SILABUS DAN RPP BLOG

RPP lengkap Kurikulum 2013 dan KTSP

CONTOH LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS PTK BAHASA INDONESIA SMA MENINGKATKAN KECEPATAN EFEKTIF MEMBACA (KEM) DENGAN MENGGUNAKAN METODE KLOS SISWA KELAS XI IPA 2 SMA NEGERI 3 SIDOARJO



1.1        Latar Belakang Masalah
            Berdasarkan pengalaman peneliti pembelajaran membaca baik yang dialami sendiri maupun yang diketahui selama ini, model pembelajarannya selalu mengacu pada apa yang ada pada buku paket. Teknik pengajaran membaca yang ada umumnya membaca pemahaman. Banyak teknik pengajaran yang selama ini tidak dipergunakan untuk melatih keterampilan membaca. Teknik-teknik itu antara lain teknik uji rumpang. Kenyataan yang terjadi di samping kemampuan dan keterampilan yang kurang pada siswa, pengajaran membaca selalu mengacu pada teknik yang ada pada buku tersebut. Dengan demikian para siswa beranggapan pengajaran membaca tujuannya semata-mata menjawab pertanyaan, mencari kata istilah yang sulit dan lain-lain. Hal ini dihadapi para siswa dengan proses yang amat lain.
            Perihal lain yang selalu muncul pada pembelajaran membaca yaitu guru Bahasa Indonesia pada umumnya hanya mengutamakan penyelesaian target materi dalam kurikulum yang orientasinya mengacu pada usaha meningkatkan kemampuan siswa dalam mengerjakan soal-soal, walaupun hal ini tidak selalu benar sebab soal-soal sering  kurang mengacu pada keterampilan berbahasa baik keterampilan menyimak, berbicara,membaca, maupun menulis.
            Faktor lain yang tidak kalah pentingnya adalah kurangnya guru Bahasa Indonesia memahami dan menguasai teknik pengajaran membaca. Belum lagi memilih bahan bacaan yang seharusnya dalam pengajaran membaca guru dituntut mampu memilih bahan bacaan yang sesuai dengan tujuan dan tingkat perkembangan siswa, kompetensi siswa, minat dan tingkat kecakapan baca.
            Peneliti berusaha mengungkap kecepatan efektif membaca ( KEM ) siswa, karena penulis sangat prihatin dengan KEM siswa di negara kita. Kalau di negara-negara maju seperti Amerika, seorang setara SMA di negara kita (Senior High School) dalam keadaan normal sudah memiliki kecepatan membaca minimal kurang lebih 250 kata permenit, dengan pemahaman isi bacaan minimal 70 %. Jika dihitung kecepatan efektif membacanya (KEM) = 250 kpm x 70 % = 175 kpm. (Harjasujana,200:88). Kalau di Amerika siswa setingkat SMA memiliki KEM terendah ± 175 kpm, maka di Indonesia masih tidak sedikit siswa SMA KEM tertinggi ± 175 kpm. Dari pengalaman peneliti membelajarkan siswa kelas XI IPA 2 SMA Negeri 3 Sidoarjo, ternyata hal tersebut di atas juga terjadi. Dengan KEM ± 175 kpm, lalu bagaimana bisa menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang diharapkan melalui berbagai media cetak dalam waktu yang relatif singkat.
            Berdasarkan uraian singkat di atas, peneliti mengambil tindakan, yaitu “Meningkatkan Kecepatan Efektif  Membaca Dengan Menggunakan Metode Klos Siswa Kelas XI  IPA  2  SMA Negeri 3 Sidoarjo”.
Peneliti memilih metode klos untuk meningkatkan Kecepatan Efektif Membaca (KEM) karena metode klos dapat dipakai untuk mengukur tingkat keterbacaan sebuah wacana dan untuk melatih keterampilan dan kemampuan membaca



1.2        Perumusan dan Pemecahan Masalah
1.2.1        Perumusan Masalah
Dalam penelitian ini diajukan rumusan masalah yaitu bagaimana penggunaan metode Klos bisa meningkatkan Kecepatan Efektif Membaca (KEM) siswa kelas XI  IPA 2 SMAN 3 Sidoarjo
1.2.2        Pemecahan Masalah
Dengan rendahnya Kecepatan Efektif Membaca Siswa Kelas XI IPA 2 SMA Negeri 3 Sidoarjo Tahun Pelajaran 2006/2007 penulis mengambil tindakan yaitu meningkatkan Kecepatan Efektif Membaca dengan menggunakan Metode Klos yang langkah-langkahnya sebagai berikut : Tahap awal merupakan pra tindakan yaitu identifikasi metode klos dan Kecepatan Efektif  Membaca (KEM), langkah kedua pelaksanaan tindakan yang terdiri dari tiga siklus. Siklus I penerapan metode klos, siklus II sebagai implementasi pelaksanaan metode klos, dan siklus III sebagai pemantapan.

1.3        Tujuan Penelitian
Tujuan penelitan tindakan kelas ini adalah :
Untuk meningkatkan kecepatan efektif membaca (KEM) siswa kelas XI IPA 2 SMAN 3 Sidoarjo dengan menggunakan metode klos .

1.4        Lingkup Penelitian
Lingkup yang menjadi batasan materi dalam penelitian ini adalah Kecepatan Efektif Membaca (KEM) pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan kompetensi dasar membaca cepat. Penelitian dilaksanakan pada siswa kelas XI IPA 2, SMA Negeri 3 Sidoarjo Tahun Pelajaran 2006/2007.

