SILABUS DAN RPP BLOG

RPP lengkap Kurikulum 2013 dan KTSP

CONTOH PTK PKN SEKOLAH DASAR PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN MODEL BELAJAR MAKE – A MATCH UNTUK MATA PELAJARAN PKN



1.            Latar Belakang Masalah
Penopang dari tumbuh dan berkembangnya kehidupan berbangsa dan bernegara adalah melalui peningkatan tingkat kecerdasan warga negara (Civic Intlegensi ), mengembangkan dimensi spiritual dan tanggung jawab warga negara (Civic Responsibility) dan parsitipasi warga negara dalam memajukan bangsanya (Civic participation).
Guru mempersiapkan generasi penerus bangsa seperti yang diinginkan diatas peran pendidikan dini sangat vital, karena dengan pendidikan sedini mungkin akan penanaman sikap berbangsa dan bernegara yang baik akan menjadi pondasi utama dari perilaku generasi dimasa yang akan datang.
Ditinjau dari segi keberhasilan pembelajarannya, pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan diharapkan mampu membekali siswa dalampengetahuan dan ketrampilan intelektual yang memadai serta pengalaman praktis agar memiliki kompetensi serta efektifitas dalam berpartisipasi. Ada dua hal yang perlu mendapat perhatian guru dalam mempersiapkan pembelajaran PKn yakni : bekal pengetahuan materipembelajaran dan metode atau pendekatan pembelajaran.
Materi PKn dalam paradigma baru dikembangkan dalam bentuk standar nasional adalah PKn yang pelaksanaannya berprinsip pada implementasi kurikulum yang terdesentralisasi. Ada empat isi pokok pendidikan kewarganegaraan, yaitu :
1.      Kemampuan dasar dan kemampuan kewarganegaraan sebagai sasaran pembentukan
2.      standar materi kewarganegaraan sebagai muatan kurikulum dan pembelajaran.
3.      Indikator pencapaian sebagai kriteria keberhasilan pencapaian kemampuan.
4.      Rambu – rambu umum pembelajaran sebagai rujukan alternatif bagi para guru
Pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dengan paradigma yang baru bertumpu pada kemampuan dasar kewarganegaraan ( Civic Competence ) untuk semua jenjang, sering kali guru dihadapkan pada kesulitan akan media dan model pembelajaran yang diperlukan dalam proses pembelajaran. Hal ini mengingat pelajaran PKn sangat lekat dengan pengembangan sikap dan perilaku siswa. Atau dengan kata lain muara dari pembelajaran PKn pada sekolah dasar bermuara pada aspek aktif siswa.
Inilah yang menjadi tantangan guru, agar mampu menghadirkan proses pembelajaran mata pelajaran PKn yang menyenangkan dan mampu menarik perhatian bagi siswa dalam belajar.
Dalam kegiatan pembelajaran mata pelajaran PJn kelas IV semester II dengan kompetensi dasar : Mengidentifikasikanbudaya Indonesia yang pernah tampil dalam misi kebudayaan Internasional yang peneliti lakukan ternyata mengalami kesulitan.
Dari hasil pembelajaran yang dilakukan peneliti, ternyata cara dan kegiatan dalam pembelajaran yang dilakukan untuk mata pelajaran Pendidikan kewarganegaraan di kelas IV dengan kompetensi dasar Mengidentifikasikan budaya Indonesia yang pernah tampil dalam misi kebudayaan Internasional menggunakan strategi pembelajaran ceramah dan tanya jawab masih kurang memenuhi sasaran.

2.            Identifikasi Masalah
Dengan melihat dan mengamati hasil belajar siswa yang menunjukkan kekurang berhasilan dalam mengajar, peneliti mencoba untuk bertanya, meminta saran dan masukan dari teman sejawat dan bimbingan Ibu dosen pembimbing untuk mengidentifikasi kekurangan dalam pembelajaran yang peneliti lakukan.
Setelah melakukan identifikasi masalah dari proses pembelajaran yang dillakukan, akhirnya ditemukan beberapa hal yang dianggap sebagai penyebab kekurang berhasilan peneliti dalam mengajar, hal – hal tersebut adalah :
a.                Kegiatan pembelajaran yang dilakukan peneliti dalam menyampaikan materi yang terlalu cepat, khususnya dalam jabaran materi mengidentifikasi budaya Indonesia yang pernah tampil dalam misi kebudayaan Internasional, sehingga materi ajar yang disampaikan belum bisa di pahami siswa.
b.      Metode pembelajaran yang masih kurang menarik perhatian siswa, khususnya masih dominannya metode penyampaian informasih ceramah.
c.                Media pembelajaran yang masih kurang menarik perhatian siswa, karena dalam proses pembelajaran ini guru hanya menampilkan peta sebagai media pembelajaran tunggal.

3.            Analisis Masalah
Dengan telah ditemukannya identifikasi masalah dalam pembelajaran awal, peneliti dengan bantuan teman sejawat dan bimbingan dosen pembimbing menganalisa kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan , yang akan menjadi dasar dari kegiatan pembelajaran berikutnya.
Hasil temuan peneliti adalah sebagai berikut :
a.       Penyampaian materi yang terlalu cepat sebagai akibat dari kepercayaan diri yang berlebihan dari peneliti saat proses penyampaian materi. Hal ini disebabkan peneliti merasa enjoi dan menganggap materi mudah diterima siswa.
b.      Metode penyampaian yang digunakan guru dirasa masih kurang bisa membawa suasana pembelajaran yang membangkitkan keaktifan siswa, sehingga dari analisis yang dilakukan peneliti untuk metode pembelajaran perlu ditambah agar bisa menarik minat belajar siswa.
c.       Seperti halnya metode, penggunaan media pembelajaran untuk pembelajaran dengan materi pokok Mengidentifikasikan budaya Indonesia yang pernah tampil dalam misi kebudayaan Internasional, perlu menghadirkan model pembelajaran yang mampu mendekatkan pemahaman dan menarik perhatian siswa.


