SILABUS DAN RPP BLOG

RPP lengkap Kurikulum 2013 dan KTSP

DOWNLOAD CONTOH JURNAL PENDIDIKAN KOMUNIKASI INSTRUKSIONAL DOSEN JURUSAN ILMU KOMUNIKASI DI MATA MAHASISWA JURUSAN ILMU KOMUNIKASI



PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan salah satu cara meningkatkan sumber daya manusia yang merupakan bagian integral dari pembangunan, dimana salah satu tujuannya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena pembangunan tidak dapat hanya mengandalkan pada sumber daya alam semata, maka usaha peningkatan kualitas sumber daya manusia mutlak diperlukan. Untuk mencapai tujuan tersebut, salah satu cara yang ditempuh adalah melalui jalur pendidikan (Sutikna dan Istiyanto, 2007).
Untuk mendapatkan kualitas pendidikan yang baik diperlukan tidak saja input siswa pembelajar dan pengajar yang baik tetapi juga dibutuhkan sebuah metode pembelajaran yang baik. Metode pembelajaran ini sangat terkait dengan teknik dan strategi pembelajaran, proses pembelajaran yang tepat disertai fasilitas pendidikan yang memadai. Salah satunya adalah penggunaan media pendidikan dengan fokus pada bidang komunikasi instruksional.
Media pendidikan merupakan suatu alat atau perantara yang berguna untuk memudahkan proses belajar mengajar, dalam rangka mengefektifkan komunikasi antara pengajar dan pembelajar. Hal ini sangat membantu guru dalam mengajar dan memudahkan murid menerima dan memahami proses pembelajaran. Proses ini membutuhkan pengajar yang profesional dan mampu menyelaraskan antara media pendidikan dan metode pendidikan yang sesuai. Dengan kemajuan teknologi, ilmu pengetahuan serta perubahan sikap masyarakat yang lebih positif diharapkan membawa pengaruh yang besar dalam bidang pendidikan. Hal ini akan mendorong setiap lembaga pendidikan untuk mengembangkan proses pembelajarannya sehingga lebih maju dengan memanfaatkan teknologi modern dan kemajuan ilmu pengetahuan sebagai media penyampaian materi pembelajaran atau media instruksional. Disinilah pentingnya memahami komunikasi instruksional secara detil yang akan menjadikan tujuan pendidikan lebih mudah dicapai.
Untuk mencapai pendidikan tersebut seorang pengajar memberikan peran yang penting untuk mengantarkan keberhasilan siswa pembelajar.  Oleh karenanya, dibutuhkan komunikasi yang baik antara pelaku pembelajaran baik pengajar maupun siswa pembelajar. Hal ini juga terjadi dalam pembelajaran di lingkup perguruan tinggi. Untuk menciptakan komunikasi yang baik dibutuhkan dosen yang profesional yang mampu menyeimbangkan antara media pembelajaran dan metode pengajaran yang tepat dalam penggunaan komunikasi instruksional yang sesuai sehingga informasi pembelajaran yang disampaikan dapat diterima para mahasiswa dengan baik. Hal inilah yang mendasari kenapa penelitian tentang komunikasi instruksional di dalam lingkup perguruan tinggi sangat diperlukan.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirumuskan sebuah rumusan permasalahan tentang “Bagaimana Pelaksanaan Komunikasi Instruksional Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi Di Mata Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman?”
 