1.5        Definisi Operasional
Kesamaan arti sangat diperlukan dalam penelitian. Sejalan dengan itu diperlukan pendefinisian istilah sebagai berikut :
1.5.1  Kecepatan Efektif Membaca (KEM)
Kecepatan Efektif Membaca (KEM) adalah sebuah istilah untuk mencerminkan kemampuan membaca yang sesungguhnya yang dicapai oleh pembaca, karena KEM merupakan perpaduan antara kecepatan membaca dan kemampuan memahami bacaan. KEM dapat ditentukan dengan jalan memperkalikan kecepatan membaca dengan prosentase pemahaman isi bacaan (Harjasujana,2000:109).
1.5.2  Metode Klos
Metode Klos berasal dari kata ”Clozure” yaitu suatu istilah dari ilmu jiwa Gestalt, yang mempunyai pengertian bahwa pada dasarnya orang melihat bagian-bagian itu sebagai suatu keseluruhan. Dalam teknik klos, pembaca diminta untuk memahami wacana yang tidak lengkap, karena bagian tertentu telah dihilangkan, akan tetapi pemahaman pembaca tetap sempurna (Kamidjan,1996:66)

1.6        Manfaat Hasil Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat :
a)      Bagi siswa : hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan keterampilan berbahasa dan terjadi kemajuan belajar pada mata pelajaran lain
b)      Bagi peneliti (guru) : dapat meningkatkan profesionalisme dan bisa digunakan untuk pengembangan profesi dalam perolehan angka kredit untuk naik ke golongan IV b
c)      Bagi guru lain : memberikan motivasi dan referensi model-model pembelajaran yang inovatif.
d)     Bagi sekolah : dengan adanya guru-guru (para peneliti) melakukan penelitian tindakan kelas berarti proses pembelajaran di kelas sangat berkualitas sehingga terjadi perubahan positif mengarah pada sekolah unggul.



BAB II

LANDASAN TEORI


            Keterampilan membaca sebagai salah satu aspek dari empat aspek keterampilan berbahasa biasanya tanggung jawabnya diserahkan pada guru bahasa Indonesia. Hal itu perlu diluruskan kalau ada anggapan demikian. Setiap guru dalam mata pelajaran apa pun harus turut bertanggung jawab atas kemampuan para siswanya, sebab faktor sangat dominan  untuk menentukan keberhasilan belajar belajar siswa adalah kemauan dan kemampuan membaca yang dimiliki oleh siswa itu sendiri.
            Setiap keterampilan yang dimiliki oleh siswa itu erat sekali hubungannya dengan keterampilan lainnya dengan beraneka ragam. Dalam memperoleh keterampilan berbahasa, biasanya melalui suatu hubungan urutan yang teratur, mulai lingkungan keluarga sebelum masuk sekolah anak belajar menyimak dan berbicara, setelah sekolah baru belajar membaca dan menulis.
            Dari jaman ke jaman model membaca selalu dipengaruhi perkembangan peradaban manusia dan ilmu pengetahuan. Pada antara tahun 1950 an dan tahun  1960 an model membaca dipengaruhi definisi dan penjelasan membaca, pada tahun 1970 an timbul model-model dan teori membaca yang bertitik tolak dari pandangan ahli psikologi perkembangan, psikologi kognitif, proses informasi psikolinguistik, sedangan tahun 1980 an proses membaca dipengaruhi psikologi eksperimental.
            Membaca merupakan suatu keterampilan yang pemilikan keterampilannya memerlukan suatu latihan yang intensif, dan berkesinambungan (Akhmad Slamet Harjasujana,1997:103). Aktivitas dan tugas membaca merupakan hal yang sangat penting dalam dunia pendidikan karena kegiatan ini akan menentukan kualitas dan keberhasilan seorang siswa sebagai peserta didik dalam studinya. Seorang guru di sekolah hendaknya dapat memberi motivasi siswa dalam dua segi, yakni kemampuan membaca. Hal ini seorang guru bahasa Indonesia perlu memilih suatu metode yang tepat untuk mencapai tujuan seperti  yang tercantum dalam  kurikulum SMA.
            Agar dapat tercapai tujuan pembelajaran tersebut guru harus dapat  menentukan metode yang dianggap lebih mudah pelaksanaannya dari metode atau alat lain misalnya dengan menggunakan metode klos.
Menurut Subyakto (1988:148), Membaca dengan cepat cenderung berpikir bahwa hanya seorang pembaca cepatlah seorang pembaca yang efektif dan efisien. Dengan demikian seorang pelajar yang membaca dengan lambat tidak dapat menyelesaikan tugasnya pada waktu yang ditentukan

2.1  Kecepatan Efektif Membaca (KEM)
Kecepatan Efektif Membaca (KEM) sebuah istilah untuk mencerminkan kemampuan membaca yang sesungguhnya yang dicapai oleh pembaca. Dua unsur  penyokong kegiatan/proses membaca, yakni unsur visual (kemampuan gerak motoris mata dalam melihat dan mengidentifikasi lambang-lambang grafis) dan unsur kognisi (kemampuan otak dalam mencerna dan memahami lambang-lambang grafis) sudah terliput dalam rumus KEM. Oleh karena itu KEM dapat ditentukan dengan jalan memperkalikan kecepatan rata-rata baca dengan prosentase pemahaman isi bacaan (Harjasujana, 2000:109).
Untuk mencapai KEM yang tinggi diperlukan pelatihan dan pembiasaan. KEM seseorang dapat dibina dan ditingkatkan melalui proses berlatih. Ada dua faktor utama yang diduga sebagai faktor yang mempengaruhi KEM, yakni faktor dalam (internal) dengan faktor luar (eksternal). Yang dimaksud dengan faktor dalam adalah faktor yang berada di dalam diri pembaca itu sendiri, yaitu : intelegensi, minat, dan motivasi, sikap baca, kompetensi kebahasaan, tujuan baca, dll. Yang dimaksud faktor luar adalah faktor-faktor yang berada di luar pembaca. Faktor ini dapat dibedakan ke dalam dua hal, yakni faktor-faktor yang berkenaan dengan bacaan (keterbacaan dan organisasi bacaan) dan sifat-sifat lingkungan baca (guru, fasilitas, model pembelajaran, metode membaca, dll) (Harjasujana, 2000:110).
Berdasarkan hasil studi para ahli di Amerika, kecepatan yang memadai untuk siswa tingkat akhir Sekolah Dasar kurang lebih 200 kpm, siswa tingkat Lanjutan Pertama antara 200-250 kpm, siswa tingkat Sekolah Lanjutan Atas antara 250-325 kpm, dan tingkat mahasiswa antara 325-400 kpm. Dengan pemahaman isi bacaan minimal 70%. Dengan uraian tersebut dapat dikelompokkan Kecepatan Efektif Membaca (KEM) masing-masing jenjang yaitu tingkat SD = 200x 70% = 140 kpm, tingkat SMTP/SMP = 200 x 70% sampai dengan 250 x 70% = 140-175 kpm, tingkat SMTA/SMA = 250 x 70% sampai dengan 350 x 70% =  175-245 kpm, dan tingkat Perguruan Tinggi 350 x 70% sampai dengan 400 x 70% =  245-280 kpm. (Harjasujana,200:108-109).


