SILABUS DAN RPP BLOG

RPP lengkap Kurikulum 2013 dan KTSP

SKRIPSI ILMU TARBIYAH ANAK PUTUS SEKOLAH DAN CARA PEMBINAANNYA DI KECAMATAN JANGKA KABUPATEN BIREUEN



BAB I
PENDAHULUAN
  
A. Latar Belakang Masalah
Anak merupakan amanah dari Allah Swt, seorang anak dilahirkan dalam keadaan fitrah tanpa noda dan dosa, laksana sehelai kain putih yang belum mempunyai motif dan warna. Oleh karena itu, orang tualah yang akan memberikan warna terhadap kain putih tersebut; hitam, biru hijau bahkan bercampur banyak warna.
Setiap orang tua menginginkan anak-anaknya cerdas, berwawasan luas dan bertingkah laku baik, berkata sopan dan kelak suatu hari anak-anak mereka bernasib lebih baik dari mereka baik dari aspek kedewasaan pikiran maupun kondisi ekonomi. Oleh karena itu, di setiap benak para orang tua bercita-cita menyekolahkan anak-anak mereka supaya berpikir lebih baik, bertingkah laku sesuai dengan agama serta yang paling utama sekolah dapat mengantarkan anak-anak mereka ke pintu gerbang kesuksesan sesuai dengan profesinya.[1]
Setelah keluarga, lingkungan kedua bagi anak adalah sekolah. Di sekolah, guru merupakan penanggung jawab pertama terhadap pendidikan anak sekaligus sebagai suri teladan. Sikap maupun tingkah laku guru sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan pembentukan pribadi anak.
Pada perspektif lain, kondisi ekonomi masyarakat tentu saja berbeda, tidak semua keluarga memiliki kemampuan ekonomi yang memadai dan mampu memenuhi segala kebutuhan anggota keluarga. Salah satu pengaruh yang ditimbulkan oleh kondisi ekonomi seperti ini adalah orang tua tidak sanggup menyekolahkan anaknya pada jenjang yang lebih tinggi walaupun mereka mampu membiayainya di tingkat sekolah dasar. Jelas bahwa kondisi ekonomi keluarga merupakan faktor pendukung yang paling besar kelanjutan pendidikan anak-anak., sebab pendidikan juga membutuhkan dana besar.
Hampir di setiap tempat banyak anak-anak yang tidak mampu melanjutkan pendidikan, atau pendidikan putus di tengah jalan disebabkan karena kondisi ekonomi keluarga yang memprihatinkan. Kondisi ekonomi seperti ini menjadi penghambat bagi seseorang untuk memenuhi keinginannya dalam melanjutkan pendidikan. Sementara kondisi ekonomi seperti ini disebabkan berbagai faktor, di antaranya orang tua tidak mempunyai pekerjaan tetap, tidak mempunyai keterampilan khusus, keterbatasan kemampuan dan faktor lainnya.
Putus sekolah bukan merupakan persoalan baru dalam sejarah pendidikan. Persoalan ini telah berakar dan sulit untuk di pecahkan, sebab ketika membicarakan solusi maka tidak ada pilihan lain kecuali memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Ketika membicarakan peningkatan ekonomi keluarga terkait bagaimana meningkatkan sumber daya manusianya. Sementara semua solusi yang diinginkan tidak akan lepas dari kondisi ekonomi nasional secara menyeluruh, sehingga kebijakan pemerintah berperan penting dalam mengatasi segala permasalahan termasuk perbaikan kondisi masyarakat.[2]
Menurut pengamatan sementara, sebagian anak-anak di Kecamatan Jangka mengalami putus sekolah terutama anak-anak yang sedang menempuh pendidikan di tingkat atas. Maka hal yang menjadi rumusan masalah di sini adalah sebagai berikut:
1.      Berapa banyak anak putus sekolah di Kecamatan Jangka?
2.      Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya anak putus sekolah di Kecamatan Jangka?
3.      Bagaimana sikap orang tua terhadap pendidikan anaknya?
4.      Bagaimana cara pembinaan orang tua terhadap anak putus sekolah di Kecamatan Jangka?
5.      Bagaimanakah cara masyarakat menanggulangi anak putus sekolah di Kecamatan Jangka?
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah tersebut di atas maka timbullah keinginan penulis untuk mengangkat permasalahan ini dalam sebuah karangan ilmiah (skripsi)dengan menetapkan sebagai judul adalah: “ANAK PUTUS SEKOLAH DAN CARA PEMBINAANNYA DI KECAMATAN JANGKA KABUPATEN BIREUEN”.

