SILABUS DAN RPP BLOG

RPP lengkap Kurikulum 2013 dan KTSP

MAKALAH DAN KARYA TULIS ILMIAH FISIOTRAPI PERMASALAHAN PADA PENATALAKSANAAN TERAPI LATIHAN PADA KONDISI POST ROI FRAKTUR FEMUR DEKSTRA 1/3 DISTAL, FRAKTUR CRURIS 1/3 TENGAH DEXTRA DAN POST RILIASE KNEE DEXTRA


A.    Latar Belakang Masalah
Tingkat kecelakaan lalu lintas di kota besar tetrbilang cukup tinggi. Dimana kecelakaan tersebut dapat menimbulkan kerugian yang cukup tinggi bagi korban kecelakaan lalu lintas tersebut. Akibat yang ditimbulkan bagi korban itu sendiri dapt berupa efek fisik dan psikis. Dari segi fisik tentunya kecelakaan dapat menyebabkan timbulnya luka pada setiap jaringan tubuh yang terkena trauma dari kecelakaan lalu lintas baik secara langsung maupun tidak langsung. Efek langsung dari trauma tersebut dapat berupa adanya fraktur, luka terbuka ataupun kerusakan pada organ dalam tubuh yang dapat juga menyebabkan kematian. Sedangkan efek psikis dari kecelakaan lalu lintas dapat berupa trauma ataupun rasa takut.
Fraktur sebagai akibat dari trauma langsung dapat terjadi pada setiap tulang pembentuk tubuh tergantung dari penyebab dan mekanisme terjadinya trauma. Fraktur adalah suatu kondisi terputusnya kontinuitas dari jaringan tulang yang diakibatkan oleh trauma langsung atau tidak langsung maupun patologis. Fraktur dapat bersifat tunggal maupun multiple dimana pada fraktur ini dapat mengenai beberapa tulang yang terjadi secara bersamaan dan dapat menimbulkan beberapa macam masalah.
1
 
Pada laporan kasus ini yang terjadi adalah Post ROI (removele OfInplate)fraktur femur dextra 1/3 distal, fraktur cruris 1/3 tengah dan post riliase knee dextra, dimana merupakan suatu tindakan operasi untuk melepas kembali implan yang sudah terpasang ditulang yang berfungsi sebagai fiksasi waktu fraktur dan dilakukan riliase guna untuk membebaskan perlengketan jaringan yang ada pada lutut. Adapun masalah-masalah yang ditimbulkan dari post operasi adalah adanya nyeri, oedema, spasme, keterbatasan gerak, kelemahan otot, deformitas, dan gangguan fungsional dari anggota gerak serta kemungkinan terjadinya komplikasi sekunder berupa miositis ossifikan, avaskuler nekrosis dan lain sebagainya.
Fisioterapi merupakan suatu bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada individu serta masyarakat untuk mengembangkan, memelihara, dan memulihkan gerak dan fungsi sepanjang daur kehidupan dan menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak, peralatan (fisik, elektroterapeutik, mekanis), pelatihan fungsi dan komunikasi.
Beberapa latar belakang masalah tersebut, maka kami tertarik untuk mencoba mengkaji dan memahami mengenai penatalaksanaan terapi latihan pada kondisi post ROI fraktur femur dextra 1/3 distal, fraktur cruris 1/3 tengah dextra dan post riliase knee dextra. Adapun jenis dari terapi latihan tersebut yaitu : 1) Static kontraksi, 2) Rilex pasive movement, 3) Force pasive movement, 4) free aktive movement, 5) Assisted aktive movement, 6) Resisted aktive movement, 7) Streching, 8) Latihan jalan.

B.     Identifikasi Masalah
Penanganan yang dilakukan pada kondisi post ROI fraktur femur dekstra 1/3 distal, fraktur cruris 1/3 tengah dextra dan post riliase knee dextra.  dimana pada post operasi pelepasan plate and srew dan post riliase akan ditemui permasalahan yaitu adanya nyeri, oedema, spasme, keterbatasan gerak, kelemahan otot, deformitas, dan gangguan fungsional dari anggota gerak yang terkena fraktur.

C.    Pembatasan Masalah
Dari identifikasi masalah dan keterbatasan waktu yang ada, maka kami hanya membatasi permasalahan pada penatalaksanaan terapi latihan pada kondisi post ROI fraktur femur dekstra 1/3 distal, fraktur cruris 1/3 tengah dextra dan post riliase knee dextra

D.    Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah tersebut diatas, maka kami merumuskan masalah sebagai berikut :
1) Apakah static contraction dapat mengurangi odem sehingga nyeri bisa berkkurang ? 2) Apakah rilex pasive movement dapat meningkatkan LGS ? 3) Apakah Free aktive movement bisa memelihara luas gerak sendi dan meningkatkan kekuatan otot? 4) Apakah assisted aktive movement dapat meningkatkan kekuatan otot dan menjaga elastisitas otot? 5) Apakah resisted active movemet dapat meningkatkan kekuatan otot? 6) Apakah latihan jalan mampu mengembalikan kemampuan fungsional berjalan?