2.2  Metode Klos
2.2.1 Pengertian Metode Klos
            Klos berasal dari kata “CLOZURE” yaitu suatu istilah dari ilmu jiwa Gestalt. Hal ini seperti yang dikemukakan Wilson Taylor yang dikutip oleh Kamidjan,  bahwa: Konsep teknik klos ini menjelaskan tentang kecenderungan orang untuk menyempurnakan suatu pola yang tidak lengkap menjadi suatu kesatuan yang utuh.        ( Kamidjan, 1996:66 ).
            Berdasarkan pendapat di atas, dalam teknik klos pembaca diminta untuk memahami wacana yang tidak lengkap, karena bagian tertentu telah dihilangkan akan tetapi pemahaman pembaca tetap sempurna.
            Bagian - bagian kata yang dihilangkan itu biasanya disebut kata ke – an. Kata     ke – an itu diganti dengan tanda garis mendatar atau tanda titik-titik, karena kata ke – an bisa berupa kata benda, kata kerja, kata penghubung, dan kata lain yang dianggap penting. Tugas pembaca ialah mengisi bagian-bagian yang kosong itu sama dengan wacana aslinya.



2.2.2  Manfaat Metode Klos
Metode Klos menurut Heilman, Hittleman, dan Bartmuth (dalam Sujana,1987:144) menyatakan bahwa, teknik klos ini bukan sekedar bermanfaat untuk mengukur tingkat keterbacaan wacana, melainkan juga mengukur tingkat keterpahaman pembacanya. Melalui teknik ini kita akan mengetahui perkembangan konsep, pemahaman, pemahaman, dan pengetahuan linguistik siswa. Hal ini sangat berguna untuk menentukan tingkat instruksional yang tepat murid-muridnya.
              Berdasarkan pendapat di atas, penulis dapat menyimpulkan beberapa manfaat dari metode klos ini yaitu dapat  mengetahui  tingkat keterbacaan sebuah wacana, tingkat keterbacaan siswa, dan latar belakang pengalaman yang berupa minat, dan kemampuan bahasa siswa.

2.2.3  Kriteria Pembuatan Klos
Sujana (1997:147) menjelaskan kriteria pembuatan klos seperti dalam tabel berikut :
Tabel 2.1. Kriteria Pembuatan Klos
Karakteristik
Sebagai Alat Ukur
Sebagai Alat Ajar
1.Panjang Wacana



2. Delisi (lesapan)



3. Evaluasi





4. Tindak lanjut
Antara 250-350 perkataan dari wacana terpilih

Setiap kata ke-an hingga berjumlah lebih kurang 50 buah

Jawaban berupa kata, persis sesuai dengan kunci/teks aslinya: metode “exactwords”


Wacana yang terdiri atas maksimal 150 perkataan


Delisi secara selektif bergantung pada kebutuhan siswa dan pertimbangan guru

Jawaban boleh berupa sinonim atau kata yang secara struktur dan makna dapat menggantikan kedudukan kata yang dihilangkan “contextual method”

Lakukanlah diskusi untuk membahas jawaban-jawaban siswa.
              
Berbagai penelitian telah memperlihatkan bukti bahwa teknik isian rumpang/teknik klos merupakan alat ukur keterbacaan yang mapan. Validitas dan reabilitas sebagai alat ukur bahasa Inggris terbukti cukup baik. Hal senada seperti Bachman (dalam Sujana 1987:148) mengatakan telah membuktikan keterhandalan teknik ini yang diperbandingkan dengan  beberapa skor dari tes baku/standar bahasa Inggris. Bahkan Stump dalam Oller dan Perksm (dalam Sujana 1987:148) lewat penelitiannya membuktikan bahwa tes isian rumpang dan dikte merupakan dua bentuk pengetesan yang mampu memprediksi skor intelegensi dan prestasi belajar. Kedua bentuk pengetesan tersebut (prosedur isian rumpang dan dikte) telah dikorelasikan dengan sebuah tes standar yakni The Large Thorndike Intelligence Test And The Low a Test Of Basic Skill (ITBS).
               Menurut Kamidjan (1996:69) kriteria penilaian tes klos di Indonesia lebih banyak menggunakan PAP (Penilaian Acuan Patokan), oleh karena itu lebih sesuai jika menggunakan kriteria Earl F. Rankin da Yoseph Cullhene sebagai berikut :
Pembaca berada dalam tingkat independen, jika persentase skor tes uji rumpang yang diperolehnya di atas 60 %, pembaca berada dalam tingkat instruksional, jika prosentase skor tes uji rumpang yang diperolehnya berkisar antara 41 % - 60 %, dan pembaca berada dalam tingkat frustasi atau gagal, jika prosentase skor tes uji rumpang yang diperolehnya sama dengan atau kurang dari 40 .

2.2.4        Keunggulan dan Kelemahan Metode Klos
Menurut Kamidjan (1996:72) suatu alat ukur tentu memiliki keunggulan dan kelemahan. Keunggulannya sebagai berikut : adanya pola interaksi antara pembaca dan penulis, menilai keterbacaan sekaligus keterampilan membaca, teknik klos merupakan alat tes yang bersifat fleksibel dan singkat, tes klos dapat menjangkau jumlah pembaca yang banyak, teknik klos dapat juga dipakai sebagai alat untuk mengajar di kelas, tes ini juga bisa dipakai untuk latihan membaca pemahaman, dan melatih siswa (pembaca) bersikap kritis terhadap wacana. Sedangkan kelemahannya yaitu : validitas keunggulan pemahaman kurang, pembaca belum tentu mengatasi pemahaman wacana tersebut, dan adanya kelipatan pengisian yang konsistensi.
Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut peneliti memberikan bacaan yang sesuai dengan kemampuan siswa. Peneliti tidak memberikan bacaan yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dengan kemampuan siswa.