B. Penjelasan Istilah
Untuk menghindari kekeliruan dan lebih mengarahkan pembaca dalam memahami judul skripsi ini penulis merasa perlu untuk menjelaskan beberapa istilah yang terdapat dalam judul tersebut. Adapun istilah- istilah yang perlu di jelaskan adalah sebagai berikut:
1. Anak
Artinya orang atau binatang yang baru di teteskan. Anak adalah turunan kedua sesudah orang yang dilahirkan. Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa anak adalah manusia yang hidup setelah orang yang melahirkannya, anak itu merupakan rahmat Allah kepada manusia yang akan meneruskan cita-cita orang tuanya dan sebagai estafet untuk masa yang akan datang.[3]
Adapun anak yang penulis maksudkan dalam skripsi ini adalah anak sebagai keturunan kedua dari sepasang suami istri yang terikat dengan tali pernikahan yang sah yang tidak terlepas dari didikan orang tua baik didikan agama maupun pendidikan umum sehingga anak bisa bersaing dan tercapai cita-citanya.
2.  Anak Putus Sekolah
Putus sekolah (dalam bahasa Inggris dikenal dengan Putus sekolah) adalah proses berhentinya siswa secara terpaksa dari suatu lembaga pendidikan tempat dia belajar. Anak Putus sekolah yang dimaksud dalam penulisan skripsi ini adalah terlantarnya anak dari sebuah lembaga pendidikan formal, yang disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya kondisi ekonomi keluarga yang tidak memadai.
3. Cara Pembinaannya
Cara: 1). Aturan sistem. 2). Gaya, laku, ragam. 3). Adat, resam, kebiasaan. Pembinaan merupakan suatu proses kegiatan yang di lakukan secara berdaya guna memperoleh hasil yang baik.[4]
Adapun pembinaan yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah suatu usaha untuk pembinaan kepribadian yang mandiri dan sempurna serta dapat bertanggungjawab, atau suatu usaha, pengaruh, perlindungan dalam bantuan yang di berikan kepada anak yang tertuju kepada kedewasaan anak itu, atau lebih cepat untuk membantu anak agar cakap dalam melaksanakan tugas hidup sendiri, pengaruh itu datangnya dari orang dewasa (diciptakan oleh orang dewasa seperti sekolah, buku pintar hidup sehari-hari, bimbingan dan nasehat yang memotivasinya agar giat belajar), serta di tujukan kepada orang yang belum dewasa.
Menurut Yurudik Yahya, pembinaan adalah “suatu bimbingan atau arahan yang dilakukan secara sadar dari orang dewasa kepada anak yang perlu dewasa agar menjadi dewasa, mandiri dan memiliki kepribadian yang utuh dan matang kepribadian yang dimaksud mencapai aspek cipta, rasa dan karsa.[5]
Istilah pembinaan atau berarti “ pendidikan” yang merupakan pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa. Selanjutnya pembinaan atau kelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat kehidupan yang lebih tinggi dalam arti mental.
Dari penjelasan di atas dapat penulis simpulkan bahwa pembinaan merupakan suatu proses yang di lakukan untuk merubah tingkah laku individu serta membentuk kepribadiannya, sehingga apa yang di cita-citakan dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan.

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang hendak penulis capai dalam pembahasan ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui berapa banyak anak putus sekolah di Kecamatan Jangka.
2.      Faktor-faktor apa yang menyebabkan anak putus sekolah.
3.      Bagaimana sikap orang tua terhadap anak putus sekolah?
4.      Bagaimana usaha masyarakat dalam menanggulangi anak putus sekolah di Kecamatan Jangka.

D. Postulat dan Hipotesis
Bertitik tolak  pada latar belakang masalah di atas, maka penulis perlu mengemukakan beberapa postulat yang kedudukannya sebagai dasar pemikiran dalam suatu wilayah. Winarno Surachman mengemukakan bahwa: “ Anggapan dasar (postulat) yang menjadi tumpuan dasar segala pandangan dan kegiatan terhadap masalah yang dihadapi dalam suatu penelitian. Postulat ini menjadi titik pangkal, di mana dengan adanya postulat ini tidak lagi menjadi keragu-raguan penyelidik”.[6]
Adapun postulat (anggapan dasar) dalam masalah ini adalah sebagai berikut:
1.          Anak-anak wajib memperoleh pendidikan, terutama pada usia 9 (sembilan)  sampai 15 (lima belas) tahun, karena sesuai dengan peraturan pemerintah.
2.          Tanggung jawab pendidikan anak berada pada tangan orang tua, guru dan masyarakat.
Berdasarkan anggapan dasar di atas, maka yang menjadi hipotesis (dugaan sementara) adalah sebagai berikut:
1.      Kebanyakan anak putus sekolah di Kecamatan Jangka disebabkan oleh kurangnya biaya dan kesadaran orang tua dalam menyekolahkan anaknya.
2.      Anak putus sekolah di Kecamatan Jangka berdampak negatif dalam masyarakat.
3.      Cara pembinaan terhadap anak putus sekolah di Kecamatan Jangka belum optimal.

