SILABUS DAN RPP BLOG

RPP lengkap Kurikulum 2013 dan KTSP

KARYA TULIS ILMIAH PKN KAJIAN TEORITIK PENGEMBANGAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS-DIALOGIS MAHASISWA MELALUI PENDEKATAN DDCT DALAM PERKULIAHAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN /CE DI PERGURUAN TINGGI



A.   PENDAHULUAN
Inovasi pembelajaran pada perkuliahan PKN/CE di lingkungan perguruan  tinggi, khususnya di lingkungan PTM  sangat diperlukan agar pembelajaran dan perkuliahan yang dilakukan dapat melatih kemampuan berpikir kritis dan dialogis mahasiswa melalui penerapan model DDCT (Deep dialogue dan Critical Thinking)  sehingga dapat memberikan kontribusi maksimal dalam proses akselerasi pemba-ngunan demokrasi.
Pendidikan di Indonesia, khususnya pendidikan formal dilingkungan pendi-dikan tinggi tengah berada pada masa transisi menuju pendidikan yang demokratis yang bercirikan kritis-dialogis dan akomodatif - partisipatif. Perubahan dalam dunia pendidikan ini sangat mendasar yang mengakibatkan perubahan dalam nilai-nilai, norma-norma, pola pikir dan perilaku dalam pengelolaan perguruan tinggi dan civitas akademikanya.
 Kepedulian kalangan ilmuwan, akademisi, praktisi dan masyarakat terhadap masalah demokratisasi pembelajaran dan inovasi model pembelajaran sebagai sarana dan aktualisasi dari program peningkatan kualitas pembelajaran di perguruan tinggi semakin meningkat dewasa ini, terlebih khusus lagi dalam masa transisi peralihan dari masyarakat otoriter ke masyarakat demokratis yang menuntut adanya trans-paransi dan jaminan kualitas di segala sektor kehidupan. Pendidikan yang semula dikelola dengan serba sentralistis bergerak berubah ke sistem pengelolaan yang bersifat desentralisasi dan otonomi. Dari paradigma pembelajaran behavioristik yang digunakan kurikulum 1994 ke paradigma pembelajaran konstruktivistik yang digunakan kurikulum berbasis kompetensi dan disempurnakan melalui SK Dirjen Dikti No. 43/Dikti/2006, sehingga penelitian ini bersifat proaktif dan perlu dike-depankan untuk membentuk warganegara yang cerdas dan memiliki keadaban demokratis yang memiliki kemampuan untuk berpartisipasi aktif  dan bertanggung jawab dalam masyarakat.
Pada penelitian ini lebih difokuskan pada bagaimana konsep dan penge-tahuan dasar dosen – mahasiswa  yang menempuh perkuliahan PKN / CE dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis-dialogis yang sesuai dengan jiwa demokratisasi pendidikan dan bagaimana model teoritik inovasi dan reorientasi pembelajaran DDCT dalam perkuliahan PKN/CE yang berbasis demokratisasi dan otonomi pendidikan yang akan dilihat dari materi dan model pengajarannya. Hal ini sesuai dan terkait dengan tujuan penelitian dasar, yaitu: memperkaya khasanah ilmu pengetahuan  (body of knowledge) khususnya ilmu pendidikan dan sosial yang berusaha mencari makna dan menjawab pertanyaan mengapa (why) pembelajaran PKN/CE selama ini cenderung monoton, monolitik, membosankan dan kehilangan “roh” pembaharuan, memasung daya kritis mahasiswa, bersifat monolog tidak dialogis serta kurang optimal dalam penumbuhan masyarakat yang demokratis.
Penelitian yang dirancang selesai dalam 2 tahap / 2 tahun ini, secara umum bertujuan untuk menghasilkan luaran penelitian yang berupa  KONSEP DASAR  tentang kajian teoritik pengembangan kemampuan berpikir kritis-dialogis mahasiswa melalui penerapan pendekatan DDCT dalam perkuliahan PKN/CE di Perguruan Tinggi Muhammadiyah, yang merupakan modal saintifik  untuk mem-perkaya khasanah ilmu pengetahuan (body of knowledge) bagi pembelajaran PKN/CE & MKPK pada jenjang pendidikan tinggi, terutama mengenai konsep dan tindakan yang berkait dengan aspek materi dan model pembelajaran PKN/CE berbasis demokratisasi yang mengedepankan pola pikir kritis-kreatif-dialogis-partisipasif dan menjunjung tinggi nilai-nilai religiuitas,  hal ini sangat relevan de-ngan bidang keilmuan peneliti  (pendidikan sosial / kewarganegaraan) khususnya pada mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan/ CE di PTM dan Ilmu Kewarga-negaraan  di jurusan Pendidikan Civic Hukum (PPKn). Di samping itu juga dapat dijadikan sebagai bahan ajar dan acuan dalam memperkaya Satuan Acara Perkuliahan mata kuliah Strategi Pembelajaran, Pengembangan Bahan Ajar dan Perencanaan Pembelajaran di perguruan tinggi. 
Penelitian ini utamanya dilakukan dengan pendekatan kualitatif karena berusaha mengungkap makna dan pertanyaan mengapa (why)?. Namun demikian untuk beberapa persoalan dilakukan pula analisisstatistik (sederhana) untuk mendukung penjelasan fenomena yang dikaji. Populasi/ lokasi penelitian ini adalah Perguruan Tinggi Muhammadiyah di kota Malang yaitu Universitas Muhammadiyah Malang yang menyelenggarakan pembelajaran matakuliah PKn/CE pada semester Genap 2007/2008. Sampel/subjek penelitian ditetapkan secara purposif sampling di 9 (sembilan) kelas yang perkuliahannya dilakukan oleh 9 (sembilan) orang dosen PKn/CE. Informan penelitian ini adalah dosen PKn/CE, Mahasiswa yang menempuh MK PKn/CE, dan pimpinan jurusan dan atau fakultas yang menyelenggarakan perkuliahan PKn/CE pada semester genap 2007/2008. Data penelitian ini berupa konsep-konsep, pernyataan-pernyataan, dan fenomena pengembangan kemam-puan berpikir kritis-dialogis mahasiswa dalam pembelajaran PKn/CE, baik dalam bentuk primer maupun sekunder. Adapun pengumpulan datanya dengan teknik survey dengan angket, observasi langsung, diskusi kelompok terfokus (focus grup discussion), wawancara mendalam (indept interview), dan partisipasi terlibat. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan kerangka pikir logis, kritis, dan integralistik dengan kerangka sistematis-kongkrit-abstrak dengan menggunakan metode perbandingan tetap (Glasser & Strauss dalam Lexy Moleong:2006) meliputi: (1) reduksi data, (2) kategorisasi data, (3) sintesisasi, dan (4) penyusunan hipotesis kerja.  Adapun langkah-langkah yang dilakukan antara lain:

1. Reduksi Data :
a. Identifikasi satuan (unit) : bagian terkecil yang ditemukan dalam data yang memiliki makna bila dikaitkan dengan fokus dan masalah penelitian yang berhubungan dengan permasalahan pengembangan kemampuan berpikir kritis-dialogis mahasiswa melalui DDCT, yang meliputi : (1) Persepsi, (2) Faktor Penyebab, (3) Urgensi, (4) Draft model pengembangan kemampuan berpikir kritis dialogis mahasiswa melalui DDCT, yang mencakup: dasar filosofis, dasar teoritis & yuridis, karakteristik umum dan karakteristik khusus model yang diteliti.
b. Setelah satuan diperoleh lalu langkah berikutnya adalah membuat koding, dengan memberikan kode pada setiap satuan agar supaya tetap dapat ditelusuri data /satuannya, berasal dari sumber mana. (W = Wawancara, D= Dokumentasi, A= Angket, FGD = Focus Group Discussion, O = Observasi).

2. Kategorisasi:
a. Menyusun kategori, upaya memilah-milah setiap satuan ke dalam bagian-bagian yang memiliki kesamaan;
b. Labelisasi kategori, setiap kategori diberi label (Psa = persepsi awal, FP = faktor penyebab, U = urgensi dan DMI =draft model pengembangan yang mencakup DF = dasar filosofis, DT = Dasar Teoritis, DY = Dasar Yuridis, KU = Karakteristik Umum, dan KK = Karakteristik Khusus).

3. Sintesisasi:
a. Mensintesakan, yaitu mencari kaitan antara satu kategorisasi dengan kategori lainnya;
b. Kaitan satu kategori dengan kategori lainnya diberi catatan atau label lagi.

4. Menyusun Hipotesis Kerja:
Dilakukan dengan jalan merumuskan suatu pernyataan proposisional, yang berupa hipotesis kerja. Hipotesis kerja ini sudah merupakan teori substantif (yaitu teori yang berasal dan masih terkait dengan data).

Kemudian untuk data kuantitatif dilengkapi dengan analisis kuantitatif seder-hana dengan teknik prosentase dan distribusi frekwensi. Untuk memberikan keab-sahan hasil penelitian,  dilakukan analisis refleksi dan pembahasan evaluatif. Kedua kegiatan tersebut berupa pemberian pertanggungjawaban metodologis terhadap hasil penelitian dan tindak lanjut yang direkomendasikan yang diharapkan akan dilaksa-nakan setelah penelitian ini selesai. Agar data dan hasil penelitian memenuhi validitas yang cukup memadai, dilakukan perpanjangan keikutsertaan peneliti di lokasi penelitian dalam mengadakan observasi dan wawancara mendalam dengan para guru dan siswa, triangulasi dilakukan dengan memeriksa validitas data tertentu dengan menggunakan sumber lain, diskusi secara mendalam hasil temuan dengan para pakar, guru dan siswa, penggunaan bahan referensi yang aktual dengan tetap menjaga kesesuaian dengan tujuan, dan pemaparan temuan penelitian secara rinci dan sistematis. Dengan kata lain kriteria keabsahan datanya dilakukan dengan melihat derajat kepercayaan (credibility) melalui teknik triangulasi sumber dan metode, perpanjangan kehadiran peneliti, pengecekan teman sejawat dan ketekunan pengamatan, derajat keteralihan (transferability), derajat kebergantungan (depen-dability), dan derajat kepastian (confirmability).


