SILABUS DAN RPP BLOG

RPP lengkap Kurikulum 2013 dan KTSP

SKRIPSI KESEHATAN PENGARUH KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PT. CERIA UTAMA ABADI CABANG PALEMBANG



BAB I
PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang
Sumber daya manusia merupakan peranan penting bagi keberhasilan suatu organisasi atau perusahaan, karena manusia merupakan aset hidup yang perlu dipelihara dan dikembangkan. Oleh karena itu karyawan harus mendapatkan perhatian yang khusus dari perusahaan. Kenyataan bahwa manusia sebagai aset utama dalam organisasi atau perusahaan, harus mendapatkan perhatian serius dan dikelola dengan sebaik mungkin. Hal ini dimaksudkan agar sumber daya manusia yang dimiliki perusahaan mampu memberikan kontribusi yang optimal dalam upaya pencapaian tujuan organisasi. Dalam pengelolaan sumber daya manusia inilah diperlukan manajemen yang mampu mengelola sumber daya secara sistematis, terencana, dan efisien. Salah satu hal yang harus menjadi perhatian utama bagi manajer sumber daya manusia ialah sistem keselamatan dan kesehatan kerja.
Keselamatan dan perlindungan tenaga kerja di Indonesia ternyata masih minim. Ini terlihat dari banyaknya jumlah kecelakaan kerja tahun 2011 dengan jumlah 96.400 kecelakaan. Dari 96.400 kecelakaan kerja yang terjadi, sebanyak 2.144 diantaranya tercatat meninggal dunia dan 42 lainnya cacat. Sampai September 2012 angka kecelakaan kerja masih tinggi yaitu pada kisaran 80.000 kasus kecelakaan kerja. Data Internasional Labor Organization (ILO) menghasilkan kesimpulan bahwa dalam rentan waktu rata-rata per tahun terdapat 99.000 kasus kecelakaan kerja dan 70% di antaranya berakibat fatal yaitu kematian dan cacat seumur hidup. Detik Finance (Oktober 2012)
Keselamatan dan kesehatan kerja termasuk salah satu program pemeliharaan yang ada di perusahaan. Pelaksanaan program keselamatan dan kesehatan kerja bagi karyawan sangatlah penting karena bertujuan untuk menciptakan sistem keselamatan dan kesatuan kerja dengan melibatkan unsur manajemen, tenaga kerja, kondisi dan lingkungan kerja yang terintegrasi dalam rangka mengurangi kecelakaan.
Berikut definisi keselamatan dan kesehatan kerja menurut para ahli: Keselamatan kerja menurut Mondy dan Noe (2005:360) adalah perlindungan karyawan dari luka-luka yang disebabkan oleh kecelakaan yang terkait dengan pekerjaan. Resiko keselamatan merupakan aspek-aspek dari lingkungan kerja yang dapat menyebabkan kebakaran, ketakutan aliran listrik, terpotong, luka memar, keseleo, patah tulang, kerugian alat tubuh, penglihatan dan pendengaran. Kesehatan kerja adalah kebebasan dari kekerasan fisik. Resiko kesehatan merupakan faktor-faktor dalam lingkungan kerja yang bekerja melebihi periode waktu yang ditentukan, lingkungan yang dapat membuat stres emosi atau gangguan fisik.
 Menurut Mangkunegara (2002:163) Keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya, dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budaya untuk menuju masyarakat adil dan makmur.
Sedangkan Mathis dan Jackson (2002:245) menyatakan bahwa Keselamatan adalah merujuk pada perlindungan terhadap kesejahteraan fisik seseorang terhadap cedera yang terkait dengan pekerjaan. Kesehatan adalah merujuk pada kondisi umum fisik, mental dan stabilitas emosi secara umum.
Dari beberapa pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa keselamatan dan kesehatan kerja merupakan suatu upaya yang dilakukan perusahaan untuk memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dari bahaya sakit, kecelakaan dan kerugian akibat melakukan pekerjaan, sehingga para pekerja dapat bekerja dengan selamat. Kecelakaan kerja adalah suatu kejadian atau peristiwa yang tidak diinginkan yang merusak harta benda atau kerugian terhadap proses. Kecelakaan ini biasanya terjadi akibat kontak dengan suatu zat atau sumber energi. Secara umum kecelakaan kerja dibagi menjadi dua golongan, yaitu:
1.          Kecelakaan industri yaitu kecelakaan yang terjadi di tempat kerja karena adanya potensi bahaya yang melekat pada bagian tersebut.
2.          Kecelakaan dalam perjalanan yaitu kecelakaan yang terjadi di luar tempat kerja yang berkaitan dengna adanya hubungan kerja.
  Dengan adanya program keselamatan dan kesehatan kerja diharapkan akan meningkatkan kinerja karyawan. Kinerja dapat diartikan sebagai suatu hasil dan usaha seseorang yang dicapai dengan adanya kemampuan dan perbuatan dalam situasi tertentu. Berikut definisi kinerja menurut para ahli:
  Menurut Rivai (2004:309) kinerja merupakan perilaku nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh karyawan sesuai dengan perannya dalam perusahaan.
  Kemudian menurut Mangkunegara (2000:67) kinerja karyawan adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
  Pendapat dari ahli yang lain, Bernandin dan Russell yang dikutip oleh Gomes (2003:135), kinerja adalah catatan yang dihasilkan dari fungsi suatu pekerjaan tertentu atau kegiatan selama periode waktu tertentu. Maka kesimpulan dari pengertian diatas adalah kinerja merupakan prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seorang karyawan.
Mathis dan Jackson (2000:78) Kinerja mengacu pada prestasi karyawan yang diukur berdasarkan standar atau kriteria yang ditetapkan perusahan. Pengertian kinerja atau prestasi kerja diberi batasan sebagai kesuksesan seseorang di dalam melaksanakan suatu pekerjaan. Kinerja mempengaruhi seberapa banyak karyawan memberikan kontribusi kepada organisasi, antaralain yaitu kualitas keluaran, kuantitas keluaran, jangka waktu keluaran, dan kehadiran di tempat kerja.
PT. Ceria Utama Abadi merupakan salah satu perusahaan yang bergerak pada bidang penyediaan tenaga kerja, dalam pelaksanannya membutuhkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang baik sehingga mampu mencetak personel berkualitas dan mampu mendukung pencapaian tujuan perusahaan secara optimal. Mengingat luasnya kegiataan penyediaan tenaga kerja yang dilakukan oleh perusahaan, maka ruang lingkup penelitian ini dibatasi dalam lingkup penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja pada kerja sama penyediaan tenaga kerja untuk perusahaan klien yaitu PT. ConocoPhilips wilayah Grissik Sumatera Selatan. Berikut ini adalah data jumlah karyawan pada perusahaan klien (PT. ConocoPhilips, Grissik, Sumatera Selatan) untuk kontrak 557.
Tabel 1.1
Data Karyawan PT. Ceria Utama Abadi pada perusahaan klien untuk Kontrak 557

Jabatan
Jumlah Karyawan
Jabatan
Jumlah Karyawan
Asst Planner
6
Welder
2
Lead Operator
4
Rigger
2
Operator
36
Pipe Fittter
6
GS Coordinator
9
Techinician
14
Cost Controller
2
Tool Keeper
2
Administration
6
Speed Boat
4
Inspector
32
Material Control
2
HSE
12
Foreman
9
Mentors
4
Mechanic
10
Engineering
7
Electrical
6


Instrument
6
Total Jumlah Karyawan untuk Kontrak 557
181
Sumber: PT. Ceria Utama Abadi, 2012

PT. Ceria Utama Abadi telah menerapkan sistem keselamatan dan kesehatan kerja yang dilaksanakan sesuai dengan tingkat resiko pada masing-masing jenis usaha. Perusahaan ini telah menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) hal ini telah sesuai dengan Undang-Undang Ketenagakerjaan No.13 Tahun 2003, Pasal 86 ayat 1. yang berisi bahwa setiap pekerja atau buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas: Keselamatan dan kesehatan kerja, Moral dan kesusilaan, serta Perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama.
Kecelakaan kerja berhubungan dengan hubungan kerja di perusahaan. Hubungan kerja dalam hal ini adalah kecelakaan kerja yang terjadi disebabkan oleh karyawan itu atau kesalahan dalam peralatan yang digunakan oleh karyawan pada waktu melaksanakan pekerjaan.