E. Populasi dan Sampel
Populasi adalah “Keseluruhan objek penelitian, sedangkan sampel adalah sebagian dari populasi yang dapat mewakili keseluruhan populasi yang ada”.[7]
Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang ada di Kecamatan Jangka yang berjumlah 44 desa dengan jumlah penduduknya 24.208 jiwa, yang terdiri dari 5 (lima) kemukiman dan tingkat putus sekolahnya diambil mulai dari Sekolah Dasar dan Menegah. Berdasarkan populasi di atas maka yang dijadikan sebagai sampel dalam penelitian ini adalah 3 desa yang terdapat dalam Kecamatan Jangka yang mempunyai anak putus sekolah. Sampel yang penulis ambil di sini adalah masing-masing 2 orang dari 3 desa yaitu kepalah desa dan Tgk. Imum Meunasah. Sampel ini dianggap dapat mewakili seluruh populasi dan dapat memberikan data yang penulis perlukan. Tiga desa tersebut menurut pengamatan penulis adalah desa yang banyak terdapat anak putus sekolah, yaitu:
1.      Bugak Punjot, dengan jumlah 2 orang (Kepala Desa dan Tgk. Imum)
2.      Bugak Mesjid, dengan jumlah 2 orang (Kepala Desa dan Tgk. Imum)
3.      Bugak Meunasah dua, dengan jumlah 2 orang (Kepala Desa dan Tgk. Imum)

F. Metodelogi Penelitian
Setiap penelitian memerlukan metode dan teknik pengumpulan data yang sesuai dengan masalah yang dihadapi. Metode penelitian yang dapat dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu “suatu metode yang ingin mengungkapkan, mengembangkan dan menafsirkan data, peristiwa, kejadian-kejadian dan gejala-gejala fenomena-fenomena yang terjadi pada saat sekarang”.[8]
Metodologi penelitian ini sangat tepat digunakan untuk memperoleh data dan informasi yang objektif. Dalam pelaksanaannya penulis menggunakan dua jenis penelitian, adalah sebagai berikut:
1.      Library Research (studi kepustakaan), digunakan untuk melihat dan mempelajari buku-buku, literatur-literatur dan bahan referensi lainnya sebagai sumber untuk menguraikan landasan teoritis dari skripsi ini.
2.      Field Research (studi lapangan), digunakan untuk mencari dan mengumpulkan data dari lapangan. Yang dalam pelaksanaannya digunakan3 (tiga) instrumen penelitian, yaitu:
a.       Observasi
Yaitu cara yang ditempuh untuk mengamati kondisi lapangan penelitian, yaitu pengamatan langsung maupun tidak langsung yang ditemui di daerah penelitian.
b.      Wawancara
Wawancara yaitu cara yang ditempuh untuk mewawancarai para informan demi memperoleh data-data yang diperlukan dalam penelitian ini. Wawancara ditujukan dengan jalan mengajukan pertanyaan langsung kepada tokoh pimpinan dengan pertanyaan yang telah di persiapkan.
c.       Angket
Angket merupakan beberapa pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan masalah penelitian yang telah di persiapkan kepada masing-masing responden, yaitu masyarakat tiap desa yaitu 3 desa yang terdapat dalam Kecamatan Jangka yang mempunyai anak putus sekolah untuk memberikan jawabannya.
Adapun teknik penulisan skripsi ini penulis berpedoman pada buku “Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh Tahun 2004”. Dan buku-buku lain yang dianggap penting.

BAB II
PENDIDIKAN BAGI ANAK


A.    Pentingnya Pendidikan Bagi Anak
Pentingnya pendidikan telah ditegaskan dalam agama Islam sejak turunnya ayat pertama yaitu:
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ(1) خَلَقَ اْلإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ(2) اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ(3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ(4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ(5)...

Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, yang mengajarkan (manusia)”.

Itulah ayat yang pertama turun pada Nabi Muhammad Saw ketika berkhalwat di goa Hira, yang menyangkut dengan perintah membaca.  Landasan atau dasar hukum mengenai belajar banyak sekali ditemukan dalam Al-Qur`an maupun hadits, seperti firman Allah dalam surat Az-Zumar ayat 9:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ إِنَّمِا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا اْلأَلْبَابِ (الزمر:9)