E.     Tujuan Penulisan
Dalam penyusunan laporan ini mempunyai tujuan sebagai berikut : 1) Untuk mengetahui mafaat static contraction dalam mengurangimodem sehingga nyeri dapat berkurang, 2) Untuk mengetahui manfaat rilex pasive movement terhadap peningkatan luas gerak sendi, 3) Untuk mengetahui manfaat assisted aktive movement terhadaap peningkatkan kekuatan otot dan menjaga elastisitas otot? 5) Untuk mengetahui manfaat resisted active movemet terhadap peningkatkan kekuatan otot? 6) Untuk mengetahui manfaat latihan jalan dalam mengembalikan kemampuan fungsional berjalan?

BAB II
LANDASAN TEORI

Dimana landasan teori ini antara lain: (1) anatomi, fisiologi, histologi, dan biomekanik, (2) patologi, (3) permasalahan yang dibahas, (4) modalitas fisioterapi yang digunakan yaitu terapi latihan.

A.    Anatomi, Fisiologi dan Histologi
1.      Anatomi, fisiologi dan histologi
Dalam hal ini, penulis akan membahas beberapa sistem antara lain (1) sistem tulang, (2) sistem sendi, (3) sistem otot, (4) sistem saraf.
a.       Sistem tulang
1)      Os. Femur
Merupakan tulang panjang dalam tubuh yang dibagi atas Caput Corpus dan collum dengan ujung distal dan proksimal. Tulang ini bersendi dengan acetabulum dalam struktur persendian panggul dan bersendi dengan tulang tibia pada sendi lutut (Syaifudin, B.AC 1995). Tulang paha atau tungkai atas merupakan tulang terpanjang dan terbesar pada tubuh yang termasuk seperempat bagian dari panjang tubuh. Tulang paha terdiri dari 3 bagian, yaitu epiphysis proximalis, diaphysis, dan epiphysis distalis.
 
   
-          Epiphysis Proksimalis
Ujung membuat bulatan 2/3 bagian bola disebut caput femoris yang punya facies articularis untuk bersendi dengan acetabulum ditengahnya terdapat cekungan disebut fovea capitis. Caput melanjutkan diri sebagai collum femoris yang kemudian disebelah lateral membulat disebut throcantor major ke arah medial juga membulat kecil disebut trochantor minor. Dilihat dari depan, kedua bulatan major dan minor ini dihubungkan oleh garis yang disebut linea intertrochanterica (linea spiralis). Dilihat dari belakang, kedua bulatan ini dihubungkan oleh rigi disebut crista intertrochanterica. Dilihat dari belakang pula,  maka disebelah medial trochantor major terdapat cekungan disebut fossa trochanterica.
-          Diaphysis
Merupakan bagian yang panjang disebut corpus. Penampang melintang merupakan segitiga dengan basis menghadap ke depan. Mempunyai dataran yaitu facies medialis, facies lateralis, facies anterior. Batas antara facies medialis dan lateralis nampak di bagian belakang berupa garis disebut linea aspera, yang dimulai dari bagian proximal dengan adanya suatu tonjolan kasar disebut tuberositas glutea. Linea ini terbagi menjadi dua bibit yaitu labium mediale dan labium laterale, labium medial sendiri merupakan lanjutan dari linea intertrochanrterica. Linea aspera bagian distal membentuk segitiga disebut planum popliseum. Dari trochantor minor terdapat suatu garis disebut linea pectinea. Pada dataran belakang terdapat foramen nutricium, labium medial lateral disebut juga supracondylaris lateralis/medialis.
-          Epiphysis distalis
Merupakan bulatan sepasang yang disebut condylus medialis dan condylus lateralis. Disebelah proximal tonjolan ini terdapat lagi masing-masing sebuah bulatan kecil disebut epicondylus medialis dan epicondylus lateralis. Epicondylus ini merupakan akhir perjalanan linea aspera bagian distal dilihat dari depan terdapat dataran sendi yang melebar disebut facies patelaris untuk bersendi dengan os. patella. Intercondyloidea yang dibagian proximalnya terdapat garis disebut linea intercondyloidea.
2)      Os. Patella
Terjadi secara desmal. Berbentuk segitiga dengan basis menghadap proximal dan apex menghadap ke arah distal. Dataran muka berbentuk convex. Dataran belakang punya dataran sendi yang terbagi dua oleh crista sehingga ada 2 dataran sendi yaitu facies articularis lateralis yang lebar dan facies articularis medialis yang sempit.