B. KAJIAN TEORI
Perkembangan Indonesia menuju demokrasi dalam empat tahun terakhir ini agaknya tidak mungkin lagi dimundurkan  (point of return). Perubahan Indonesia menuju demokrasi jelas sangat dramatis, dan Indonesia mulai disebut-sebut sebagai salah satu demokrasi terbesar.  Perubahan Indonesia menuju demokrasi tidak bisa tidak mengikuti kecenderungan pertumbuhan dramatis demokrasi pada tingkat internasional secara keseluruhan. Indonesia pada akhirnya mengikuti apa yang disebut banyak ahli sebagai “third wave of democracy”. (Azra, 2001).
            Menurut berbagai kajian, jumlah negara yang secara formal menganut demokrasi meningkat drastis pada dasawarsa 1990-an; jumlah meningkat dari 76 negara (46,1 %) dari jumlah seluruh negara di dunia menjadi 117 (63,1 %). Namun demikian di samping perkembangan yang menggembirakan ini, kekhawatiran juga mulai berkembang melihat kecenderungan mandeknya demokrasi, atau ketidak-pastian transisi menuju demokrasi seperti yang terjadi di Eropa Timur, termasuk Indonesia saat ini.
            Sebagaimana diakui semakin banyak pakar tentang demokrasi pada level internasional, cara paling strategis untuk “mengalami” demokrasi adalah melalui apa yang disebut sebagai “democracy education”. Pendidikan demokrasi singkatnya secara substantif menyangkut sosialisasi, diseminasi dan aktualisasi konsep, sistem, nilai budaya dan praktek demokrasi melalui pendidikan.
            Pendidikan demokrasi tidak hanya urgen bagi negara-negara yang sedang dalam masa transisi menuju demokrasi seperti Indonesia, tetapi juga bagi negara-negara yang telah mapan demokrasinya. Kenyataan inilah yang terlihat misalnya dalam pembentukan “Civitas International” pada Juni 1995 di Praha. Dihadiri tidak kurang dari 450 pemuka pendidikan demokrasi dari 52 negara, para peserta sepakat membentuk “Civitas International” yang menyimpulkan pentingnya pendidikan demokrasi bagi penumbuhan “civic culture” untuk keberhasilan pengembangan dan pemeliharaan pemerintahan demokratis (democratic governance).
            Penumbuhan dan pengembangan civic culture dapat dikatakan merupakan salah satu tujuan penting pendidikan kewarganegaraan (civic education). Namun harus diakui, sementara para ahli pendidikan kewarganegaraan umumnya sepakat bahwa peranan pendidikan kewarganegaraan dalam pengembangan demokrasi dan kewargaan demokratis telah jelas, tetapi dalam prakteknya masih terdapat per-bedaan-perbedaan. Mereka sepakat, bahwa demokrasi yang tengah tumbuh seperti Indonesia sekarang, memerlukan sarana di mana generasi muda umumnya dapat menjadi tahu dan sadar tentang pengetahuan, keahlian, ketrampilan dan nilai-nilai yang diperlukan untuk menyangga, memelihara dan melestarikan demokrasi. Tetapi bagaimana semua hal itu dapat dicapai melalui pendidikan kewarganegaraan tidaklah begitu jelas (Print, 1999).
            Postulat yang berada di balik penerapan pendidikan kewarganegaraan di Indonesia didasari asumsi bahwa pemeliharaan tradisi demokrasi tidak bisa diwariskan begitu saja, tetapi sebaliknya harus diajarkan, disosialisasikan dan diaktualisasikan kepada generasi muda melalui sekolah. Lebih dari pada postulat penting tersebut, dalam pandangan banyak ahli pendidikan dan demokrasi barat, pendidikan kewarga-negaraan merupakan kebutuhan mendesak karena beberapa alasan kuat lainnya. Pertama, meningkatnya gejala dan kecenderungan political literacy, tidak melek politik  dikalangan warganegara. Kedua, meningkatnya political apathism, yang terlihat antara lain dari relatif sedikitnya jumlah warganegara yang memberikan suara dalam pemilu, atau terlibat dalam proses-proses politik lainnya.            Indonesia dengan “separated approach” melalui mata pelajaran khusus PPKn; MKDU Pancasila dan Kewiraan (MKPK Pancasila dan Kewarganegaraan – kurikulum 2000), sebenarnya telah berdiri di depan. Tetapi harus diakui, terdapat sejumlah masalah dalam mata pelajaran tersebut. Akibatnya, mereka gagal dalam usaha sosialisasi dan desimenasi demokrasi, jangankan lagi untuk pembentukan cara berfikir (worldview) dan perilaku demokrasi di lingkungan peserta didik dan masyarakat sekolah/ universitas pada umumnya. (Azra:2001).
            Lebih lanjut dikatakan oleh Azra (2001) kegagalan itu bersumber setidaknya dari tiga hal, yaitu:
1.      Secara substantif, PPKn, Pancasila dan Kewiraan tidak secara terencana  dan terarah mencakup materi dan pembahasan yang lebih terfokus pada pendidikan demokrasi dan kewarganegaraan. Materi-materi yang ada umumnya terpusat pada pembahasan yang bersifat idealistik, legalistik dan normatif.
2.      Kalaupun materi-materi  yang ada pada dasarnya potensial bagi pendidikan de-mokrasi dan pendidikan kewarganegaraan, potensi itu tidak berkembang karena pendekatan dalam pembelajarannya bersifat indoktrinatif, regimentatif, monologis dan tidak partisipatif.
3.      Ketiga subyek itu lebih teoritis dari pada praktis. Akibatnya terdapat diskrepansi yang jelas diantara teori dan wacana yang dibahas dengan realitas sosial politik yang ada. Bahkan pada tingkat sekolah/ universitas sekalipun diskrepansi itu sering terlihat pula dalam bentuk otoriterianisme bahkan feodalisme orang-orang sekolah dan universitas itu sendiri. Akibatnya, bisa dipahami, kalau sekolah /universitas gagal membawa peserta didik untuk “mengalami demokrasi”.
             Mahasiswa sebagai bagian integral dan motor perubahan (agent of change) dalam masyarakat menempati posisi yang strategis dalam situasi transisi saat ini. Peran strategis yang dimiliki mahasiswa telah terbukti dalam perjalanan sejarah bangsa seperti meruntuhkan rezim Orde Baru yang tidak demokratis dengan melahirkan era reformasi.
            Untuk mengoptimalkan peran transformatif mahasiswa sebagai “motor perubahan” pada level masyarakat dan kelembagaan negara agar terciptanya kultur yang demokratis perlu ditopang oleh pengetahuan dan pengalaman dari sistem pendidikan yang menekankan pada masalah demokrasi, hak asasi manusia dan masyarakat madani (civil society). Pendidikan Kewarganegaraan merupakan upaya kita untuk menggalang kesepakatan bersama tentang arah dan bentuk masyarakat Indonesia yang diidamkan bersama. Karena kemampuan sosial bukanlah keahlian yang diwariskan melalui garis keturunan, tetapi dikondisikan melalui pembelajaran.
            Tujuan Civic Education di perguruan tinggi tidak lain adalah agar dalam pusaran zaman yang amat bergolak ini, mahasiswa sebagai motor perubahan harus menerima dan melaksanakan perannya yang sangat strategis. Dengan bekal cara berfikir rasional, kritis, serta terbuka terhadap ide ataupun gagasan baru maka perguruan tinggi dan mahasiswa wajib menguji nilai-nilai demokrasi agar dapat diwujudkan sesuai kondisi sosial-budaya masyarakat.
Cara berfikir yang berorientasi ke masa depan (truth-oriented)yang menjadi ciri mahasiswa dan perguruan tinggi, Insya Alloh akan dapat membantu mengurai benang kusut peta politik praktis Indonesia. Karena berbeda dengan politisi yang berorientasi jangka pendek (power oriented), Mahasiswa dan perguruan tinggi akan mencari jalan keluar yang lebih langgeng dan obyektif.
Adapun nilai-nilai yang diharapkan dari pembelajaran civic education di perguruan tinggi adalah, tumbuhnya sikap mental yang cerdas, penuh tanggung jawab dan perilaku yang mencerminkan:
(1)    Iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai falsafah bangsa;
(2)    Budi pekerti luhur sehingga dapat terus memanfaatkan ilmu pengeta-huan, teknologi dan seni untuk kepentingan kemanusiaan, bangsa dan negara;
(3)    Sikap rasional, kritis, dan dinamis terhadap hak dan kewajiban sebagai warga negara;
(4)    Sikap disiplin dan profesional dalam membela negara.
            Karakteristik matakuliah CE/PKn juga menyangkut dimensi pengetahuan, keterampilan dan nilai (values). Sejalan dengan ide pokok Pendidikan Kewarga-negaraan yang bertujuan membentuk warga negara yang ideal, yaitu warga negara yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan nilai sesuai dengan konsep dan prinsip PKn/CE, maka dalam tiga dimensi tersebut harus ada penekanan pembelajaran yang mengarah pada values walaupun ini bukan berarti meniadakan dimensi kognitif dan keterampilan. Dua dimensi tersebut dalam hal tertentu sangat dibutuhkan untuk menanamkan values pada mahasiswa.
            Secara makro Pendidikan Kewarganegaraan (CE) memiliki tiga dimensi dasar, yaitu:
1.      Dimensi pengetahuan kewarganegaraan (civics knowledge) yang menyangkut bidang politik, hukum dan moral, sehingga membawa konsekuensi materi kuliah PKn/CE meliputi pengetahuan tentang prinsip dan proses demokrasi, lembaga pemerintah dan non pemerintahan, identitas nasional, rule of law, peradilan yang bebas dan obyektif, konstitusi, sejarah nasional, hak dan tanggung jawab warga negara, HAM dan hak politik.
2.      Dimensi civics Skills yaitu dimensi yang menyangkut ketrampilan dalam berpartisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena hal tersebut terkait dengan misalnya perwujudan masyarakat madani, maka harus diberikan kemampuan untuk ikut mewujudkan masyarakat madani, keterampilan mempe-ngaruhi, keterampilan melakukan monitoring jalannya pemerintahan, keteram-pilan dalam pengambilan keputusan, keterampilan pemecahan masalah sosial, keterampilan berkoalisi dan mengelola konflik.
3.      Dimensi nilai kewarganegaraan (civic values) yaitu materi perkuliahan yang diarahkan untuk menanamkan nilai, kepercayaan serta sikap berkewargane-garaan yang baik. Materi yang terkait dengan dimensi ini adalah:  komitmen, penguasaan nilai keagamaan, norma dan etika, nilai keadilan, demokrasi, kebebasan individual dan perlindungan.
Sejalan dengan pengembangan dan penerapan KBK di perguruan tinggi, maka mahasiswa juga harus memiliki kompetensi yang mencakup tiga ranah, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Dengan mempertimbangkan ciri khusus dalam PKn, maka mahasiswa /lulusan yang telah menempuh matakuliah ini diharuskan memiliki kompetensi sebagai berikut:
1.      CivicKnowledge, yaitu kompetensi yang berkaitan dengan pengetahuan yang berhubungan dengan keilmuan kewarganegaraan. Mahasiswa harus menguasai keilmuan, teori tentang negara, terbentuknya masyarakat dan sebagainya.
2.      Civic Skill, yaitu kompetensi yang menyangkut kemampuan atau keterampilan untuk memasuki masyarakat selaku warganegara yang baik. Dalam dimensi ini ketrampilan kewarganegaraan dibagi dalam dua kompetensi yaitu:
  1. Intelelectual skill, yaitu mahasiswa mempunyai kemampuan dan kecerdasan yang menyangkut pemecahan hidup bermasyarakat selaku warga negara.
  2. Participatory skill, yaitu kemampuan mahasiswa untuk dapat ikut serta dalam kegiatan kemasyarakatan, sehingga dalam masyarakat mereka dapat sepenuhnya berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan warga negara.
3. Civic Disposition, yaitu setelah perkuliahan selesai, terbentuk watak mahasiswa yang Pancasilais, dan watak-watak baik lain yang bersumber dari kepribadian Bangsa Indonesia.
Hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh peneliti (Nurul Zuriah, 2002)  yang didanai oleh UMM bekerjasama dengan LP3 UMY dan Asia Foundation tentang persepsi dan aspirasi mahasiswa terhadap Civic Education / PKN di Perguruan Tinggi menunjukkan respon yang positif dan menggembirakan  (55%) responden menyatakan apresiatif dan sangat setuju penyelenggaraannya di PT. Sedangkan aspirasi mahasiswa terhadap pembelajaran CE/PKN menunjukkan adanya keanekaragaman aspirasi yang dipengaruhi oleh informasi yang diterimanya, kebe-basan pikir mereka serta jenis angket yang diberikan secara terbuka yang meliputi aspirasi : (1) secara umum, (2) berkenaan dengan materi, (3) berkenaan dengan dosen, (4) berkenaan dengan lain-lain. Sedangkan materi, metode dan desain baru pembelajaran CE/PKN yang sesuai dengan aspirasi mahasiswa di era demokratisasi belajar adalah proses pembelajaran CE/PKN dikembangkan ke arah pengembangan Civic Intelligence (kecerdasan warga negara) yang mencakup : (1) Civic knowledge (pengetahuan kewarganegaraan), (2) Civic Skills ( ketrampilan kewarganegaraan) dan (3) Civic Dispositions (sikap kewarganegaraan) yang diaktualisasikan dalam civic participations (partisipasi kewarganegaraan) melalui penggunaan metode pembelajaran yang dermokratis dengan menggunakan model pembelajaran berbasis portofolio yang dipadu dengan model cooperative learning.
Kemudian hasil penelitian yang lain yang dilakukan oleh peneliti  (Nurul Zuriah, 2003) yang didanai PBI-UMM tentang Pengembangan Model Pembelajaran Civic Education Berbasis Trimodel Pembelajaran Sebagai Upaya akselerasi Desi-enasi Nilai-Nilai Demokrasi di Perguruan Tinggi Muhammadiyah menunjukkan fenomena yang sama, bahwa pembelajaran PKN/CE perlu dilakukan secara inovatif- kolaboratif dan pembaharuan secara terus-menerus. Pengembangan kompetensi kewarganegaraan yang mencakup Civic intellegence (kecerdasan warganegara) meliputi : (1) Civic knowledge (pengetahuan kewarganegaraan), (2) Civic Skills (ketrampilan kewarganegaraan) dan (3) Civic dispositions (sikap kewarganegaraan) yang diaktualisasikan dalam civic participations (partisipasi kewarganegaraan) dapat dilakukan melalui kolaborasi penggunaan Tri (tiga) model pembelajaran, yaitu : (1) model pembelajaran konvensional, (2) model pembelajaran portofolio dan (3) model pembelajaran cooperative learningyang lebih demokratis dan memperhatikan karakteristik mahasiswa.
Di samping itu hasil penelitian yang lain, yang dilakukan peneliti bersama tim dalam penelitian Hibah Bersaing XI.1 – XI.3  tahun 2003 – 2005 yang dibiayai DP3M Dirjen Dikti tentang Pengembangan Model Pembelajaran Demokratis  Berperspektif Gender Pada Matapelajaran PPKN di Lingkungan Pendidikan Dasar, juga menunjukkan fenomena sebagai berikut:
Pendidikan kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang  wajib diberikan dari tingkat pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi. Tujuan dan targetnya adalah membekali kompetensi peserta didik agar memiliki penge-ahuan kewarganegaraan (civic knowledge), ketrampilan kewarganegaraan (civic skills), etika dan karakter kewarganegaraan (civic etic and civic disposition).  Hal ini menuntut pembaharuan pembelajaran PPKn yang inovatif, variatif, menarik dan mampu menyiapkan peserta didik menjadi warganegara yang baik (good citizen). (Zuriah, 2005)