Artinya:“Katakanlah (Ya Muhammad), tidaklah sama antara orang berilmu dengan orang yang tidak berilmu, sesungguhnya orang yang memiliki akan pikiran adalah orang yang dapat memberi pelajaran.(Al-Zumar: 9).
Ayat di atas menegaskan bahwa orang yang berilmu tersebut tidak sama dengan orang yang tidak berilmu, karena hanya orang yang berilmulah yang dapat menerima pelajaran.
Adapun dasar hukum wajib belajar dalam hadis adalah:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: طَلَبُ اْلْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلىَ كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ (رواه البخارى ومسلم)
Artinya: “Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah Saw bersabda: menuntut ilmu itu wajib bagi setiap kaum muslim  dan kaum muslimah (HR. Bukhari dan Muslim).[1]
Dalam hadits lain Rasulullah Saw bersabda:
عَنْ اِبْنُ عَبَّاس رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَا اْلأَخِرَةِ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَهُمَامَعًا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ (رواه أحمد)
Artinya: “Dari Ibnu Abbas berkata: Rasulullah Saw bersabda: siapa yang ingin meraih kehidupan dunia dengan baik maka harus dengan ilmu, begitu juga siapa yang ingin meraih kesuksesan di akhirat maha juga harus dengan ilmu, dan siapa saja yang ingin meraih kedua-duanya, maka harus dengan ilmu (HR. Ahmad).[2]


Hadits di atas menjelaskan bahwa, ilmu adalah segala-galanya dan wajib dituntut oleh kaum muslimin dan muslimah serta siapa saja yang ingin mencari kebahagiaan baik di dunia maupun akhirat. Dua kebahagiaan tersebut baru bisa dicapai adalah dengan ilmu (pendidikan). Karena kebahagiaan merupakan tujuan setiap manusia, Seseorang yang menempuh jalan kebahagiaan berarti sedang menuju pada kesempurnaan. Menurut Ibn Bajjah :
Kebahagiaan adalah jika seseorang telah mencapai dalam hidupnya martabat ilmu atau hikmah atau keberanian atau kemuliaan dan ia sendiri sadar sebagai seseorang yang berilmu, bijaksana, berani atau mulia, lalu ia berbuat sesuatu dengan apa yang diketahuinya, tanpa ria dan tanpa mengharapkan keuntungan apapun. Maka itu ia merasa ketenteraman batin dan mengetahui hakikat hidup dan wujud itu.[3]

            Berdasarkan kutipan di atas maka kebahagiaan itu ialah apabila seseorang telah mencapai tujuan hidupnya dan dapat melakukan aktivitas sehari-hari berdasarkan ilmu sehingga ia menjadi orang yang bijaksana, beramal mulia dan bermartabat.
Dalam Islam kebutuhan seseorang terhadap pendidikan bukanlah hanya sekedar mengembangkan aspek individual dan sosial yang bersifat mementingkan pertumbuhan dan perkembangan secara fisik saja, akan tetapi juga untuk mengarahkan naluri agama yang telah  ada dalam setiap diri anak, karena pada dasarnya setiap jiwa manusia itu telah disirami dengan nilai-nilai agama Islam. Naluri agama yang dimiliki oleh manusia untuk melangsungkan kehidupannya di dunia ini merupakan suatu pedoman yang harus di tanamkan kepada anak sejak dini, sehingga proses pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi agama tersebut ke arah yang sebenarnya.[4]
Pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak tidak mungkin tumbuh dan berkembang baik tanpa adanya latihan dan bimbingan yang bersifat mendidik. Pendidikan tersebut menyangkut dengan pertumbuhan dan perkembangan jasmani maupun rohani anak. Pendidikan secara umum dimulai pada usia 9 (sembilan) sampai dengan 15 (lima belas) tahun.
Sudirman, N. mengatakan bahwa:
Belajar adalah pendidikan bagi seseorang. Pendidikan sendiri adalah terjemahan dari bahasa Yunani paedagogie asal katanya adalah pais yang artinya anak dan again yang terjemahannya membimbing, dengan demikian paedagogie berarti bimbingan yang diberikan pada anak. Dalam perkembangan selanjutnya pendidikan berarti usaha yang dijalankan oleh seseorang atau kelompok untuk mempengaruhi seseorang atau kelompok lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup dan penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental.[5]

Sudah jelas bahwa arti pendidikan itu adalah proses pendewasaan seseorang yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak didiknya melalui proses pendidikan baik formal maupun non formal.
Pendapat lain menerangkan bahwa pendidikan itu adalah usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatan serta kehidupan di alam sekitarnya.[6]
Dalam hal ini anak-anak dididik cara bergaul dengan masyarakat dan lingkungannya. Sehingga anak akan mampu mengemban tanggung jawab kepemimpinan masa depan yang sukses. Kalau pendidikan anak diperhatikan dengan benar, maka dapat diharapkan di kemudian hari akan muncul generasi baru yang berkualitas, sehat fisik dan akalnya, sempurna akhlaknya serta mampu melaksanakan dan mengemban cita-cita orang tua dan bangsa secara bertanggung jawab.
Anak ketika pertama dilahirkan ke permukaan bumi ini dalam keadaan lemah dan bodoh, tidak tahu apa-apa sehingga memerlukan kepada bantuan orang lain untuk mendidiknya hal ini sebagaimana firman Allah Swt:
وَاللهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُوْنِ أُمَّهَتِكُمْ لاَتَعْلَمُوْنَ شَيْئًا...(النحل: 78)
Artinya:
“Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu sedangkan kamu tidak mengetahui apa-apa”, (QS. An-Nahl: 78).