Kecelakaan kerja yang terjadi pada umumnya disebabkan oleh karyawan tidak memenuhi aturan kerja yang telah ditetapkan oleh perusahaan dan tidak mengunakan pelindung.
Sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh perusahaan pemberi kerja (PT. ConocoPhilips) bahwa perusahaan harus menganggarkan minimal 25% untuk program safety dalam anggaran penunjang operasi perusahaan. Berikut anggaran program keselamatan dan kesehatan kerja pada tabel berikut ini:

Berdasarkan data diatas dapat dilihat bahwa adanya peningkatan anggaran program keselamatan dan kesehatan kerja sebesar 19,5% dari tahun 2010 ke 2011.
Dengan adanya anggaran program K3 yang menunjang pada perusahaan menunjukkan dampak positif pada jam kerja selamat kinerja karyawan dari tahun 2011 ke  2012. hal tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Berdasarkan analisis yang dilakukan pada departemen operasi, bahwa terjadi peningkatan sebesar 12,7% jam kerja selamat pada tahun 2012. hasil ini menunjukkan selama periode 2012 tidak terjadi kecelakaan yang menyebabkan kehilangan jam kerja. Dengan meningkatnya jam kerja selamat, maka perusahaan dapat meminimalkan biaya tambahan premi asuransi kesehatan yang ditimbulkan oleh kecelakaan kerja dan mampu mendukung peningkatan kinerja karyawan pada perusahaan.
Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut dalam bentuk skripsi yang berjudul “Pengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja terhadap Kinerja Karyawan PT. Ceria Utama Abadi Cabang Palembang”.

1.2   Rumusan Masalah
            Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka perumusan masalah dari penelitian ini adalah “Seberapa besar Pengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja terhadap Kinerja Karyawan PT. Ceria Utama Abadi Cabang Palembang”.

1.3   Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk Mengetahui seberapa besar pengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja terhadap Kinerja Karyawan PT. Ceria Utama Abadi Cabang Palembang.


1.4   Manfaat Penelitian
1.4.1    Manfaat Praktis
            Hasil penelitian ini diharapkan sebagai bahan masukan dan pertimbangan bagi PT. Ceria Utama Abadi Cabang Palembang dalam menerapkan dan melaksanakan sistem keselamatan dan kesehatan kerja untuk meningkatkan kinerja karyawannya.

1.4.2    Manfaat Teoritis
a. Penelitian ini diharapkan akan memberikan pengetahuan dan wawasan yang lebih luas bagi perusahaan akan pengaruh keselamatan dan kesehatan kerja berkaitan dengan kinerja karyawan PT. Ceria Utama Abadi Cabang Palembang.
            b. Sebagai bahan penelitian lebih lanjut dan sebagai bahan referensi bagi penulis lain yang mengambil masalah yang sama.



















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1   Landasan Teori
2.1.1    Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Berikut definisi keselamatan dan kesehatan kerja menurut para ahli:
Keselamatan kerja menurut Mondy dan Noe (2005:360) adalah perlindungan karyawan dari luka-luka yang disebabkan oleh kecelakaan yang terkait dengan pekerjaan. Resiko keselamatan merupakan aspek-aspek dari lingkungan kerja yang dapat menyebabkan kebakaran, ketakutan aliran listrik, terpotong, luka memar, keseleo, patah tulang, kerugian alat tubuh, penglihatan dan pendengaran. Kesehatan kerja adalah kebebasan dari kekerasan fisik. Resiko kesehatan merupakan faktor-faktor dalam lingkungan kerja yang bekerja melebihi periode waktu yang ditentukan, lingkungan yang dapat membuat stres emosi atau gangguan fisik.
Mangkunegara (2002:163) berpendapat bahwa keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya, dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budaya untuk menuju masyarakat adil dan makmur.
Sedangkan Mathis dan Jackson (2002:245) menyatakan bahwa Keselamatan adalah merujuk pada perlindungan terhadap kesejahteraan fisik seseorang terhadap cedera yang terkait dengan pekerjaan. Kesehatan adalah merujuk pada kondisi umum fisik, mental dan stabilitas emosi secara umum.
2.1.2        Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Pengertian program keselamatan kerja menurut Mangkunegara (2000:161) Keselamatan kerja menunjukkan pada kondisi yang aman atau selamat dari penderitaan, kerusakan atau kerugian di tempat kerja. Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan.
Dikutip dari (idb4.wikispaces.com/file/view/rd4005.pdf) Menurut Sulistyarini (2006:33) Perusahaan juga harus memelihara keselamatan karyawan dilingkungan kerja dan syarat-syarat keselamatan kerja adalah sebagai berikut:
a.       Mencegah dan mengurangi kecelakaan.
b.      Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran.
c.       Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan.
d.      Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau kejadian-kejadian lain yang berbahaya.
e.       Memberikan pertolongan pada kecelakaan.
f.       Memberi alat-alat perlindungan kepada para pekerja.
g.      Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebarluaskan suhu, kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin , cuaca, sinar atau radiasi, suara dan getaran.
h.      Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja, baik fisik maupun psikis, peracunan, infeksi, dan penularan.
i.        Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai.
j.        Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup.
k.      Memelihara kebersihan, kesehatan, dan ketertiban.
l.        Memperoleh kebersihan antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan  proses kerjanya.
m.    Mengamankan dan memperlancar pengangkatan orang, binatang, tanaman atau barang.
n.      Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan.
o.      Mengamankan dan memelihara pekerjaan bongkar muat, perlakuan dan  penyimpanan barang.
p.      Mencegah terkena aliran listrik.
Dari uraian tersebut diatas, maka pada dasarnya usaha untuk memberikan perlindungan keselamatan kerja pada karyawan dilakukan 2 cara Soeprihanto (2002:48) yaitu:
a.       Usaha preventif atau mencegah
Preventif atau mencegah berarti mengendalikan atau menghambat sumber-sumber bahaya yang terdapat di tempat kerja sehingga dapat mengurangi atau tidak menimbulkan bahaya bagi para karyawan. Langkah-langkah pencegahan itu dapat dibedakan, yaitu :
a) Subsitusi (mengganti alat/sarana yang kurang/tidak berbahaya)
b) Isolasi (memberi isolasi/alat pemisah terhadap sumber bahaya)
c) Pengendalian secara teknis terhadap sumber-sumber bahaya.
d) Pemakaian alat pelindung perorangan (eye protection, safety hat and cap, gas respirator, dust respirator, dan lain-lain).
e) Petunjuk dan peringatan ditempat kerja.
f) Latihan dan pendidikan keselamatan dan kesehatan kerja.
b.      Usaha represif atau kuratif
Kegiatan yang bersifat kuratif berarti mengatasi kejadian atau kecelakaan yang disebabkan oleh sumber-sumber bahaya yang terdapat di tempat kerja. Pada saat terjadi kecelakaan atau kejadian lainnya sangat dirasakan arti pentingnya persiapan baik fisik maupun mental para karyawan sebagai suatu kesatuan atau team kerja sama dalam rangka mengatasi dan menghadapinya.