A.          RUMUSAN MASALAH
Dengan memperhatikan latar belakang, identifikasi serta analisis masalah dalam pembelajaran mata pelajaran PKn dengan pokok materi Mengidentifikasikan budaya Indonesia yang pernah tampildalam misi kebudayaan Internasional materi ajar siswa kelas IV semester II di SDN I Karangharjo Kecamatan Kragan Kabupaten Rembang di atas, peneliti dengan bantuan teman sejawat merumuskan masalah peneliti sebagai berikut :
1.      Apakah dengan model pembelajaran Make – A Match ( mencari pasangan ) dalam upaya menciptakan pembelajaran yang menarik, menyenangkan dan pada akhirnya mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran PKn dengan materi pelajaran Mengidentifikasikan budaya Indonesia yang pernah tampil dalam misi kebudayaan Internasional ?
2.      Dengan menggunakan model pembelajaran Make – A Match, apakah dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran mata pelajaran PKn dengan materi Mengidentifikasikan budaya Indonesia yang pernah tampil dalam misi kebudayaan Internasional di kelas IV semester II ?

B.           TUJUAN PENELITIAN

1.            Tujuan Umum
Untuk mengetahui sampai sejauh mana keberhasilanZ di kelas IV semester II pada SDN I Karangharjo Kec. Kragan Kab. Rembang tahun pelajaran 2009 / 2010.
     
2.            Tujuan Khusus
Melakukan perbaikan pembelajaran pada mata pelajaran PKn dengan pokok materi Mengidentifikasikan budaya Indonesiayang pernah tampil dalam misi kebudayaan Internasional di kelas IV semester II .


C.          MANFAAT PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

1.            Manfaat bagi siswa
Dapat menambah meningkatkan hasil prestasi dan belajar siswa dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dalam materi pokok Mengidentifikasikan budaya Indonesia yang pernah tampil dalam misi kebudayaan Internasional di kelas IV semester II pada SDN I Karangharjo Kec. Kragan Kab. Rembang.

2.            Manfaat bagi guru
a.      Menambah pengalaman peneliti sebagai bekal dalam melaksanakan profesi sebagai guru
b.      Sebagai upaya memahami kesulitan siswa dalam menerima ilmu pengetahuan yang disampaikan guru.
c.                Sebagai upaya peneliti dalam mengatasi kesulitan mengajar.
d.      Menumbuhkan rasa percaya diri peneliti berdiri di depan kelas dalam mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan siswa.





BAB   II
KAJIAN PUSTAKA

A.          KETRAMPILAN PENDEKATAN BELAJAR AKTIF
Tingkat  profesionalisme guru dalam proses pembelajaran dapat dilihat dari sejauh mana upaya seorang guru dalam menghadirkan pembelajaran yang efektif, kreatif dan inofatif kepada lingkungan belajar dan siswanya.
Agar tercipta situasi pembelajaran yang mengaktifkan siswa guru perlu memperhatikan beberapa prinsip penerapan belajar aktif sebagai berikut :
1.      Memberikan kegiatan belajar yang beragam
2.      Memberikan berbagai jenis pengolahan kegiatan belajar
3.      Mendorong anak untuk berpartisipasi aktif dalam proses belajar
4.      Mendorong anak menjadi kreatif
5.      Mendorong terjadinya interaksi secara aktif dalam proses belajar
6.      Memberikan pelayanan terhadap perbedaan individual
7.      Menggunakan berbagai sumber belajar
8.      Menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar
9.      Membuat suasana kelas yang memberikan tantangan
10.  Memberikan umpan balik
11.  Menilai hasil belajar siswa dengan berbagai cara
Dalam hal ini, sangat diharapkan seorang guru menyediakan waktu, tenaga dan pikiranya untuk keberhasilan pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas, sebagai panggilan profesi.
Kepedulian terhadap perkembangan siswa menjadi pertimbangan yang utama dalam membuat perencanaan dan strategi pembelajaran yang akan digunakan. Dalam hal ini, sesuai dengan ilmu perkembangan anak di sekolah dasar, bahwa belajar dimulai dari hal yang kongkret menuju ke hal abstrak atau dari hal yang sederhana menuju ke hal yang kompleks.
Strategi pembela jaran melalui pendekatan pembelajaran aktif  ( StudentActive Learning =SAL ) merupakan salah satu strategi pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan dalam upaya menanamkan konsep belajar kepada siswa.
Student active learning adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan aktifitassiswa secara fisik, intelektual, dan emosional guna memperoleh hasil belajar yang maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif maupun psikomotor.
Untuk mengaktifkan siswa dalam belajar harus dapat menciptakan suasana yang menggairahkan kegiatan belajar. Hal ini dapat tercapai salah satunya dengan menyajikan bahan pelajaran mengesankan dan merangsang daya kreatifitas siswa.
Dalam perkembangannya pendekatan belajar aktif diaplikasikan di sekolah-sekolah dalam bentuk PAKEM dan Cara Belajar Siswa Aktif, yang keduanya menitik beratkan pada keaktifan siswa dalam pembelajaran.
Jadi pada dasarnya SAL, PAKEM dan CBSA adalah sama-sama merupakan model pembelajaran yang menggunakan strategi pendekatan belajar aktif. Namun model PAKEM yang dikembangkan dalam Kurikulum Berbasis Kommpetensi ( KBK ) tidak hanya berorientasi pada pembelajaran aktif saja, melainkan juga pembelajaran yang kreatif, efektif dan menyenangkan. Hal inilah yang membedakan antara PAKEM dengan SAL dan CBSA.
Jika pendidikan berhasil dengan baik sejumlah orang kreatif akan lahir, karena tugas utama pendidikan adalah menciptakan orang-orang yang mampu melakukan sesuatu yang baru, menemukan sesuatu yang baik yang belum pernah ada maupun yang sebenarnya sudah ada. Hal ini dinyatakan Peaget seperti yang dikutif E. Mulyasa “ The principal goal of education is to create men who are capsble of doing new thing not simply of repeating what other generation have done – men who are creative and discoverers “ (2002 : 126 ).
Pembelajaran kreatif disini dimaksudkan agar guru dapat mengembangkan dan menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi tingkat kemampuan siswa agar dapat merancang, membuat dan menghasilkan sesuatu.
Kondisi pembelajaran yang efektif adalah adanya minat dan pehatian siswa dalam belajar (M. Uzer Usman, 1995 ; 22). Pembelajaran efektif ditandai oleh sifatnya yang menekankan pada pemberdayaan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran sangat diperlukan agar tujuan pembelajaran tercapai sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Menurut E. Mulyana (2002 :157) merefleksikan karakter pembelajaran di dalam kelas banyak dipengaruhi aturan main atau regulasi yang dianut dan diciptakan oleh guru yang mencakup suasana psikologis kelas yang nyaman, iklim pembelajaran yang kondusif, dan motivasi serta gairah belajar yang tinggi.
Melalui kreatifitas guru, pembelajaran di dalam kelas akan menjadi sebuah aktifitas yang menyenangkan (enjoyful learning).
Sedangkan Usada dan MG. Dwiji Astuti     (2003 :78) berpendapat bahwa pembelajaran yang menyenangkan adalah suasana pembelajaran yang dapat membuat siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar.
Pada penerapan pendekatan ini dalam proses pembelajaran, peran guru tak lebih dari seorang fasilitator danmoderator. Sementara itu siswa berfikir, mengkomunikasikan dari apa yang dilihat dan yang dilakukannya. Dalam hal ini siswa akan terlibat langsung dan aktif dalam suasana demokratis dan menghargai pendapat orang lain dalam memecahkan masalah.