TINJAUAN PUSTAKA
Fungsi Komunikasi
Secara umum fungsi umum komunikasi ialah informatif, edukatif, persuasif, dan rekreatif (entertainment) (Effendy, 1995).  Maksudnya secara singkat ialah komunikasi berfungsi memberi keterangan, memberi data atau fakta yang berguna bagi segala aspek kehidupan manusia. Di samping itu, komunikasi juga berfungsi, mendidiki masyarakat, mendidik setiap orang dalam menuju pencapaian kedewasaan bermandiri. Seseorang bisa banyak tahu karena banyak mendengar, banyak membaca dan banyak berkomunikasi. Berikutnya adalah fungsi persuasif, maksudnya ialah bahwa komunikasi sanggup “membujuk” orang untuk berperilaku sesuai dengan kehendak yang diinginkan oleh komunikator. Seorang anak kecil bisa berhenti menangis setelah dibujuk oleh ibunya (dengan komunikasi) bahwa anak yang suka menangis akan menjadi anak bodoh, misalnya. Sedangkan yang terakhir ialah fungsi hiburan. Ia dapat menghibur orang pada saat yang memungkinkan. Mendengarkan dongeng dan membaca bacaan ringan adalah contoh-contohnya.
Komunikasi Instruksional
Yusuf (1998) menyebutkan makna dari komunikasi instruksional yaitu komunikasi yang ditujukan pada aspek-aspek operasionalisasi pendidikan, terutama aspek membelajarkan sasaran. Situasi, kondisi, lingkungan, metode, dan termasuk “bahasa” yang digunakan oleh komunikator sengaja dipersiapkan secara khusus untuk mencapai efek perubahan perilaku pada diri sasaran. Dengan kata lain, melalui komunikasi tersebut diharapkan bisa terjadi proses belajar dan mengajar. Contoh bentuk sederhananya dari komunikasi intruksional ini antara lain ialah kegiatan kuliah, ceramah, mengajar, dan membelajarkan (instruksional). Dalam hal ini tentu saja tercakup segala kegiatan perancangannya serta segala aspek yang terkait di dalamnya.
Kalau komunikasi secara murni mempunyai bidang garapan yang sangat umum dan luas karena meliputi segala aspek kehidupan manusia, dalam pendidikan, bidang kajiannya lebih ditekankan pada aspek-aspek pendewasaan atau pemandirian manusia secara utuh. Sedangkan untuk bidang intruksional ia bersifat lebih langsung menyentuh sasaran-sasaran yang lebih praktis dan operasional karena di sana terdapat kajian mengenai strategi, metode, teknik, dan taktik melaksanakan tindakan komunikasi dengan harapan terjadi proses perubahan perilaku pada pihak sasaran (komunikan) di dalam situasi dan kondisi medan yang berbeda-beda.  “Instruksional” berasal dari kata instruction, artinya pembelajaran atau pengajaran. Sebenarnya ia merupakan himpunan bagian dari pendidikan. Jadi, pendidikan mempunyai bidang kajian yang lebih luas daripada intruksional.  Demikian pula apabila istilah komunikasi “dikawinkan” dengan pendidikan dan “intruksional”, terjadi istilah komunikasi pendidikan dan komunikasi intruksional. Istilah yang pertama lebih luas daripada yang kedua karena yang satu merupakan himpunan bagian dari yang lain. Kamunikasi intruksional merupakan himpunan bagian dari komunikasi pendidikan (Yusuf, 1998).
Sasaran komunikasi instruksional bisa mencakup contoh seperti sekelompok ibu PKK (Pendidikan Kesejahteraan Keluarga), anggota Kelompencapir (Kelompok pendengar, pembaca, dan pirsawan), kelompok tani, para peserta pelatihan atau penataran dan penyuluhan, dan kelompok-kelompok masyarakat secara terbatas dan khusus lainnya seperti peserta seminar, simposium, anggota kelompok profesi, dan anggota kelompok suatu organisasi.  Tambahan untuk ruang lingkup pembahasan ini ialah bahwa komunikator dalam hal ini bisa bertindak hanya sebagai perencana atau perancang atau pembuat model, namun bisa pula sekaligus bertindak langsung sebagai pelaksana komunikasi (instruksional) di lapangan seperti halnya seorang guru, dosen, penceramah, penyuluh, dan pembimbing lapangan.
Lalu, apa yang dibahas dalam komunikasi instruksional. Tampaknya komunikasi dengan fungsi edukatif-lah yang akan banyak disinggung karena fungsi itulah yang paling dekat kaitannya dengan bidang pendidikan, dan lebih khusus lagi komunikasi instruksional (instructional communucation). Salah satu aspek fungsi informatif dari komunikasi akan dijadikan contoh untuk memahamkan sasaran (komunikan) dalam komunikasi intruksional yang terkondisi. Modul, misalnya, disamping sanggup “mengajar” atau melakukan “intruksi” kepada pembacanya, juga dilengkapi dengan data, fakta atau keterangan lain yang berfungsi memberi tahu atau memberi contoh-contoh informasi sehingga keterpahamannya menjadi nyata.
 