Pengertian program kesehatan kerja: Program kesehatan kerja menunjukkan pada kondisi yang bebas dari gangguan fisik, mental, emosi atau rasa sakit yang disebabkan oleh lingkungan kerja. Resiko kesehatan merupakan faktor-faktor dalam lingkungan kerja yang bekerja melebihi periode waktu yang ditentukan, Lingkungan yang dapat membuat stress emosi atau gangguan fisik Mangkunegara (2000:161).
Perlindungan tenaga kerja meliputi beberapa aspek dan salah satunya yaitu perlindungan keselamatan, Perlindungan tersebut bermaksud agar tenaga kerja secara aman melakukan pekerjaannya sehari-hari untuk meningkatkan produksi dan produktivitas. Tenaga kerja harus memperoleh perlindungan dari berbagai soal disekitarnya dan pada dirinya yang dapat menimpa atau mengganggu dirinya serta pelaksanaan pekerjaannya.
Program kesehatan fisik yang dibuat oleh perusahaan sebaiknya terdiri dari salah satu atau keseluruhan elemen-elemen menurut Ranupandojo dan Husnan (2002:263) berikut ini :
a.       Pemeriksaan kesehatan pada waktu karyawan pertama kali diterima bekerja.
b.      Pemeriksaan keseluruhan para karyawan kunci (key personal ) secara periodik.
c.       Pemeriksaan kesehatan secara sukarela untuk semua karyawan secara periodik.
d.      Tersedianya peralatan dan staff media yang cukup.
e.       Pemberian perhatian yang sistematis yang preventif masalah ketegangan.
f.       Pemeriksaan sistematis dan periodic terhadap persyaratan sanitasi yang baik.
Selain melindungi karyawan dari kemungkinan terkena penyakit atau keracunan, usaha menjaga kesehatan fisik juga perlu memperhatikan kemungkinan-kemungkinan karyawan memperoleh ketegangan atau tekanan selama mereka bekerja. Stess yang diderita oleh karyawan selama kerjanya, sumbernya bisa dikelompokkan menjadi empat sebab: (1) Yang bersifat kimia, (2) Yang bersifat fisik, (3) Yang bersifat biologis, (4) Yang bersifat sosial.
Usaha untuk menjaga kesehatan mental perlu juga dilakukan menurut Ranupandojo dan Husnan (2002:265) yaitu dengan cara:
a.       Tersedianya psyichiatrist untuk konsultasi.
b.      Kerjasama dengan psyichiatrist diluar perusahaan atau yang ada di lembaga-lembaga konsultan.
c.       Mendidik para karyawan perusahaan tentang arti pentingnya kesehatan mental.
d.      Mengembangkan dan memelihara program-program human relation yang baik.
Bekerja diperlukan usaha-usaha untuk meningkatkan kesehatan kerja, Adapun usaha-usaha untuk meningkatkan kesehatan kerja menurut Mangkunegara (2000:162) adalah sebagai berikut:
a.       Mengatur suhu, kelembaban, kebersihan udara, penggunaan warna ruangan kerja, penerangan yang cukup terang dan menyejukkan, dan mencegah kebisingan.
b.      Mencegah dan memberikan perawatan terhadap timbulnya penyakit.
c.       Memelihara kebersihan dan ketertiban, serta keserasian lingkungan kerja.
Perusahaan memperhatikan kesehatan karyawan untuk memberikan kondisi kerja yang lebih sehat, serta menjadi lebih bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan tersebut, terutama bagi organisasi-organisasi yang mempunyai tingkat kecelakaan yang tinggi, berikut ini dikemukakan beberapa sebab yang memungkinkan terjadinya kecelakaan dan gangguan kesehatan karyawan menurut Mangkunegara (2000:163 ) yaitu :
a.       Keadaan Tempat Lingkungan Kerja
1)      Penyusunan dan penyimpanan barang-barang yang berbahaya kurang diperhitungkan keamanannya.
2)      Ruang kerja yang terlalu padat dan sesak.
3)      Pembuangan kotoran dan limbah yang tidak pada tempatnya.
4)      Pengaturan Udara
5)      Pergantian udara diruang kerja yang tidak baik (ruang kerja yang kotor,  berdebu, dan berbau tidak enak).
6)      Suhu udara yang tidak dikondisikan pengaturannya.
b.      Pengaturan Penerangan
1)      Pengaturan dan penggunaan sumber cahaya yang tidak tepat.
2)      Ruang kerja yang kurang cahaya, remang-remang.
c.       Pemakaian Peralatan Kerja
1)      Pengaman peralatan kerja yang sudah usang atau rusak.
2)      Penggunaan mesin, alat elektronik tanpa pengaman yang baik.
d. Kondisi Fisik dan Mental Pegawai
1)      Kerusakan alat indera, stamina pegawai yang usang atau rusak.
2)      Emosi pegawai yang tidak stabil, kepribadian pegawai yang rapuh.

2.1.3        Alasan Pentingnya Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Menurut Sunyoto (2012:242) ada tiga alasan pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja:
a.       Berdasarkan Perikemanusiaan
      Pertama-tama para manajer mengadakan pencegahan kecelakaan atas dasar perikemanusiaan yang sesungguhnya. Mereka melakukan demikian untuk mengurangi sebanyak-banyaknya rasa sakit, dan pekerja yang menderita luka serta keluarganya sering diberi penjelasan mengenai akibat kecelakaan.
b.      Berdasarkan undang-undang
      Karena pada saat ini di Amerika terdapat undang-undang federal, undang-undang negara bagian dan undang-undang kota praja tentang keselamatan dan kesehatan kerja dan bagi mereka yang melanggar dijatuhkan denda.
c.       Ekonomis
      Yaitu agar perusahaan menjadi sadar akan keselamatan kerja karena biaya kecelakaan dapat berjumlah sangat besar bagi perusahaan.

2.1.4    Pendekatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
            Departemen tenaga kerja republik indonesia mengharapkan bahwa upaya pencegahan kecelakaan adalah merupakan program terpadu koordinasi dari berbagai aktivitas, pengawasan yang terarah yang didasarkan atas sikap, pengetahuan, dan kemampuan. Beberapa ahli telah mengembangkan teori pencegahan kecelakaan dikenal 5 tahapan atau pendekatan pokok menurut Komang dikutip oleh Sunyoto (2012:242):
1.      Organisasi keselamatan dan kesehatan kerja
Pada era industrialisasi dengan kompleksitas permasalahan dan penerapan prinsip manajemen modern, masalah usaha pencegahan kecelakaan tidak mungkin dilakukan oleh orang per orang atau secara pribadi, namun memerlukan banyak orang, berbagai jenjang dalam organisasi yang memadai.
2.      Menemukan fakta dan masalah
Dalam kegiatan ini dapat dilaksanakan melalui survei, inspeksi, observasi, investigasi, dan review of record.
3.      Analisis
Tahap ini terjadi proses bagaimana fakta atau masalah ditemukan dapat dicari solusinya. Fase ini, analisis harus dapat dikenali berbagai hal antara lain: sebab utama masalah tersebut, tingkat kekerapannya, loksi, kaitannya dengan manusia maupun kondisi. Analisis ini bisa saja menghasilkan satu atau lebih alternatif pemecahan.
4.      Pemilihan atau penetapan alternatif (pemecahan)
Dari berbagai alternatif pemecahan perlu diadakan seleksi untuk ditetapkan satu yang benar-benar efektif dan efisiensi serta dipertanggungjawabkan.
5.      Pelaksana
Jika sudah dipilih alternatif pemecahan maka harus diikuti dengan tindakan dari keputusan penetapan tersebut. Dalam proses pelaksanaan dibuthkan adanya kegiatan pengawasan agar tidak terjadi penyimpangan.