            Untuk menjadi bangsa yang tangguh, kuat dan memiliki kemampuan kompetitif serta memiliki berbagai keunggulan komparatif, pendidikan harus mampu melahirkan SDM yang tidak saja memiliki kecerdasan ganda, tapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis dan berpikir kreatif serta dialogis.
            Donald P. Kauchak dalam Dede Rosyada (2004:103), menyebutnya dengan pendidikan yang menghasilkan outcome dengan level tertinggi, yang memiliki tiga kemampuan, yaitu kemampuan menyelesaikan masalah, berpikir kritis dan mampu menyelesaikan masalah berbasis data melalui penelitian inquiry.
            Sementara itu Kenneth D. Moore menawarkan dua kompetensi di atas enam level kognitif, yaitu pengembangan kemampuan criticalthinking dan creative thinking, yang keduanya menurutnya tidak berhubungan secara signifikan dengan tingkat intellegensia mereka (Moore, 2001:113). Hal ini dikarenakan anak cerdas belum tentu kreatif dan begitu pula sebaliknya anak kreatif belum tentu cerdas. Kemampuan berpikir kritis bisa dikembangkan, dan begitu pula kreativitas serta berpikir kreatif bisa dikembangkan, yang keduanya tidak terjangkau dalam tahapan kognitif Bloom (Dede Rosyada, 2004:104).
            Tawaran tawaran tersebut sangat rasional untuk dikaji dalam perkuliahan Civic Education / Pendidikan Kewarganegaraan  di perguruan tinggi, yakni me-ngembangkan kemampuan mahasiswa dengan pembiasaan berpikir kritis untuk membiasakan meneliti sebuah masalah, dan menganalisis berbagai solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan berbasis pada teori-teori yang rasional kemudian mereka juga dilatih untuk berpikir kritis dan kreatif dengan pola dialogis.
            Untuk menyambut tawaran-tawaran di atas, maka dilakukan pengembangan model belajar problem solving dengan model pembelajaran portofolio dan pembelajaran dengan out come level tertinggi lainnya seperti pengembangan criticalthinking yakni kemampuan berpikir kritis yang bisa dikembangkan sejak dini, dan tidak tergantung pada tingkat intellegence question, namun pada intensitas pembinaan dan kebiasaan melatih anak berpikir kritis.
            Bahkan menurut Kenneth D. Moore (2001:113) diberikan ilustrasi bahwa :   

“Berpikir kritis itu lebih kompleks daripada berpikir biasa, karena berpikir kritis berbasis pada standar objektivitas dan konsistensi. Dosen, menurutnya pula harus membiasakan mahasiswa untuk mengubah pola berpikirnya, yaitu :
  1. dari menduga menjadi mengestimasi;
  2. dari memilih menjadi mengevaluasi;
  3. dari pengelompokan menjadi pengklasifikasian;
  4. dari percaya menjadi menduga;
  5. dari penyimpulan dengan dugaan pada penyimpulan secara logis;
  6. dari selalu menerima konsep pada mempertanyakam konsep;
  7. dari menduga menjadi menghipotesis;
  8. dari menawarkan pendapat tanpa alasan pada penawaran pendapat dengan argumentasi
  9. dari membuat putusan tanpa kriteria pada pembuatan putusan dengan kriteria.

Berpikir kritis, secara umum membutuhkan kemampuan berpikir lebih tinggi dari sekadar mengetahui, memahami, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Namun kemampuan tersebut bisa dilatih dan dikembangkan, yang diintegrasikan dalam berbagai mata kuliah yang memungkinkan  untuk pengembangan berpikir tersebut.
Kemampuan critical thinking (berpikir kritis) tiada lain adalah kemampuan mahasiswa dalam menghimpun berbagai informasi lalu membuat sebuah kesimpulan evaluatif dari berbagai informasi tersebut. Kemampuan tersebut merupakan sesuatu yang amat rasional untuk dikembangkan, namun tidak semua mahasiswa harus diberikan perlakuan yang sama, karena dari pembelajaran dalam kategori ini, dan mereka tidak mampu untuk berpikir tentang berbagai informasi lain, atau data-data lain yang relevan dengan topik-topik yang mereka pelajari. Padahal itulah inti dari pengembangan critical thinking, yakni mengakses berbagai informasi lain, dari berbagai sumber yang tidak dibatasi hanya buku teks, lalu informasi-informasi tersebut dianalisis dengan menggunakan berbagai pengetahuan dasar dari bahan ajar formal, lalu mereka membuat kesimpulan. Proses penyimpulan itulah yang disebut critical thinking, yang mampu melahirkan berbagai pemikiran kreatif.
Berpikir kritis sangat dipengaruhi oleh basis keilmuan, penguasaan terhadap prosedur atau proses berpikir yang dapat melahirkan rumusan-rumusan pemikiran, ada kecenderungan serta kemampuan berpikir metakognisi, yang antara satu dengan lainnya juga terdapat keterkaitan, yakni metakognisi dipengaruhi oleh sikap dan kecenderungan, dan sikap dan kecenderungan juga dipengaruhi oleh metakognisi, begitu seterusnya antara satu elemen dengan elemen lainnya.
Teori yang dikemukakan di atas, sangat relevan untuk dikembangkan dalam perkuliahan CE / PKn di perguruan tinggi, dimana mereka dapat belajar menemukan masalah dari kasus yang simpel yang terjadi dalam lingkungannya, lalu mereka amati, mereka rasakan dan berpikir bagaimana mengatasinya.
            Pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi melalui pemecahan masalah, “berpikir kritis”, “berpikir kreatif” dan “dialogis” dirasakan begitu penting dan sangat cocok dengan adanya tuntutan sejumlah kompetensi (Civic Knowledge, Civic Skill dan Civic Disposition) yang perlu dimiliki mahasiswa terutama dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan atau  civic education  di lingkungan per-guruan tinggi .
Namun demikian, selain ketrampilan berpikir tingkat tinggi, mahasiswa juga perlu dibekali dengan menguasai konsep-konsep dalam bidang studi konsentrasi / keahliannya. Bertolak dari kenyataan di atas, maka analisis konsep dan pembuatan peta konsep juga perlu dikuasai dosen, sehingga setiap model pembelajaran yang dilakukan perlu bertolak dari analisis konsep dan peta konsep. Hal ini sangat urgen dalam inovasi pembelajaran yang dilakukan dalam perkuliahan PKN/CE yang dilakukan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah dengan pendekatan DDCT ( deep dialogue dan critical thinking). Pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan pendidikan sosial, terutama PPKn telah berhasil dirumuskan oleh GDI (Global Dialog Institute) yang berkedudukan di Amerika Serikat dengan diberi nama pende-katan Deep Dialogue dan Critical Thinking (DDCT).
Secara sederhana, dialog adalah percakapan antara orang-orang dan melalui dialog tersebut, dua masyarakat/kelompok atau lebih yang memiliki pandangan berbeda-beda bertukar ide, informasi dan pengalaman. Deep dialogue (dialog mendalam), dapat diartikan bahwa percakapan antara orang-orang tadi (dialog) harus diwujudkan dalam hubungan yang interpersonal, saling keterbukaan, jujur dan mengandalkan kebaikan (GDI, 2001). Sedangkan critical thinking (berpikir kritis) adalah kegiatan berpikir yang dilakukan dengan mengoperasikan potensi intelektual untuk menganalisis, membuat pertimbangan dan mengambil keputusan secara tepat dan melaksanakannya secara benar.Beberapa prinsip yang harus dikembangkan dalam deep dialogue critical thinking, antara lain adalah: adanya komunikasi dua arah dan prinsip saling memberi yang terbaik, menjalin hubungan kesederajatan dan keberadaban serta empatisitas yang tinggi.
Dengan demikian, deep dialogue and critical thinking mengandung nilai-nilai demokrasi dan etis sehingga keduanya seharusnya dimiliki oleh manusia. Nilai-nilai demokrasi dan etis yang dijadikan orientasi dalam DDCT, mempunyai kaitan erat dengan tujuan pendidikan kewarganegaraan di Indonesia (PKn), terutama dalam pembentukan warga negara yang baik, demokratis, cerdas dan religious.  Adapun  komponen utama pendekatan DDCT, meliputi: a. Konstruktivisme  (constructivism); b. Penemuan konsep (concept attainment); c. Dialog Mendalam (deep dialogue); d. Belajar bersama (learning together); e. Menemukenali (inquiry), f. Penilaian yang sebenarnya (Authenteic Assesment).
Proses belajar-mengajar adalah proses dialog. Sebagai proses dialog, praktik pembelajaran memerlukan prasyarat kesiapan fisik dan mental pelaku penyampai pesan dan penerima pesan pembelajaran. Pembelajaran berbasis Deep Dialogue Critical Thinking (DDCT) mengakses paham konstruktivis dengan menekankan adanya dialog mendalam dan berpikir kritis. Dengan deep dialogue critical thinking, seseorang diharapkan mampu di samping mengenali diri sendiri juga mengenal diri orang lain. Selain itu, dengan dialog mendalam dan berpikir kritis, orang akan belajar mengenal dunia lain di luar dunia dirinya dan selanjutnya mampu menghargai perbedaan-perbedaan yang ada di dalam masyarakat. Hal ini membuka kemung-kinan-kemungkinan untuk memahami makna yang fundamental dari kehidupan secara individual dan kelompok dengan berbagai dimensinya.
Mempertimbangkan dasar pemikiran, studi pustaka dan Riset yang telah dila-kukan, tuntutan Inovasi pembelajaran dan perlunya peningkatan kualitas pembe-lajaran di perguruan tinggi yang tengah berlangsung, serta semangat demokratisasi belajar di lingkungan perguruan tinggi, terutama dengan pemberlakuan kurikulum baru yang menggunakan paradigma konstruktivistk dan semangat demokratisasi pendidikan maka maka penelitian ini di rasa sangat urgen untuk dilakukan.