3)      Os. Tibia
Terdiri 3 bagian yaitu epipysis proximalis, dialysis dan epiphysis distalis:
Epiphysis proximalis terdiri dari 2 bulatan disebut condylus medialis dan condylus lateralis. Disebelah atas terdapat dataran sendi disebut facies articularis superior, medial dan lateral. Tepi atas epiphysis melingkar yang disebut infra articularis medialis dan lateralis oleh suatu peninggian disebut eminentia intercondyloidea, yang disebelah lateral dan medial terdapat penonjolan disebut tuberculum intercondyloideum terdapat cekungan disebut fossa intericondyloidea anterior dan posterior. Tepi lateral margo infra glenoidalis terdapat dataran disebut facies articularis fibularis untukbersendi dengan os fibulae.
4)      Os. Fibula
Tulang fibula terbentuk kecil dan hampir sama panjang dengan tibia, terletak disebelah lateral dari tiga bagian yaitu epiphysis proximalis, diaphysis dan epiphysis distalis, epiphysis proximalis membulat disebut capitullum fibula yang proximal meruncing menjadi apex capitis fibula pada capitullum terdapat dua dataran yang disebut facies articularis, capitullum fibula untuk bersendi dengan tibia.


b.      Arthrologi/sistem sendi
Sendi adalah hubungan antara dua tulang atau lebih dari sistem sendi, disini meliputi sistem sendi panggul dan sendi lutut.
1)      Sendi panggul
Sendi panggul dibentuk oleh facies lunata acetabullum dan caput femoris. Facies lunata rongga sendi atau cavum articularis merupakan cekungan bentuk simetris terbentang melampaui equator labium acetabuli, labium acetabuli mengandung zat rawan fibrosa. Facies lunata dan labium menjadi dua pertiga caput femoris lekuk tulang tidak lengkap dan bagian interior ditutup oleh lig trasuersum, acetabuli, dimana terdapat bantalan lemak menuju caput femoris. Kapsul sendi melekat pada tulang panggul sebelah luar labium acetabuli sehingga labium aetabuli dengan bebas masuk ke rongga kapsul. Sendi panggul diperkuat oleh ligamentum-ligamentum yang diantaranya:
a)      Ligamentum Iliofemorale
Berbentuk Y, dasarnya melekat pada spinailiaca anterium dan interior berfungsi mencegah gerakan extensi dan exirotasi tungkai atas yang berlebihan pada sendi pangkal paha.
b)      Ligamentum pubofemorale
Berbentuk segitiga, dasarnya ligamen pada ramus superior pubis, berfungsi mencegah gerakan abduksi tungkai atas yang berlebihan.
c)      Ligamentum ischiofemorale
Berbentuk spiral, melekat pada corpus ischium dekat tepi aetabulum.
d)     Ligamentum transferum acetabuli
Dibentuk oleh labium acetabulare. Berfungsi mencegah keluarnya caput femoris dari acetabuli.
e)      Ligamentum cepitis femoris
Berbentuk gepeng dan segitiga melekat pada caput femoris. Berfungsi sebagai tempat berjalan vasa dan saraf, meratakan sinovial pada permukaan sendi.
2)      Sendi Lutut
Senddi lutut dibentuk oleh tiga sendi yang berbeda dan dilindungi oleh kapsul sendi. Sendi tersebut dibentuk oleh tulang femur dan patella yang mana pada facet sendi terdiri dari tiga permukaan pada bagian lateral, yang mana pada satu permukaan bagian medial otot vastus lateralis menarik patella ke arah proximal sedangkan otot vastus medialis menarik patela ke arah medial, sehingga patella stabil. Pada posisi 30o, 40o dari ekstansi, patellah tertarik oleh mekanisme gaya kerja otot sangat kuat.


Keterangan gambar 2.4
1.      Lig. Pubofemorale
2.      Canalis obturatorius
3.      Membrana obturatoria
4.      Trochanter minor
5.      Trochanter major
6.     
Lig. iliofemorale
 
Pars transversa
7.      Pars descendens
8.      M. rectum femoris, Tendo
Keterangan gambar 2.5:
1.      Caput reflexum
2.      Caput rectum
3.      Lig. Iliofemorale
4.      collum femoris
5.      trochanter major
6.      Tuberositas glutea
7.      Trochanter minor
8.      Lig. Ischio femorale
9.      Lig. Sacrotuberale
10.  Lig. sacrospinale




c.       Sistem Otot
Otot yang akan dibahas hanya berhubungan dengan kondisi pasien post operasi fraktur femur 1/3 medial dextra dengan pemasangan plateand screw adalah otot yang berfungsi ke segala arah seperti regio hip untuk gerakan fleksi-ekstensi, abduksi-adduksi dan eksternal rotasi-internal rotasi.
Untuk lebih terperincinya penulis menyertakan otot-otot yang berhubungan dengan kondisi tersebut, yaitu sebagai berikut:
Tabel 2.1
Otot Tungkai Atas Bagian Anterior (Richard, S. 1986)
No
Otot
Regio
Insertio
Fungsi
Inervasi
1
Sartorius
Spina iliace anterior superior (SIAS)
Permukaan medial tibia
Fleksi abduis, rotasi, lateral arc coxae
N. femoralis
2
Iliacus
Fossa illiaca di dalam abdomen
Throcantor femur
Flexi
N. femoralis
3
Quadricep Femoralis
a.   Rectus femoris




b.  Vatus lateralis


c.   Vatus medialis


d.  Vatus intermedius

SIAS





Ujung atas dan batang femur, septum facialis lat ke dalam
Ujung atas dan batang femur