BAB III
METODE PENELITIAN


3.1    Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, karena penelitian ini dilaksanakan berangkat dari permasalahan pembelajaran di kelas, kemudian ditindak lanjuti dengan penerapan suatu tindakan pembelajaran kemudian direfleksi, dianalisis dan dilakukan penerapan kembali pada siklus-siklus berikutnya, setelah dilaksanakan revisi berdasarkan temuan saat refleksi.
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan, yaitu peneliti berusaha untuk menerapkan suatu tindakan sebagai upaya perbaikan untuk mengatasi masalah yang ditemukan. Karena penelitian dilaksanakan dengan setting kelas, maka disebut penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research)

3.2    Model Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas, model Stephen Kemmis dan Mc Taggart (dalam Suranto,200:49), model ini menggunakan sistem spiral refleksi diri yang dimulai dari rencana, tindakan, pengamatan, refleksi, dan perencanaan kembali yang merupakan dasar untuk suatu rancangan pemecahan masalah.


Penelitian Tindakan Kelas (PTK) menurut Kemmis dan Mc Taggar (dalam Suranto, 2000:49) dapat digambarkan dalam diagram sebagai berikut :


 


3.3    Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian diawali dengan pra tindakan yaitu mengadakan identifikasi metode klos dan Kecepatan Efektif Membaca (KEM) kemudian baru dilaksanakan tindakan yang terdiri dari 3 siklus. Setiap siklus tindakannya ada empat tahapan yaitu (1) persiapan/perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan,           (3) observasi dan evaluasi, dan (4) analisis dan refleksi. Secara rinci masing-masing siklus tindakannya sebagai berikut :
3.3.1  Persiapan Tindakan
Setiap siklus memerlukan persiapan-persiapan sebagai berikut :
a)      Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran yang mengacu pada silabus pembahasan yang telah dibuat oleh guru.
b)      Menyiapkan bahan ajar
c)      Penyusunan instrumen sebagai alat observasi
1)      Lembar kemampuan tingkat keterbacaan dan pemahaman siswa.
2)      Lembar pengamatan masalah yang dihadapi untuk meningkatkan Kecepatan Efektif Membaca Siswa
d)     Penentuan jadwal tindakan kelas.

3.3.2  Rencana Implementasi Tindakan (Pelaksanaan Tindakan)
         Tindakan (action) kelas tiap siklus secara umum sebagai berikut :
a)      Siswa berdiskusi tentang metode klos.
b)      Siswa bersama guru menyimpulkan tentang wacana rumpang dan cara penyempurnaan kerumpangannya.
c)      Siswa membentuk kelompok. Dari 40 siswa, setiap nomor absen ganjil sebagai kelompok responden, dan nomor absen genap sebagai kelompok pengamat atau pencatat waktu dan menghitung KEM responden. Dengan demikian setiap nomor absen ganjil berpasangan dengan nomor absen genap.
d)     Siswa nomor absen ganjil membaca wacana yang sudah disediakan dan siswa nomor absen genap sebagai pencatat waktu dan menghitung KEM responden.
e)      Siswa yang sebagai pengamat secara individu mengukur tingkat keterbacaan responden (pasangan).
f)       Tahap berikutnya kelompok yang semula sebagai responden berganti sebagai kelompok pengamat. Kelompok pengamat tugasnya mencatat waktu dan menghitung KEM responden
g)      Siswa bersama guru menyimpulkan hasil bacaan dengan menggunakan metode klos sebagai acuan refleksi.

3.3.3  Observasi dan Evaluasi
Pada setiap siklus dilakukan pengamatan dengan instrumen yang telah disediakan, yaitu :
1.      Tingkat keterbacaan dan pemahaman metode klos
a.       Panjang wacana sebagai alat ajar
b.      Delisi (lesapan) disesuaikan kebutuhan siswa dan pertimbangan guru yaitu ketrampilan penguasaan unsur tata bahasa dan ketrampilan kosakata serta maknanya
c.       Evaluasi sebagai alat ajar (contextual) artinya boleh sinonim atau makna yang dapat mengganti kedudukan kata yang dilepas.


2.      Lembar Pengamatan Masalah yang dihadapi untuk meningkatkan KEM
Instrumen ini digunakan untuk memantau masalah yang dihadapi oleh siswa dalam proses pembelajaran membaca cepat dengan menggunakan metode klos
a.       Tingkat pengetahuan bahasa
b.      Kemampuan kognitif
c.       Pengalaman membaca
3.  Lembar Observasi Aktivitas Guru/Peneliti
4.      Pada siklus akhir (ketiga) diberikan lembar angket untuk siswa tentang pelaksanaan pembelajaran Kecepatan Efektif Membaca (KEM) dengan menggunakan metode Klos

3.3.4        Refleksi
Setiap akhir siklus selalu dilaksanakan refleksi untuk mengetahui sejauh mana tingkat keterbacaan dan pemahaman siswa. Selalu diadakan diskusi dengan siswa dalam proses masukan-masukan maupun tanggapan dan komentar dari siswa sehingga refleksi sesuai dengan perkembangan kemajuan membaca siswa.




3.4    Data dan Sumber Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa catatan-catatan, silabus pembelajaran, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), hasil Kecepatan Efektif Membaca (KEM) siswa, dan hasil observasi terhadap kegiatan pembelajaran.
Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 2 SMA Negeri 3 Sidoarjo Tahun Pelajaran 2006/2007, dan guru, serta pengamat selama berlangsungnya penilaian tindakan kelas.

3.5    Teknik Analisis  Data
Dalam penelitian tindakan kelas ini menggunakan dua teknik analisis data dengan memperhatikan jenis data yang dikumpulkan, yaitu analisis kualitatif dan analisis kuantitatif.  Analisis kualitatif terhadap data kualitatif yang diperoleh dari hasil pengamatan siswa dan guru selama berlangsungnya pembelajaran di kelas. Sedangkan analisis kuantitatif digunakan terhadap hasil tes Kecepatan Efektif Membaca (KEM) siswa dengan menggunakan Metode Klos.
Rumus yang dipakai untuk mengetahui Kecepatan Efektif Membaca adalah sebagai berikut :
  x   =   Kpm

 x   =   Kpm

 (60) x   =   Kpm

Keterangan :
K                                                                                             =                                                          Jumlah kata yang dibaca
Wm                                         =                                              Waktu tempuh baca dalam satuan menit
Wd                                                      =                                              Waktu tempuh dalam satuan detik
B                                                                                                                     =                                              Skor bobot perolehan tes yang dijawab dengan benar
SI                                                                                            =                                              Skor ideal atau skor maksimal
Kpm                            =                                              Kata per menit
Siswa dikatakan berhasil membaca (tuntas) kalau kecepatan membaca minimal 250 kpm dan kemampuan memahami bacaan minimal 70%, itu berarti siswa dikatakan berhasil membaca (tuntas) atau sesuai dengan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yaitu jika kecepatan efektif membaca (KEM) minimal 175 kpm.
Hal itu didasarkan pada pendapat Harjasujana yang mangatakan bahwa, KEM minimal untuk klasifikasi pembaca adalah : SD (140 kpm), SLTP (140-175 kpm), SLTA (175-245 kpm), dan Perguruan Tinggi (245-280 kpm). (Harjasujana,2000:110)