B.           PENGERTIAN MODEL BELAJAR MAKE–A MATCH sebagai SARANA PEMBELAJARAN
Dalam teori belajar dan pembelajaran Make–AMatch (Mencari Pasangan), kegiatan belajar ini terjadi apabila individu atau kelompok menggunakan beberapa rangkaian peristiwa atau perangkat data yang diberikan sebelumnya dan menerapkannya atau menarik kesimpulan dari data tersebut menjadi suatu keterpaduan yang sesuai atau menjadikan pasangan pernyataan yang benar.
Langkah–langkah yang digunakan peneliti dalam pembelajaran ini adalah :
1.      Guru menyiapakan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep yang cocok atau sesuai dengan materi ajar, dan kartu lain yang berisi jawaban/ pendapat/tanggapan.
2.      Setiap siswa akan mendapatkan satu buah kartu.
3.      setiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang.
4.      Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya.
5.      Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu akan diberi poin/penghargaan.
6.      Setelah satu babak selesai, kartu dikumpulkan lagi secara acak/dikocok lagi, kemudian dibagikan lagi secara acak, agar setiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya.
7.      Demikian seterusnya.
8.      Kesimpulan/penutup.
Setelah kegiatan pembelajaran menggunakan model belajar Make–A Match selesai, peneliti mengulas kembali materi pembelajaran dan memberi kesempatan bertanya kepada siswa mengenai materi pembelajaran yang belum jelas.
Model pembelajaran Make–A Match menjadi pilihan dari peneliti untuk menyampaikan materi mata pelajaran PKn pada kelas IV semester II, sebagai upaya peneliti dalam memberi pemahaman kepada siswa akan materi yang disampaikan serta sebagai upaya untuk melibatkan siswa secara langsung dalam proses pembelajaran.
Tujuan dari peneliti menggunakan model ini adalah menjadikan pembelajaran yang menyenangkan dan meningkatkan minat belajar siswa, serta sebagai upaya peneliti dalam proses pembelajaran untuk memahami mekanisme perkembangan intelektual siswa. Peageat menggambarkan fungsi intelektual ke dalam tiga perspektif, yaitu :
1.      Proses mendasar bagaimana terjadinya perkembangan kognitif ( assimilasi, akomodasi, equalibrium )
2.      Cara bagaimana pembentukan kemampuan
3.      Tahap–tahap perkembangan intelektual

C.          PEMBELAJARAN PKn di SD
Suryadi & Soemardi (1999 dalam modul Materi Pembelajaran PKn SD Tahun 2007 hal. 1.8) mengemukakan bahwa untuk mengonsepsikan kembali pendidikan kewarganegaraan dengan paradigmanya yang baru, konsep negara dapat di dekati dari sudut pandang sistem.
Dalam memasuki era globalisasi yang mana bangsa Indonesia berada dalam masa transisi atau proses perjalanan bangsa menuju masyarakat madani (civil society), pendidikan kewarganegaraan sebagai salah satu atau mata pelajaran di persekolahan perlu menyesuaikan diri sejalan kebutuhan dan tuntutan masyarakat yang sedang berubah.
Hal ini berhubungan dengan proses pembangunan karakter bangsa yang siap untuk menghadapi tantangan jaman, baik sekarang maupun masa yang akan datang. Proses pembangunan karakter bangsa (bational character building) yang sejak proklamasi RI telah mendapat prioritas, perlu direvitalisasi agar sesuai dengan arah dan pesan konstitusi negara Republik Indonesia.
Pada hakikatnya proses pembangunan karakter bangsa diharapkan mengarah pada penciptaan suatu masyarakat Indonesia yang menempatkan demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai titik sentral. Dalam proses inilah, pembangunan karakter bangsa kembali dirasakn sebagai kebutuhan yang sangat mendesak dan tentunya memerlukan pola pemikiran dan paradigma baru.
Negara adalah suatu bentuk khusus dari tata kehidupan sosial yang di bangun dari sejumlah komponen dasar didalam suatu sistem yang integral. Komponen – komponen dasar dalam sistem kehidupan bernegara terdiri dari sistem personal kelembagaan, normatif, kewilayaan dan sistem idiologis.
Berdasarkan pendapat HAR Tilar, ( Materi Pembelajaran PKn SD hal. 9.19 ) masyarakat yang kita cita – citakan adalah masyarakat demokratis yang individunya bebas dari rasa takut, bebas untuk berkreasi dan terbuka. Masyarakat yang menghargai adanya perbedaan yang didasari oleh rasa kebersamaan, penghargaan pada sesama warga negara tanpa memandang perbedaan suku, agama dan budaya.
Dengan memahami akan luasnya materi dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah, guru sebagai salah satu unsur pendidik diharapkan mampu melaksanakan tugas profesionalnya adalah memahami bagaimana peserta didik belajar dan bagaimana mengorganisasikan proses pembelajaran yang mampu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak peserta didik, serta memahami tentang siswa belajar.
Menurut Bruner (dalam Model Teori Belajar dan Pembelajaran 2007 hal. 3.13) pada dasarnya belajar merupakan proses kognitif yang terjadi dalam diri seseorang. Ada tiga proses kognitif yang terjadi dalam belajar, yaitu :
1.      Proses perolehan informasi baru
2.      Proses menstranformasi informasi yang diterima
3.      Menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan.
Perolehan informasi baru dapat terjadi dari kegiatan membaca, mendengarkan penjelasan guru mengenai materi yang diajarkan atau mendengar/melihat audio visual dan lain–lain.
Belajar sebagai proses manusiawi memiliki kedudukan dan peran penting, baik dalam kehidupan masyarakat tradisional maupun modern. Pentingnya proses belajar dapat dipahami dari traditional/local wisdom, filsafat, temuan penilitian dan teori tentang belajar. Traditional/local wisdom adalah ungkapan verbal dalam bentuk frasa, peribahasa, adagium, maksim, kata mutiara, petatah – petitih atau puisi yang mengandung makna eksplisit atau implisit tentang pentingnya belajar dalam kehidupan manusia. 