Permukaan anterior dan lateral batang femur

Tendon m. quadriceps pada patela, vialigamentum patellae ke dalam tuberositas tibia

Flexi arc coxae




Extansi lutut


Extensi lutut, menstabilkan patela
Extensi lutut

N. femoralis





N. femoralis


N. femoralis


N. femoralis


Tabel 2.2
Otot Tungkai Atas Bagian Posterior (Ricard, S. 1986)
No
Otot
Regio
Insertio
Fungsi
Inervasi
1
Biceps femoralis




Semi tendonisosis
Caput longum (tuber isciadoleum) caput breve (linea aspera) crista supra condilair lateral batang femur)
Tuber ischiadikum
Permukaan medial tibia




Medial tibia
Flexi abduksi, rotasi lateral arc.Co xae



Flexi, rotasi, medial sendi lutut serta Arc. Coxae
Ramus tibialis N. ischiadicum




Ramus tibialis N.ischiadicum
2
Semi membranosus
Tuber ischiadikum
Condylus medialis tibia
Flex dan rotasi, medial sendi lutut serta extensi serta extensi Arc. Coxae
Ramus tibialis N. ischiadicum
3
Adduktor magnus
Tuber ischiadicum
Tiberculum adduktor femur
Extensi Arc Coxae
Ramus tibialis
N. Ischiadicum

Tabel 2.3
Otot tungkai atas Regio Glutealis (Richar, S. 1986)
No
Otot
Regio
Insertio
Fungsi
Inervasi
1
Gluteus maximus
Permukaan luar ilium, sacrum, ligamen sacrotuberale
Tractus illiotibialis dan duterositas gluteo femoris
Extensi dan rotasi laterale Arc. Coxae
N. gluteus interior
2
Gluteus Medius
Permukana luar ilium
Lateral throchantor mayor femoris
Extensi dan rotasi
N. gluteus superior
3
Gluteus minimus
Permukaan luar ilium
Anterior throchantor mayor femoris
Abduksi Arc. Coxae
N. gluteus superior
4
Piriformis
Permukaan anterior sacrum
Throchantor mayor femoris
Rotasi lateral
N. Sacralis I dan II
5
Obturatorius internus
Permukaan dalam membrana abturatoria
Tepian atas throchantor mayor femoris
Rotasi lateral
Plexus sacralis



Tabel 2.4
Otot Tuang Medial Paha
No
Otot
Regio
Insertio
Fungsi
Inervasi
1
M. Gracilis
Ramus interior ossis pubis dan ossis ischi
Tuberositas tibia dibelakang
Adduktor flexor, hip flexor dan internal rotator tungkai bawah
Ramus anterior N. obturatoria L2-4
2
M. adduktor langus
Dataran anterior ramus superior ossis pubis
M. sartorius labium medial linea aspera 1/3 medial
Ramus anterior N. Abtoratorium L2-3
Adduktor, flexor hip
3
M. adduktor brevis
Lateral ramus interior ossis pubis
Labium medial linea aspera
Adduktor flexor, internal rotasi hip
Ramus anterior dan posterior N. abturatoria L2-4
4
M. adduktor magnus
Dataran anterior ramus interfior ossi ischii dan tuber ischiadicum
Labium medial linea aspera
Adduktor dan extensor hip
Ramus posterior dan N. tibialis dan L2-5 dan S1
5
M. Obturatorius externus
Datarna anterior membrana abturatoria, foramen abturatroium
Fossa throhantorica femoris
External rotator hip membantu extensor hip
Ramus muscularis plexus sacralis S1-3