METODOLOGI  PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, dimana yang menjadi objek penelitian adalah mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Unsoed.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif.  Menurut Nazir, 1988:63) metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu obyek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskrptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. Untuk pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik survey dengan instrumen wawancara terarah berdasarkan dengan pertanyaan yang sudah tersusun dalam suatu daftar pertanyaan. Sementara teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah simple random sampling.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian, dari 53 mahasiswa yang menjadi responden diperoleh data sebagai berikut:
  1. Sumber informasi/data dalam proses belajar mengajar
Dari 53 responden, 15 (28,3%) memilih dosen sebagai sumber informasi utama dalam proses belajar mengajar. Sebanyak 13 (24,5%) memilih media elektronik, 11 (20,8%) memilih buku/literatur, 9 (17%) memilih media cetak, sedangkan 5 orang memilih lainnya (9,4%). Hal ini menunjukkan bahwa dosen bukanlah satu-satunya sumber informasi bagi mahasiswa.
Tabel 1 Sumber Informasi Mahasiswa

Jumlah (orang)
Prosentase  (%)
dosen
15
28.3
media elektronik
13
24.5
buku/literature
11
20.8
media cetak
9
17
Lainnya
5
9.4
Total
53
100

  1. Metode yang sering digunakan dalam proses belajar mengajar
Menurut mahasiswa, metode pembelajaran dosen dalam kelas yang sering digunakan dalam proses belajar mengajar sebanyak 23 (43,4%) berbentuk ceramah, 17 (32,1%) diskusi/tanya jawab, 7 (13,2%) observasi lapangan, 5 (9,4%) simulasi dan praktik, dan 1 (1,9%) lainnya.
Tabel 2 Metode Pembelajaran Dalam Kelas

Jumlah (orang)
Prosentase (%)
Ceramah
23
43.4
Diskusi/tanya jawab
17
32.1
Observasi lapangan
7
13.2
Simulasi dan praktik
5
9.4
lainnya
1
1.9
Total
53
100

  1. Gaya mengajar dosen yang disukai mahasiswa
Dari semua responden menghasilkan data bahwa 20 mahasiswa (37,7%) menyukai tipe dosen yang humoris, 19 (35,8%) menggunakan simulasi dan praktik, 5 (9,4%) bercerita/dongeng, 4 (7,5%) serius, 4 (7,5%) lainnya. Sedangkan 1 mahasiswa (1,9%) tidak menjawab.
Tabel 3 Gaya Mengajar Dosen

Jumlah (orang)
Prosentase (%)
Serius
4
7.5
humoris
20
37.7
Bercerita/dongeng
5
9.4
Simulasi dan praktik
19
35.8
lainnya
4
7.5
Total
52
98.1

  1. Partisipasi mahasiswa dalam proses belajar mengajar
Dari 53 responden menjawab bahwa ada partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar 41 (77,4%) sedangkan 12 (22,6) menjawab tidak ada partisipasi. Partisipasi mahasiswa dapat berupa tanya jawab seperti dalam Tabel 5 di bawah.
Tabel 4 Partisipasi Mahasiswa