C.  HASIL DAN PEMBAHASAN
C.1 Pengetahuan dan konsep dasar dosen dan mahasiswa dalam pembelajaran PKN/CE yang ada di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah  selama ini.
Berdasarkan hasil pengumpulan data dan analisis data di lapangan, maka pengetahuan dan konsep dasar dosen dan mahasiswa dalam perkuliahan/pembelajar-an PKn/CE yang ada  di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah selama ini menunjukkan fenomena yang beragam, apabila dikategorisasi dan diklasifikasikan secara lebih simpel menunjukkan fenomena sebagai berikut:
C.1.1 Menurut pendapat ketua jurusan / kaprodi selaku supervisor di jurusan, menya-takan bahwa kondisi umum pembelajaran / perkuliahan PKn/CE yang diamati dan terjadi dijurusan/ prodinya, menunjukkan sebagai berikut:
1)      Pembelajaran/perkuliahan PKn/CE materinya terlalu banyak, dan isi materi PKn/CE antara satu buku dengan buku lainnya kadang berbeda.
2)      Pembelajaran/perkuliahan PKn/CE dilakukan kurang menarik dan mem-bosankan. Metode pembelajaran yang ada selama ini cenderung kurang bervariasi dan kurang melibatkan mahasiswa.
3)      Mahasiswa umumnya kurang menyenangi pelajaran/perkuliahan PKn/ CE karena harus banyak menghafal dan banyak membaca.
4)      Proses Pembelajaran/perkuliahan PKn/CE yang ada selama ini kurang menarik, cenderung hafalan dan kurang kontekstual.
5)      Dosen PKn/CE cenderung belum siap mengajar secara kontekstual dan menyenangkan dan masih berpola “textbookish”.
C.1.2  Menurut pendapat dosen selaku pengajar / pengampu dan pembina matakuliah di kampus, menyatakan bahwa kondisi umum pembelajaran PKn/CE yang dilaksanakan selama ini, menunjukkan sebagai berikut:
1)      Terlalu banyaknya beban materi PKn/CE yang harus disampaikan pada mahasiswa. Terlalu luas karena mencakup berbagai materi bidang IPOLEKSOSBUDHANKAM  (sosiologi, politik, hukum,HAM, filsafat, antropologi, moral dan nilai).
2)      Kurangnya media pembelajaran yang bisa digunakan untuk menyampai-kan materi yang terlalu padat. DVD/VCD dan yang lain susah di dapat.
3)      Kurangnya atau rendahnya minat baca mahasiswa terhadap buku pelajaran PKn/CE, sehingga penguasaan konsepnya setengah-setengah atau tidak matang.
4)      Banyaknya teori yang tidak sesuai dengan fakta, fakta menunjukkan etika kedudukannya lebih tinggi dari pada kebenaran. Banyak yang diajarkan di sekolah bersifat paradoks dengan kenyataan di masyarakat, terutama untuk PKn.
5)      Pembelajaran PKn/CE dilakukan kurang menarik dan membosankan. Metode pembelajaran yang ada selama ini cenderung kurang bervariasi dan kurang melibatkan siswa.
6)      Siswa kurang mampu menyerap materi pelajaran yang terlalu banyak dan luas. Siswa hanya paham sebatas teori saja.
7)      Pembelajaran PKn/CE dilakukan kurang menantang dan kurang mem-buka ruang berpikir kritis-kreatif-dialogis mahasiswa sehingga kurang menarik dan membosankan.
8)      Waktu dan bobot penyajian sangat terbatas yaitu hanya 2 SKS/2 JS perminggu.
C.1.3 Menurut pendapat mahasiswa selaku peserta didik dan pembelajar di kampus/ kelas, menyatakan bahwa kondisi umum pembelajaran PKn/CE yang dialami selama ini, menunjukkan sebagai berikut:
1)      Terlalu banyak yang dihafalkan pengetahuan politik, hukum, HAM, antro-pologi, Sosiologi, pemerintahan, moral dan nilai.
2)      Terlalu banyak materi yang diajarkan
3)      Cukup baik tetapi kadang-kadang membosankan
4)      Biasanya perkuliahan berlangsung tegang/kaku/disiplin dan membosankan
5)      Cukup bagus tetapi kurang menyenangkan dan menakutkan
6)      Perkuliahan PKn/CE kurang dilakukan dengan baik karena banyak materi yang belum dimengerti dan bukunya terbatas.
7)      Siswa merasa kurang mengerti/bosan
8)      Keberhasilan perkuliahan dirasa kurang karena tidak adanya partisipasi mahasiswa dalam belajar
9)      Mahasiswa kadang merasa bosan dan mengantuk karena menurut mereka tidak seru, apalagi kalau disajikannya pada siang hari.
10)  Kurang, karena tak ada fakta yang sangat jelas
11)  Terkadang mengasyikkan dan terkadang tidak
12)  Kadang-kadang membosankan, tidak greget dan kurang menantang
13)  Terkadang menyenangkan dan terkadang membosankan
14)  Bukunya tidak kreatif jadi bosan untuk membaca
15)  PKn/CE cukup sulit (terutama bagi kelompok ilmu eksak/teknik) yang tidak suka menghapal dan bertele-tele. Sehingga terasa membosankan, dan materinya banyak menyangkut kehidupan sehari-hari di ungkap di TV.
16)  Sebagian banyak mahasiswa yang tidak suka PKn, dan banyak yang membenci IPS karena banyak hafalannya.
17)  Terkadang susah dimengerti dan lumayan sulit
18)  Sebenarnya PKn itu mudah jika mahasiswa sering membaca, mendengar,  melihat TV dan belajar, jika tidak belajar bisa juga dibilang susah.
19)  Kondisinya baik jadi mahasiswa bisa konsentrasi tetapi karena dosennya,
Tampangnya dan performancenya galak/killer mahasiswa tidak bisa konsen-
            trasi.
20)  Kurang lancar karena banyak mahasiswa yang belum paham materinya
21)  Cukup susah dan terlalu banyak yang dibahas dalam satu semester dengan tugasnya yang banyak pula.
22)  Karena PKn lama (Pendidikan Kewiraan) dicampur dengan Pendidikan Pancasila menjadi matakuliah baru Pendidikan Kewarganegaraan/Civic Education, sehingga materinya sangat banyak.
Pengetahuan, sikap dan perilaku dosen, mahasiswa dan ketua prodi dalam pembelajaran/perkuliahan PKn/CE di lingkungan PTM yang ada sekarang cen-derung menunjukkan fenomena yang beragam dan mereka cenderung menganggap: Perkuliahan PKn/CE materinya terlalu banyak dan luas, Pembelajaran dilakukan kurang menarik dan membosankan. Metode pembelajaran yang ada selama ini cenderung kurang bervariasi dan kurang melibatkan mahasiswa. Mahasiswa umum-nya kurang menyenangi pelajaran/perkuliahan PKn/CE karena harus banyak menghafal dan banyak membaca. Dosen PKn/CE cenderung belum siap mengajar secara kontekstual, kurang enjoyfull learning (belajar dengan menyenangkan) dan masih berpola “textbookish”.
         
C.2 Penyebab pembelajaran PKn/CE yang terjadi selama ini berlangsung monolitik, kurang demokratis, membosankan dan  tidak optimal.
Penyebab pembelajaran /perkuliahan PKn/CE yang terjadi selama ini ber-langsung monolitik, kurang demokratis, membosankan dan  tidak optimal, dikare-nakan 10 faktor dominan, yaitu:
(1) Pembelajaran PKn/CE pada umumnya kurang memperhatikan perubahan-perubahan dalam tujuan, fungsi dan peran PKn/CE di masyarakat
(2)  Posisi, peran dan hubungan fungsional dengan bidang studi lainnya terabaikan.
(3)  Lemahnya transfer informasi konsep PKn/CE sebagai bagian dari rumpun ilmu-ilmu sosial  mengakibatkan out put pembelajaran PKn/CE tidak mem-beri tambahan daya dan tidak pula mengandung kekuatan pada peserta didik untuk mengatasi problem-problem yang ada di lingkungan ma-syarakatnya.
(4) Dosen PKn/CE tidak dapat meyakinkan siswa untuk belajar PKn/CE  dengan lebih bergairah, menarik dan bersungguh-sungguh, karena mahasiswa kurang dan bahkan tidak pernah dibelajarkan untuk berpikir kritis dan membangun konseptualisasi secara mandiri.
(5) Dosen lebih mendominasi siswa (teachercentered) dengan kadar pembela-jarannya rendah sehingga kebutuhan belajar mahasiswa tidak terlayani. Dosen cenderung memperlakukan mahasiswa sebagai objek. Mereka hanya menerima apa yang diajarkan tanpa bisa mengkritisi. Dengan kata lain dikatakan bahwa sistem pendidikan dan pembelajaran yang berlaku di Indo-nesia masih jauh dari demokratis.
(6) Pembelajaran PKn/IPS selama ini belum membiasakan pengalaman nilai-nilai kehidupan demokrasi sosial kemasyarakatan yang riil, dengan melibatkan siswa dan seluruh komunitas sekolah dalam berbagai aktivitas kelas dan sekolah.
(7) Adanya tradisi yang dilakukan dosen dalam melaksanakan pembelajaran PKn/CE yang cenderung menggunakan pendekatan monolitik dan bersifat top down , semua materi pembelajaran secara detail telah dipersiapkan oleh pusat (surat edaran) menteri pendidikan nasional, dosen tidak punya keleluasan untuk mencari dan mengembangkan materi lebih jauh.
(8) Nuansa pendekatan teoritis sangat kental dilakukan dalam pembelajaran PKn/CE, yang ditunjukkan dengan penekanan pada pembahasan apa yang ada dalam buku teks, tanpa dikaitkan dengan apa yang ada dan yang relevan bagi bangsa Indonesia saat ini. Pengajaran/ perkuliahan PKn/CE hanya memiliki kontribusi yang amat kecil dalam pengembangan individu dan masyarakatnya terutama dalam rangka penyemaian dan akselerasi pertumbuhan nilai-nilai demokrasi dalam masyarakat Indonesia yang majemuk (plural) dan yang menghargai perbedaan kultur di masyarakat sesuai dengan semangat multikultualisme.
(9) Dosen PKn/CE tidak berani mengembangkan kurikulum di dalam kelas karena takut dianggap nyeleneh- menyalahi aturan dantradisi” Kondisi ini diper-buruk oleh sikap pengelola lembaga pendidikan yang tidak mendukung upaya inovasi dosen karena khawatir dengan aturan birokrasi.
(10) Penyebab mahasiswa kurang kritis karena: (1) pengaruh budaya tradisional, (2) dosen tidak tahu cara mengajarkan berpikir kritis dan (3) rendahnya kualitas dosen dan mahasiswa. Bahkan  secara keseluruhan masyarakat Indonesia dinilai kurang kritis karena tiga hal, yaitu: warisan budaya tradisional, rendahnya kadar demokrasi dalam pemerintahan Indonesia dan rendahnya populasi – penduduk yang berpendidikan.
  
C.3  Alasan perlunya dilakukan upaya inovasi model pembelajaran PKN/CE berbasis DDCT dan demokratisasi yang dapat mengembangkan ke-mampuan berpikir kritis-dialogis mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah.
Ada 5 (lima) alasan pentingnya dilakukan upaya inovasi dan reorientasi model pembelajaran PKN/CE berbasis DDCT yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis-dialogis mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah, antara lain adalah :
(1) Adanya beberapa problem mendasar yang muncul dalam proses belajar mengajar PKn/CE di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah,
(2) Adanya ketidakpuasan mahasiswa terhadap perkuliahan PKn/CE yang ber-sumber dari lemahnya penguasaan dosen akan materi dan metode pembe-lajarannya.
(3) Adanya harapan dan keinginan dari mahasiswa untuk dilakukan perbaikan kualitas pembelajaran PKn/CE dengan melakukan berbagai variasi dalam pelak-sanaan pembelajaran.
(4) Kesalahan orientasi dalam pembelajaran PKn/CE yang ada selama ini harus segera diakhiri salah satunya dengan menerapkan DDCT dalam perkuliahan PKn/CE untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis-Dialogis Maha-siswa.
(5) apapun bidang studinya, belajar itu sesungguhnya berpikir, karena itu kualitas berpikir seseorang tergantung pada kualitas pembelajarannya, khususnya pada interaksi edukatif antara mahasiswa dengan mahasiswa dan mahasiswa dengan dosen. Prinsip-prinsip paedagogis kritis seharusnya menjadi rujukan dalam mendesain proses pembelajaran atau perkuliahan di PTM. 