d.      Sistem Persyarafan
Sistem persyarafan pada tungkai atas (paha) dibagi menjadi 4 yaitu:
1)      Nervus femoralis
Merupakan cabang terbesar dari pleksus lumbalis. Nervus ini berisi dari tiga bagian pleksus anterior yang berasal dari nervus lumbalis (L2, L3 dan L4). Nervus ini muncul dari tepi lateral psoas di dalam abdomen dan berjalan ke bawah melewati m. psoas dan m.iliacus ia terletak di sebelah fasia illiaca dan memasuki paha lateral terhadap anterior femoralis dan selubung femoral di belakang ligament inguinal dan pecah menjadi devisi anterior dan posterior nervus femoralis mensyarafi semua otot anterior paha.
2)      Nervus obturatorius
Berasal dari plexus lumbalis (L2, L3 dan L4) dan muncul pada bagian tepi m. psoas di dalam abdomen, nervus ini berjalan ke bawah dan depan pada lateral pelvis untuk mencapai bagian atas foramen abturatorium, yang mana tempat ini pecah menjadi devisi anterior dan posterior. Devisi anterior memberi cabang-cabang muscular pada m. gracilis, m. adduktor brevis dan longus. Sedangkan devisi posterior mensyarafi articularis guna memberi cabang-cabang muscular kepada m.obturatorius esternus, dan adduktor magnus
3)      Nervus gluteus superior dan inferior
Cabang nervussacralis meninggalkan pelvis melalui bagian atas, dan bawah foramen ischiadicus majus di atas m. piriformis dan mensyarafi m.gluteus medius dan minimus serta maximus.
e.       Sistem peredaran darah
Sistem peredaran darah tungkai atas (paha)
Di sini akan dibahas sistem peredaran darah dari sepanjang tungkai atas atau paha yaitu pembuluh darah arteri dan vena.
1)      Pembuluh darah arteri
Arteri membawa darah dari jantung menuju saluran tubuh dan arteri ini selalu membawa darah segar berisi oksigen, kecuali arteri pulmonale yang membawa darah kotor yang memerlukan oksigenisasi. Pembuluh darah arteri pada tungkai antara lain yaitu:
a)      Arteri femoralis
Arteri femoralis memasuki paha melalui bagian belakang ligament inguinale dan merupakan lanjutan arteria illiace externa, yang terletak dipertengahan antara SIAS (spina illiaca anterior superior) dan sympiphis pubis. Arteria femoralis merupakan pemasok darah utama bagian tungkai, berjalan menurun hampir bertemu ke tuberculum adductor femoralis dan berakhir pada lubang otot magnus dengan memasuki spatica poplitea sebagai arteria poplitea.

b)      Arteria profunda femoralis
Merupakan arteri besar yang timbul dari sisi lateral arteri femoralis dari trigonum femorale. Ia keluar dari anterior paha melalui bagian belakang otot adductor, ia berjalan turun diantara otot adductor brevis dan kemudian teletak pada otot adduktor magnus.
c)      Arteria obturatoria
Merupakan cabang arteri illiaca interna, ia berjalan ke bawah dan ke depan pada dinding lateral pelvis dan mengiringi nervus obturatoria melalui canalis obturatorius, yaitu bagian atas foramen obturatum.
d)     Arteri poplitea
Arteri poplitea berjalan melalui canalis adduktorius masuk ke fossa bercabang menjadi arteri tibialis posterior terletak dalam fossa poplitea dari fossa lateral ke medial adalah nervus tibialis, vena poplitea, arteri poplitea.
2)      Pembuluh darah vena
Pembuluh darah vena pada tungkai antara lain:
a)      Vena femoralis
Vena femoralis memasuki paha melalui lubang pada otot adduktor magnus sebagai lanjutan dari vena poplitea, ia menaiki paha mula-mula pada sisi lateral dari arteri. Kemudian posterior darinya, dan akhirnya pada sisi medialnya. Ia meninggalkan paha dalam ruang medial dari selubung femoral dan berjalan dibelakang ligamentum inguinale menjadi vena iliaca externa.
b)      Vena profunda femoralis
Vena profunda femoris menampung cabang yang dapat disamakan dengan cabang-cabang arterinya, ia mengalir ke dalam vena femoralis.
c)      Vena obturatoria
Vena obturatoria menampung cabang-cabang yang dapat disamakan dengan cabang-cabang arterinya, dimana mencurahkan isinya ke dalam vena illiaca internal.
d)     Vena saphena magna
Mengangkut perjalanan darah dari ujung medial arcus venosum dorsalis pedis dan berjalan naik tepat di dalam malleolusmedialis, venosum dorsalin vena ini berjalan di belakang lutut, melengkung ke depan melalui sisi medial paha. Ia bejalan melalui bagian bawah n. saphensus pada fascia profunda dan bergabung dengan vena femoralis.