3.6    Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian tindakan kelas ini yaitu SMA Negeri 3 Sidoarjo Tahun Pelajaran 2006/2007. Ada 5 kelas XI IPA, dipilih secara acak kelas XI IPA 2 dengan jumlah 40 siswa. Lokasi sekolah di jalan Dr. Wahidin no. 130 Sidoarjo. Penelitian tindakan kelas ini menggunakan kompetensi dasar membaca cepat dalam mata pelajaran bahasa Indonesia.





BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


4.1  Deskripsi Hasil Penelitian
            Ketika peneliti membelajarkan siswa tentang membaca cepat, ternyata kemampuan Kecepatan Efektif Membaca (KEM) siswa masih rendah. Bagaimana siswa bisa memahami Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dengan waktu yang cepat apabila KEM mereka rendah. Berangkat dari masalah tersebut guru dalam hal ini merangkap sebagai peneliti mencoba mencari jalan keluar dengan menggunakan metode klos untuk meningkatkan KEM siswa dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas. Deskripsi penelitian tindakan kelas yaitu : langkah awal diterapkan pra tindakan berupa identifikasi metode klos dan Kemampuan Efektif Membaca (KEM), kemudian dilaksanakan tindakan yang terdiri dari 3 siklus. Tiap siklus terdiri dari dua pertemuan. Setiap pertemuan memerlukan waktu 2 x 45 menit. Masing-masing siklus meliputi (a) persiapan tindakan, (b) pelaksanaan tindakan, (c) observasi dan evaluasi, dan (d) analisis dan refleksi. Secara rinci pelaksanaan tindakan sebagai berikut :

A.                Pra Tindakan
Siswa mendengarkan penjelasan tentang metode klos dan Kecepatan Efektif Membaca (KEM), kemudian siswa berdiskusi tentang penggunaan metode klos untuk meningkatkan Kecepatan Efektif Membaca (KEM), bahkan hal ini dikondisikan menjadi diskusi kelas. Ternyata siswa sangat tertarik dengan metode klos. Hal ini terlihat banyaknya siswa yang bertanya dan juga memberikan tanggapan. Pertanyaan maupun tanggapan berkisar tentang metode klos dan KEM.  Dengan temuan-temuan seperti itu merupakan jalan yang sangat baik untuk membelajarkan siswa dalam rangka meningkatkan kecepatan membaca dan kemampuan memahami bacaan yang dilaksanakan pada siklus-siklus yang direncanakan.

B.     Siklus I
1. Persiapan Tindakan
Untuk melaksanakan tindakan sebelumnya memerlukan persiapan-persiapan yaitu : menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran yang mengacu pada silabus yang telah dibuat guru. Agar proses pembelajaran lancar perlu bahan ajar tentang metode klos dan Kecepatan Efektif Membaca (KEM) serta menyiapkan bacaan yang sesuai dengan kriteria klos. Perolehan hasil penelitian dipersiapkan alat observasi baik untuk siswa maupun guru. Alat observasi berupa instrumen metode klos, instrumen alat penilaian individu KEM siswa, instrumen observasi KEM, instrumen observasi aktivitas guru, dan angket siswa. Peneliti dibantu observer dari guru dan juga pengamat dari siswa.
2. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan pada siklus I memerlukan 2 (dua) kali tatap muka, setiap tatap muka memerlukan 2 x 45 menit dengan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut : 
a.       Kegiatan awal siswa membentuk kelompok. Dari 40 siswa setiap nomor absen ganjil sebagai kelompok responden (atau kelompok yang diteliti), dan nomor absen genap sebagai kelompok pengamat atau pencatat waktu dan menghitung Kecepatan Efektif Membaca (KEM) responden. Dengan demikian setiap nomor absen ganjil berpasangan dengan nomor absen genap.
b.      Siswa mencatat tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
c.       Siswa kelompok A yaitu kelompok nomor absen ganjil membaca wacana yang sudah disediakan dan siswa kelompok B yaitu kelompok nomor absen genap mencatat dan menghitung responden.
d.      Siswa kelompok B (sebagai pengamat) secara individu mengukur tingkat keterbacaan responden (pasangannya)
e.       Tahap berikutnya kelompok yang semula sebagai responden berganti sebagai kelompok pengamat yang tugasnya mencatat waktu dan menghitung KEM responden, begitu juga kelompok yang semula sebagai pengamat berganti menjadi kelompok responden
f.       Kegiatan akhir siswa berdiskusi tentang kendala-kendala meningkatkan KEM dengan menggunakan Metode Klos sebagai acuan refleksi.

