SILABUS DAN RPP BLOG

RPP lengkap Kurikulum 2013 dan KTSP

CONTOH PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) FISIKA IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN FISIKA MELALUI MODEL KARYA ILMIAH SEBAGAI WAHANA MENGEMBANGKAN KOMPETENSI DASAR FISIKA



1.        Pendahuluan
Sains  merupakan pelajaran pokok yang diberikan sejak SD sampai dengan SMA. Pada tingkat pendidikan dasar, sains dapat dipandang sebagai tahap awal untuk memberi bekal kemampuan kepada siswa agar mereka dapat berpikir kritis, kreatif, dan logis dalam menghadapi berbagai isu dan perkembangan dalam masyarakat yang diakibatkan oleh dampak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta seni. Di tingkat sekolah menengah, pelejaran sains (IPA) tetap menjadi core curriculum yang merupakan lanjutan peletakan pemahaman konsep-konsep esensial tentang sains yang diperoleh dari serangkaian proses ilmiah (Indrajati,2000). Oleh karena itu, pendidikan sains pada jenjang pendidikan dasar sepatutnya mendapat perhatian serius dari berbagai pihak karena akan menjadi landasan bagi siswa untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, dan sebagai bekal mereka untuk terjun ke masyarakat.
Rendahnya mutu pendidikan, khususnya pendidikan sains, masih menjadi isu sentral dalam berbagai pertemuan ilmiah. Organisasi InternationalEducation Achievement (IEA) melaporkan bahwa kemampuan sains siswa SMP di Indonesia hanya berada pada urutan ke-40 dari 42 negara (dalam Zamroni,2001). Demikian juga rata-rata NEM IPA siswa SMP di Bali sampai tahun 2004 masih di bawah 5,0. Oleh karena itu, perlu adanya usaha yang serius untuk memperbaiki sistem maupun proses pendidikan dalam rangka membenahi proses dan hasil belajar sains siswa.
Hasil evaluasi kurikulum 1994 SMP pada mata pelajaran sains yang dilakukan oleh Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan Balitbang Dikbud menunjukkan beberapa permasalahan, seperti (1) sebagian besar siswa tidak mampu mengaplikasikan konsep-konsep sains dalam kehidupan nyata; (2) pengajaran tidak menitikberatkan pada prinsip bahwa sains mencakup pemahaman konsep dan menghubungkan dengan kehidupan sehari-hari (Depdikbud, 1990). Dewasa ini, pendidikan cenderung menjadi sarana stratifikasi sosial dan sistem persekolahan yang hanya mentransfer kepada peserta didik apa yang disebut sebagai the dead knowledge, yaitu pengetahuan yang terlalu bersifat teksbookish, sehingga bagaikan sudah diceraikan dari akar sumbernya dan aplikasinya (Zamroni, 2001:1). Dengan perkataan lain, pelajaran sains yang dipelajari di sekolah menjadi tidak bermakna bagi siswa.
Di dalam kurikulum Hasil Belajar Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Sains (Fisika) Kurikulum Berbasis Kompetensi yang dikembangkan Depdiknas, tertuang dalam salah satu tujuannya, yaitu  siswa memperoleh pengalaman dalam penerapan metode ilmiah melalui percobaan atau eksperimen, dimana siswa melakukan pengujian hipotesis dengan merancang eksperimen melalui pemasangan instrumen, pengambilan, pengolahan dan interpretasi data, serta mengomunikasikan hasil eksperimen secara lisan dan tertulis (Depdiknas, 2002). Dari tujuan ini tercermin bahwa pembelajaran sains (Fisika) tidak lagi hanya mengandalkan ceramah, demonstrasi, dan diskusi saja seperti yang selama ini banyak dilakukan guru-guru sains, melainkan lebih pada pengembangan kompetensi khususnya kompetensi ketrampilan proses sains. Hal ini hanya dapat dilakukan apabila pembelajaran dikemas melalui kerja ilmiah (karya ilmiah). Hasil studi Suastra dan Kariasa (1999) pada siswa SD menunjukkan pembelajaran kerja ilmiah telah mampu meningkatkan kreativitas berpikir siswa dan hasil belajar siswa. Hal ini disebabkan oleh siswa diberi kesempatan yang lebih luas untuk merancang, melakukan, hingga mempresentasikan temuannya. Di pihak lain, siswa yang tidak mempresentasikan temuannya juga bebas mengajukan pertanyaan dan mengemukakan pendapat kepada teman yang menyajikan. Berbeda halnya kalau guru yang mengajar, maka siswa sangat malu mengajukan pertanyaan dan mengemukakan pendapat apalagi  berbeda dengan pendapat gurunya.
Berdasarkan hasil diskusi dengan guru SMP Negeri I Singaraja mengenai pelaksanaan pengajaran materi untuk karya ilmiah ini hampir tidak pernah dilakukan. Hal ini disebabkan karena berbagai alasan, antara lain (1) tidak cukup waktu untuk melaksanakan kerja ilmiah karena materi Fisika dalam kurikulum 1994 terlalu padat, (2) kemampuan guru untuk membimbing siswa melakukan kerja ilmiah relatif masih kurang; dan 3) tuntutan evaluasi hasil belajar yang selama ini lebih menitikberatkan pada kontens atau produk sains saja.
Berdasarkan permasalahan di atas, maka melalui penelitian tindakan ini akan di coba dikembangkan strategi pembelajaran kerja ilmiah dalam pembelajaran sains dalam upaya mengembangkan kompetensi dasar Fisika yang meliputi ketrampilan proses sains, sikap ilmiah, dan penguasaan materi pelajaran ( pemahaman konsep Fisika).
Permasalahan yang dapat dirumuskan adalah (1) Apakah pengajaran model karya ilmiah dapat meningkatkan pemahaman konsep Fisika siswa?, (2) Apakah pengajaran model karya ilmiah dapat meningkatkan kinerja siswa dalam pembelajaran Fisika?, (3) Bagaimana respon siswa terhadap pembelajaran dengan model karya ilmiah?
Sejalan dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya,  tujuan utama penelitian ini adalah untuk menghasilkan model pembelajaran IPA yang dapat meningkatkan kreativitas berpikir siswa. Secara rinci dapat dikemukakan tujuan penelitian ini adalah (1) meningkatkan pemahaman dan penerapan konsep Fisika, (2) meningkatkan kualitas kinerja siswa (ketrampilan proses dan sikap ilmiah) dalam pembelajaran Fisika, dan (3) mendeskripsikan respon siswa terhadap pembelajaran Fisika dengan model karya ilmiah.
Hasil dari penelitian yang diperoleh melalui penelitian tindakan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmiah kepada berbagai pihak, terutama  (1) menyiapkan para siswa menjadi warga masyarakat yang memiliki kompetensi sains yang memadai yang meliputi pengetahuan tentang Fisika, ketrampilan proses, dan sikap ilmiah, (2) memotivasi guru agar sikap dan kebiasaan mengajarnya yang semula hanya berorientasi pada upaya peningkatan pemahaman konsep-konsep Fisika saja menuju kepada kombinasi antara penguasaan konsep-konsep Fisika, ketrampilan proses sains, pengembangan sikap ilmiah siswa, dan (3) mengantisipasi era globalisasi dengan pembelajaran sains (Fisika).