2.1.5    Komitmen Manajemen dan Keamanan
            Menurut Dessler (2006:277), keamanan dimulai dengan komitmen manajemen puncak. Semua orang harus melihat bukti yang meyakinkan atas komitmen manajemen puncak. Hal ini meliputi manajemen puncak yang secara pribadi terlibat dalam:
a.       aktivitas keamanan
b.      membuat masalah keamanan menjadi prioritas utama dalam pertemuan dan penjadwalan produksi
c.       memberikan peringkat dan status yang tinggi kepada petugas keamanan perusahaan,
d.      menyertakan pelatihan keamanan dalam pelatihan pekerja baru.
Idealnya keamanan adalah sebuah bagian integral dari sistem, dirajut kedalam setiap kompetensi manajemen dan bagian dari tanggung jawa hari-ke-hari setiap orang.
Sebagai tambahan, menegakkan komitmen manajemen dengan sebuah kebijakan keamanan, dan mempublikasikannya. Hal ini harus ditekankan bahwa perusahaan akan melakukan segala hal yang praktis untuk menghilangkan atau mengurangi kecelakaan dan luka-luka. Menakankan bahwa pencegahan kecelakaan dan luka-luka bukan hanya penting tetapi yang paling penting. Dan menganalisis jumlah kecelakaan dan kejadian keamanan dan kemudian menetapkan sasaran keamanan spesifik yang dapat dicapai.

2.1.6    Tujuan dan Manfaat Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Menurut Mangkunegara (2002:165) bahwa tujuan dan manfaat dari keselamatan dan kesehatan kerja adalah sebagai berikut:
a.       Agar setiap pegawai mendapat jaminan keselamatan dan kesehatan kerja yang baik secara fisik, sosial, dan psikologis.
b.      Agar setiap perlengkapan dan peralatan kerja digunakan sebaik-baiknya seselektif mungkin.
c.       Agar semua hasil produksi dipelihara keamanannya.
d.      Agar adanya jaminan atas pemeliharaan dan peningkatan kesehatan gizi pegawai.
e.       Agar meningkatkan kegairahan, keserasian kerja, dan partisipasi kerja.
f.       Agar terhindar dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh lingkungan atau kondisi kerja.
g.      Agar setiap pegawai merasa aman dan terlindungi dalam bekerja.
Tujuan dan manfaat dari keselamatan dan kesehatan kerja ini tidak dapat terwujud dan dirasakan manfaatnya, jika hanya bertopang pada peran tenaga kerja
saja tetapi juga perlu peran dari pimpinan.

2.1.7    Tanggung Jawab Umum terhadap Keselamatan dan kesehatan kerja
Menurut Mathis and Jackson (2003:58) tanggung jawab umum perusahaan yang terdiri dari unit sumber daya manusia dan manajer dapat dilihat pada table berikut ini:












Tabel 2.1
Tanggung Jawab Umum Terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja
HR UNIT
MANAGERS

- Coordinates health and safety program

- Develops safety reporting system

- Provides accident investigation exprertise

- Provides technical expertise on accident prevention

- Develops restricted–acces procedurs and employee identification systems

- Trains managers to recognized and handle difficult employee situations


- Monitor health and safety of employees daily

- Coach employees to be safety conscious

- Investigate accidents

- Observe health and safety behavior of employees

- Monitor workplace for security problems

- Communicate with employees to identify potentially difficult employees

- Follow security procedures and recommend changes as needed.

Sumber: Mathis and Jackson, 2003
Menurut Siagian (2002:141) ada 5 hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan Keselamatan dan kesehatan kerja, yaitu:
1.      Apa pun bentuknya berbagai ketentuan formal itu harus ditaati oleh semua organisasi.
2.      Mutlak perlunya pengecekan oleh instansi pemerintah yang secara fungsional bertanggung jawab untuk itu antara lain dengan inspeksi untuk menjamin ditaatinya berbagai ketentuan lain dengan inspeksi untuk menjamin ditaatinya berbagai ketentuan formal oleh semua organisasi.
3.      Pengenaan sanksi yang keras kepada organisasi yang melalaikan kewajibannya menciptakan dan memelihara Keselamatan dan kesehatan kerja.
4.      Memberikan kesempatan yang seluas mungkin kepada para karyawan untuk berperan serta dalam menjamin keselamatan dalam semua proses penciptaan dan pemeliharaan keselamatan dan kesehatan kerja dalam organisasi.
5.      Melibatkan serikat pekerja dalam semua proses penciptaan dan pemeliharaan keselamatan dan kesehatan kerja.
Sistem imbalan yang efektif termasuk perlindungan karyawan ditempatnya berkarya, kiranya jelas terlihat bukan imbalan dalam bentuk uang saja hal yang sangat penting, tetapi perlindungan terhadap karyawan juga tidak kalah pentingnya.

2.1.8    Kinerja Karyawan
  Menurut Rivai (2004:309) kinerja merupakan perilaku nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh karyawan sesuai dengan perannya dalam perusahaan.
  Kemudian menurut Mangkunegara (2000:67) kinerja karyawan adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
  Pendapat dari ahli yang lain, Bernandin dan Russell yang dikutip oleh Gomes (2003:135), kinerja adalah catatan yang dihasilkan dari fungsi suatu pekerjaan tertentu atau kegiatan selama periode waktu tertentu. Maka kesimpulan dari pengertian diatas adalah kinerja merupakan prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seorang karyawan.
Mathis dan Jackson (2000:78) Kinerja mengacu pada prestasi karyawan yang diukur berdasarkan standar atau kriteria yang ditetapkan perusahan. Pengertian kinerja atau prestasi kerja diberi batasan sebagai kesuksesan seseorang di dalam melaksanakan suatu pekerjaan. Kinerja mempengaruhi seberapa banyak karyawan memberikan kontribusi kepada organisasi, antaralain yaitu kualitas keluaran, kuantitas keluaran, jangka waktu keluaran, kehadiran di tempat kerja.

2.1.9    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja
Kinerja (performance) dapat dipengaruhi oleh dua faktor menurut Keith Davis dalam Mangkunegara (2006:13), yaitu :
a.       Faktor Kemampuan (Ability)
Secara psikologis, kemampuan terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan reality (knowledge+skill). Artinya pimpinan dan karyawan yang memiliki IQ diatas rata-rata dengan pendidikan yang memadai untuk jabatannya dan terampil dalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari, maka akan lebih mudah mencapai kinerja maksimal kerja respek dan dinamis, peluang berkarier dan fasilitas kerja yang relatif memadai.

b.      Faktor Motivasi (Motivation)
Motivasi diartikan suatu sikap pimpinan dan karyawan terhadap situasi kerja di lingkungan organisasinya. Mereka yang bersikap positif terhadap situasi kerjanya akan menunjukkan motivasi kerja tinggi dan sebaliknya jika mereka bersikap negatif terhadap situasi kerjanya akan menunjukkan motivasi kerja yang rendah.