Ayat di atas menyatakan bahwa manusia dilahirkan ke bumi ini dalam keadaan lemah dan tidak mengetahui apa-apa. Kelemahan manusia itu harus dikembangkan melalui proses pendidikan secara kontinu mulai dari masa kanak-kanak sampai dewasa bahkan sampai manusia itu meninggalkan dunia fana ini. Seperti yang ditegaskan Rasulullah Saw dalam hadisnya:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قاَلَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أُطْلُبُوا اْلعِلْمِ مِنَ اْلمَهْدِ اِلَى الْلَحْدِ (رواه البخارى والمسلم)
Artinya:
“Dari Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah Saw berkata: Tuntutlah ilmu mulai dari ayunan hingga ke liang lahad”. (HR. Bukhari dan Muslim).[7]

Hadis di atas memberi pengertian bahwa pendidikan itu tidak mengenal usia, mulai semenjak dalam ayunan (kanak-kanak) pendidikan sudah diberikan hingga umur beranjak dewasa. Berakhirnya masa dewasa bukan berarti berakhir pula pendidikan, karena Islam berprinsip bahwa pendidikan manusia berakhir setelah berpisahnya roh dari badan. Hal ini di pahami dari hadis di atas yang menyatakan bahwa pendidikan tersebut dimulai dari ayunan hingga ke liang lahad.
Bantuan dan pendidikan yang diberikan oleh orang tua kepada anak-anak adalah untuk mengembangkan potensinya menjadi manusia dewasa yang dapat mengemban tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Dari itu bagaimanapun terbelakangnya peradaban suatu masyarakat tersebut pasti berlangsung suatu proses pendidikan. Tapi maju mundurnya tingkat pendidikan itu berbeda-beda menurut perkembangan peradaban suatu masyarakat.
Pendidikan itu sudah ada semenjak manusia itu ada, karena pada hakikatnya pendidikan merupakan usaha manusia untuk mengembangkan potensi dalam dirinya. Setiap individu akan berbeda tingkat perkembangan potensinya, sejauh mana ia memahami perbedaan dalam hidupnya, dari tidak bisa berjalan menjadi bisa berjalan, dari kecil menjadi besar dan dari sukar menjadi mudah. Sehingga kekuatan potensinya akan mempengaruhi pada seluruh aspek kehidupannya.
Mhd. Tabrani. ZA mengemukakan bahwa:
Pendidikan berkembang dari yang sederhana (primitif) yang berlangsung dalam zaman di mana manusia masih berada dalam ruang lingkup kehidupan yang serba sederhana. Tujuan-tujuannya pun amat terbatas pada hal-hal yang bersifat survival (pertahanan hidup terhadap ancaman alam sekitar).[8]

Pendapat di atas menyatakan bahwa, pendidikan dimulai dari yang sederhana, yaitu pendidikan yang diberikan kepada anak harus disesuaikan dengan situasi dan kondisinya. Pendidikan ditujukan bukan hanya pada pembinaan keterampilan, melainkan kepada pengembangan kemampuan-kemampuan teoretis dan praktis berdasarkan konsep-konsep berpikir ilmiah. Kemampuan konsepsional demikian berpusat pada pengembangan kecerdasan manusia itu sendiri. Oleh karena itu faktor daya pikir manusia menjadi penggerak terhadap daya-daya lainnya untuk menciptakan peradaban dan kebudayaan yang semakin maju.
Pendidikan adalah suatu hal yang amat esensial dalam perkembangan anak-anak dalam menuju kedewasaannya. Pendidikan yang utama pada dasarnya adalah penanaman nilai-nilai akhlak yang terpuji ke dalam jiwa anak sejak kecil hingga menjadi dewasa, sehingga dalam menghadapi kehidupannya di tengah masyarakat memiliki kemampuan dan keterampilan serta berakhlak mulia.[9]
Pendidikan sangat menentukan diri anak dalam perkembangannya menuju ke arah yang lebih baik. Apalagi di zaman modern ini yang segala sesuatu dapat berubah dengan serba cepat adalah berkat pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), sehingga dapat menciptakan bermacam-macam alat yang canggih. Bahkan kecepatan alat itu dapat mengalahkan kecepatan manusia itu sendiri. Pendidikan merupakan hal yang penting dalam pertumbuhan individu anak. Pendidikan adalah semacam investmen untuk menumbuhkan sumber-sumber manusia yang tidak kurang nilainya dari investmen pada pertumbuhan sumber-sumber material.[10]
Dalam hal ini Hasan Langgulung mengemukakan bahwa;
Di antara segi-segi pertumbuhan dan persiapan yang mungkin adalah membuka dan mengembangkan serta memperkenalkan kepada anak akan hak-hak yang diberikan oleh Tuhan sebagai individu di dalam suatu masyarakat Islam. Anak juga harus disiapkan dengan sehat untuk menikmati dan memperkenalkan dengan bijaksana akan hak-hak itu, memikul kewajiban, tanggung jawab dengan penuh kemampuan, juga untuk mengadakan hubungan sosial yang berhasil dan kehidupan ekonomi yang produktif.[11]