2.        Metode Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di kelas III A1 SMP Negeri I Singaraja dengan melibatkan 36 orang siswa. Penelitian dilakukan dari bulan Juli 2005 sampai Oktober 2005 dengan 2 siklus tindakan. Penetapan siklus didasarkan pada hasil refleksi awal dan refleksi pada setiap tindakan dan waktu yang tersedia. Kriteria keberhasilan tindakan adalah (1) pembelajaran dengan model karya ilmiah dianggap berhasil bila rerata penguasaan konsep sains siswa minimal mencapai kualifikasi baik dan (2) rerata kinerja siswa dalam pembelajaran minimal mencapai kategori baik.
Penguasaan konsep Fisika siswa pada setiap siklusnya dikumpulkan dengan tes hasil belajar buatan guru. Kinerja siswa dikumpulkan dengan teknik observasi dengan bantuan pedoman observasi. Aspek-aspek kinerja siswa yang diobservasi meliputi (1) merencanakan penyelidikan, (2) melaksanakan percobaan, (3) analisis data dan penyimpulan, (4) pengkomunikasian hasil secara tertulis dan verbal. Respon siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran dengan model karya ilmiah dikumpulkan dengan kuesioner. Seluruh data penelitian dianalisis secara deskriptif dan dilaporkan secara deskritif  naratif.

