.
Pendidikan ke arah itu sebenarnya masuk dalam pendidikan Agama Islam seutuhnya yang menyangkut iman (aspek aqidah), Islam (aspek syari’ah) dan Ihsan (aspek akhlak, etika dan tasawuf) akan berarti melibatkan semua aspek rohani dan jasmani bagi kehidupan manusia sebagai makhluk individual maupun sosial.
Sejarah peradaban dunia telah menunjukkan bahwa masyarakat atau bangsa selalu menggunakan sistem pendidikan sebagai instrumen untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Karena sistem pendidikan merupakan upaya pembangunan masa depan bangsa yang menyangkut banyak orang, atau bahkan bangsa dan masyarakat secara kese-luruhan.[25]
Pendidikan bagi manusia disebabkan oleh tiga hal. Pertama mempelajari semua yang meliputi cara hidup suatu masyarakat atau kelompok orang, jadi tidak ada dalam pendidikan sesuatu sebagai warisan. Kedua, manusia sangat peka terhadap pengalaman. Manusia pada dasarnya mampu mengembangkan rentang kepercayaan tentang dunia sekitarnya, dan memiliki ketrampilan untuk memanipulasi-nya (merekayasa). Ketiga, seperti telah disinggung di bab sebelumnya, bahwa bayi yang baru lahir dan dalam waktu akan selalu membutuhkan orang lain. Ia tidak mampu mengembangkan diri tanpa adanya pertolongan orang lain, baik secara kebetulan maupun disengaja.[26]
Pada masyarakat tradisional, seperti yang terlihat dalam suku-suku terasing di Afrika, Amerika Latin dan Asia, fungsi pendidikan menyatu dengan fungsi-fungsi lainnya yang kesemuanya diperankan oleh keluarga. Tujuan utama pendidikan pada masyarakat tradisional ini ialah untuk membina komitmen generasi baru terhadap kewajiban-kewajiban nanti setelah dewasa.[27]
Pada masyarakat modern, pendidikan dipandang sebagai sub sistem tersendiri dengan berbagai sub-sistemnya. Tujuannya juga beragam sesuai dengan aneka spesialisasi yang dihajatkan masyarakat. Secara umum sistem pendidikan ini dimaksudkan sebagai upaya pengembangan sumber daya manusia dan merupakan sumber kreatifitas yang diperlukan untuk meneruskan modernisasi.[28] Oleh karena itu pendidikan sekarang lebih dimaksudkan sebagai usaha yang disengaja dan terencana dalam mengantarkan manusia untuk menemukan pribadinya sebagai orang dewasa yang dapat berdiri sendiri dan bertanggung jawab kepada falsafah bangsa, sehingga dirinya mampu untuk mengembangkan daya cipta, rasa, dan karsanya demi kemajuan dan pengabdiannya kepada negara.
Akan tetapi berbeda dengan Musa Asy’ari, menurutnya pendidikan sama halnya dengan pembelajaran, yakni merupakan upaya penting bagi kehidupan manusia agar hidup dan berkembang secara layak.[29] Satu tujuan pendidikan disini adalah mengeluarkan unsur-unsur manusia yang sama dalam diri kita. Unsur pada dasarnya tidak berbeda meski tempat dan waktunya berlainan, yakni pemupukan intelek yang baik bagi manusia di masyarakat manapun.
Umumnya sekolah memang di identikkan dengan lembaga pendidikan berjenjang, yakni dari SD/MI sampai perguruan tinggi, atau kalau di lingkup agama semisal Islam akan identik dengan madrasah dan pondok pesantren. Dalam Ilmu pendidikan sendiri menyebut sekolah berarti pula menyebut gedung sekolah, mata pelajaran atau mata kuliah, atau dalam hal yang lebih umum disebut dengan materi pembelajaran.
Pada zaman dahulu, ketika masyarakat masih primitif, pengajaran diberikan secara perseorangan. Seorang guru memberi pengajaran kepada seorang murid. Bahan pengajaran dan pelajaran ditentukan oleh guru. Namun sejalan dengan gerak zaman pula, makin lama murid makin bertambah, sehingga lama-kelamaan timbul sistem monitor, yakni murid yang sudah lama mengajar atau menolong murid yang baru. Sehingga dari sinilah timbul pengajaran ruang kelas.
Jadi sekolah ada ketika kebudayaan semakin kompleks, sehingga pengetahuan yang dianggap perlu tidak mungkin lagi ditanggung atau ditangani dalam lingkungan keluarga. Dewasa ini, bagi sebuah bangsa dan negara, minimal pendidikan berarti sekolah. Sebuah organisasi formal yang terdiri dari para murid, guru, supervisor, kepala sekolah dan pengawas. Mereka berinteraksi sebagai pemegang posisi di dalam suatu sistem sosial yang mempunyai tujuan kelembagaan dan terorganisasi, yaitu untuk mendidik anak didik.
Berdasarkan hal ini, maka tugas persekolahan ialah memberikan pengetahuan dan ketrampilan kepada anak didik, dan karena itu pula guru dipekerjakan.[30] Kendati demikian dalam asumsi yang umum tentang sekolah dimaksudkan bahwa sekolah merupakan ajang di mana pendidikan mengisyaratkan pengajaran. Pengajaran meng-isyaratkan pengetahuan, dan pengetahuan adalah kebenaran.
Karena itu sebenarnya secara luas pendidikan Islam mempunyai lima macam fungsi penting yaitu: 1) Sekolah melakukan transmisi kebudayaan; 2.) Melakukan pembentukan pribadi murid; 3) Menjamin integrasi sosial masyarakat; 4) Melakukan inovasi sosial; dan 5) Melakukan pra seleksi dan praalokasi tenaga kerja dan mengajarkan murid berbagai macam peranan sosial.[31]
Dalam hubungan ini pendidikan Islam dengan interaksi sosial anak, berperan secara sosial, dalam bentuk pertama, memberikan orientasi akademis yang mengandalkan pengetahuan spekulatif dan membentengi sekolah dengan masyarakat. Belajar untuk belajar, bukan untuk merancang karir, tidak untuk hidup sesaat. Bagi pendidikan Islam ini pengetahuan radikal dipisahkan dari waktu dan kebudayaan, dari kuasa dan kepentingan, menjauhkan diri dari atribut-atribut pendukungnya.
Kedua, Pendidikan Islam yang berorientasi pada kerja, hal ini dimaksudkan untuk melayani pasar di mana memang hal ini sebagai bentuk daya tahan sekolah terhadap transaksi hingar bingar masyarakat bisnis. Sehingga pendidikan bagi sekolah kerja merupakan sosialisasi integrasi dan bukan isolasi seperti dalam bentuk yang pertama. Pendidikan Islam harus mengikuti kebutuhan masyarakat, mendukungnya, memburunya, menyiapkannya, dan memeliharanya


NB : SOBAT INGIN VERSI LENGKAPNYA, SILAHKAN REQUEST DIKOLOM KOMENTAR. TERIMA KASIH,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
 
Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "CONTOH SKRIPSI ILMU TARBIYAH AJARAN ISLAM ATAU LEBIH KHUSUS SYARI’AT ISLAM "

PageRank

PageRank for wirajunior.blogspot.com
 
Template By Kunci Dunia
Back To Top