Dari kutipan di atas dapat dipahami bahwa anak-anak dalam pertumbuhannya harus dipersiapkan dengan sematang mungkin dengan pendidikan untuk mengembangkan dirinya sebagai seorang muslim yang tidak hanya mementingkan hak saja melainkan juga mengetahui tentang kewajibannya terhadap Tuhan.
Islam mengaku akan pentingnya pendidikan bagi anak sebagai salah satu tujuan pokok yang dituju oleh individu atau masyarakat untuk membinanya. Begitu juga sebagai salah satu alat kemajuan dan ketinggian bagi individu dan masyarakat, yang merupakan langkah pertama untuk membina keterampilan dan sikap yang diinginkan pada diri anak ke arah yang lebih baik.[12]
Pendidikan secara langsung merupakan dasar pembentukan kepribadian, kemajuan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi, dan kemajuan kehidupan sosial pada umumnya. Ilmu pengetahuan telah menjadi dasar perkembangan teknologi serta menjadi tulang punggung pembangunan dan kehidupan modern dalam meningkatkan kesejahteraan hidup umat manusia.
Mengingat pentingnya pendidikan dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan mempunyai andil besar dalam memberikan makna yang sangat tinggi kepada pembangunan bagi kesejahteraan umat manusia dalam mengarungi bahtera kehidupan, maka dirasa sangat dominan pentingnya pendidikan bagi anak sebagai suatu usaha untuk memberikan bekal kepada anak agar ia pada suatu ketika dalam hidupnya dapat berdiri dan dapat memikul tanggung jawab atas segala perbuatannya.
M. Noor Syam mengemukakan bahwa: Pendidikan adalah suatu usaha manusia untuk membina kepribadian anak sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan budaya.[13]
Berdasarkan pendapat di atas, pendidikan adalah mengantarkan anak yang belum dewasa ke tingkat kedewasaannya. Sesudah tingkat ini tercapai orang beranggapan bahwa usaha pendidikan yang menjadi tugas orang tua dan guru akan berakhir. Kemudian anak yang sudah dewasa itu dianggap mampu atas kekuatan sendiri tanpa bantuan orang lain dalam menghadapi segala sesuatu dalam hidupnya. Dan atas dasar pendidikan yang telah diperolehnya si anak berusaha sendiri mencari pemecahan untuk segala kesulitan yang dijumpainya dalam perjalanan hidupnya.
Pendidikan mempunyai peranan yang sangat berarti dalam kehidupan anak, karena dengan pendidikan anak dalam kiprahnya di dunia ini dapat berbuat banyak. Melalui pendidikan pula anak nantinya berhasil memecahkan segala persoalan yang ia hadapi, maka ia akan memperoleh pengalaman dan pengetahuan baru yang akan bermanfaat di dalam perjalanan hidupnya.
Apalagi di zaman globalisasi ini di mana munculnya berbagai gejala serta masalah yang menuntut berpikir secara global. Di era globalisasi ini umat manusia dituntut menggantikan pola-pola berpikir yang bersifat nasional semata-mata kepada pola-pola berpikir yang bercakupan dunia, bermoral tinggi dan berakhlak mulia.[14]
Dengan demikian pentingnya pendidikan bagi anak adalah suatu hal yang amat esensial dalam perkembangan menuju kedewasaannya. Pendidikan yang utama pada dasarnya adalah penanaman nilai-nilai akhlak yang terpuji ke dalam jiwa anak sejak kecil hingga menjadi dewasa, sehingga dalam menghadapi kehidupannya di tengah masyarakat memiliki kemampuan dan keterampilan serta berakhlak mulia.
Pendidikan formal dapat mendidik kedisiplinan anak dan sangat berpengaruh dalam pendidikan anak itu sendiri sehingga terjadi keselarasan antara pendidikan di dalam keluarga dengan sekolah dalam hal menanamkan suatu kebiasaan-kebiasaan dan budi pekerti yang baik.