2.1.10 Manfaat Penilaian Kinerja
Kontribusi hasil-hasil penilaian merupakan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi perencanaan kebijakan-kebijakan organisasi. Kebijakan-kebijakan organisasi dapat menyangkut aspek individual dan aspek organisasional. Menurut Sulistiyani dan Rosidah (2003:225), manfaat penilaian kinerja bagi organisasi adalah :
c.       Penyesuaian-penyesuaian kompensasi
d.      Perbaikan kinerja
e.       Kebutuhan latihan dan pengembangan
f.       Pengambilan keputusan dalam hal penempatan promosi, mutasi, pemecatan, pemberhentian dan perencanaan tenaga kerja
g.      Untuk kepentingan penelitian kepegawaian
h.      Membantu diagnosis terhadap kesalahan desain karyawan

2.1.11 Tujuan Penilaian Kinerja
Menurut Rivai (2004:312), tujuan penilaian kinerja karyawan pada dasarnya meliputi :
a.       Untuk mengetahui tingkat prestasi karyawan selama ini.
b.      Pemberian imbalan yang serasi, misalnya untuk pemberian kenaikan gaji berkala, gaji pokok, kenaikan gaji istimewa, insentif uang.
c.       Mendorong pertanggungjawaban dari karyawan.
d.      Meningkatkan motivasi kerja.
e.       Meningkatkan etos kerja.
f.       Memperkuat hubungan antara karyawan dengan supervisor melalui diskusi tentang kemajuan kerja mereka.
g.      Sebagai alat untuk memperoleh umpan balik dari karyawan untuk memperbaiki desain pekerjaan, lingkungan kerja, dan rencana karier selanjutnya.
h.      Riset seleksi sebagai kriteria keberhasilan/efektivitas.
i.        Sebagai salah satu sumber informasi untuk perencanaan SDM, karier dan keputusan perencanaan sukses.
j.        Membantu menempatkan karyawan dengan pekerjaan yang sesuai untuk mencapai hasil yang baik secara menyeluruh.













2.2      Penelitian Terdahulu
Tabel 2.2
Penelitian Terdahulu
No

Judul Skripsi

Hasil Penelitian
Persamaan & Perbedaan Penelitian
Persamaan
Perbedaan
1
Pengaruh Kondisi Kerja Dan Keselamatan Kerja Terhadap Kepuasan Kerja Pegawai Dipo Lokomotif Daop IV Semarang.


Sumber: Skripsi Oleh Ishardian Tahun 2010 FE Universitas Negeri Semarang
Kondisi kerja dan keselamatan kerja memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja pegawai secara parsial dan simultan. Metode analisis data menggunakan analisis regresi berganda dan pengujian hipĆ³tesis melalui uji t dan uji F. Hasil penelitian diperoleh persamaan regresi Y = 9,063 + 0,409
Variabel X yang salah satunya menggunakan Keselamatan Kerja
Terletak pada salah satu variabel X yaitu (Kondisi Kerja) dan Variabel Y (Kepuasan Kerja), serta berbeda objek penelitiannya.
2
Analisis Hubungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) terhadap Kepuasan Kerja Karyawan di PT. DyStar Colours Indonesia.


Sumber:  Skripsi Oleh Saputra Tahun 2012 FE IPB
Hubungan antara Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dengan kepuasan kerja karyawan berdasarkan hasil analisis rank spearman, memiliki hubungan positif, kuat dan nyata. dengan koefisien korelasi sebesar 0,545 dan derajat keeratan hubungan berada pada kategori kuat.

Variabel X (Keselamatan dan kesehatan kerja)
Variabel Y (Kepuasan Kerja Karyawan) dan Objek penelitian yang berbeda.
3
Pengaruh Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan Pada CV Sahabat di Klaten.

Sumber: Skripsi Oleh Sulistyarini Tahun 2006 FE STAIN
Variabel program keselamatan kerja dan kesehatan kerja berpengaruh positif terhadap produktivitas kerja karyawan. Dengan hasil F hitung 7,485 yaitu lebih
besar dari nilai F tabel 4,17
Variabel X (Keselamatan dan kesehatan kerja)
Variabel Y (Produktivitas karyawan) dan objek penelitian.




2.3      Kerangka Konseptual

Gambar 2.1
Kerangka Konseptual








Indikator:

- Membuat kondisi kerja yang aman

- Pendidikan dan pelatihan kesehatan & keselamatan kerja

- Penciptaan lingkungan kerja yang sehat

- Pelayanan kebutuhan karyawan

- Pelayanan Kesehatan


Sumber: Handoko (2000:191-192)


 

Indikator:
-  Kualitas kerja
-  Kuantitas kerja
-  Jangka waktu pekerjaan
-  Kehadiran di tempat kerja
Sumber:
Mathis & Jackson (2000:78)
 

 
















                                                                        

           
            Variabel bebas (X) yaitu keselamatan dan kesehatan kerja diharapkan akan mempengaruhi variabel terikat (Y) yaitu kinerja karyawan.




BAB III
 METODE PENELITIAN
3.1  Ruang Lingkup Penelitian
Lokasi penelitian bertempat di PT. Ceria Utama Abadi Cabang Palembang Jl. Mp. Mangkunegara, Komplek Villa Tanjung Harapan, Blok C 12, Kenten Palembang. Mengingat luasnya kegiatan penyediaan tenaga kerja oleh PT. Ceria Utama Abadi, maka ruang lingkup penelitian ini dibatasi dalam lingkup penerapan sistem manajemen program keselamatan dan kesehatan kerja pada kerja sama penyediaan tenaga kerja untuk perusahaan klien yaitu PT. ConocoPhilips wilayah Grissik Sumatera Selatan.
3.2   Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan menggunakan teknik analisis regresi linear sederhana dibantu dengan program SPSS.  Metode kuantitatif yaitu suatu metode yang menggunakan sistem pengambilan sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuesioner terstruktur sebagai alat pengumpulan data. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk mencari informasi faktual secara mendetail yang sedang menggejala dan mengidentifikasi masalah-masalah atau untuk mendapatkan justifikasi keadaan dan kegiatan-kegiatan yang sedang berjalan. Pendekatan tersebut digunakan untuk mengetahui pengaruh keselamatan dan kesehatan kerja terhadap kinerja karyawan.



3.3   Sumber Data
3.3.1    Data Primer
            Data Primer adalah Data yang diperoleh langsung dari lapangan termasuk laboratorium Nasution (2003:143). Data primer dalam penelitian ini adalah data yang dikumpulkan secara langsung dari objek penelitian. Yaitu data yang diperoleh dari responden melalui hasil kuesioner yang diajukan oleh peneliti.

3.3.2    Data Sekunder
Data Sekunder adalah Data atau Sumber yang didapat dari bahan bacaan Nasution (2003:143). Penelitian ini data sekunder diperoleh dari perusahaan yang dapat dilihat dokumentasi perusahaan, buku-buku referensi, dan informasi lain yang berhubungan dengan penelitian.

3.4      Teknik Pengambilan data
            Teknik pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.       Kuesioner
Kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan kepada responden untuk dijawab agar memperoleh informasi yang dibutuhkan
b.      Studi Dokumentasi
Yaitu dengan melakukan pengumpulan dan mempelajari dokumen-dokumen pendukung yang diperoleh secara langsung dari PT. Ceria Utama Abadi, seperti sejarah singkat berdirinya perusahaan, struktur organisasi perusahaan dan dokumen-dokumen pendukung lainnya.