BAB III
PELAKSANAAN PERBAIKAN

A.          SUBYEK PENELITIAN

1.            Tempat  Pelaksanaan Tindakan
Tempat pelaksanaan tindakan adalah di kelas IV SDN I Karangharjo Kecamatan Kragan Kabupaten Rembang. Alasan peneliti mengambil tempat penelitian di SDN I Karangharjo Kecamatan Kragan Kabupaten Rembang adalah :
a.                Peneliti mengajar kelas IV di SDN I Karangharjo, sehingga dalam kegiatan ini peneliti tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar di kelas atau sekolah lain.
b.      Tersedianya data yang diperlukan peneliti dalam melaksanakan kegiatan penelitian.
c.                Membangkitkan minat siswa dalam mempelajari mata pelajaran PKn khususnya untuk siswa SDN I Karangharjo.

2.            Waktu Pelaksanaan
Mata pelajaran               : Pendidikan Kewarganegaraan
Materi pokok                 : Mengidentifikasi budaya Indonesia yang pernah tampil         
                                         dalam misi kebudayaan Nasional
Kelas / semester            : IV semester II

3.            Jadwal pembelajaran dalam siklus
a. Pembelajaran Awal    : Hari Sabtu , 13 Pebruari 2010
b. Siklus I                       : Hari Sabtu , 20 Pebruari 2010
c. Siklus II                      : Hari Sabtu , 27 Pebruari 2010

B.           DESKRIPSI PERSIKLUS
Pelaksanaan Pembelajaran dan Perbaikan Pembelajaran terdiri dari 2 siklus. Masing – masing siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Secara lebih rinci diuraikan sebagai berikut :

1.            Pembelajaran awal
a.      Perencanaan
Perencanaan pembelajaran awal diawali dengan kegiatan peneliti menyusun Rencana Pembelajaran ( RP ) dan berkonsultasi dengan pembimbing pada tanggal 13 Pebruari 2010 . Konsultasi ini diadakan dengan maksud menentukan materi pembelajaran yang akan disajikan pada pembelajaran awal. Dari hasil diskusi dengan pembimbing maka ditentukan kompetensi dasar yang akan diajarkan yakni membiasakan dan melaksanakan kewajiban dirumah dan sekolah dalam kehidupan sehari – hari.
b.      Pelaksanaan
Langkah–langkah pelaksanaan kegiatan inti sebagai berikut :
-    Guru menjelaskan materi pembelajaran dengan melibatkan siswa untuk menyebutkan misi kebudayaan
-    Siswa diberi kesempatan bertanya
-    Siswa mengerjakan tes formatif
-    Guru bersama siswa mengoreksi dan menganalisis hasilnya
c.                Observasi
Dalam kegiatan ini yang diamati adalah :
-    Guru menjelaskan matri dengan bahasa yang mudah dipahami siswa
-    Guru melakukan tanya jawab
-    Guru memberikan tugas
-    Guru menilai tugas guna mengetahui tingkat keberhasilannya
-    Guru melaksanakan evaluasi
d.      Refleksi
Dari hasil diskusi dengan teman sejawat diperoleh refleksi sebagai berikut :
-    Secara keseluruan pelaksanaan kegiatan pembelajaran berjalan dengan lancar
-    Belum menggunakan alat peraga
-    Motivasi dan minat belajar siswa dalam mata pelajaran PKn masih rendah

2.            Siklus I
a.      Perencanaan
Pada tahap ini, peneliti melakukan kegiatan sebagai berikut :
-    Guru menyiapkan sumber bahan dan media yang akan digunakan.
-    Menyusun RPP
-    Menyusun lembar kerja peserta didik
-    Merencanakan alat evaluasi yang berupa tes formatif

b.      Pelaksanaan
Langkah – langkah dalam tahap ini adalah :
-    Guru memberikan apersepsi berupa tanya jawab
-    Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
-    Guru memberikan tes formatif
-    Guru mengoreksi dan menganalisis hasil tes formatif
-    Guru memberikan PR
c.                Observasi
Observasi dilakukan oleh teman sejawat menggunakan lembar observasi yang berisi kegiatan guru, peserta didik dan interaksi pembelajaran beserta indikatornya.
d.      Refleksi
Setelah mengadakan perbaikan pembelajaran siklus l, peneliti dan teman sejawat mengadakan refleksi. Hasil analisis kemudian didiskusikan bersama untuk mengetahui hambatan, kekurangan dan kendala selama pembelajaran. Setelah ketemu penyebabnya kemudian digunakan untuk mencari perbaikan pembelajaran selanjutnya.