C.4  Rumusan konsep dasar model teoritik pengembangan kemampuan ber-pikir kritis-kreatif-dialogis mahasiswa dalam pembelajaran PKn/Ce yang diinginkan stake holders (dosen, mahasiswa dan ketua jurusan/ kaprodi) berbasis DDCT dan demokratisasi belajar di lingkungan PTM.
Berdasarkan hasil pengumpulan data dan analisis data di lapangan, maka dapat dibuat draft beberapa rumusan prototipe dan konsep dasar model teoritik pembe-lajaran PKn/CE, berbasis DDCT dan demokratisasi belajar di lingkungan pendidikan tinggi, yang sesuai dengan keinginan dosen, mahasiswa dan ketua jurusan serta sejalan dengan semangat dan era demokratisasi belajar, yaitu  :
(1) Dosen dituntut oleh mahasiswa  dan mempunyai tugas berat untuk memahami tahap-tahap perkembangan kemampuan bakat, perasaan, harga diri mahasiswa dan atribut-atribut non akademis yang lain;
(2) Belajar merupakan suatu proses konstruktif dan paling baik dilakukan jika apa yang dipelajari relevan dan bermakna bagi mahasiswa sesuai dengan penge-tahuan dan pengalaman sebelumnya, (Filsafat Konstruktivisme);
(3) Belajar yang paling baik terjadi dalam suatu lingkungan yang positif dimana ada interaksi dan hubungan interpersonal yang positif dan menyenangkan sehingga mahasiswa merasa dihargai dan diakui;
(4) Belajar pada dasarnya adalah proses alamiah, maka mahasiswa secara alamiah memiliki rasa ingin tahu dan berminat untuk mempelajari dan menguasai dunianya.
(5) Sebagai implikasinya mahasiswa harus dimasukkan dalam proses pembuatan keputusan pendidikan di sekolah/kelas, baik keputusan yang berhubungan de-ngan apa yang dipelajari atau aturan-aturan yang diterapkan di kelas.
(6)  Dosen mendorong dan menghargai perspektif yang berbeda-beda dari mahasiswa  selama pengalaman belajarnya, menjunjung tinggi pengembangan pemikiran kritis-kreatif dan dialogis-reflektif.
(7) Dosen menghargai aneka perbedaan diantara para mahasiswa,  seperti kultur, kemampuan, gaya belajar, tahap perkembangan dan kebutuhan khasnya 
(8)  Dosen memperlakukan mahasiswa sebagai kokreator dalam proses pembelajaran karena mereka kaya akan ide, gagasan dan isu serta inspirasi yang perlu diper-hatikan.

Dalam demokratisasi belajar, dosen dituntut untuk memiliki sifat-sifat:
1)         sabar, peka dan toleran  terhadap kemampuan belajar mahasiswa yang berbeda-beda;
2)         menggunakan aneka pendekatan pembelajaran adaptif terhadap perbedaan individual mahasiswa
3)         berorientasi pada tugas, terfokus dan menyajikan pelajaran dengan cara menarik dan melibatkan mahasiswa;
4)         atentif atau perhatian terhadap iklim afektif, menggunakan humor dan pujian dan,
5)         menyajikan informasi secara jelas dan memastikan mahasiswa telah memahami apa yang dipelajari.
6)         tugas dosen bukan lagi mengajar mahasiswa, tetapi membuat mahasiswa bisa belajar dan ini tidak bisa digantikan oleh berbagai media pendidikan yang lain.

            Orientasi pendidikan dan pembelajaran di Indonesia, khususnya PKn/CE dan ilmu sosial selama ini cenderung memperlakukan peserta didik/mahasiswa sebagai objek dan dosen sebagai pemegang otoritas tertinggi keilmuan. Orientasi pendidikan dan pembelajaran semacam ini akan menjauhkan peserta didik/mahasiswa dari kehidupan nyata yang ada di luar sekolah/ kampus, terlalu mengedepankan intelek-tualitas tanpa menghiraukan pengem-bangan kepribadian peserta didik secara utuh. Pelajaran terlalu di dominasi oleh tuntutan agar mahasiswa/murid menghafal dan menguasai pelajaran sebanyak mungkin. Bahkan materi pelajaran hanya diarahkan agar peserta didik bisa lulus ujian akhir atau lolos tes ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Peserta didik tidak pernah merasakan nikmatnya sekolah/kuliah. Mere-ka selalu dikejar-kejar oleh PR (pekerjaan rumah), tugas, ulangan dan ujian, sehingga mereka kehilangan waktu bermain bersama teman dan mengembangkan kreati-vitasnya.
   Kondisi orientasi pendidikan dan pembelajaran yang demikian, tidak bisa dilepaskan dari metode pendidikan guru/dosen senang selalu didasarkan pada perintah atasan dan birokrasi sekolah/kampus. Para pelaksana pendidikan dalam hal ini guru/dosen tidak mampu berinovasi, kreatif dan mandiri akibat mereka terbiasa dengan instruksi, petunjuk pelaksanaan (Juklak) dan petunjuk teknis (Juknis). Sebagai akibat lebih lanjut, iklim sekolah/kampus cenderung statis, kaku dan akhirnya menimbulkan efek destruktif pada keingintahuan, keper-cayaan diri, kreativitas, kebebasan berpikir, dan self respect mahasiswa. 
Kondisi pendidikan yang semacam ini juga tidak bisa dilepaskan dari pe-ngaruh  developmentalisme yang mengarahkan  semua aspek kehidupan berbangsa kepada pencapaian target kuantitatif dalam rangka pembangunan. Pandangan yang seperti ini sangat populer di negara berkembang seperti Indonesia, karena tuntutan untuk mempercepat pembangunan. Negara dan masyarakat terobsesi untuk segera sejajar dengan negara maju secepat mungkin. Pada akhirnya pendekatan develop-mentalisme ini cenderung mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi.

Sebagai solusinya adalah menerapkan demokratisasi dalam bidang pendi-dikan dan pembelajaran khususnya PKn/CE dengan mengedepankan terjadinya ruang dialog untuk berpikir kritis dan kreatif dalam proses pembelajarannya melalui pendekatan dan model pembelajaran DDCT (deep dialogue and critical thingking) sebagaimana yang ditawarkan dalam penelitian ini. Komunikasi yang harmonis antara dosen/guru dan mahasiswa/siswa harus dibangun. Pola pendidikan yang berjarak dan menimbulkan “gab” antara dosen dan mahasiswanya harus dikikis habis. Salah satu pendekatan yang cukup memadai untuk melaksanakan demo-kratisasi tersebut antara lain melalui pendekatan sistemik-organik yang bersifat fleksibel dan adaptif. Pendekatan yang semacam ini menekankan pendidikan sebagai suatu proses learning, bukannya teaching seperti falsafahnya Ki Hajar Dewantara. Masyarakat juga perlu dilibatkan untuk mendukung implementasi kebijakan yang tepat di lapangan.
       Secara teoritis penyusunan draft model dilakukan dengan melakukan telaah kritis dasar teoritis penyusunan model pembelajaran, seperti yang dikemukakan oleh Joyce dan Well (1986) yang mengelompokkan model pembelajaran atas 4 (empat) kategori, yaitu : (a) Model pemrosesan informasi, (b) model pribadi / personal, (c) model interaksi sosial, (d) model tingkah laku. Berdasarkan kerangka teori tersebut, model pembelajaran PKn/CE berbasis DDCT dan demokratisasi belajar berusaha mengkolaborasikan keempat model tersebut dalam sebuah model pembelajaran yang bertujuan mengembangkan  penalaran induktif, mengembangkan dan menganalisis konsep-konsep materi, mengembangkan kreativitas dan penyelesaian masalah secara kreatif, mengembangkan ketrampilan berpartisipasi dalam proses sosial yang demo-kratik melalui penekanan kombinasi antara ketrampilan interpersonal dan inkuiri akademik. Dalam hal mengajarkan fakta, konsep, ketrampilan berusaha mengurangi kecemasan peserta didik dengan suasana relaksasi (menyenangkan dan menga-syikkan).
C. 4.1  Karakteristik umum model pembelajaran PKn/CE berbasis DDCT dan  demo-kratisasi belajar yang dikembangkan di lingkungan perguruan tinggi Muham-madiyah, meliputi 7 (tujuh)  ciri pokok, yaitu:
1. Mahasiswa dan dosen nampak aktif;
2. Mengoptimalisasikan potensi intelegensi mahasiswa;
3. Berfokus pada mental, emosional dan spiritual;
4. Menggunakan teknik dialog mendalam dan berpikir kritis;
5. Peserta didik (mahasiswa)  dan guru (dosen)  dapat menjadi pendengar, pembicara dan pemikir yang baik;
6. Pembelajaran bersifat kontekstual selaras dengan manfaat praktis bagi kehidupan  sehari-hari mahasiswa;
7. Menekankan pada nilai, sikap dan kepribadian.

Komponen utama pendekatan DDCT, meliputi 6 (enam) unsur pokok, yaitu:
1. Konstruktivisme (constructivism);
2. Penemuan konsep (concept attainment);
3. Dialog Mendalam (deep dialogue);
4. Belajar bersama (learning together);
5. Menemukenali (inquiry),
6. Penilaian yang sebenarnya (Authenteic Assesment).

       Sintaks atau langkah-langkah penerapan DDCT di ruang kelas/dalam perku-liahan, dapat dideskripsikan secara singkat sebagai berikut:
1) Awali dan akhiri kegiatan pembelajaran dengan doa, dan sisipi dengan membangun komunitas;
2)  Berdayakan mahasiswa untuk menemukan konsep, bekerja dan mengkons-truksikan sendiri pengetahuan terhadap materi perkuliahan;
3)  Kembangkan kemampuan mahasiswa berdialog mendalam dengan rasa ke-ingintahuan dan keberanian menyampikan pendapat;
4) Beri kesempatan lebih banyak mahasiswa untuk menemukan dan menge-nali (inkuiri) pada materi yang disajikan;
5) Bangunlah kebiasaan “belajar bersama” yakni dengan belajar berkelompok;
6) Hadirkan media yang tepat berupa gambar, puisi, nyanyian dan sebaginya sebagai penarik respon mahasiswa dalam pembelajaran/ perkuliahan;
7) Lakukan penilaian sebenarnya dengan banyak alat dan cara.