3.5      Populasi dan Sampel
3.5.1      Populasi
Menurut Sugiyono (2007:72) Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu. Kesimpulannya, populasi bukan hanya orang tetapi benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan jumlah yang ada pada objek yang dipelajari tetapi juga meliputi karakteristik atau sifat maupun pengukuran, baik secara kualititatif maupun kuantitatif daripada karakteristik tertentu mengenai sekelompok objek yang jelas dan lengkap. Tujuan diadakan populasi yaitu agar dapat menentukan besarnya anggota sampel yang diambil dari anggota sampel dan membatasi berlakunya daerah generalisasi.
Populasi pada penelitian ini berjumlah 181 karyawan. Di ambil berdasarkan ruang lingkup penelitian yaitu karyawan untuk kontrak 557 wilayah grissik sumsel dapat dilihat pada (Tabel 1.1).

3.5.2    Sampel
            Menurut Sugiyono (2007:73-74) Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah teknik probability sampling yaitu teknik sampling yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Yang meliputi simple random sampling karena pengambilan sampel anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi tersebut.
Dan penentuan ukuran sampel pada penelitian ini menggunakan  rumus Slovin, dikutip dari (Umar, 2008:78).
                              N
               n =
                         1+ N e²

Dimana:
n    =    Ukuran sampel
N   =    Ukuran populasi
e    =    Tolerir kesalahan kesambilan sampel (10%)
           
            Jumlah sampel yang digunakan dapat dihitung sebagai berikut:

                          181
         n =
                   1 + 181 (0,1²)

         n =  64  responden





3.6   Definisi Operasional Variabel

Tabel 3.1
Definisi Operasional Variabel

Variabel
Dimensi Variabel
Indikator
Kuesioner
Skala
Variabel independent (X) yaitu Keselamatan dan Kesehatan Kerja



Membuat kondisi kerja yang aman

- Perlindungan kerja
- Peralatan yang layak
1
2-3
Ordinal
Pendidikan & Pelatihan K3
- Memperbaiki kualitas kerja

4-5
Penciptaan lingkungan kerja yang sehat

- Lingkungan kerja bersih
6
Pelayanan kebutuhan karyawan

- Pengawasan intensif
- Petunjuk dalam bekerja
7
8
Pelayanan kesehatan
- Pengobatan P3K
- Jaminan kesehatan
9
10




Variabel dependent (Y) yaitu Kinerja Karyawan





Kualitas kerja

- Penguasaan pengetahuan
- Semangat kerja
1

2
Ordinal
Kuantitas kerja
- Hasil dan kecepatan

3-4
Jangka waktu pekerjaan

- Mutu hasil efisien dan efektif
- Ketepatan dan ketelitian
5

6-7
Kehadiran di tempat kerja
- Tertib dalam bekerja
8-10

3.7  Skala Pengukuran
Untuk mendapatkan data-data yang berkaitan dengan kesehatan dan keselamtan kerja dan kinerja diguanakn instrumetn berupa kuesioner dengan pengukuran mengunakan skala likert yang mempunya lima tingkatan yang merupakan skala jenis ordinal. Dengan menggunakan dua instrument, yaitu keselamatan & kesehatan kerja, dan kinerja yang kemudian dikembangkan menjadi beberapa pertanyaan atau parameter yang akan diukur.
Sangat Setuju (SS)                  = skor 5
Setuju (S)                                = skor 4
Netral (N)                                = skor 3
Tidak Setuju (TS)                    = skor 2
Sangat Tidak Setuju (STS)     = skor 1

3.8  Uji Validitas dan Reliabilitas
3.8.1    Uji Validitas
Menurut Umar (2007:52) uji validitas adalah metode pengujian yang digunakan untuk mengetahui apakah ada pertanyaan-pertanyaan kuesioner yang harus dibuang atau diganti karena dianggap tidak relevan. Pengujiannya dilakukan secara statistik, yang dilakukan dengan menggunakan bantuan program IBM Stastitical for Product and Service Solution (SPSS) versi 19.

Teknik untuk mengukur validitas kuesioner adalah sebagai berikut dengan menghitung korelasi antar data pada masing-masing pernyataan dengan skor total. Item Instrumen dianggap valid jika lebih besar dari 0,3 atau bisa juga dengan membandingkannya dengan r tabel. Jika r hitung > r tabel maka valid.
3.8.2 Uji Reliabilitas
Menurut Umar (2008:54) Uji reliabilitas adalah metode pengujian yang digunakan untuk menetapkan apakah instrument yang dalam hal ini adalah kuesioner dapat digunakan lebih dari satu kali, paling tidak oleh responden yang sama akan menghasilkan data yang konsisten. Dengan kata lain, reliabilitas instrumen mencirikan tingkat konsistensi.
Nilai koefisien reliabilitas yang baik adalah diatas 0,6. Pengukuran validitas dan reliabilitas mutlak dilakukan, karena jika instrument yang digunakan sudah tidak valid dan reliabel maka dipastikan hasil penelitiannya pun tidak akan valid dan reliabel.







3.9   Teknik Analisis Data
3.9.1    Regresi Linear Sederhana
Y = a + bX
 
            Regresi linear sederhana adalah metode statistika yang digunakan untuk membentuk hubungan antara variabel independent. Apabila banyaknya variabel bebas hanya satu,  maka menggunakan regeresi linear sederhana. Bentuk umum regeresi linear sederhana adalah sebaagai berikut.
     
     
Dimana:       Y  = Variabel dependen (Kinerja Karyawan)
                     a   = Konstanta
                     b  = Koefisien Regresi
                     X = Variabel independent (Keselamatan & Kesehatan Kerja)
                    










BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Seperti yang telah dijelaskan pada Bab. 1, bahwa permasalahan yang dihadapi adalah “Seberapa besar pengaruh Keselamatan dan Kesehatan terhadap Kinerja Karyawan PT. Ceria Utama Abadi Cabang Palembang?”
  Pada bab ini penulis akan membahas Analisis Kuantitatif Pengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan  PT. Ceria Utama Abadi Cabang Palembang dengan sistematika sebagai berikut :
1)      Profil responden
2)      Identifikasi Responden
3)      Pengujian Kuesioner
4)      Analisis Frekuensi Tanggapan Responden
5)      Analisis Regresi


4.1   Profil Responden
            Untuk mengetahui reaksi karyawan pada pengaruh keselamatan dan kesehatan kerja yang diberikan perusahaan terhadap kinerja karyawan, maka peneliti menyebarkan kuesioner kepada 64 orang karyawan yang menjadi sampel dalam penelitian ini.



4.2   Identifikasi Responden
4.2.1 Identifikasi Responden berdasarkan Jenis Kelamin

Tabel 4.1
Karakteristik Karyawan berdasarkan Jenis Kelamin
No
Jenis Kelamin
Frekuensi
Persentase (%)
1
Laki-laki
49
76,6
2
Perempuan
15
23,4

Total
64
100
Sumber : Pengolahan data primer, 2013

            Dapat dilihat dari Tabel 4.3 sebagian besar responden adalah laki-laki yaitu berjumlah 49 orang (76,6%), dan 15 orang (23,4%) berjenis kelamin perempuan.