3.            Siklus II
a.      Perencanaan
Kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut :
-    Guru menyiapkan sumber bahan dan media
-    Menyusun RPP
-    Menyusun lembar kerja
-    Menyusun alat evaluasi berupa butir soal tes formatif
-    Menyusun lembar observasi kegiatan peseerta didik, guru interaksi belajar beserta indikatornya.
b.      Pelaksanaan
Langkah – langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :
-    Guru memberikan apersepsi berupa tanya jawab
-    Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
-    Guru membagikan lembar kerja siswa
-    Guru mengoreksi dan menganalisa hasil tes formatif
c.                Observasi
Observasi dilakukan oleh teman sejawat, menggunakan lembar observasi yang berisi kegiatan guru, peserta didik dan interaksi pembelajaran beserta indikatornya.
d.      Refleksi
Setelah melaksanakan perbaikan pembelajaran siklus II . Peneliti bersama dengan teman sejawat melakukan refleksi. Hasil refleksi dari perbaikan pembelajaran pada siklus II ini adalah :
-    Secara keseluruhan pelaksanaan kegiatan pembelajaran berjalan dengan lancar, penyajian materi pembelajaran secara lengkap dan bagus
-    Dalam penggunaan alat peraga sudah sesuai
-    Motivasi dan minat belajar siswa dalam mata pelajaran PKn meningkat
-    Telah adanya peningkatan prestasi belajar siswa yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan nilai rata – rata.
Dengan demikian pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) guru akan melakukan analisis terhadap tugasnya sendiri di dalam kelas, selanjutnya bisa, selanjutnya bisa menemukan kelebihan dan kekurangan yang kemudian mengembangkan alternatif untuk mengatasi kelemahannya, meskipun sebenarnya peneliti merasa kesulitan untuk mengatasi bermacam – macam karakter siswa, tetapi juga merasa puas karena bisa memperbaiki dan mengatasi kinerjanya sebagai guru dalam mengatasi kesulitan belajar siswa dalam proses pembelajaran.  
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.          DESKRIPSI PERSIKLUS

1.            Pembelajaran Awal
Pembelajaran awal dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 13 Pebruari 2010. Dengan subyek penelitian siswa kelas IVSDN I Karangharjo Kecamatan Kragan Kabupaten Rembang. Pada pembelajaran awal ini belum diadakan perbaikan pembelajaran . Nilai tes formatif PKn dengan materi Mengidentifikasi budaya Indonesia yang pernah tampil dalam misi kebudayaan Internasional kurang memuaskan. Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel I
Hasil Tes Formatif Pembelajaran Awal MaPel PKn

No
Indikator
Keterangan
1
Nilai terendah
20
2
Nilai tertinggi
100
3
Jumlah nilai
2400
4
Rata – rata nilai tes formatif
60
5
Banyaknya peserta didik yang mendapat nilai>75
11
6
Banyaknya prosentase peserta didik yang mendapat nilai > 75
72,5%
7
Banyaknya peserta didik yang mendapat nilai <75
29
8
Banyaknya prosentase peserta didik yang mendapat nilai < 75
27,5 %
Dari tabel diatas dilihat banyaknya peserta didik yang mendapat nilai 75 ke atas hanya 11 anak, sedangkan yang mendapat nilai kurang dari 75 ada 29 anak.
Tabel II
Sebaran Hasil Tes Formatif Pembelajaran Awal MaPel PKn

No
Rentang nilai
Jumlah siswa
1
0 – 10
-
2
11 – 20
2
3
21 – 30
-
4
31-40
4
5
41-50
-
6
51-60
23
7
61-70
-
8
71-80
6
9
81-90
-
10
91-100
5
Dari tabel diatas diperoleh gambaran mengenai sebaran nilai tes formatif pembelajaran awal secara terperinci. Sebaran nilai 40 peserta didik pada rentang nilai 11 – 20 ada 2 anak, 31 – 40 ada 4 anak, 51 – 60 ada 23 anak, 71 – 80 ada 6 anak dan 91 – 100 ada 5 anak. Apabila dalam bentuk grafik adalah :





Melihat hasil tes formatif yang berada di bawah rata – rata 75, maka peneliti memutuskan untuk mengadakan perbaikan pembelajaran pada siklus l .
a.               Rencana
Dalam pembelajaran mata pelajaran PKn kelas lV denagan materi Mengidentifikasi budaya Indonesia yang pernah tampil dalam misi kebudayaan Internasional terlihat nilai tes formatif yang kurang memuaskan. Oleh karena itu peneliti mencoba memperbaiki pembelajaran dengan harapan hasil belajar siswa meningkat.
Kegiatan–kegiatan yang di lakukan pada tahap perencanaan adalah :
1.      Memberi apersepsi dan motivasi belajar sebelum pelajaran dimulai.
2.      Menggunakan alat peraga yang sesuai dan menarik siswa.
3.      Memberikan kesempatan bertanya jika mengalami kesulitan dalam memahami materi pelajaran
4.      Mengevaluasi dan mengobservasi hasil pembelajaran.
b.      Pelaksanaan
Dalam melaksanakan perbaikan pembelajaran peneliti meminta bantuan kepada teman sejawat untuk menjadi pengamat. Dari temuan teman sejawat yang dicatat pada proses pembelajaran adalah :
1.      Tingkat penguasaan materi pelajaran oleh siswa masih rendah.
2.      Siswa kurang aktif dalam pembelajaran.
3.      Siswa kurang memperhatikan penjelasan guru  hasil evaluasi siswa rendah.