B.     PATOLOGI
Mekanisme terjadinya fraktur dapat terjadi akibat: 1) peristiwa trauma tunggal, 2) tekanan yang berulang ulang, 3) kelemahan abnormal pada tulang, dalam kasus fraktur femur sepertiga dextra kemungkinan mekanisme terjadinya fraktur ada dua cara, yaitu karena trauma maupun kecelakaan langsung yang mengenai tungkai atas pada batang femur, sehingga mengakibatkan perubahan posisi pada fragmen tulang (Bloch, 1986).
1.      Insiden
Dimana kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya trauma rata-rata setiap penduduk 60 juga penduduk Amerika Serikat mengalami trauma dan 50% memerlukan tindakan medis, 3,6 juta (12%) membutuhkan perawatan di rumah sakit didapatkan 300 juta orang diantaranya menderita kecacatan yang menetap (1%) dan 8,7 juta orang menderita kecacatan sementara (30%). Sedang di Indonesia tercatat kurang lebih lebih 12 ribu orang pertahunnya mengalami kecelakaan lalu lintas, dilihat dari banyaknya kecelakaan sebagai akibatnya selain kematian adalah kondisi patah tulang atau fraktur (Rasjad, 1998).
2.      Perubahan Patologi atau Patofisiologi
Tulang bersifat terlalu rapuh, namun cukup mempunyai kekuatan dan daya tahan pegas untuk menahan tekanan, tulang yang mengalami fraktur, biasanya diikuti kerusakan jaringan sekitarnya. Fraktur ini suatu permasalahan yang kompleks karena pada fraktur tersebut tidak dilukai luka terbuka, sehingga dalam mereposisi fraktur tersebut perlu pertimbangan dengan fiksasi yang baik agar tidak timbul komplikasi selama reposisi. Penggunaan fiksasi yang tepat yaitu dengan internal fiksasi jenis plate and screw. Dilakukan operasi terhadap tulang ini bertujuan mengembalikan posisi tulang yang patah ke normal atau posisi tulang sudah dalam keadaan sejajar sehingga akan terjadi proses penyambungan tulang, yang menurut (Appley, Ronald, 1995). Stadium penyembuhan fraktur melalui beberapa tahap antara lain dapat dilihat pada tabel:
Tabel 2.5 Tahap-tahap atau proses penyembuhan tulang

Hematoma
Proliferasi
Kalsifikasi
Konsolidasi
Remodeling
Tulang
Tulang patah mengenai pembuluh darah

Terbentuk hematoma di sekitar pepatahan

Hematoma dibentuk jaringan lunak di sekitarnya

Permukaan tulang yang patah tidak mendapatkan supplay

Berlangsung selama24 jam setelah terjadi perpatahan
Sel-sel periosteum dan endosteum paling menonjol pada tahap proliferasi

Proliferasi dari sel-sel dalam periosteum yang menutupi fraktur, sel-sel ini merupakan tumbuhnya osteoblast

Akan melepaskan unsur-unsur intraseluler dan kemudian menjadi fragmen lain
Berlangsung selama 3-4 hari
Jaringan seluler yang keluar dari masing-masing fragmen yang sudah matang

Sel-sel memberi perlengkapan untuk osteoblast.

Condoblast membentuk callus yang belum masak dan membentuk jendolan.

Adanya rigiditas pada fraktur

Berlangsung selama 6-12 minggu
Callus yang belum masak akan membentuk callus

Berlangsung bertahap dan berubah-ubah

Adanya aktivitas osteoblast menjadi tulang lebih kuat dan masa strukturnya berlapis-lapis

Berlangsung setelah 12-14 minggu
Tulang menyambung atau membentuk baik dari luar maupun dari dalam canalis medularis.

Osteoblast mengabsorbsi pembentukan tulang yang lebih.

Berlangsung selama 24 minggu sampai 1 tahun
Tabel 2.6 Tahap-tahap atau proses penyembuhan otot

Peradangan
Proliferasi
Remodeling
Otot
Radang adalah mekanisme pertahanan diri pada otot yang terluka.
Reaksi radang menyebabkan musnahnya agen yang membahayakan dan mencegah penyebaran yang luas.
Radang juga menyebabkan jaringan yang cidera diperbaiki atau diganti yang baru.
Tanda-tanda radang: Bengkak (tumor), berwarna kemerahan (rubon), panas (kalor), gangguan gerak (fungsiolesi)
Terjadinya perbaikan jaringan epitelium dan jaringan penghubung (connectifity).
Epitelium adalah lapisan yang membentuk epidemis kulit dan lapisan permukan mukosa.
Jaringan penghubung adalah jaringan yang terdapat pada jaringan ekstra selular.
Fibriobrasi akan berguna pada daerah yang mengalami peradangan dengan membentuk fibrin, lalu akan membentuk jaringan parut yang akan menyokong tensil strength untuk perbaikan.
Disaat yang bersamaan sel endotel baru berkembang.
Setelah berlangsung selama 7 hari degenerasi protein miofibril akan berlangsung secara perlahan-lahan yang diikuti dengan serangan phagocytic.
Sel-sel otot yang mati akan berpindah.
Terjadi pembentukan matrik jaringan connective dan sebagai fase penguatan jaringan parut, jaringan kolagen dilepaskan oleh fibriosis serta jaringan connective masih bersifat lunak.
Organisasi sejajar masih terbentuk pada permukaan luka sehingga akan memelihara tensil strength.
Namun kekuatan maximum dari jaringan parut hanya 70% dari jaringan normal.