3. Observasi dan Evaluasi
Pembelajaran membaca cepat dengan menggunakan metode klos ini, siswa sangat antusias. Pada awal siswa dengan senang membentuk kelompok dengan setting yang sederhana tetapi menarik yaitu setiap siswa berpasangan yang saling berhadapan yaitu antara siswa nomor absen ganjil dengan siswa nomor absen genap.
Sejumlah 40 siswa dari data aktivitas siswa dalam pembelajaran membaca dan sekaligus sebagai penerapan pengelolaan pembelajaran secara kelompok maupun individu dapat diperoleh rincian tingkat keterbacaan siswa dalam membaca cepat dengan menggunakan metode klos sebagai berikut : jumlah kata dalam wacana ± 630 kata. Sebagai alat ukur permenit standarnya 250-350 kata. Setelah ditetapkan 2 menit waktu baca, kenyataan di kelas belum mau berhenti, sehingga terjadi penambahan waktu menjadi 3 menit. Dengan demikian fungsi alat ukur berubah menjadi alat ajar yaitu per menit antara 150 sampai 200 kata.
Berdasarkan laporan pengamat ketika mengobservasi aktivitas guru/peneliti pada saat berlangsungnya pembelajaran,  pada bagian awal terlihat bahwa guru/peneliti sudah menjelaskan tujuan pembelajaran, dan juga telah memotivasi siswa agar bisa meningkatkan KEM siswa. Ketika siswa membentuk kelompok baik kelompok responden maupun kelompok pengamat, guru juga membantu. Pemodelan metode klos untuk meningkatkan KEM sangat kelihatan. Penilaian yang dilakukan selalu dikondisikan mengacu pada kriteria klos maupun KEM. Diskusi untuk mengetahui kendala-kendala KEM dilaksanakan sebagai acuan refleksi pada siklus berikutnya
Dapat dijabarkan hasil uji kemampuan isian rumpang yaitu:(1) Tingkat Independen 7 siswa = 17,5 %, (2) Tingkat Instruksional 15 siswa = 37,5 %, (3) Tingkat Frustasi 18 siswa = 45 %. Kecepatan Efektif Membaca (KEM) siswa yang tuntas atau sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal yaitu 175 kata per menit ke atas adalah 0 siswa Siswa yang tidak tuntas atau kurang dari 175 kata permenit ke atas adalah  40 siswa Siswa yang KEMnya tertinggi 170 kpm, KEM terendah = 30 kpm, dan KEM rata-rata 87 kpm (terdapat dalam lampiran 1)
Pada diskusi kelompok telah terekam masalah yang dihadapi siswa pada saat membaca cepat, yaitu masalah tingkat pengetahuan bahasa 80 % atau 32 siswa, masalah kemampuan kognitif 80 % atau 32 siswa, dan masalah pengalaman membaca 90 % atau 36 siswa. (terdapat dalam lampiran 2)

4. Analisis dan Refleksi
Dari masalah yang dihadapi siswa selama membaca dengan menggunakan metode klos, maka dapat direfleksikan sebagai berikut :
a.       Siswa perlu meningkatkan pengetahuan bahasa Indonesia dengan jalan sering membaca Kamus Bahasa Indonesia, dan tentang teori kebahasaan.
b.      Siswa perlu meningkatkan kemapuan kognitif dengan jalan meningkatkan daya nalar dan kepekaaan untuk mengerti dan memahami isi/pesan yang terkandung dalam suatu bacaan yang seefisien mungkin
c.       Siswa harus sering membaca untuk meningkatkan pengalaman membaca. Orang yang sering membaca jauh berbeda KEMnya dengan orang yang jarang membaca.
d.      Guru/peneliti perlu memproduksi wacana yang dominan dan menghindari wacana yang terpinggirkan yaitu : wacana yang berfungsi membentuk dan mengkondisikan wacana aktual. Wacana dominan memberikan arahan bagaimana suatu objek harus dibaca dan dipahami. Wacana yang dominan memberikan daya tarik tersendiri bagi pembaca, sehingga siswa sangat senang ketika membaca karena sesuatu yang baru.
Berdasarkan temuan hasil refleksi di atas dilakukan perbaikan untuk perencanaan siklus berikutnya.

C.                Siklus II
1. Persiapan Tindakan
Pada persiapan tindakan kelas di siklus II ini seperti juga pada persiapan tindakan kelas di siklus I, namun di siklus ini persiapannya sebagai tindak lanjut. Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dibuat oleh peneliti/guru dibantu oleh dua orang pengamat dari guru mata pelajaran sejenis. Bacaan dipersiapkan sebagai wacana yang aktual (dominan) berjudul : “Tembak di Tempat Perusuh, Pejarah dan Koruptor Bahasa Indonesia”.  Untuk kelancaran proses pembelajran maka pembelajaran dilengkapi bahan ajar. Pada tahap observasi peneliti dibantu dua orang pengamat dari guru mata pelajaran sejenis dan pengamat dari siswa, terutama pada penghitungan KEM.

2. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan pada siklus II ini guru/peneliti menerapkan pembelajaran dengan langkah-langkah sebagai berikut : 
a.       Kegiatan awal siswa membentuk kelompok seperti pada siklus I dan siswa mencatat tujuan pembelajaran.
b.      Siswa nomor absen ganjil membaca  teks non sastra berjudul “Tembak di Tempat Perusuh, Pejarah dan Koruptor Bahasa Indonesia” yang panjang wacana kurang lebih 400 kata dan waktu membaca yang disediakan 2 menit.
c.       Setelah 2 menit bacaan diambil oleh guru, kemudian siswa tersebut diberi teks lagi dengan teks yang sama tetapi dirumpangi sebanyak 15 rumpangan, dan siswa diberi kesempatan mengerjakan selama 10 menit.
d.      Siswa yang nomor absen genap sebagai pengamat yang bertugas mengukur tingkat keterbacaan responden (pasangannya)
e.       Tahap berikutnya kelompok yang semula sebagai responden berganti sebagai kelompok pengamat yang tugasnya mencatat waktu dan menghitung KEM responden, begitu juga kelompok yang semula sebagai pengamat berganti menjadi kelompok responden

3.      Observasi dan Evaluasi
Pada observasi dan evaluasi di siklus II ini kegiatan pembelajaran sangat kondusif. Guru menerapkan pembelajaran berpusat pada siswa, sehingga kondisi kelas sangat bermakna dan menyenangkan. Sejalan dengan itu penilaian yang diterapkan adalah penilaian proses yaitu ketika siswa menerapkan metode klos  untuk meningkatkan KEM.
Hasil uji kemampuan isian rumpang pada tingkat indipenden sebanyak 31 orang atau 77,5 %, pada tingkat instrusional sebanyak 7 orang atau 17,5 % dan pada tingkat frustasi/gagal sebanyak 2 orang atau 5 %. Hal ini banyak mengalami peningkatan apabila dibandingkan dengan siklus I. Kecepatan Efektif Membaca (KEM) siswa pada penelitian ini terekam sebagai berikut : (1) KEM siswa yang tuntas sesuai dengan kriteria ketuntasan minimal (KEM=175 kpm ke atas) adalah 18 siswa atau 45 %, yang tidak tuntas 22 siswa atau 55 %. Hal ini pun mengalami kenaikan apabila dibandingkan dengan siklus I. Pada siklus II ini KEM tertinggi 217 kpm, terendah 70 kpm, dan rata-rata 150 kpm. (terdapat dalam lampiran 1)
Pada diskusi kelompok terekam permasalahan mulai terpecahkan. Permasalahan yang dikelompokkan menjadi 3 klasifikasi yaitu tingkat pengetahuan bahasa, tingkat kemampuan kognitif, dan klasifikasi pengalaman membaca mulai menurun dengan jalan keluar yang sudah diterapkan. Pada tingkat pengetahuan bahasa siswa yang mengalami kendala di bidang itu hanya 12 siswa atau 30 %, dan di bidang kemampuan kognitif 16 siswa atau 40 %, dan pada pengalaman membaca 19 orang atau 47,5 %. (terdapat dalam lampiran 2)