c.                Pengamatan
Pada pelaksanaan perbaikan awal siswa belum memenuhi ketuntasan belajar dan juga tidak ada peningkatan dalam keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran. Dari hasil pengamatan di atas juga saran dari teman sejawat perlu adanya perbaikan siklus l dengan fokus :
1.      Penyampaian materi tidak terlalu cepat
2.      Mengefektifkan penggunaan alat peraga
3.      Memberi penguatan bagi yang berprestasi
d.      Refleksi
Berdasarkan hasil diskusi dengan teman sejawat peneliti memutuskan untuk melakukan pembelajaran siklus l yang lebih mengoptimalkan ketrampilan mengobservasi melalui pendekatan demonstrasi oleh peserta didik
2.            Siklus l
Pelaksanaan pembelajaran siklus l pada hari Sabtu tanggal 20 Pebruari 2010. Pada perbaikan pembelajaran ini peneliti bertindak sebagai guru dan teman sejawat bertindak sebagai pengamat peneliti. Dengan bantuan teman sejawat , peneliti melaksanakan perbaikan pembelajaran sesuai dengan rencana langkah – langkah pembelajaran yang baik.
Adapun hasil tes formatif perbaikan pembelajaran siklus l dapat dilihat pada tabel III.
Tabel III
Hasil tes formatif perbaikan pembelajaran Siklus I MaPel PKn

No
Indikator
Keterangan
1
Nilai terendah
60
2
Nilai tertinggi
100
3
Jumlah nilai
2920
4
Rata – rata nilai tes formatif
73
5
Banyaknya peserta didik yang mendapat nilai>75
16
6
Banyaknya prosentase peserta didik yang mendapat nilai > 75
42,5%
7
Banyaknya peserta didik yang mendapat nilai <75
24
8
Banyaknya prosentase peserta didik yang mendapat nilai < 75
57,5%
Dengan melihat tabel diatas, maka dapat diketahui hasil yang dicapai oleh peserta didik. Agar lebih jelas bisa dilihat pada tabel IV.


Tabel IV
Sebaran hasil formatif Perbaikan Pembelajaran Siklus I MaPel PKn

No
Rentang nilai
Jumlah siswa
1
0 – 10
-
2
11 – 20
-
3
21 – 30
-
4
31-40
-
5
41-50
-
6
51-60
24
7
61-70
-
8
71-80
11
9
81-90
-
10
91-100
5
Dari tabel diatas diperoleh gambaran mengenai sebaran nilai tes formatif pembelajaran siklus l secara terperinci. Sebaran nilai 40 peserta didik pada rentang nilai 51 – 60 ada 24 anak, 71 – 80 ada 11 anak dan 91 – 100 ada 5 anak. Apabila dalam bentuk grafik adalah :


Melihat hasil tes formatif yang berada di bawah rata – rata 75, maka peneliti memutuskan untuk mengadakan perbaikan pembelajaran pada siklus lI .
a.      Rencana
Langkah – langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1.      Memberi apersepsi sebelum pelajaran dimulai
2.      Menggunakan alat peraga yang menarik
3.      Memberi kesempatan untuk bertanya
b.      Pelaksanaan
Dalam melaksanakan perbaikan peneliti meminta bantuan teman sejawat untuk menjadi pengamat. Didalam tahap ini peneliti memfokuskan pada:
1.      Memberikan pendalaman materi
2.      Menggunakan alat peraga yang kongkret
3.      Menyiapkan lembar kerja
c.                Pengamatan
Yang ditemukan peneliti dalam pengamatan adalah :
1.      Tingkat penguasan materi  masih rendah
2.      Siswa kurang aktif dalam pembelajaran
3.      Hasil evaluasi masih rendah
d.      Refleksi
Hasil refleksi dari perbaikan pembelajaran siklus l adalah :
1.      Penyampaian materi dan menggunakan kata yang dipahami siswa
2.      Mengefektifkan alat peraga
3.      Mengefektifkan penggunaan waktu
3.            Siklus lI
         Pelaksanaan pembelajaran siklus lI pada hari Sabtu tanggal 27 Pebruari 2010. Pada perbaikan pembelajaran ini peneliti bertindak sebagai guru dan teman sejawat bertindak sebagai pengamat peneliti. Dengan bantuan teman sejawat , peneliti melaksanakan perbaikan pembelajaran sesuai dengan rencana langkah – langkah pembelajaran yang baik.Adapun hasil tes formatif perbaikan pembelajaran siklus II dapat dilihat pada tabel V.
Tabel V
Hasil tes formatif perbaikan pembelajaran siklus lI MaPel PKn

No
Indikator
Keterangan
1
Nilai terendah
60
2
Nilai tertinggi
100
3
Jumlah nilai
3120
4
Rata – rata nilai tes formatif
78
5
Banyaknya peserta didik yang mendapat nilai>75
30
6
Banyaknya prosentase peserta didik yang mendapat nilai > 75
77,5%
7
Banyaknya peserta didik yang mendapat nilai <75
10
8
Banyaknya prosentase peserta didik yang mendapat nilai < 75
22,5%
Dengan melihat tabel diatas, maka dapat diketahui hasil yang dicapai oleh peserta didik. Agar lebih jelas bisa dilihat pada tabel VI

Tabel VI
Sebaran hasil formatif Perbaikan Pembelajaran Siklus II Mapel PKn

No
Rentang Nilai
Jumlah Siswa
1
0-10
-
2
11-20
-
3
21-30
-
4
31-40
-
5
41-50
-
6
51-60
9
7
61-70
-
8
71-80
25
9
81-90
-
10
91-100
6
Dari tabel diatas diperoleh gambaran mengenai sebaran nilai tes formatif pembelajaran siklus lI secara terperinci. Sebaran nilai 40 peserta didik pada rentang nilai 51 – 60 ada 9 anak, 71 – 80 ada 25 anak dan 91 – 100 ada 6 anak. Apabila dalam bentuk grafik adalah :




a.      Rencana
Kegiatan–kegiatan yang dilaksanakan pada perbaikan pembelajaran adalah :
1.      Membuat RPP
2.      Memotivasi siswa dan memberikan apersepsi pada awal pembelajaran
3.      Mengevaluasi hasil pembelajaran


b.      Pelaksanaan
Langkah–langkah dalam melaksanakan perbaikan adalah :
1.      Siswa aktif mendengarkan guru
2.      Penguasaan materi siswa sudah cukup baik
3.      Siswa berani bertanya
4.      Hasil evaluasi meningkat
c.       Pengamatan
Dalam melakukan pengamatan peneliti meminta bantuan teman sejawat dengan hasil :
1.      Siswa sudah banyak memperhatikan dan memperagakan alat peraga
2.      Tingkat kreatifitas siswa sudah meningkat
3.      Siswa aktif dalam kerja kelompok
4.      Hasil tes formatif siswa meningkat
d.      Refleksi
Pada pelaksanaan siklus ll peneliti dan pengamat mengakui bahwa pelajaran PKn dengan menggunakan pembelajaranStudent Aktive Learning sudah baik dan prestasi belajar peserta didik meningkat mencapai ketuntasan belajar.