B.     Peranan Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak
Orang tua merupakan orang pertama yang sangat besar peranannya dalam membina pendidikan anak, karena dari pendidikan itu akan menentukan masa depan anak. Peran dan upaya orang tua tersebut harus diperhatikan dengan baik sehingga kepribadian anak dapat tumbuh dan berkembang dengan sempurna.
Dalam hal ini Al-Husaini Abdul Majid Hasyim, mengemukakan bahwa: Anak merupakan tanaman kehidupan, buah cita-cita, penyejuk hati manusia, bunga bangsa yang sedang mekar berkembang dan putik kemanusiaan yang merupakan dasar terbitnya pagi yang cerah, hari esok yang gemilang guna merebut masa depan yang cemerlang, memelihara kedudukan umat,serta di pundaknyalah masa depan bangsa.[15]
Pendapat di atas dengan jelas menyatakan bahwa mempersiapkan dan mendidik anak sebagai elemen yang membentuk keluarga, masyarakat dan bangsa. Anak merupakan unit inti yang akan membentuk unsur pertama bagi kerangka umum pembangunan bangsa yang berkembang dan penuh toleransi.
Dalam Islam dijelaskan bahwa anak merupakan amanah Allah yang tidak boleh disia-siakan, karena menyia-nyiakan anak berarti menyia-nyiakan amanah Allah Swt. Yang jelas dibebankan bagi setiap manusia supaya anak tersebut wajib dijaga, dirawat dan dipelihara dengan baik sesuai dengan norma-norma dan nilai islami. Dengan demikian orang tua berkewajiban menjaga anak-anak baik melalui pembinaan keagamaan maupun pengarahan lainnya.
Zakiah Daradjat mengemukakan bahwa: “Hubungan orang tua dan anak sangat mempengaruhi jiwa anak. Baik buruknya serta bertumbuh tidaknya mental anak sangat tergantung sama orang tua”.[16]
Dengan demikian jelaslah bahwa orang tua sangat berperan dalam perkembangan anak. Peranan orang tua sangat besar dalam membina, mendidik serta membesarkan si anak hingga menjadi dewasa. Orang tua merupakan orang pertama anak-anak belajar mendapatkan pendidikan, otomatis apa yang didapatkan anak pertama sekali semasa kecilnya akan membekas pada jiwa dan raganya di kemudian hari.
Kalau melihat peranan orang tua sebagai pendidik pertama bagi anak, maka tidak bisa dipisahkan dari peran seorang ibu. Karena ibulah sebagai pendidik yang utama dalam keluarga. Sebab sejak bayi dalam kandungan sampai bayi lahir menjadi balita dan menjadi anak-anak hingga ia dewasa, ibulah yang paling dekat dan paling sering bersama anak.
Dalam hal ini Jamaluddin mengatakan:
Perkembangan bayi tak mungkin dapat berlangsung secara normal tanpa adanya intervensi dari luar. Walaupun secara alami ia memiliki potensi dari bawaan. Seandainya dalam pertumbuhan dan perkembangannya hanya diharapkan menjadi normal sekalipun, maka ia masih memerlukan berbagai persyaratan tertentu serta pemeliharaan yang berkesinambungan.[17]

Keterangan di atas menunjukkan bahwa tanpa bimbingan dan pengawasan yang teratur, anak akan kehilangan kemampuan untuk berkembang secara normal, walaupun ia memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang dengan potensi-potensi lain. Yang dapat menciptakan kebahagiaan bagi anak adalah orang tua yang merasa bahagia dan mampu memahami anaknya dari segala aspek pertumbuhannya, baik jasmani maupun rohani dan sosial dalam semua tingkat umur. Kemudian ia mampu memperlakukan dan mendidik anaknya dengan cara yang akan membawa kepada kebahagiaan dan pertumbuhan yang sehat.
Orang tua memegang peranan yang sangat penting dalam pendidikan dan bimbingan terhadap anak, karena hal itu sangat menentukan perkembangan anak untuk mencapai keberhasilannya. Hal ini juga sangat tergantung pada penerapan pendidikan khususnya agama, serta peranan orang tua sebagai pembuka mata yang pertama bagi anak dalam rumah tangga. Dari sinilah orang tua  berkewajiban  memberi  pendidikan dan pengajaran, terutama pendidikan agama kepada anak-anaknya, guna membentuk sikap dan akhlak mulia, membina kesopanan dan kepribadian yang tinggi pada mereka. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Saw yang menyebutkan sebagai berikut:
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةِ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قاَلَ النَّبِى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُلُّ مَوْلَوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبْوَاهُ يَهُوْدِيْنِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْيُمَاجُسِنِهِ (رواه البخارى)
Artinya:
“Dari Abu Hurairah r.a berkata: bersabda Nabi Saw. Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi atau Nasrani atau Majusi”. (HR. Bukhari)[18]