3.        Hasil Penelitian dan Pembahasan
            Hasil Penelitian
Pembelajaran Fisika dengan model karya ilmiah merupakan model pembelajaran yang baru bagi siswa maupun guru di SMP Negeri Singaraja. Oleh karena itu, sebelum pembelajaran guru dan siswa diberikan wawasan tentang karya ilmiah dan prosedur melakukan penelitian ilmiah, yang meliputi (1) merencanakan penelitian ilmiah dalam Fisika, yang meliputi merumuskan tujuan penelitian, menetapkan bentuk penelitian (eksperimen, survey, tinjauan pustaka, dan rancang bangun), menetapkan variabel penelitian, menyusun hipotesis, menetapkan instrumen yang digunakan, menentukan prosedur kerja, menetapkan cara memperoleh dan menganalisis data, (2) melaksanakan penelitian yang meliputi mengidentifikasi masalah, mengidentifikasi metode penelitian, menyiapkan peralatan, menerapkan proses pengambilan data, mengolah data sesuai dengan jenis data, menyimpulkan hasil penelitian, merekomendasikan hasil, dan (3) mengomunikasikan hasil penelitian ilmiah yang meliputi aspek penguasaan materi, kemampuan berargumentasi, sikap terbuka menerima kritik dan saran.
Pada tahap selanjutnya siswa dibagi dalam beberapa kelompok dengan setiap kelompok terdiri dari 4 sampai 5 siswa. Setiap kelompok ditugasi mencari topik dan masalah Fisika yang akan diteliti. Selanjutnya, siswa ditugasi untuk membuat rancangan penelitian. Rancangan penelitian ini terlebih dahulu didiskusikan dengan guru dan dibantu peneliti. Setelah memperoleh masukan dari guru, siswa selanjutnya melakukan penelitian baik di laboratorium sekolah maupun di luar laboratorium. Siswa diberi waktu 2 minggu, untuk melakukan penelitian. Setelah 2 minggu siswa kembali ke kelas untuk mendiskusikan laporan hasil penelitiannya dengan guru. Pada tahap berikutnya, siswa dengan kelompoknya menyajikan hasil penelitian di depan kelas. Sebelum proses seminar, guru hanya berperan memediasi kegiatan dan mengakses kinerja siswa dalam mempresentasikan karya siswa. Hasil yang diperoleh setelah dilakukan tindakan, pemahaman konsep dan kinerja siswa dalam pembelajaran model karya ilmiah dapat dilihat pada tabel 01.
Tabel 01 :  Kinerja Siswa dan Penguasaan Konsep Fisika Siswa pada Siklus I dan II
Aspek Penilaian
Siklus I
Siklus II
Kinerja Siswa
Rerata = 12,97
Rerata = 14,25
Penguasaan konsep
Rerata = 7,52
Rerata = 8,45
            Respon siswa terhadap pembelajaran Fisika dengan model karya ilmiah adalah positif. Hal ini juga didukung oleh hasil observasi selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Siswa tampak antusisas dalam bekerja, mempresentasikan hasil penelitiannya, serta berdiskusi.