B.           PEMBAHASAN
Dalam pembahasan penelitian ini, peneliti menghadirkan kegiatan–kegiatan yang dilakukan kegiatan pembelajaran yang dilakukan dari pembelajaran awal sampai dengan perbaikan pembelajaran siklus I dan siklus II

1.            Pembelajaran awal
a.      Perencanaan
Dalam awal pembelajaran ini peneliti mengkondisikan kelas dengan diawali menentukan mata pelajaran, standar kompetensi, kompetensi dasar, menyusun rencana pembelajaran, sumber dan media pembelajaran yang diperlukan.



b.      Pelaksanaan
Langkah–langkah pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan adalah :
-    Menyampaikan pokok materi tentang budaya Indonesia yang pernah tampil dalam misi kebudayaan
-    Peneliti menjelaskan jenis–jenis keanekaragaman budaya bangsa Indonesia
-    Menjelaskan pengertian adat istiadat
-    Peneliti memberi kesempatan siswa untuk bertanya tentang materi yang belum jelas atau belum dipahami
-    Guru memberi soal tes formatif
-    Memberi tindak lanjut
c.       Observasi
Dalam tahap ini peneliti melakukan kegiatan sebagai berikut :
-    Memonitor kegiatan siswa selama proses pembelajaran berlangsung
-    Memonitor kegiatan siswa mengerjakan lembar kerja
-    Mengevaluasi hasil kerja siswa
-    Menentukan nilai hasil belajar siswa, rata – rata kelas dan ketuntasan hasil belajar siswa, serta prosentase ketuntasan belajar siswa
d.      Refleksi
Dalam tahap ini peneliti menemukan permasalahan dalam pembelajaran awal, yaitu ternyata hasil belajar siswa belum mencapai ketuntasan seperti yang diharapkan. Sehingga peneliti dengan dibantu teman sejawat menentukan untuk mengadakan perbaikan pembelajaran, dengan menempuh langkah–langkah sebagai berikut :
-    Memperdalam penjelasan materi
-    Mengoptimalkan penggunaan media pembelajaran berupa peta asean dengan melibatkan siswa.
2.            Siklus I
a.      Perencanaan
               Kegiatan yang dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut :
-    Menyusun Rencana pembelajaran dengan menyesuaikan Kompetensi Dasar dan Standar Kompetensi
-    Menentukan media pembelajaran yang akan digunakan
-    Menyiapakan strategi pembelajaran yang menarik perhatian siswa menggunakan media pembelajaran
-    Memperdalam materi pembelajaran .
b.      Pelaksanaan
-    Menyampaikan tujuan pembelajaran
-    Memberi pertanyaan pancingan tentang pembelajaran PKn yang pernah disampaikan
-    Memperdalam materi dengan jalan memberi penjelasan materi dengan cara dibantu menggunakan alat peraga
-    Memberi pertanyaan lisan tentang materi yang baru dijelaskan
-    Memberi kesempatan siswa untuk bertanya mengenai penjelasan materi dari guru yang belum jelas
-    Guru memberi soal untuk dikerjakan siswa
-    Bersama siswa mengoreksi hasil pekerjaan siswa
c.       Observasi
               Adapun yang dilakukan peneliti pada tahap ini adalah :
-    Memonitor kegiatan siswa selama proses pembelajaran
-    Menilai hasil belajar siswa
-    Membuat analisis hasil tes formatif siswa, rata – rata kelas, tingkat ketuntasan dan prosentase ketuntasan belajar.
d.      Refleksi
Dari hasil observasi serta dengan meneliti hasil belajar siswa sudah ada peningkatan pemahaman materi yang diajarkan, namun belum mencapai ketuntasan belajar, maka dengan dibantu teman sejawat, peneliti merefleksi proses pembelajaran yang dilakukan disiklus l. Adapun hasil dari refleksi siklus I adalah :
-    Mengubah strategi pembelajaran yang lebih menarik dan melibatkan siswa dalam pembelajaran.
-    Menggunakan model pembelajaran mencari pasangan dalam tahap pembelajaran di siklus II.
Diharapkan dengan menggunakan model pembelajaran Make–A Match atau mencari pasangan di siklus ll nanti, prestasi hasil belajar siswa akan sesuai dengan harapan peneliti yaitu tercapainya ketuntasan belajar.