4.2.2    Identifikasi Responden berdasarkan Status Pernikahan

Tabel 4.2
Karakteristik Karyawan berdasarkan Status Pernikahan
No
Jenis Kelamin
Frekuensi
Persentase (%)
1
Menikah
36
56,3
2
Belum Menikah
28
43,8

Total
64
100
 Sumber : Pengolahan data primer, 2013

            Berdasarkan Tabel 4.4 dapat dilihat bahwa 36 orang responden (56,3%) berstatus menikah, dan 28 orang responden (43,8%) berstatus belum menikah.



4.2.3    Identifikasi Responden berdasarkan Tingkat Pendidikan

Tabel 4.3
Karakteristik Karyawan berdasarkan Tingkat Pendidikan
No
Tingkat Pendidikan
Frekuensi
Persentase (%)
1
SMA / Sederajat
13
20,3
2
Diploma I/ II/ III
24
37,5
3
Strata I
27
42,2

Total
64
       100
Sumber : Pengolahan data primer, 2013
           
Tabel 4.5 menunjukkan bahwa 13 orang responden (20,3%) dengan tingkat pendidikan SMA/Sederajat, 24 orang responden (37,5%) dengan tingkat pendidikan Diploma I/ II/ III, 27 responden (42,2%) dengan tingkat pendidikan Strata I.

4.4.4    Identifikasi Responden berdasarkan Tingkat Usia

Tabel 4.4
Karakteristik Karyawan berdasarkan Tingkat Usia
No
Tingkat Usia
Frekuensi
Persentase (%)
1
21 - 30 Tahun
28
43,8
2
31 - 40 Tahun
32
50,0
3
41 - 50 Tahun
4
6,3
4
Diatas 50 tahun
0
0

Total
64
100
              Sumber : Pengolahan data primer, 2013

            Dilihat dari Tabel 4.6, sebanyak 28 orang responden (43,8%) dengan tingkat usia antara 20 sampai 30 tahun, 32 orang responden (50,0%) dengan tingkat usia antara 30-40 tahun, 4 orang responden (6,3%) dengan tingkat usia antara 40-50 tahun, dan 0 responden (0%) dengan tingkat usia diatas 50 tahun.

4.4.5    Identifikasi Responden berdasarkan Masa Kerja

Tabel 4.5
Karakteristik Karyawan berdasarkan Masa Kerja
No
Masa Kerja
Frekuensi
Persentase (%)
1
1 - 5 Tahun
35
54,7
2
6 - 10 Tahun
25
39,1
3
11 - 15 Tahun
4
6,3
4
> 15 Tahun
0
0

Total
64
100
    Sumber : Pengolahan data primer, 2013
      
Berdasarkan Tabel 4.7, dilihat dari masa kerja, sebanyak 35 orang responden (54,7%) dengan masa kerja antara 0-5 tahun, 25 orang responden (39,1%) dengan masa kerja antara 6-10 tahun, 4 orang responden (6,3%) dengan masa kerja antara 10-15 tahun, dan 0 responden (0%) dengan masa kerja diatas 15 tahun.







4.3   Pengujian Kuesioner
            Untuk mengetahui bahwa instrumen dalam penelitian ini merupakan alat ukur yang akurat dan dapat dipercaya maka diperlukan pengujian data. Pengujian data yang digunakan meliputi uji validitas dan uji reliabilitas. Untuk melakukan uji validitas dan uji reliabilitas, penulis menggunakan program IBM Stastitical for Product and Service Solution (SPSS) versi 19. Variabel yang diuji adalah variabel
bebas (independent) yaitu Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan variabel terikat (dependent) yaitu Kinerja Karyawan. Adapun hasil uji validitas dan reliabilitas adalah sebagai berikut :

4.3.1 Uji Validitas
            Uji Validitas digunakan untuk mengukur derajat ketepatan dalam setiap item pertanyaan suatu kuesioner, pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner dapat dikatakan valid apabila pertanyaan tersebut mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut dan apabila nilai korelasi hitung (r hitung) lebih besar daripada nilai korelasi tabelnya (r tabel). Nilai r hitung adalah nilai-nilai yang berada dalam kolom “Correlations” pada lembar output spss. Apabila nilai kolom total correlations > r tabel, maka item pertanyaan tersebut dapat dikatakan valid.
            Setelah dilakukan pengolahan data, diperoleh hasil seperti dibawah ini. dapat dilihat pada Tabel 4.6 :


Tabel 4.6
Hasil Uji Validitas

No
Pertanyaan
r hitung
r  table
Keterangan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja
KK 1
Perusahaan selalu menyediakan pelindung kerja seperti helm, sepatu boots, sarung tangan, masker, dll yang dapat menghindarkan saya dari kecelakaan kerja
0,769
0,443
Valid
KK 2
Semua peralatan kerja dalam kondisi baik dan layak pakai.
0,666
0,443
Valid
KK 3
Semua bagian dari peralatan yang berbahaya telah diberi suatu tanda-tanda
0,533
0,443
Valid
KK 4
Perusahaan memberikan pelatihan dan pendidikan bagi setiap karyawan untuk bertindak dengan aman dalam menyelesaikan pekerjaan
0,534
0,443
Valid
KK 5
Melalui pendidikan yang saya peroleh, saya dapat menjalankan tugas dan dapat memperbaiki kualitas kerja saya
0,603
0,443
Valid
KK 6
Setiap karyawan yang bekerja berada dalam kondisi lingkungan kerja yang aman dan bersih
0,648
0,443
Valid
KK 7
Perusahaan melakukan pengawasan secara lebih intensif terhadap pelaksanaan pekerjaan saya
0,715
0,443
Valid
KK 8
Perusahaan memberikan metode/ petunjuk kerja yang dapat mempermudah pekerjaan saya
0,594
0,443
Valid
KK 9
Perusahaan menyediakan obat-obatan untuk pertolongan pertama apabila terjadi kecelakaan
0,758
0,443
Valid
KK 10
Perusahaan memberikan jaminan kesehatan kepada setiap karyawan
0,659
0,443
Valid
Kinerja Karyawan
KIN1
Dengan keselamatan & kesehatan kerja saya memiliki tingkat kualitas kerja yang cukup tinggi didalam pekerjaan
0,607
0,443
Valid
KIN2
Dengan keselamatan & kesehatan kerja saya memiliki semangat kerja yang tinggi
0,694
0,443
Valid
KIN3
Dengan keselamatan & kesehatan kerja saya  memiliki tingkat kuantitas kerja yang sangat maksimal dalam bekerja
0,852
0,443
Valid
KIN4
Dengan keselamatan & kesehatan kerja saya memiliki tingkat kemampuan tugas yang tinggi didalam melakukan sebuah pekerjaan
0,553
0,443
Valid
KIN5
Dengan keselamatan & kesehatan kerja saya bekerja dengan mutu hasil yang efisien dan efektif
0,562
0,443
Valid
KIN6
Dengan keselamatan & kesehatan kerja saya dapat mempergunakan waktu semaksimal mungkin dalam bekerja
0,847
0,443
Valid
KIN7
Dengan keselamatan & kesehatan kerja saya mampu bekerja dengan standar perusahaan
0,780
0,443
Valid
KIN8
Dengan keselamatan & kesehatan kerja saya patuh terhadap peraturan yang berlaku dalam ketentuan yang ditetapkan perusahaan
0,473
0,443
Valid
KIN9
Dengan keselamatan & kesehatan kerja saya selalu masuk kerja tepat waktu
0,804
0,443
Valid
KIN10
Dengan keselamatan & kesehatan kerja saya tidak pernah absen dalam bekerja
0,728
0,443
Valid
Sumber : Diolah dari data kuesioner yang terlampir pada lampiran


4.3.2 Uji Reliabilitas
            Uji Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana alat pengukur dapat diandalkan. Uji reliabilitas digunakan untuk mengukur ketetapan atau kejituan suatu instrumen. Kuesioner dapat dikatakan reliabel (andal) jika nilai r alpha positif dan r alpha > 0,6, artinya butir pertanyaan atau variabel tersebut adalah dapat dipercaya (reliabel). Hasil uji reliabilitas dapat dilihat pada Tabel 4.7:
Tabel 4.7
Hasil Uji Reliabilitas

No
Variabel
r Alpha
Keterangan
1
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (X)
0,841
Reliabel
2
Kinerja Karyawan (Y)
0,880
Reliabel
Sumber : Diolah dari data kuesioner yang terlampir pada lampiran
          Berdasarkan Tabel 4.2, terlihat bahwa nilai alpha dari variabel X dan variabel Y lebih besar dari 0,6. Hal ini berarti data yang digunakan telah layak untuk digunakan pada analisis selanjutnya.