Tabel 2.7 Tahap-tahap atau proses penyembuhan kulit

Radang
Poliferasi
Cicatrik
Kulit
Pada 24 jam pertama akan mengalami reaksi radang yang mendadak.
Hal-hal di bawah merupakan kejadian hislogik yang terjadi 48 jam pertama penyembuhan luka.
8 jam, meluasnya area jaringan yang mengalami nekrosis pada kedua sisi sayatan.
16 jam epitelium yang terletak antara jaringan yang masih hidup dengan jaringan nekrotik mengalami penebalan 24 jam ke 2, epitel yang berasal dari jaringan epitel yang masih hidup dan berinvasi mendekatkan ke 2 ujungnya.
40 sampai 48 jam kedua, epitel tersebut akan bertemu dan membuang nekrotik dari lapisan jaringan yang keraktiosa, lalu keduanya bergabung dan menyatu di bawah luka dengan memutuskan hubungan pada luka yang bertujuan mengeluarkan perompeng.
Setelah 3-9 hari epitel akan menutup kembali keratin dan meluasnya permukaan luka yang berkembang.
Epidermis yang berhubungan dengan selokan berkurang karena mutasi atau perpindahan, dari fibrobast dan terisi oleh jaringan granulasi, jaringan granulasi tersusun dari epitelialossel.
Fibroblast yang melepaskan collagen yang digunakan untuk pembentukan bekas luka dan kapiler membantu terbentuknya jaringan parut yang kemerahan.
Jarinan garnulasi akan terbentuk berdasarkan terjadinya luka.
Sebelum permukaan epitel tersebut terbentuk, jaringan granulasi yang baru bergabung dengan fibroblast dan kapiler akan berangsur pulih.
Lalu secara berangsur-angsur akan terjadi konstruksi pada luka dipermukaan epitelium.
Merupakan fase pembentukan jaringan parut permanen jaringan parut tersebut akan berkonstruksi dan pembuluh darah yang terdapat didalamnya akan dilenyapkan, sehingga jaringan parut berubah putih, colagen menjadi kuat, bekas luka tidak bisa dihilangkan. Berlangsung beberapa minggu sampai beberapa bulan

Tabel 2.8 Tahap-tahap atau proses penyembuhan jaringan lunak

Jaringan lunak
Peradangan
Siklus perlukaan menyebabkan reaksi dari jaringan mengakibatkan merusak sel karena trauma, infeksi, ischemia, sekunder atau agen fisik.

Reaksi radang untuk memulai proses healing, tetapi proses healing tidak terjadi sampai reaksi peradangan reda.

Dengan dimulainya respon peradangan maka siklus perlukaan telah terlihat

Dalam persendian dan struktur peri artikuler reaksi jaringan mengarah kepada reaksi yang berlebihan, synovial menjadi hipertensi, kadang hematrosis dan akhirnya proses ini tidak terlewati akan terjadi degenerasi.

Jaringan lunak lainnya reaksi salah satunya adalah oedem dan kadang disertai hemorage.

Perubahan ini membuat peradangan mengarah pada nyeri dan protektif spastik

Pembekuan
Dengan adanya luka yang diikuti pendarahan dan vasokontriksi pada pembuluh darah.
Mekanisme pembekuan, biasanya selesai selama 5 menit tetapi dapat memakan 24 sampai 38 jam

Tromboplastin, tromboplastin (plasma protein) menjadi trombin dibantu enzim trombo plastin dan lonca trombin serta fibrinogen bergabung membentuk fibrin yang akhirnya fibrin bersama platelest menjadi bekuan darah.

Reconstitution of communty
Dengan istirahat dan terapi yang adekuat akan mempercepat penanganan sehingga respon penyembuhan dapat terjadi.

Berpengaruh terhadap perbaikan, regenerasi, hypertrophy, pengurangan nyeri, pengembalian ROM, menjadikan jaringan normal, perbaikan kekuatan, perbaikan pola gerakan normal

Tabel 2.9 Tahap-tahap atau proses penyembuhan syaraf
Syaraf
Jaringan lunak

Proses penyembuhan neufibril bagian proksimal cidera menuju distal.
Pembentukan selubung myelin dari selubung chutan terus berkembang, neurofibril tumbuh di sekeliling protoplasma.
Pertumbuhan ini terjadi 1 mm/hari.
Bila selubung myelin sembuh sempurna maka fungsi syaraf akan pulih.
Tanda awalnya bila disentuh akan terasa nyeri pada syaraf.
Proses perbaikan syaraf tergantung dari:
Panjang luas yang mengalami cidera, teknik pembedahan, lama waktu penyembuhan