Dari hadits di atas dapat disimpulkan bahwa baik buruknya anak sangat tergantung pada sikap dari pada orang tuanya. Seandainya orang tua akan dengki mendengki dalam praktek sehari-hari maka anak akan turut mempengaruhi, demikian pula terhadap hal-hal yang lainnya. Anak yang dilahirkan ke muka bumi ini dalam keadaan fitrah (kemampuan dasar) berupa potensi religius (nilai-nilai agama). Kemampuan dasar ini pada dasarnya adalah setiap jiwa manusia itu telah disirami dengan nilai-nilai agama Islam.[19] Naluri agama yang dimiliki oleh manusia untuk melangsungkan kehidupannya di dunia ini merupakan suatu pedoman yang harus ditanamkan kepada anak-anak sejak dini, sehingga proses pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi agama tersebut ke arah yang sebenarnya.
Hadits di atas juga menekankan bahwa fitrah yang dibawa sejak lahir bagi anak dapat di pengaruhi oleh lingkungan. Fitrah tidak dapat berkembang tanpa adanya pengaruh positif dari lingkungannya yang mungkin dapat dimodifikasi atau dapat diubah secara drastis bila lingkungannya itu tidak memungkinkan untuk menjadikan fitrah itu lebih baik.
Abdurrahman dalam bukunya “Madkhal Ila At-Tarbiyah” menjelaskan bahwa pendidikan terdiri dari empat unsur utama, yaitu:
1)      Penjelasan terhadap fitrah (bakat)
2)      Penumbuhan potensi dan menyimpan seluruhnya
3)      Pengarahan fitrah dan potensi tersebut untuk kebaikan dan kesehatan yang sesuai dengannya
4)      Penataan dalam amaliyah pendidikan.[20]

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa, pada diri anak harus ditanamkan nilai-nilai yang baik, karena anak sejak lahir telah membawa potensi dan bakat, dan potensi yang ada pada diri anak tersebut harus diarahkan kepada hal-hal yang baik.
Pendidikan berawal dari lingkungan keluarga, yaitu kedua orang tua kemudian dilanjutkan dengan lingkungan masyarakat dan pendidikan formal (sekolah). Ketiga sumber pendidikan (tri pusat pendidikan) tersebut harus merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan dan saling menunjang.
Di rumah orang tua dapat mengajarkan dan menanamkan dasar-dasar keagamaan kepada anak-anaknya, termasuk di dalamnya dasar-dasar bernegara, dan berperilaku baik serta berhubungan sosial lainnya.[21] Orang tua juga sangat berpengaruh dalam pendidikan agama. Sebagaimana Firman Allah dalam surat Luqman: 17
يَا بُنَيَّ أَقِمُ الصَّلاَةَ وَأمْرُبِالْمَعْـرُوْفِ وَانْهَى عَنِ الْمُنْكَرُوا وَلصَّبْرُعَلىَ مَاأَصَابَكَ اِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزَمِ اْلاُ مُوْرِ(لقمن:17)
Artinya: "Hai anakku dirikan shalat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan Allah Swt" (QS Luqman : 17)

Maksud ayat di atas adalah usaha penerapan pendidikan agama yang diusahakan oleh kedua orang tua sebagai langkah awal adalah dengan menyuruh shalat yang dilaksanakan melalui latihan-latihan secara rutin.
Zakiah Daradjat mengatakan: “Anak-anak sebelum dapat memahami sesuatu pengertian kata-kata yang abstrak seperti benar  dan salah, baik dan buruk, kecuali pengalaman sehari-hari dari orang tua dan saudara-saudaranya”.[22]
Di sinilah letak peran orang tua terhadap pendidikan anak yaitu dengan memberikan pemahaman dengan kata-kata, berbuat dan bertindak. Contoh kehidupannya sehari-hari bercorak dari tindak tanduk orang tuanya. Selanjutnya Ibnu Sina mengatakan bahwa: “Anak-anak harus dibiasakan dengan hal-hal terpuji semenjak ia kecil”.[23] Contohnya adalah seperti menyuruh anak untuk shalat, bersikap santun terhadap orang tua, bersikap sopan terhadap orang lain dan berbuat baik terhadap sesama.
Pembinaan ini merupakan tanggung jawab sepenuhnya oleh orang tua, seperti yang dikemukakan oleh Ibnu Sina di atas. Karena orang tua merupakan orang yang pertama dikenal anak, maka hal ini adalah mutlak dan wajib dikerjakan, karena merupakan perintah dari Allah.
 
NB : INGIN VERSI LENGKPANYA,, SILAHKAN SOBAT REQUEST DIKOLOM KOMENTAR, TERIMA KASIH BANYAK SUDAH BERKUNJUNG,,,,,,,,,,,,,,
 
Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "SKRIPSI ILMU TARBIYAH ANAK PUTUS SEKOLAH DAN CARA PEMBINAANNYA DI KECAMATAN JANGKA KABUPATEN BIREUEN"

PageRank

PageRank for wirajunior.blogspot.com
 
Template By Kunci Dunia
Back To Top