4.4 Analisis Frekuensi Tanggapan Responden terhadap Item-item Pertanyaan
            Berdasarkan hasil jawaban kuesioner yang telah disebarkan kepada responden, maka dapat diketahui reaksi karyawan PT. Ceria Utama Abadi Cabang Palembang dalam pengaruh keselamatan dan kesehatan kerja terhadap kinerja karyawan yang dilakukan, yaitu meliputi :
1)      Tanggapan karyawan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja
2)      Tanggapan karyawan mengenai pengaruh keselamatan dan kesehatan kerja terhadap kinerja karyawan
            Kedua item tersebut disusun dalam bentuk pertanyaan dengan 5 pilihan jawaban yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Netral (N), Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak Setuju (STS).

4.4.1  Jawaban Responden Mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja
            Untuk mengetahui tanggapan responden tentang keselamatan dan kesehatan kerja karyawan PT. Ceria Utama Abadi Cabang Palembang, maka diberikan 10 butir Pertanyaan kepada karyawan yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja.

1.      Jawaban Responden Mengenai Alat Pelindung Diri
Tabel 4.8
Jawaban Atas Pertanyaan
Alat Pelindung Diri
Skala Jawaban
Frekuensi
Persentase (%)
Sangat Setuju (SS)
29
48,4
Setuju (S)
31
45,3
Netral (N)
4
6,3
Tidak Setuju (TS)
0
0
Sangat Tidak Setuju (STS)
0
0,0
Total
64
100
         Sumber : Pengolahan data primer, 2013
Dari Tabel 4.8 dapat dilihat bahwa 31 orang responden (45,3%) setuju akan kesediaan alat pelindung diri yang diberikan oleh perusahaan. Artinya perusahaan sudah menerapkan alat pelindung diri yang baik, karena penggunaan alat pelindung diri sangat diperlukan untuk melindungi para pekerja terhadap kemungkinan resiko kecelakaan yang bisa terjadi. Didukung dengan ketetapan pemerintah dan peraturan-peraturan yang berlaku di dunia kerja. Menurut Sabir (2009:43) berpendapat bahwa alat pelindung diri adalah kelengkapan yang wajib digunakan saat bekerja sesuai kebutuhan untuk menjaga keselamatan pekerja itu sendiri dan orang sekelilingnya.

  1. Jawaban Responden Mengenai Peralatan Kerja dalam Kondisi Baik

Tabel 4.9
Jawaban Atas Pertanyaan
Peralatan Kerja dalam Kondisi Baik
Skala Jawaban
Frekuensi
Persentase (%)
Sangat Setuju (SS)
15
23,4
Setuju (S)
33
51,6
Netral (N)
16
6,3
Tidak Setuju (TS)
0
0
Sangat Tidak Setuju (STS)
0
0,0
Total
64
100
         Sumber : Pengolahan data primer, 2013
Berdasarkan Tabel 4.9, sebanyak 33 orang responden (51,6%) setuju akan semua perlatan kerja yang digunakan dalam kondisi baik. Artinya peralatan kerja yang baik dan memadai, akan berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. Dan perusahaan sudah memberikan perlatan yang terbaik untuk menunjang pekerjaan dengan acuan standar nasional indonesia (SNI). Kelayakan penggunaan perlatan kerja ditentukan oleh hasil pengujian kelayakan oleh lembaga terakreditasi. Menurut Saputra (2012:38), kewajiban perusahaan memberikan perawatan bagi peralatan kerja, memusnahkan peralatan tidak layak pakai, meberikan peralatan baru bagi pekerja, dan menunjuk petugas penatalaksana peratal kerja agar semuanya dalam kondisi baik.

  1. Jawaban Responden Mengenai Peralatan Berbahaya Telah Diberi Tanda
Tabel 4.10
Jawaban Atas Pertanyaan
Peralatan Berbahaya Telah Diberi Tanda
Skala Jawaban
Frekuensi
Persentase (%)
Sangat Setuju (SS)
11
32,8
Setuju (S)
32
50,0
Netral (N)
21
17,2
Tidak Setuju (TS)
0
0
Sangat Tidak Setuju (STS)
0
0,0
Total
64
100
         Sumber : Pengolahan data primer, 2013

Tabel 4.10 menunjukkan bahwa sebanyak 32 orang responden (50,0%) setuju bahwa peralatan berbahaya yang ada pada perusahaan telah diberi tanda bahaya sehingga dapat mengurangi resiko terjadi kejadian yang tidak di inginkan,  hal ini diharapkan akan berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan PT. Ceria Utama Abadi Cabang Palembang. Didukung oleh pendapat Saputra (2012:43) bahwa dengan memberikan tanda-tanda pada semua perlatan yang berbahaya dapat mengurangi resiko kecelakaan kerja.

  1. Jawaban Responden Mengenai Pelatihan & Pendidikan Bagi Karyawan untuk Bertindak Aman dalam Menyelesaikan Pekerjaan

Tabel 4.11
Jawaban Atas Pertanyaan
Pelatihan & Pendidikan Bagi Karyawan
Skala Jawaban
Frekuensi
Persentase (%)
Sangat Setuju (SS)
17
26,6
Setuju (S)
32
50,0
Netral (N)
15
23,4
Tidak Setuju (TS)
0
0
Sangat Tidak Setuju (STS)
0
0,0
Total
64
100
         Sumber : Pengolahan data primer, 2013

Dari tabel 4.11 dapat dilihat dengan jelas bahwa 32 responden (50,0%) setuju dengan pelatihan dan pendidikan yang diberikan kepada karyawan agar bertindak aman dalam menyelesaikan pekerjaan. Hal ini juga akan berpengaruh terhadap kinerja karyawan dengan mendapatkan pelatihan dan pendidikan akan memudahkan pekerjaan karyawan tersebut. Menurut Rivai (2004:246), pelatihan dan pendidikan merupakan salah satu faktor yang diperlukan oleh karyawan untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik. Adanya pelatihan dan pendidikan mebuat karyawan bekerja lebih berhati-hati agar dapat melindungi diri dari suatu kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja.
NB : INGIN VERSI LENGKAPNYA , SILAHKAN REQUEST DIKOLOM KOMENTAR , DAN TINGGALKAN ALAMAT E-MAIL........................
 
Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "SKRIPSI KESEHATAN PENGARUH KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PT. CERIA UTAMA ABADI CABANG PALEMBANG"

PageRank

PageRank for wirajunior.blogspot.com
 
Template By Kunci Dunia
Back To Top