4. Analisis dan Refleksi
Permasalahan siswa yang sudah ada jalan keluarnya sebagai pelaksanaan refleksi perlu diteruskan, mengingat hasilnya sangat membanggakan terutama siswa diharapkan terus mengembangkan pengalaman membaca dengan cara sering membaca untuk melatih Kecepatan Efektif Membaca (KEM)

D.                Siklus III
1. Persiapan tindakan
Berdasarkan temuan-temuan pada siklus II, siklus ke III ini merupakan bagian pemantapan pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini. Pada persiapan tindakan, guru/peneliti mempersiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), dan bahan ajar peneliti langsung menggunakan bacaan 250 kata dengan waktu membaca direncanakan hanya 1 menit. Lembar observasi untuk mengetahui KEM maupun angket untuk siswa juga dipersiapkan agar penelitian tindakan kelas ini bisa maksimal.

2.                  Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan pada siklus III ini merupakan siklus akhir. Guru/peneliti menerapkan pembelajaran dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a.       Kegiatan awal siswa membentuk kelompok seperti pada siklus sebelumnya.
b.      Siswa juga mencatat tujuan pembelajaran yang akan dicapai
c.       Siswa yang nomor absen ganjil membaca teks non sastra berjudul “Tertib Lalu Lintas”, yang panjang wacana kurang lebih 250 kata dan waktu bacaan yang disediakan hanya 1 menit.
d.      Setelah 1 menit bacaan diambil oleh guru, kemudian siswa tersebut diberi teks lagi dengan teks yang sama tetapi ada rumpangan sebanyak 15 rumpangan
e.       Siswa mengerjakan dengan waktu yang disediakan 10 menit.
f.       Siswa yang nomor absen genap sebagai pengamat yang bertugas mengukur tingkat keterbacaan responden.
g.      Selanjutnya kelompok yang semula sebagai responden berganti sebagai kelompok pengamat dan kelompok yang semula sebagai pengamat berganti menjadi kelompok responden

3.                  Observasi dan Evaluasi
Pada siklus III kendala-kendala KEM telah terpecahkan baik kendala pengetahuan bahasa, kemampuan kognitif, maupun kendala pengalaman membaca. (terdapat dalam lampiran 2)
Dari hasil observasi siswa teman sebaya, maupun dari pengamat (guru mata pelajaran sejenis) bahwa hasil uji kemampuan isian rumpang yaitu : (1) tingkat independen = 40 siswa atau 100 %, (2) tingkat instruksional = 0 siswa atau 0 %, dan (3) tingkat frustasi/gagal = 0 siswa atau 0 %. Hasil observasi juga terekam Kecepatan Efektif Membaca (KEM) siswa yang tuntas atau 175 kpm ke atas sebanyak 40 orang atau 100 %, KEM tertinggi  250 kpm, KEM terendah 156 kpm, dan rata-rata 210 kpm. (terdapat dalam lampiran 1)

4.                  Analisis dan Refleksi
Di akhir siklus ini guru/peneliti memberikan angket kepada siswa tentang pelaksanaan pembelajaran, ternyata siswa menyambut positif pelaksanaan pembelajaran tersebut. Pada proses pembelajaran 100 % siswa menjawab ya pada point mudah diterima ketika menjelaskan metode klos untuk meningkatkan KEM, 100 % menjawab ya pada point memberi kesempatan anda untuk bertanya tentang metode klos dan KEM, 50 % menjawab ya pada pernyataan membantu anda ketika membentuk kelompok responden dan kelompok pengamat, sebaliknya kelompok pengamat menjadi kelompok responden, 100 % siswa menjawab ya pada pernyataan mengkondisikan anda untuk melaksanakan pemodelan metode klos untuk meningkatkan KEM, 100 % siswa menjawab ya pada pernyataan anda diajak berdiskusi tentang kendala-kendala KEM, dan 100 % siswa menjawab ya pada pernyataan anda diajak berdiskusi tentang kelebihan dan kelemahan metode klos.      Pada penilaian 100 % siswa menjawab ya pada pernyataan anda diberi kesempatan sebagai pengamat untuk menilai teman sendiri, dan 100 % menjawab ya pada pernyataan bahawa penilaian didasarkan pada kriteria klos dan kriteria KEM. Hasil pembelajaran 90 % siswa menjawab ya pada pernyataan anda sangat senang dengan model pembelajaran metode klos untuk meningkatkan KEM, dan 100% siswa menjawab ya pada pernyataan dan KEM bertambah ketika menggunakan metode klos. (terdapat dalam lampiran 3)
Dengan demikian pelaksanaan pembelajaran sampai dengan siklus III mengalami keberhasilan.