            Pembahasan
Pembelajaran Fisika dengan model karya ilmiah adalah pembelajaran yang dikemas sedemikian rupa sehingga kompetensi siswa (aspek kognitif, ketrampilan, dan sikap) dalam pembelajaran Fisika dapat dikembangkan secara utuh. Model ini, mengikuti langkah-langkah pembelajaran perencanaan (penyusunan proposal), pelaksanaan penelitian (mencari data ke lapangan atau eksperimen di laboratorium), menganalisis data, dan pelaporan hasil baik dalam bentuk tertulis maupun secara verbal.
Penelitian ini telah dilakukan selama 2 siklus tindakan. Pada siklus I, aktivitas pembelajaran sudah mulai berjalan seperti yang direncanakan, namun beberapa masalah yang muncul terutama pada teknik pengumpulan data, pembahasan, dan teknik-teknik penulisan. Walupun demikian, hasil belajar siswa yang ditunjukkan dari kinerja siswa dalam pembelajaran ternyata sudah menunjukkan hasil yang baik. Hal ini terbukti dari rerata skor kinerja siswa dalam pembelajaran sebesar 12,97 berada dalam berkualifikasi baik. Jika dilihat indikator penelitian hasil ini telah memenuhi kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan. Meskipun demikian, proses pembelajaran belum menampakkan pola yang jelas sehingga perlu dilakukan lanjutan untuk memperoleh gambaran yang lebih baik dan komprehensif tentang pembelajaran. Ditinjau dari penguasaan konsep siswa, pada siklus I diperoleh rerata 7,52 berada dalam kualifikasi baik.
Setelah dilakukan berbagai perbaikan pada siklus II, ternyata kinerja siswa dan penguasaan konsep Fisika siswa mengalami peningkatan, yakni rerata kinerja siswa menjadi 14,25 berada dalam kualifikasi baik dan rerata penguasaan konsep siswa dengan rerata 8,45  berada dalam kualifikasi sangat baik. Hasil pada siklus II ini jauh lebih baik bila dibandingkan dengan hasil pada siklus I. Hal ini disebabkan oleh  perhatian siswa lebih baik dalam mengikuti kegiatan penyajian hasil. Siswa sangat antusias dalam bertanya, mengomentari, serta menyangkal pendapat temannya. Kondisi seperti ini sangat baik dikembangkan untuk melatih ketrampilan berpikir siswa. Selama ini, kegiatan semacam ini sangat jarang dilakukan di sekolah karena berbagai alasan yang sangat klasik, banyak waktu yang tersita, kekurangan alat dan bahan, tidak memiliki kemampuan untuk membimbing, dan tidak ada pembelajaran seperti itu yang dicontoh. Hal ini menandakan bahwa kreativitas guru dalam mengantisipasi perkembangan sangat rendah. Padahal, sudah jelas dalam kurikulum 2004 (KBK) dipaparkan bahwa pembelajaran sains perlu dikembangkan melalui berbagai aktivitas kerja ilmiah.
Begitu pula sikap ilmiah yang sulit dikembangkan melalui pembelajaran ceramah, dapat dikembangkan dengan baik melalui pembelajaran model karya ilmiah ini. Hal ini terbukti dari pengamatan aktivitas belajar siswa yang menunjukkan sikap yang positif seperti bekerjasama, terbuka menerima pendapat atau kritik orang lain, tekun dan ulet dalam bekerja, serta sikap percaya diri tampil di depan kelas. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Abruscato (1982) dan Carin, A.A & Sund, R.B (1975) yang menyatakan kompetensi sains dapat dikembangkan melalui aktivitas ilmiah seperti mengamati, mengklasifikasikan, menggunakan angka-angka, membuat definisi operasional, mengontrol variabel, melakukan percobaan, mengukur, menginterpretasikan data, membuat simpulan, meramalkan, menggunakan hubungan ruang dan waktu, menyusun hipotesis, dan mengkomunikasikan hasil kegiatan. Hasil ini sesuai dengan fungsi dan tujuan pembelajaran Fisika di  SMP yang meliputi memupuk sikap ilmiah, memperoleh pengalaman melalui penerapan metode ilmiah, dan mengembangkan berpikir secara analitis (Depdiknas, 2002). Jadi, hasil belajar siswa seperti ini tidak sekadar pemahaman konsep (kognitif) saja, tetapi juga keterampilan proses dan sikap ilmiah yang amat dibutuhkan dalam hidup siswa kelak nanti di masyarakat.
Analisis respon siswa terhadap pembelajaran dengan model karya ilmiah juga menunjukkan hasil yang sangat menggembirakan. Siswa memberikan respon positif terhadap model pembelajaran ini. Bahkan siswa menyarankan tidak hanya dilakukan sekali dalam satu semester, tetapi lebih dari sekali sehingga kompetensi yang diharapkan dalam KBK dapat terwujud.
Beberapa kendala yang dialami selama pelaksanaan model karya ilmiah ini adalah hilangnya waktu libur hari raya sehingga pelaksanaan tidak dapat dilaksanakan secara kontinu. Hambatan lain adalah jumlah siswa yang cukup banyak (36 orang), menyulitkan dalam memberikan bimbingan dan mengakses kinerja siswa.