3.      Gejala dan Tanda Klinik
Pada kondisi post operasi fraktur femur sepertiga medial dextra maka akan timbul gejala-gejala sebagai berikut, yaitu:
a.       Permasalahan pada saluran pernafasan
Anastesi yang digunakan saat operasi bersifat sebagai zat iritan sebagai reflek batuk tertekan dan karenanya pengeluaran sekresi menjadi sulit. Karena lemahnya reflek batuk dan sistem sekresi karena tindakan pembiusan menyebabkan pasien mengantuk dan lemah sehingga proses pembuangan sekresi terganggu.
b.      Nyeri, ditimbulkan oleh rangsangan respon sensorik tubuh oleh karena kerusakan jaringan (sekitar bekas operasi tungkai kanan) dapat disebabkan juga karena adanya oedema.
c.       Bengkak, timbul oleh karena pecahnya pembuluh darah arteri yang menyertai pelaksanaan operasi sehingga aliran darah menuju jantung tidak lancar, maka timbul bengkak di sekitar incisi.
d.      Eritema, adanya warna kemerahan pada kulit di daerah yang terinfeksi disebabkan adanya pembengkakan. Jumlah cairan darah di bawah secara berlebihan akibat rusaknya pembuluh darah.
e.       Peningkatan suhu lokal, peningkatan suhu atau panas yang terjadi bersamaan dengan kemerahan, dalam keadaan normal suhu kira-kira 37oC kaki pada daerah yang ada fiksasi atau bekas operasi menjadi lebih panas.
Komplikasi
Ronald (1994) mengemukakan bahwa komplikasi fraktur yang berkenaan dengan kasus ini, antara lain : 1) Non union, yaitu ketidaksambungan tulang, 2) Mal union, adalah penyambungan tulang yang tidak sempurna, 3) Delayed Union, adalah keterlambatan penyambungan tulang, 4) Sepsis atau ikut teralirnya suatu baksil pada sirkulasi darah sehinga menyebabkan infeksi, 5) Stiff Joint atau kekuatan pada sendi.

Bagaimana fraktur terjadi?
Tulang bersifat relatif rapuh, namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan. Fraktur dapat terjadi akibat: 1) peristiwa trauma tunggal, 2) Tekanan yang berulang-ulang, atau 3) kelemahan abnormal pada tulang (fraktur patologik).

Fraktur akibat peristiwa trauma
Sebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan, yang dapat berupa pemukulan, pemuntiran atau penarikan.
Bila terkena kekuatan langsung tulang dapat patah pada tempat yang terkena, jaringan lunak juga pasti rusak. Pemukuan (pukuran sementara) biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya; penghancuran kemungkinan akan menyebabkan fraktur kominutif disertai kerusakan jaringan lunak yang luas (Appley, 1995).
Bila terkena kekuatan yang tidak langsung tulang dapat mengalami fraktur pada tempat tang jauh dari tempat yang terkena kekuatan itu; kerusakan jaringan lunak di tempat fraktur mungkin tidak ada (Appley, 1995).
Kekuatan dapat berup: 1) pemuntiran, yang menyebabkan fraktur spinal; 2) penekukan, yang menyebabkan fraktur melintang; 3) penekukan dan penekanan, yang mengakibatkan fraktur yang sebagian melintang tetapi disertai fragmen kupu-kupu berbentuk segitiga yang terpisah; (4) kombinasi dari pemuntiran, penekukan dan penekanan, yang menyebabkan fraktur oblik pendek, atau 5) penarikan, dimana tendon atau ligament benar-benar menarik tulang sampai terpisah (Appley, 1995).

Jenis-jenis Fraktur
1)      Berdasarkan dengan dunia luar
a.       Fraktur tertutup
Fraktur tertutup adalah fraktur tanpa adanya komplikasi, kulit masih utuh, tulang tidak menonjol melalui kulit dan relatif lebih aman.
b.      Fraktur terbuka
Fraktur terbuka adalah fraktur yang merusak jaringan kulit, karena adanya hubungan dengan lingkungan luar, sehingga fraktur terbuka potensial terjadi infeksi osteomielitis.
Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 grade, yaitu:
Grade 1: terobeknya kulit dengan sedikit kerusakan jaringan
Grade 2: seperti grade 1 dengan memar pada kulit dan otot
Grade 3: luka sebesar 6-8 cm dengan kerusakan pembuluh darah, saraf, otot dan kulit.
2)      Berdasarkan bentuk patah tulang
a.       Fraktur complete yaitu pemisahan tulang menjadi 2 fragmen
b.      Fraktur incomplete yaitu patah bagian dari tulang tanpa adanya pemisahan.
c.       Fraktur comminate yaitu fraktur lebih dari 1 garis fraktur, fragmen tulang patah menjadi beberapa bagian.
d.      Impacted fraktur yaitu salah satu ujung tulang menancap ke tulang didekatnya
3)      Berdasarkan garis patahnya
a.       Green stick yaitu retak pada sebelah sisi tulang, sering terjadi pada anak-anak dengan tulang lembek.
b.      Transverse yaitu patah tulang pada posisi melintang.
c.       Longitudinal yaitu patah tulang pada posisi memanjang
d.      Oblique yaitu garis patah miring
e.       Spiral yaitu garis patah melingkar tulang

Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "MAKALAH DAN KARYA TULIS ILMIAH FISIOTRAPI PERMASALAHAN PADA PENATALAKSANAAN TERAPI LATIHAN PADA KONDISI POST ROI FRAKTUR FEMUR DEKSTRA 1/3 DISTAL, FRAKTUR CRURIS 1/3 TENGAH DEXTRA DAN POST RILIASE KNEE DEXTRA "

PageRank

PageRank for wirajunior.blogspot.com
 
Template By Kunci Dunia
Back To Top