5.                  2 Pembahasan Hasil Penelitian
Pada proses pembelajaran guru harus pandai-pandai memilih model pembelajaran. Pembelajaran bahasa Indonesia harus bisa menerapkan keterampilan berbahasa. Ada 4 aspek keterampilan berbahasa yaitu menyimak, berbicara, dan menulis baik itu tentang kebahasaan  maupun kesastraan.
Membaca merupakan bagian penting dari 4 aspek keterampilan berbahasa. Membaca banyak ragamnya termasuk membaca cepat. Tidak sedikit siswa Kecepatan Efektif Membaca (KEM)nya di bawah 175 kpm, namun dengan menggunakan metode klos untuk meningkatkan KEM siswa. Pada penelitian tindakan kelas (PTK) ini pada siklus ke III ternyata semua siswa KEMnya 175 kpm ke atas. Menurut Kamidjan (1996:68) metode klos dapat dipakai untuk mengukur tingkat keterbacaan sebuah wacana yaitu (a) dapat dipakai untuk menguji tingkat kesukaran dan tingkat kemudahan suatu wacana, (b) dapat mengklasifikasikan pembaca menjadi 3 kelompok, yaitu : independen (tingkat bebas), instruksional (tingkat pengajaran), dan frustasi (gagal), (c) serta untuk mengetahui kelayakan wacana sesuai dengan kemampuan siswa (Kamidjan,1996:68).
Sejalan dengan itu beliau juga mengatakan teknik klos juga dapat dipakai untuk melatih keterampilan dan kemampuan membaca. Yang diperhatikan dalam melatih keterampilan dan kemampuan baca ialah : (a) dalam menggunakan isyarat sintaksis, (b) dalam menggunakan isyarat semantik, (c) dalam menggunakan isyarat skematis, (d) dalam menggunakan jumlah kosakata, (e) dalam melatih daya nalar pembaca, serta (f) dalam melatih pemahaman bacaan (Kamidjan,1996:69).
Kegiatan awal pembelajaran pada pra tindakan terlihat semua siswa tertarik penjelasan guru tentang model/teknik klos dan penjelasan KEM (Kecepatan Efektif Membaca) seseorang, bahkan pada saat berdiskusi tentang metode tersebut siswa sangat antusias bertanya dan memberikan komentar maupun pendapat. Hal ini sangat relevan apabila metode klos digunakan untuk meningkatkan KEM, karena siswa ada kepedulian. Itu berarti pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan telah terbentuk, dan sangat baik untuk memulai tindakan baik siklus I maupun siklus-siklus berikutnya.
Pelaksanaan refleksi dengan jalan diksusi kelompok maupun diskusi kelas telah teruji bahwa kendala-kendala KEM harus segera diatasi agar KEM siswa meningkat. Menurut Harjasujana (2000:90) Kendala-kendala KEM meliputi : lemahnya pengetahuan bahasa, kurangnya kemampuan kognitif, dan pengalaman membaca yang memprihatinkan. Masalah pengetahuan bahasa jalan keluarnya siswa diharapkan sering membaca kamus bahasa Indonesia, dan untuk kemampuan kognitif, siswa diharapkaan meningkatkan daya nalar dan kepekaan untuk mempermudah memahami isi/pesan yang terkandung dan yang terakhir yaitu pada kendala pengalaman membaca diharapkan siswa sering membaca karena seseorang yang sering membaca KEMnya jauh berbeda dengan orang yang jarang membaca. Itu berarti bahwa untuk mencapai tujuan perlu melihat sebab, kalau sudah tahu sebab, baru melangkah mencari jalan keluar.






BAB V
PENUTUP


5.1        Simpulan
            Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
a.       Kemampuan kecepatan membaca siswa rendah karena teknik pembelajaran membaca yang selama ini tidak di arahkan untuk melatih keterampilan membaca, dan model pembelajarannya selalu mengacu pada buku yang ada, sehingga para siswa beranggapan pengajaran membaca tujuannya semata-mata menjawab pertanyaan, mencari kata/istilah yang sulit dan lain-lain. Hal ini dihadapi siswa dengan proses yang amat lamban.
b.      Metode klos dapat dipakai untuk mengukur tingkat keterbacaan sebuah wacana yaitu dapat dipakai untuk menguji tingkat kesukaran dan tingkat kemudahan suatu wacana, serta dapat mengklasifikasi pembaca menjadi 3 kelompok yaitu : independen (tingkat bebas), instruksional (tingkat pengajaran), dan frustasi (gagal). Di samping itu metode klos juga bisa digunakan untuk mengetahui kelayakan wacana sesuai dengan kemampuan siswa, dan dapat pula dipakai untuk melatih keterampilan dan kemampuan baca.
c.       Hasil analisis data menunjukkan bahwa aktivitas pembelajaran membaca cepat dengan menggunakan metode klos dapat meningkatkan Kecepatan Efektif Membaca (KEM) siswa.
d.      Kecepatan Efektif Membaca (KEM) merupakan perpaduan antara kecepatan membaca dengan kemampuan memahami bacaan.
e.       Kecepatan Efektif Membaca (KEM) dipengaruhi oleh faktor tingkat pengetahuan bahasa, pengetahuan kognitif, dan pengalaman membaca siswa. Kendala pada tingkat pengetahuan bahasa pemecahannya dengan jalan sering membaca kamus bahasa Indonesia dan teori kebahasaan sedangkan kendala pada pengetahuan kognitif pemecahannya dengan jalan meningkatkan daya nalar dan kepekaan untuk mengerti dan memahami isi/pesan yang terkandung dalam suatu bacaan yang seefisien mungkin. Pada kendala pengalaman membaca pemecahannya siswa harus sering membaca karena orang yang sering membaca KEMnya jauh berbeda dengan orang yang jarang membaca.


5.2        Saran – saran
a.       Terampil membaca sebaiknya dilatih dan diajarkan mulai tingkat dasar, karena kemampuan membaca mempunyai pengaruh terhadap mata pelajaran lain.
b.      Melatih membaca tepat, benar dan cepat menjadi tanggung jawab semua guru dan bukan tanggung jawab guru bahasa Indonesia saja.

  





  



DAFTAR RUJUKAN




Depdikbud, 1999. Penelitian Tindakan. Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Menengah Umum.

Eriyanto.2003. Analisis Wacana. Yogyakarta : LKIS

Harjosujono, Akhmad Slamet, 1996. Membaca 2. Jakarta : Depdikbud Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Menengah Umum. Bagian Proyek Penataran Baru SLTP Setara D.III

Kasmidjan, Drs. 1996. Teori Membaca. Surabaya : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni.

Poerwodarminto, WJS., 1994, Bahasa Indonesia untuk Karang Mengarang. Yogya : UP. Indonesia

Soedarso, 2000, Speed Reading Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Subyakto, Sri Utari, Dr.1988, Metodologi Pengajaran Bahasa. Jakarta : Depdikbud Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan

Suranto, Basowi, Sukidin.2002. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Insan Cendekia

Tim Pelatih Proyek PGSM, 1999. Penelitian Tindakan Kelas (PTK), Jakarta: Depdikbud Direktorat Pendidikan Tinggi, Pengembangan Guru Sekolah Menengah

Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "CONTOH LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS PTK BAHASA INDONESIA SMA MENINGKATKAN KECEPATAN EFEKTIF MEMBACA (KEM) DENGAN MENGGUNAKAN METODE KLOS SISWA KELAS XI IPA 2 SMA NEGERI 3 SIDOARJO"

PageRank

PageRank for wirajunior.blogspot.com
 
Template By Kunci Dunia
Back To Top