4.        Penutup
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan diperoleh beberapa simpulan,  yaitu (1) Pembelajaran Fisika dengan model karya ilmiah dapat meningkatkan pemahaman dan aplikasi konsep Fisika siswa. (2) Kinerja siswa yang meliputi keterampilan proses dan sikap ilmiah siswa dapat dikembangkan melalui pembelajaran Fisika dengan model karya ilmiah. (3) Respon siswa terhadap pembelajaran Fisika dengan model karya ilmiah berada dalam kategori positif. Hal ini menandakan bahwa siswa cukup menerima pembelajaran model karya ilmiah dalam pembelajaran Fisika.
Berdasarkan temuan penelitian tindakan ini, disarankan hal-hal berikut ini. (1) Kepada guru-guru Fisika khususnya dan guru sains umumnya agar mencoba menerapkan model karya ilmiah seperti ini paling tidak dalam satu semester. Hal ini disebabkan oleh tuntutan kurikulum 2004 yang menekankan kerja ilmiah dalam pembelajaran sains. (2) Jika menerapkan model ini, ikutilah langkah-langkah berikut ini.  (a) memberikan wawasan terlebih dahulu kepada siswa tentang karya ilmiah, (b) menugaskan siswa berkelompok untuk mencari topik Fisika dalam kehidupan sehari-hari yang dianggap menarik untuk diteliti, dan (c) menugasi siswa melakukan penelitian lapangan maupun eksperimen di laboratorium, (3) melaporkan hasil penelitiannya dalam bentuk laporan tertulis, (4) menyeminarkan laporan penelitian siswa di kelas, dan (5) memfasilitasi pembelajaran.

DAFTAR  PUSTAKA

Abruscato, J. 1982. Teaching Children Science. New Jersey Prentice : Hall
Carin, AA & Sund, R.B. 1975. Teaching Science Through Discovery ( 3 rd. Ed.) Ohio  : Charles E. Merril Publisher.
Depdiknas. 2001. Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran Sains. Jakarta : Purkur Depdiknas.
Depdiknas. 2001. Konsep Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education).  Jakarta : Purkur Depdiknas.
Depdiknas. 2002. Kurikulum Hasil Belajar : Kompetensi Dasar Fisika SMP.  Jakarta : Purkur Balitbang.
Suastra, I Wayan & Kariasa I Nengah. 1999. “Pengembangan Kreativitas Berpikir Siswa melalui Pengajaran IPA dengan Model Karya Ilmiah di Sekolah Dasar (SD)”. Laporan Penelitian STKIP Singaraja. Lemlit STKIP Singaraja.
Zamroni. 2001. School and University Colaboration for Improving Science and Mathematic Instruction in School. Paper Presented in National Seminar on Science and Mathematics Education. Bandung, Agustus, 21,2001
Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "CONTOH PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) FISIKA IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN FISIKA MELALUI MODEL KARYA ILMIAH SEBAGAI WAHANA MENGEMBANGKAN KOMPETENSI DASAR FISIKA"

PageRank

PageRank for wirajunior.blogspot.com
 
Template By Kunci Dunia
Back To Top