       Sistem sosial yaitu situasi atau suasana dan norma yang berlaku dalam model pembelajaran PKN/CE berbasis DDCT yang sesuai dengan sifat demo-kratisasi belajar dan berkeadilan gender, ditandai oleh keputusan-keputusan yang dikem-bangkan “dari, oleh dan untuk siswa” atau setidaknya diperkuat oleh pengalaman kelompok dalam konteks masalah yang menjadi titik sentral kegiatan belajar.  Kegiatan kelompok yang terjadi sedapat mungkin bertolak dari pengarahan minimal dari pengajar. Suasana kelas akan terasa tak begitu terstruktur dan kaku, tapi dinamis dan menggairahkan. Pengajar dan pembe-lajar memiliki status yang sama dihadapan masalah yang dipecahkan dengan peranan yang berbeda. (dosen sebagai fasilitator dan mahasiswa sebagai aktor) dalam pembelajaran yang dilakukan.  Iklim kelas ditandai oleh proses interaksi yang bersifat kesepakatan atau konsensus.
Di samping itu situasi pembelajaran dikembangkan atas prinsip:
1. Konstruktivisme (constructivism);
2. Penemuan konsep (concept attainment);
3. Dialog Mendalam (deep dialogue);
4. Belajar bersama (learning together);
5. Menemukenali (inquiry),
6. Penilaian yang sebenarnya (Authenteic Assesment).
Disamping itu lingkungan belajar yang demokratis, hendaknya mampu mewarnai suasana kelas yang dapat digunakan sebagai ajang dialog, keterbukaan, toleransi, kritis dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip manusiawi, empati, adil gender, demokratis dan religius.
 Prinsip Reaksi / Pengelolaan; yaitu pola kegiatan yang menggambarkan bagaimana seharusnya dosen melihat dan memperlakukan peserta didik/mahasiswa, termasuk bagaimana seharusnya pengajar atau pendidik memberikan respon terhadap mereka. Dalam kelas yang menerapkan model pembelajaran DDCT dosen atau pengajar lebih berperan sebagai fasilitator, mediator, konselor, konsultan dan pemberi kritik yang bersahabat.  Dalam kelas ini mengede-pankan prinsip relasi dan interaksi edukatif  berpola demokratis – partisipatif – dialogis dan adil gender.  Di samping itu juga dikembangkan pola pikir kritis – kreatif – dialogis dan reflektif  berasaskan saling menghargai kebebasan berpendapat, toleran dan “wisdom”.
       Sikap dosen harus menjauhi model indoktrinatif, dan lebih berperan sebagai fasilitator dan moderator yang baik, yang membiarkan dan merangsang siswa untuk aktif dalam menggeluti bahan pelajaran. Hubungan antardosen  yang saling terbuka, saling menghargai, saling membantu dalam bekerjasama, dan demokratis dalam menentukan kehidupan sekolah akan membantu mahasiswa untuk menerapkan perilaku demokrasi yang baik di kemudian hari.
            Sistem Pendukung; yaitu segala sarana, bahan dan alat yang diperlukan untuk melaksanakan model pembelajaran PKn/CE berbasis pendekatan DDCT dan demokratisasi belajar, yang meliputi segala sesuatu yang menyentuh kebutuhan mahasiswa untuk menggali berbagai informasi yang sesuai dan diperlukan untuk melakukan proses pemecahan masalah kelompok. Perpustakaan, buku-buku penunjang serta bahan – bahan kliping (artikel dan gambar) dari koran, mudah dijangkau dan relatif memadai untuk dijadikan sebagai media pembe-lajaran. Kelas atau sekolah/kampus yang menerapkan model pembelajaran ini akan menggunakan berbagai media dan sumber belajar yang dekat dengan konteks dan lingkungan belajar mahasiswa.  
Dampak Instruksional dan Pengiring.Dampak instruksional, yaitu hasil belajar yang dicapai langsung dengan cara mengarahkan para pembelajar/mahasiswa pada tujuan yang diharapkan. Ber-kaitan dengan dampak instruksional ini, sekolah atau kelas yang menerapkan model pembelajaran PKn/CE berbasis DDCT dan demo-kratisasi belajar dalam pencapaian tujuan instruksional akan berorientasi pada materi akademik (sesuai tema dan topik pelajaran serta standar kompetensi dasar yang digariskan dalam kurikulum). Serta ditujukan untuk mencapai ketrampilan proses demokrasi dalam lingkup kelas (kelas demokratis, kritis dan dialogis sebagai miniatur masyarakat demokratis yang cerdas dan beradab).
Dampak Pengiring, ialah hasil belajar lainnya yang dihasilkan oleh sebuah proses belajar mengajar, sebagai akibat terciptanya suasana belajar yang dialami langsung oleh para pelajar tanpa pengarahan langsung dari pengajar. Sebagai dampak pengiring dari model pembelajaran PKn/CE berbasis pendekatan DDCT dan sesuai demokratisasi belajar tersebut, adalah dosen dan mahasiswa yang terlibat dalam proses pembelajaran akan mempunyai komitmen yang tinggi terhadap nilai-nilai demokrasi, keadilan dan kesetaraan gender. Mereka akan menjadi warganegara yang aktif  dalam proses kehidupan demokrasi sehari-hari.  Mahasiswa akan menjadi lebih berani menyampaikan pendapat (kritis), tidak takut salah dalam belajar, berani berbeda pendapat (dialogis), tapi juga menjunjung tinggi nilai toleransi.
Desain atau rancangan pembelajaran dengan pendekatan Deep Dialogue (DD) dan Critical Thinking (CT) yang bisa dikembangkan dalam pembelajaran PKN/CE di lingkungan PTM antara lain adalah: dengan membuat perencanaan pembelajaran yang menggunakan pendekatan DDCT yang melalui proses dan tahapan sebagai berikut:
1)      Merumuskan tujuan pembelajaran; didasarkan pada etika dan prinsip : harus operasional (bentuk tingkah laku mahasiswa yang dapat diamati dan diukur), menggambarkan kompetensi atau kristalisasi  perilaku siswa, baik berkaitan dengan pengetahuan (kognitif), sikap (afektif) dan ketrampilan (psikomo-torik).  Setiap tujuan pembelajaran harus mengandung 4 komponen, yaitu: A(audience) atau sasaran, B (behavior) atau tingkah laku, C (condition) atau kondisi, dan D (degree) atau kriterium.
2)      Membangun komunitas belajar; merupakan kegiatan refleksi  diri dosen terhadap dunia mahasiswanya  yang berfungsi sebagai sarana untuk mem-bangkitkan perasaan dan emosional , agar siswa merasa tertarik bergairah, senang dan partisipatif dalam kegiatan pembelajaran. Adapun cara memba-ngun komunitas dapat dilakukan melalui kegiatan:
(a)    menyanyi;  baca puisi;
(b)   permainan lokal; cerita tentang realitas kehidupan;
(c)    penggalian pendapat, persepsi atau mahasiswa menceritakan penga-lamannya
(d)   Hening (silence) dan sebagainya.
3)      Analisis isi ( content analysis ) ;  kegiatan difokuskan pada proses mela-kukan identifikasi, seleksi dan penetapan materi pembelajaran/per-kuliahan  yang ditempuh melalui cara sebagai berikut:
·      Menggunakan rambu materi pembelajaran/perkuliahan dalam silabus ;
·      Menetapkan materi esensial pembelajaran/perkuliahan;
·      Menentukan keluasan (scope) atau jangkauan lingkup materi pembe-lajaran/perkuliahan
·      Menyusun urutan (sequence) materi pembelajaran/perkuliahan.
4)      Analisis latar ; dikembangkan dengan menggunakan pendekatan kultural dan siklus kehidupan (life cycle) , yang di dalamnya mengandung dua kon-sep, yaitu konsep wilayah atau lingkungan (lokal, regional, nasional dan global), dan konsep aktivitas manusia yang mencakup seluruh aspek kehidupan (IPLOLEKSOSBUDHANKAM) dengan mengembangkan dan mengajarkan nilai dan moral.
5)      Pengorganisasian materi (content organizing) dan pemetaan materi (content maping) pembelajaran/perkuliahan; dikembangkan dengan meng-gunakan pendekatan DDCT yang memperhatikan prinsip  “ 4 W  + 1 H “ yaitu : What (apa); Why (mengapa); When (kapan); Where (dimana) dan How (bagaimana).  Dalam rancangan pembelajaran/perkuliahan kelima unsur terse-but harus diwarnai oleh ciri-ciri pembelajaran dengan DD (deep dialog) dalam menuju pelakonan pengalaman (experience), nilai moral dan CT (critical thinking) dalam upaya pencapaian konsep dan pengembangan konsep.
6)      Penetapan Strategi dan Metode Pembelajaran/ perkuliahan; harus disebut secara eksplisit dalam rancangan pembelajaran/perkuliahan, seba-gai pertanda adanya “keputusan transaksional”  dosen untuk melakukanya dalam proses perkuliahan demi tercapainya tujuan pembelajaran/perkuliahan.
7)      Pemilihan dan Penetapan Media Pembelajaran; media yang digunakan harus sesuai dengan karakteristik materi dan tujuan pembelajarannya, dan dimunculkan dalam rancangan pembelajaran, yang dipilih secara cermat. Sejalan dengan fungsinya, dalam rangka perumusan rancangan pembe-lajaran dengan menggunakan DDCT, pemilihan penetapan, pembuatan dan penggunaan media diharapkan mampu mewarnai lingkungan belajar yang kondusif, dialogis,empatis dan kondusif.

Mengajar siswa untuk berpikir kritis – kreatif dan dialogis, dapat dilakukan oleh dosen dengan cara:
(1) Dosen hendaklah mendengarkan gagasan dan pemikiran mahasiswa;
(2) Dosen mengadakan diskusi terbuka dimana mahasiswa bebas mengung-kapkan pikirannya;
(3) Dosen perlu menerima ide dan gagasan mahasiswa, termasuk yang di-anggap aneh dan tidak tepat;
(4) Dosen perlu memberikan waktu pada mahasiswa untuk berpikir, terlebih bila mengajukan pertanyaan mahasiswa secara langsung, tetapi melem-parkannya kepada mahasiswa yang lain untuk menanggapinya;
(5) Dosen memupuk keyakinan mahasiswa untuk berani tampil dengan ga-gasan yang otentik;
(6) Dosen perlu memberikan umpan balik yang memajukan pemikiran ma-hasiswa, bukan malah mematikannya.
(7)  Beberapa praktek lain yang dapat merangsang dan memajukan pemikiran kritis dan kreativitas  mahasiswa antara lain:
(a) Setiap kali dosen bertanya, maka jawaban dibuat tidak lengkap sehingga mahasiswa ditantang untuk menambah dengan gagasan dan pemikirannya sendiri;
(b) diberi ruang kreasi bagi mahasiswa dalam menjawab persoalan atau mengungkapkan gagasan mereka;
(c) diberi ruang untuk berpikir dan mengungkapkan pikirannya, baik secara pribadi maupun bersama sebagai kelompok;
(d) ruang majalah dinding yang dapat diisi dengan macam-macam gagasan mahasiswa perlu dibuat;
(e) persoalan yang terjadi di masyarakat dapat dibawa untuk dibahas secara kritis dalam kelas untuk dicarikan solusinya;
(f)  Soal evaluasi  lebih ditekankan pada soal terbuka dimana mahasiswa bebas mengungkapkan gagasannya;
(g) pemberian tugas rumah (PR/take home) yang menuntut kreativitas dan pemikiran mahasiswa sendiri;
(h) Mahasiswa diberi kebebasan untuk mencari data dan masukan dari sumber-sumber lain, seperti perpustakaan, internet dan CD ROM.           
f) Beberapa aplikasi prinsip pengembangan model pembelajaran PKn/CE berbasis DDCT dan demokratisasi belajar dilakukan melalui kegiatan:     (1) Model pencarian bersama;
     (2) Multinilai;
     (3) Non Diskriminatif dan Non Opresif ;
     (4) Penanaman nilai budi pekerti dan kepribadian mahasiswa.

Dasar Filosofis Model Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis-Kreatif- Dialogis dalam Pembelajaran PKn/CE  berbasis DDCT dan Demokratisasi Belajar di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah

Filsafat yang menjadi landasan dasar model Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis-Kreatif- Dialogis dalam Pembelajaran PKn/CE  berbasis DDCT dan demokratisasi Belajar adalah “Filsafat Konstruktivisme”, yang be-ranggapan bahwa mahasiswa itu sebelum belajar sudah tahu dan membawa konsep tertentu. Konsep inilah yang perlu diolah dan dikembangkan agar sesuai dengan pengertian para ahli. Karena mahasiswa sudah mempunyai sesuatu, maka dalam pendidikan dan pembe-lajaran kita tidak “melolohkan” begitu saja pengetahuan, tetapi bekerja sama dengan mahasiswa untuk membangun pengetahuan. 
Menurut pandangan filsafat konstruktivisme ini ada beberapa ciri khas yang berupa proposisi yang perlu diketahui dan dipegang oleh dosen dalam pembe-lajaran, yaitu :
(1)  Pengetahuan merupakan non objektif, temporer dan selalu berubah.
(2)    Belajar merupakan upaya untuk pemaknaan pengetahuan dan mengajar berarti menggali makna.
(3)   Mahasiswa sebagai si belajar bisa memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan yang dipelajari.
(4)  Mind berfungsi sebagai alat menginterpretasi sehingga muncul makna yang unik.
(5)  Segala sesuatu bersifat temporer, berubah dan tidak menentu, kitalah yang memberi makna terhadap realitas.
(6)    Pembelajaran dapat dilakukan dalam kondisi ketidakteraturan. Kontrol belajar dipegang oleh si belajar.
(7)   Si belajar dihadapkan kepada lingkungan belajar yang bebas. Kebebasan merupakan unsur yang sangat esensial dalam belajar. Kebebasan dipan-dang sebagai penentu keberhasilan.
(8)    Kegagalan atau keberhasilan, kemampuan atau ketidakmampuan dilihat sebagai interpretasi yang berbeda yang perlu dihargai.
(9)  Tujuan pembelajaran menekankan pada penciptaan pemahaman, yang menuntut aktivitas kreatif-produktif dalam konteks nyata.
(10)   Aktivitas belajar dalam konteks nyata dan lebih menekankan pada proses, penyusunan makna dilakukan secara aktif dan menuntut peme-cahan ganda,  evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar.   
Berdasarkan proposisi-proposisi di atas, maka ada beberapa implikasi teori dari filsafat konstruktivistik yang perlu diterapkan dalam pembelajaran berbasis DDCT dan demokratisasi belajar dalam pembelajaran PKn/CE di lingkungan pergu-ruan tinggi muhammadiyah, yaitu:
a. Belajar adalah proses pemaknaan informasi baru, maka implikasi teori yang perlu diterapkan guru dalam pembelajaran dan evaluasi adalah:
(1)  Dorong munculnya diskusi pengetahuan yang dipelajari;
(2)  Dorong munculnya berpikir divergent, bukan hanya satu jawaban yang benar;
(3)  Dorong munculnya berbagai jenis luapan pikiran atau aktivitas;
(4)  Tekankan pada ketrampilan berpikir kritis
(5)  Gunakan informasi pada situasi baru.
b. Kebebasan merupakan unsur esensial dalam lingkungan belajar, maka implikasinya terhadap pembelajaran dan evaluasi adalah:
(1)    Sediakan pilihan tugas;
(2)    Sediakan pilihan cara untuk memperlihatkan keberhasilan;
(3)    Sediakan waktu yang cukup untuk memikirkan dan mengerjakan tugas;
(4)   Jangan terlalu banyak menggunakan tes yang telah ditetapkan wak-tunya
(5)    Sediakan kesempatan berpikir ulang
(6)    Libatkan pengalaman konkrit
c. Strategi belajar yang digunakan menentukan proses dan hasil belajarnya
(1)    Berikan kesempatan untuk menerapkan cara berpikir dan belajar yang paling cocok dengan dirinya;
(2)    Suruh mahasiswa melakukan evaluasi diri tentang cara berpikirnya, cara belajar atau lainnya.   
d. Motivasi dan usaha mempengaruhi belajar dan unjuk kerja
(1)    Motivasilah mahasiswa dengan tugas-tugas riil dalam kehidupan seha-ri-hari dan kaitkan tugas dengan pengalaman pribadi;
(2)    Dorong mahasiswa untuk memahami kaitan antara usaha dan hasil
e. Belajar pada hakekatnya memiliki aspek sosial – kerja kelompok sangat berharga:
(1)    Beri kesempatan mahasiswa untuk melakukan kerja kelompok
(2)    Dorong mahasiswa untuk memainkan peran yang bervariasi
(3)    Perhitungkan proses dan hasil kerja kelompok.
 