3.            Siklus ll 
a.      Perencanaan
Rencana pembelajaran siklus ll dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 27 Pebruari 2010. Pada tahap ini peneliti mempersiapkan rencana pembelajaran, langkah–langkah pembelajaran serta menentukan media dan model pembelajaran Make – A Match guna mencapai hasil pembelajaran yang diharapkan, dengan dibantu teman sejawat.
b.      Pelaksanaan
Langkah–langkah yang dilakukan peneliti dalam proses pembelajaran ini adalah sebagai berikut :
-    Mempersiapkan perangkat pembelajaran yang meliputi : rencana pembelajaran, media dan model pembelajaran.
-    Menjelaskan tujuan pembelajaran.
-    Menjelaskan materi pembelajaran mengunakan media dan model pembelajaran bersama siswa.
-    Setelah kegiatan pembelajaran menggunakan model Make – A Match selesai peneliti menjelaskan kembali materi pembelajaran yang telah selesai dipraktekkan bersama.
-    Memberi kesempatan siswa untuk bertanya mengenai materi yang belum jelas.
-    Mengadakan evaluasi formatif.
-    Memberi tindak lanjut berupa pekerjaan rumah.
c.                Observasi
Pada tahap ini peneliti melakukan kegiatan :
-    Memonitor kegiatan siswa dalam Make – A Match.
-    Menilai hasil belajar siswa melalui hasil tes formatif.
Hasil dari observasi yang dilakukan peneliti dengan dibantu teman sejawat, nyatalah bahwa dengan media, strategi dan model pembelajaran yang sesuia dan menarik, menjadikan proses pembelajaran yang mengaktifkan siswa, membuat guru tertantang dan menjadi lebih kreatif, dengan sendirinya pembelajaran menjadi efektif dan menyenangkan.
d.      Refleksi
Sesuai hasil observasi diatas, refleksi peneliti dalam proses perbaikan pembelajaran pada siklus ll ini, peneliti merasa puas, karena hasil belajar yang diperoleh siswa sudah mencapai ketuntasan.
Dari sisi kegiatan pembelajaran, peneliti merasa tertantang untuk menerapkan media , strategi dan model pembelajaran yang lain untuk proses pembelajaran selanjutnya termasuk pada mata pelajaran yang lain.Akhirnya peneliti menyadari dalam penyampaian materi pembelajaran PKn dengan pokok materi Mengidentifikasi budaya Indonesia yang pernah tampil dalam misi kebudayaan Nasional,menggunakan model pembelajaran Make-A Match mampu meningkatkan hasil prestasi belajar siswa.




BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

1.            KESIMPULAN
         Sesuai dengan hasil penelitian yang telah dilakukan, akhirnya peneliti dapat menyimpulkan bahwa :
a.                Upaya dalam melakukan kegiatan Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) dalam meneliti dan menyelidiki penyebab dari kekurang berhasilan dalam mengajar, membawa dampak yang positif dalam usaha mencapai tujuan pembelajaran di dalam kelas.
b.      Pembelajaran mata pelajaran PKn pada kelas IV dengan kompetensi dasar Mengidentifikasi budaya Indonesia yang pernah tampil dalam misi kebudayaan Internasional , dengan menggunakan media pembelajaran yang beragam yang dipadukan dengan pendekatan model pendekatan Make – A Match, terbukti mampu meningkatkan minat belajar dan prestasi hasil belajar siswa kelas IV SDN I Karangharjo Kecamatan Kragan Kabupaten Rembang.
c.                Dengan pembuatan laporan penelitian ini mampu meningkatkan pemahaman bagi peneliti akan pentingnya penelitian tindakan kelas dalam mengupayakan keberhasilan pembelajaran yang dilakukan , dan dapat menjadi umpan balik untuk pembelajaran berikutnya.
d.      Penggunakan media pembelajaran yang bervariatif atau beragam akan berdaya guna bila disertai dengan skenario pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dari tujuan pembelajaran yang diharapkan.

2.            SARAN
Setelah peneliti melakukan kegiatan ini , dan merasakan sendiri dampak serta akibat yang ditimbulkan dari kegiatan penelitian ini , maka peneliti memberi saran kepada :
a.       Guru
Hasil belajar dalam pembelajaran akan lebih baik apabila sebelum melakukan proses belajar mempersiapkan perangkat pembelajaran yang dibutuhkan dengan matang dan terencana terlebih dahulu agar mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.
Dalam melakukan proses pembelajaran yang dilakukan, sesederhana apapun hendaknya guru dalam mengajar mengupayakan menggunakan media pembelajaran, guna menarik perhatian siswa dalam belajar.
Gunakan media pembelajaran melalui model pembelajaran yang melibatkan keaktifan siswa dalam belajar.
b.      Sekolah
Berikan dukungan seluas- luasnya untuk pengembangan profesi dan peningkatan kompetensi guru yang ada di sekolah.
Memudahkan pengadaan media pembelajaran yang dibutuhkan guru dalam pembelajaran dengan jalan mengalokasikan sebagian anggaran yang tersedia, khusus untuk pengadaan media pembelajaran.
Saling membuka diri untuk memberi dan menerima masukan, kritikan dan saran sesama guru dalam usaha menciptakan suasana lingkungan belajar dan pembelajaran yang efektif.
c.       Memberi dukungan sepenuhnya kepada sekolah untuk mengembangkan kegiatan belajar dan pembelajaran. Memberi masukan , saran dan kritik serta umpan balik kepada sekolah terhadap tujuan dan hasil belajar siswa. 






DAFTAR PUSTAKA

Andayani, dkk. 2008. Pemantapan Kemampuan Profesional. Jakarta Universitas Terbuka
Anggoro, M. Toha, dkk. 2007. Metode Penelitian. Jakarta   Universitas Terbuka.
BSNP. 2006. Standar Isi Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan SD Kelas IV. Jakarta : Erlangga.
Djauzak Ahmad . 1994. Pedoman Proses Belajar Mengajar di Sekolah Dasar . Jakarta : Balai Pustaka.
 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1999. Kurikulum Pendidikan Dasar. Jakarta  : Depdikbud.
Depdikbud, 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Hernawan, Asep Herry, dkk.2008. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta  : Universitas Terbuka.
Nugroho, Sarjan Agung. 2008. Pendidikan Kewarganegaraan kelas IV SD. Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Tim Redaksi. 2003. Undang – Undang Dasar 1945 ( Amandemen MPR ). Jakarta

 
: Restu Agung.
Wardani , IGK, dkk.2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Universitas Terbuka.
Winataputra , Udin S,dkk. 2006. Materi dan Pembelajaran PKn SD.Jakarta : Universitas Terbuka.

Winataputra , dkk.2004. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Universitas Terbuka


Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "CONTOH PTK PKN SEKOLAH DASAR PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN MODEL BELAJAR MAKE – A MATCH UNTUK MATA PELAJARAN PKN"

PageRank

PageRank for wirajunior.blogspot.com
 
Template By Kunci Dunia
Back To Top