Dasar Teoritis Model Pengembangan Kemampuan Berpikir kritis-kreatif dan dialogis mahasiswa dalam Pembelajaran PKn/CE Berbasis DDCT dan Demokratisasi Belajar.

Berdasarkan kerangka teori belajar dan pembelajaran yang ada, Model Pengembangan kemampuan berpikir kritis-kreatif-dialogis mahasiswa dalam pembelajaran PKn/CE berbasis DDCT dan Demokratisasi belajar di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah ini dikembangkan berlandaskan kerangka  pikir Teori Belajar Kognitivisme. Menurut teori ini “belajar” adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan persepsi dan pemahaman tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang bisa diamati.
Asumsi dasar dari teori ini adalah bahwa setiap orang telah mempunyai pengalaman dan pengetahuan di dalam dirinya. Pengalaman dan pengetahuan ini tertata dalam bentuk struktur kognitif. Proses belajar akan berjalan baik apabila materi pelajaran yang baru beradaptasi (bersambung) secara “klop” dengan struktur kognitif yang sudah dimiliki siswa.
Secara lebih khusus lagi, teori belajar yang dikembangkan dalam pembelajaran PKn/CE berbasis DDCT dan demokratisasi belajar adalah “Teori Kognitivisme – Ausubel” yang menyatakan bahwa proses belajar terjadi bila mahasiswa mampu mengasimilasikan pengetahuan yang dimili-kinya dengan pengetahuan yang baru.
Proses belajar akan terjadi melalui tahap-tahap : 
(1)  memperhatikan stimulus yang diberikan;
(2)  memahami makna stimulus;
(3)  menyimpan dan menggunakan informasi yang sudah dipahami.
Secara umum, penggunaan teori belajar Kognitivisme – Ausubel dalam praktek model pembelajaran PKn/CE berbasis demokratisasi belajar sebagai berikut
1.     Menentukan tujuan-tujuan instruksional;
2.     Mengukur kesiapan mahasiswa dalam mengikuti pembelajaran ( minat, kemampuan, struktur kognitif) baik melalui test awal (pre test), interview, review, pertanyaan dan lain-lain.
3.     Memilih materi pelajaran dan mengaturnya dalam bentuk penyajian konsep-konsep kunci;
4.     Mengidentifikasi prinsip-prinsip yang harus dikuasai mahasiswa dari materi tersebut;
5.     Menyajikan suatu pandangan yang menyeluruh tentang apa yang harus dipelajari;
6.     Membuat dan menggunakan “advance organizer”, paling tidak dengan cara membuat rangkuman terhadap materi yang baru saja diberikan, dilengkapi dengan uraian singkat yang menunjukkan relevansi (keterkaitan) materi yang sudah diberikan tersebut dengan materi baru yang akan diberikan;
7.     Mengajar siswa memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang sudah ditentukan, dengan memberi fokus pada hubungan yang terjalin antara konsep-konsep yang ada.
8.     Mengevaluasi proses dan hasil belajar.

 

Dasar Yuridis Pengembangan Model Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis-kreatif –dialogis dalam Pembelajaran PKn/CE Berbasis DDCT dan  Demo-kratisasi belajar adalah :

a. UUD 1945  Pasal  28 c ayat 1 yang menyatakan bahwa :
            “ Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan manusia”
b. UUD 1945  Pasal  31 ayat (1) dan ayat (2)  yang menyatakan bahwa :
(1)“ Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan” dan (2) ” Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar & pemerintah wajib membiayainya.”
c. UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 ayat (16), yang menyatakan bahwa : “Pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggara pendidik-an berdasarkan kekhasan agama, sosial, budaya, aspirasi, dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari, oleh dan untuk masyarakat.
d. UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 Pasal 4 ayat (1), yang menyatakan bahwa :  Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa”.
e. UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 Pasal 4 ayat (4), yang menyatakan bahwa :  “ Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, memba-ngun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran”.
f. UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 Pasal 37 ayat (1), yang menyatakan bahwa :  “Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat a. pendidikan agama, b. pendidikan kewarganegaraan, c. pendidikan bahasa, d. matematika, e. ilmu pengetahuan alam; f. ilmu pengetahuan sosial, g. seni dan budaya, h. pendidikan jasmani dan olah raga, i. ketrampilan / kejuruan dan j. muatan lokal.”
i. PP 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 19 yang  menyatakan bahwa : “ Proses pembelajaran diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi, serta memberikan ruang tumbuhnya prakarsa, kreativitas dan kemandirian ……….”.
j. Permen Mendiknas tentang penyelenggaraan perkuliahan pendidikan kewar-ganegaraan di lingkungan perguruan tinggi, SK Dirjen Dikti  dll.

 

Karakteristik Umum Model Pengembangan Kemampuan berpikir kritis-kreatif dan dialogis mahahasiswa berbasis DDCT dan Demokratisasi belajar. Menurut Joyce dan Weill (1986)  karakteristik sebuah model pembelajaran minimal memiliki 5 (lima ) unsur pokok, yaitu :

a. Sintakmatik; yaitu tahap-tahap dari kegiatan model pembelajaran tersebut.
b. Sistem Sosial; yaitu situasi atau suasana dan norma yang berlaku dalam model tersebut.
c.Prinsip Reaksi/ Pengelolaan; yaitu pola kegiatan yang menggambarkan bagaimana seharusnya guru melihat dan memperlakukan peserta didik, termasuk bagaimana seharusnya pengajar atau pendidik memberikan respon terhadap mereka.
d. Sistem Pendukung; yaitu segala sarana, bahan dan alat yang diperlukan untuk melaksanakan model tersebut.
e.Dampak Instruksional dan Pengiring; Dampak instruksional, yaitu hasil belajar yang dicapai langsung dengan cara mengarahkan para pelajar pada tujuan yang diharapkan.  Dampak Pengiring, ialah hasil belajar lainnya yang dihasilkan oleh sebuah proses belajar mengajar, sebagai akibat terciptanya suasana belajar yang dialami langsung oleh para pelajar tanpa pengarahan langsung dari pengajar. Hal itu dapat digambarkan sebagai berikut:


 
  
Karakteristik khusus model pembelajaran PKn/CE berbasis DDCT dan demo-kratisasi belajar di lingkungan pendidikan tinggi (PTM), adalah :
       a) berdasar filsafat konstruktivisme,
b) relasi dan interaksi berpola demokratis - partisipatif - kritis – kreatif dialogis-adil gender,
c) mengedepankan kolaborasi model pembelajaran inovatif – aktif - koope-ratif dan kreatif,
d) mengembangkan pola berpikir kritis-kreatif-reflektif, yang bercirikan : (1) melakukan kegiatan observasi, (2) Perumusan berbagai macam pola pi-lihan dan generalisasi, (3) Perumusan kesimpulan berdasarkan pada pola-pola yang telah dikembangkan, (4) Mengevaluasi kesimpulan berdasarkan data. Adapun prosesnya melalui kegiatan (a) membandingkan dan membuat klasifikasi, (b)  Penyimpulan, memprediksi, membuat hipotesis, mengidentifikasi kasus dan efek-efeknya. (c) Mendukung kesimpulan dengan data, mengamati konsis-tensinya, mengidentifikasi bias, stereotipe, pengulangan, serta mengangkat kembali berbagai asumsi yang tidak pernah terumuskan, memahami kemung-kinan generalisasi yang terlampau besar atau kecil, serta mengidentifikasi berbagai informasi yang relevan dan yang tidak relevan.
 e) iklim  belajar mengedepankan 6 prinsip, yaitu: (1) Konstruktivisme (cons-tructivism); (2) Penemuan konsep (concept attainment); (3) Dialog Mendalam (deep dialogue); (4) Belajar bersama (learning together); (5) Menemukenali (inquiry), (6) Penilaian yang sebenarnya (Authenteic Asses-ment) berdasar unjuk kerja dan kompetensi mahasiswa dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotorik dengan alat yang dekat dengan mahasiswa.  
f)  Menggunakan multi sumber & multi media sesuai konteks bahasan / perma-
     salahan.
g) Materi perkuliahan dikembangkan dengan menggunakan 5 pendekatan pertanyaan 5 W (What, Who, Why, Where, When ) + 1 H (How).
Secara singkat rumusan konsep dasar model teoritik pengembangan kemam-puan berpikir kritis-kreatif-dialogis mahasiswa yang diinginkan stake-holders (dosen, mahasiswa, dan ketua prodi) berbasis DDCT dan sesuai dengan semangat dan era demokratisasi belajar adalah :
(1) Dasar Filosofisnya adalah Filsafat Konstruktivistik (konstruktivisme sosial),
(2) Dasar Teoritis adalah Teori Belajar Kognitivisme Ausabel. Dasar Yuridisnya adalah UUD ’45, UU SPN, PP SNP, Permen Mendiknas dan SK Dirjen Dikti.
(3) Karakteristik umum  model pembelajaran  meliputi 5 unsur pokok yaitu :
a) sintakmatik, b) sistem sosial, c) prinsip reaksi, d) sistem pendukung dan
e) dampak instruksional dan pengiring dan juga memiliki 7 ciri pokok. dalam pembelajarannya.
(4) Karakteristik khusus model pembelajaran pengembangan kemampuan  berpikir kritis-kreatif-dialogis mahasiswa berbasis DDCT, adalah: 
1)   berdasar filsafat konstruktivisme,
2)   relasi dan interaksi berpola demokratis-partisipatif-dialogis-adil gender,
3)  mengedepankan kolaborasi model pembelajaran inovatif – aktif, kreatif dan kooperatif,
4)  mengembangkan pola berpikir kritis-kreatif-reflektif-dialogis-humanistis,
5) iklim belajar mengedepankan 6 prinsip: (konstruktivisme, penemuan kon-sep, dialog mendalam, belajar bersama, menemu kenali dan penilaian authentik),
6) menggunakan berbagai sumber dan media sesuai konteks isi dan ling-kungan belajar mahasiswa,
7)   desain atau rancangan pembelajaranya melalui proses/tahapan :
(a) merumuskan tujuan PBM, (b) membangun komunitas belajar, (c) analisis isi, (d) analisis latar, (e) pengorganisasian materi,dan pemetaan materi dengan pertanyaan 5W+1H, (f) Penetapan strategi dan metode perkuliahan, (g) pemilihan  dan penetapan media pembelajaran.
(8) Perkuliahan PKn/CE yang mengembangkan kemampuan berpikir kritis di perguruan tinggi perlu dirancang sedemikian rupa, terutama yang mencakup tiga hal, yaitu:
(a) teaching for thinking merujuk pada penciptaan suasana fisik dan non fisik untuk memungkinkan terjadinya proses berpikir kritis,
(b) teaching of thinking, merujuk pada kegiatan guru dalam membuat siswanya berpikir kritis dan,
(c) teaching about thinking, merujuk pada pengajaran tentang berpikir kritis.

D. SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dikembangkan dalam tahap pertama tahun 2008 dan tahap kedua tahun 2009 terhadap “Kajian Teoritik Pengembangan kemampuan berpikir Kritis Dialogis Mahasiswa melalui Pendekatan DDCT dalam Perkuliahan CE di lingkungan PTM”, maka dapat dikemukakan beberapa kesim-pulan  sebagaimana digambarkan dalam bagan sebagai berikut :


 
Saran dan rekomendasi yang dapat diajukan berkaitan dengan pengembangan kemampuan berpikir kritis-dialogis mahasiswa dalam perkuliahan CE/PKN di Perguruan tinggi adalah perlunya digalakkan sinergi - integrasi, inovasi dan riset-riset pembelajaran yang berguna untuk mendukung peningkatan mutu dan tata kelola pendidikan nasional secara berkelanjutan dan publikasi hasilnya melalui jurnal ilmiah nasional dan internasional.

E. DAFTAR RUJUKAN

Anonim, 2005, Peningkatan Kualitas Pembelajaran di Perguruan Tinggi,  Dirbin. P2TK dan KPT - Dirjen Dikti  2005.

Alhakim, Suparlan, 2002. Metode DDCT dalam Pembelajaran PPKN di Sekolah Menengah Pertama, Kumpulan Makalah Pengabdian Masyarakat Jurusan PPKn-FIP UM. Lembaga Pengabdian Masyarakat Universitas Negeri Malang.

Alwasillah, Chaedar, 2008.Filsafat Bahasa dan Pendidikan, Bandung: Remaja Rosda Karya.

Azra, Azyumardi, 2001, Pendidikan Kewargaan dan Demokrasi di Indonesia, Kompas 14 Maret 2001

-------------, 2000, Membangun Keadaban Demokratis: Ke arah Budaya Politik Baru Indonesia, dalam Ninok Leksono (ed), Indonesia Abad XX, Jakarta: Kompas.

------------, 1999. Menuju Masyarakat Madani: Gagasan, Fakta dan Tantangan, Bandung: Rosda Karya.

Birza, Cesar, 2000. Education for Democratic Citizenship: A Lifelong Learning Perspective, Strasbourg: Council for Cultural Co-Operation, Council of Europe.

Balitbangdikbud. 1990. Educational Indicators in Indonesia. Jakarta : Author.

Bogdan. R.C & Biklen, S>K. 1982. Qualitative Research for education : An         Introduction to the Theory and Methods. Boston : Allign and Bacon. Inc.

Budimansyah, Dasim. 2002. Model Pembelajaran dan Penilaian Berbasis Portofolio. Bandung: Genesindo.

Carey, Liam & Keith Forrester, 2000. Sites of Citizenship: Empowerment, Participation, and Partnerships, Strasbourg: Council for Cultural Co-Operation, Council.

Chamim, Asykuri. Dkk. 2003. Civic Education - Pendidikan Kewarganegaraan, Lembaga penelitian dan Pengembangan Pendidikan (LP3) UMY bekerjasama dengan Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah dan The Asia Foundation.

Cipto, Bambang. Dkk. 2002. Pendidikan Kewarganegaraan, Lembaga penelitian dan Pengembangan Pendidikan (LP3) UMY bekerjasama dengan Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah dan The Asia Foundation.

Dep.Dik.Nas. 2006. Pedoman Pelaksanaan Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat Oleh Perguruan Tinggi : Edisi VII . Jakarta : Dirjen Dikti, Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat.

Duerr, Karlheinz et. al, 2000, Strategies for Learning Democratic Citizenship Strasbourg: Council for Cultural Cooperation, Council of Europe.

Fajar, Arnie, 2002. Portofolio Dalam Pembelajaran IPS, PT. Remaja Rosda Karya: Bandung.

Hermawan, Eman dan Masdar, Umaruddin, 2001. Demokrasi Untuk  Pemula, Yayasan KLIK: Yogyakarta.

Hikam, AS Muhammad, 1999. Politik Kewarganegaraan Landasan Redemo-kratisasi di Indonesia, PT. Gelora Aksara Pratama: Jakarta.

-------------, 1996. Demokratisasi dan Civil Society, Pustaka LP3ES: Jakarta

Isjwara, F. 1982. Pengantar Ilmu Politik, Angkasa-Ofsett: Bandung.

Kerr, David, 1999. Citizenship Education: An international Comparison, (London) : NFER & QCA.
Khilmiyah, Akif, dkk. 2005. Metode Pengajaran Pendidikan Kewarganegaraan, Majelis Diktilibang, Pimpinan Pusat Muhammadiyah, LP3 UMY dan Asia Foundation.

Lie, Anita. 1999. Metode Pembelajaran Gotong Royong, Citra media: Surabaya.

Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan The Asia Foundation, 2002. Modul Pelatihan Stakeholders Pengem-bangan Civic Education Perguruan Tinggi Muhammadiyah: Yogya-karta.

Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pengem-bangan Pendidikan dan The Asia Foundation, 2002. Panduan Pelatih Pelatihan Stakeholders Pengembangan Civic Education Perguruan Tinggi Muhammadiyah: Yogyakarta.

Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan The Asia Foundation, 2002. Bahan Bacaan  Pelatihan Stakeholders Pengembangan Civic Education Perguruan Tinggi Muhammadiyah: Yogyakarta.

Mangunwijaya, YB. 1999. Merintis RI yang Manusiawi Republik yang Adil dan Beradab, Erlangga: Yogyakarta.

Mansur, Hamdan dkk. 2000. Pendidikan Kewarganegaraan, Gramedia: Jakarta.

Manan, Bagir, 2001. Perkembangan Pemikiran dan Pengaturan HAM di Indonesia, YHDS, Alumni: Bandung.

Nickerson, et.al, 1985. Dalam Peningkatan Kualitas Pembelajaran di Perguruan Tinggi,  Dirbin. P2TK dan KPT - Dirjen Dikti  2005.

Print, Murray, James Ellickson-Brown & Abdul Razak Baginda (eds), 1999. Civic Education for Civil Society, London: ASEAN Academic Press.

Pribadi, Benny Agus dan Dewi Padmo Putri, 2001. Ragam Media Dalam Pembelajaran, PAU – Dirjendikti, Diknas: Jakarta.

Rosyada, Dede. et al, 2003. Pendidikan Kewargaan (Civic Education): Demokrasi, HAM & Masyarakat Madani Edisi Revisi, Jakarta: IAIN Jakarta Press.

-----------, 2005. Paradigma Pendidikan Demokratis, Jakarta: IAIN Jakarta Press

Salim, Agus, 2006. Bangunan Teori: Metodologi Penelitian Untuk Bidang Sosial, Psikologi, dan Pendidikan, Edisi kedua, Salatiga: Tiara Wacana.

Suyanto, 2001. Civic Education di Perguruan Tinggi: Urgensi dan Metodologi, IAIN Syarif Hidayatullah: Jakarta.

S. Branson, Margaret, et.al, 1999. Belajar Civic Education dari Amerika, LKiS Yogyakarta.

Soemantri, Muhammad Numan. 2001. Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS, Bandung: Rosda Karya.
 
Taruna, JC. Tukiman, 2001. “Wacana Pendidikan Kewargaan Abdurahman Wahid (dalam Persandingan dengan “Revolusi Pendidikan” Tony Blair) Kompas 28 Pebruari 2001.

Ubaidillah, A. et al, 2000. Pendidikan Kewargaan (Civic Education): Demokrasi, HAM & Masyarakat Madani, Jakarta: IAIN Jakarta Press.

Wahyudin, 2008. Membangun Kerangka Kerja Konseptual:  Argumen, Argumentasi dan Pemikiran Kritis, Bagaimana argumen bekerja dan Analisis Argumen dan Kritisisme, Makalah bahan Matrikulasi Pasca-sarjana UPI, Jurusan PKn – S3. Bandung: diterbitkan terbatas.

Winarno, 2008. Paradigma Baru Pendidikan Kewarganegaraan; Panduan Kuliah di Perguruan Tinggi, Edisi Kedua, Jakarta: Bumi Aksara.

Zaini, Hisyam dkk. 2002. Strategi Pembelajaran Aktif di Perguruan Tinggi, CTSD –  IAIN Sunan Kalijogo: Yogyakarta.

Zamroni., 1994. Riset Sebagai Landasan Pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, Karya Ilmiah disampaikan pada Sidang Senat Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial IKIP Yogyakarta pada tanggal 9 Juli 1994.

---------------, 2001. Pendidikan Untuk Demokrasi: Tantangan menuju Civil Society, Yogyakarta: Bigraf Publishing.

Zuriah, Nurul., 2000. Ilmu Kewarganegaraan, Buku Ajar untuk Kalangan Terbatas , UMM-Press: Malang.

----------------, 2001. Penelitian Tindakan  (Action Research) dalam Bidang Pendidikan dan Sosial, Bayu Media – UMM Pers: Malang.

---------------, 2002. Revitalisasi Filsafat dan Ideologi Pancasila di Era Reformasi dan Globalisasi, Dikti- Diknas: Jakarta.

---------------, 2002. Persepsi dan Aspirasi Mahasiswa Terhadap Civic Education di Perguruan Tinggi. Laporan penelitian – Lemlit UMM- DPP-PBI 2002.

-------------- dkk ., 2002. Pilot Project Pengembangan Pembelajaran CE Melalui Tridharma Perguruan Tinggi di Lingkungan PTM. Laporan pelaksanaan Uji Coba CE di UMM – Litbang Dikti PP Muhammadiyah – LP3 UMY dan Asia Foundation: Yogyakarta.

---------,2003. Studi Perilaku Proses Pembelajaran Demokratis Berbasis Kese-taraan dan Keadilan Gender di Sekolah Dasar Muhammadiyah Kota Malang – Jawa Timur, Penelitian P-2 U Tahap I – DPP UMM , Lemlit UMM Tahun 2003.

----------, 2003. Studi Perilaku Proses Pembelajaran Demokratis Berbasis Keseta-raan dan Keadilan Gender di Sekolah Dasar Muhammadiyah Kota Malang – Jawa Timur, Penelitian P-2 U Tahap II – DPP UMM , Lemlit UMM Tahun 2003.

Zuriah, Nurul dkk., 2003. Pengembangan Model Pembelajaran Demokratis Berperspektif Gender pada Matapelajaran PPKn/IPS/PKPS di Ling-kungan Pendidikan Dasar, Laporan Penelitian PHB XI. 1. Tahun 2003 Tahap I – PHB DP3M – Ditbinlitabmas Dikti - Tahun 2003.

----------, 2004. Pengembangan Model Pembelajaran Demokratis Berperspektif Gender pada Matapelajaran PPKn/IPS/PKPS di Lingkungan Pendi-dikan Dasar, Laporan Penelitian PHB XI. 2. Tahun 2004 Tahap II – PHB DP3M – Ditbinlitabmas Dikti - Tahun 2004.

----------, 2005. Pengembangan Model Pembelajaran Demokratis Berperspektif Gender pada Matapelajaran PPKn/IPS/PKPS di Lingkungan Pendidikan Dasar, Laporan Penelitian PHB XI. 3. Tahun 2005 Tahap III – PHB DP3M – Ditbinlitabmas Dikti - Tahun 2005.

----------, 2006. Analisis Model Teoritik Inovasi Pembelajaran Berbasis Demo-kratisasi di Lingkungan Pendidikan Dasar, Laporan Penelitian Funda-mental Research 1 (Tahap 1) , Tahun 2006. DP2M – Ditbinlitabmas Dikti- Tahun 2006.

----------, 2007. Analisis Model Teoritik Inovasi Pembelajaran Berbasis Demo-kratisasi di Lingkungan Pendidikan Dasar, Laporan Penelitian Fundamental Research 2 (Tahap 2) , Tahun 2007. DP2M – Ditbinlitabmas Dikti- Tahun 2007.

----------, 2008. Kajian Teoritik Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis – Dialogis Mahasiswa Melalui Pendekatan DDCT dalam Perkuliahan PKN/CE di Perguruan Tinggi Muhammadiyah, Laporan Penelitian Fundamental Research 1 (Tahap 1) , Tahun 2008. DP2M – Ditbinlitabmas Dikti- Tahun 2008.

Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "KARYA TULIS ILMIAH PKN KAJIAN TEORITIK PENGEMBANGAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS-DIALOGIS MAHASISWA MELALUI PENDEKATAN DDCT DALAM PERKULIAHAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN /CE DI PERGURUAN TINGGI"

PageRank

PageRank for wirajunior.blogspot.com
 
Template By Kunci Dunia
Back To Top