Jumlah (orang)
Prosentase (%)
Ya
41
77.4
Tidak
12
22.6
Total
53
100

  1. Bentuk partisipasi mahasiswa
Sebanyak 29 (54,7%) partisipasi siswa berbentuk diskusi/tanya jawab, 7 (13,2%) observasi lapangan, 5 (9,4%) simulasi dan praktik, dan 1 (1,9%) lainnya, 11 (20,8%) tidak menjawab.
Tabel 5 Bentuk Partisipasi Mahasiswa

Jumlah (orang)
Prosentase (%)
Diskusi/Tanya jawab
29
54.7
Observasi lapangan
7
13.2
Simulasi dan praktik
5
9.4
Lainnya
1
1.9
Tidak menjawab
11
20.8
Total
53
100

  1. Pembuatan kontrak pembelajaran sebelum proses belajar mengajar
Terkait dengan adanya kontrak pembelajaran sebelum memulai perkuliahan, sebanyak 51 mahasiswa (96,2%) menjawab dosen membuat kontrak pembelajaran sebelum proses belajar mengajar, sedangkan 2 (3,8%) menjawab tidak ada.
Tabel 6 Kontrak Pembelajaran Dosen

Jumlah (orang)
Prosentase (%)
Ya
51
96.2
Tidak
2
3.8
Total
53
100

  1. Pelibatan siswa dalam pembuatan kontrak pembelajaran tersebut
Dalam pembuatan kontrak pembeljaran sebelum perkuliahan dimulai seringkali melibatkan mahasiswa. Data ini diperoleh berdasar sebanyak 47 mahasiswa (88,7%) menjawab ada pelibatan mahasiswa dalam pembuatan kontrak pembelajaran, sedangkan 5 (9,4%) menjawab tidak ada pelibatan.
Tabel 7 Pelibatan Mahasiswa Dalam Kontrak Pembelajaran
           
Jumlah (orang)
Prosentase (%)
Ya
47
88.7
Tidak
5
9.4
Total
52
98.1
           
  1. Kenyamanan mahasiswa dengan sistem pembelajaran yang dipakai selama ini
31 (58,5%) mengaku tidak nyaman dengan sistem pembelajaran yang dipakai selama ini, sedangkan 19 (35,8%) sudah merasa nyaman.
Tabel 8 Kenyamanan Mahaiswa Dengan Sistem Pembelajaran

Jumlah (orang)
Prosentase (%)
Ya
19
35.8
Tidak
31
58.5
Total
50
94.3

  1. Penggunaan media oleh pengajar dalam proses pembelajaran
Melanjutkan kenyamanan proses pembelajaran, salah satunya didukung dengan penggunan media pembelajaran. Data yang diperoleh terkait dengan media pembelajaran, sebanyak 51 mahasiswa (96,2%) menyebutkan bahwa dalam proses pembelajaran dosen menggunakan media pembelajaran, sedangkan 2 (3,8%) menjawab tidak.
Tabel 9 Penggunaan Media Pembelajaran

Jumlah (orang)
Prosentase (%)
Ya
51
96.2
Tidak
2
3.8
Total
53
100

  1. Media pembelajaran yang digunakan dosen dalam proses pembelajaran
Sedangkan media yang sering digunakan dosen menurut penilaian mahasiswa berupa LCD sebanyak 27 (50,9%), 11 (20,8%) buku/literatur, 4 (7,5%) film, 3 (5,7%) transparansi, 3 (5,7%) gambar, 3 (5,7%) jurnal, dan 2 (3,8%) majalah. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas dosen Ilmu Komunikasi sudah menggunakan media pembelajaran yang cukup memadai.
Tabel 10 Media Pembelajaran Yang Paling Sering Digunakan Dosen

Jumlah (orang)
Prosentase (%)
Buku/literature
11
20.8
LCD
27
50.9
Jurnal
3
5.7
Majalah
2
3.8
Gambar
3
5.7
Transparansi
3
5.7
Film
4
7.5
Total
53
100

  1. Alasan penggunaan media tersebut
Menurut penilaian mahasiswa dosen mempunyai alasan dalam memilih media pembelajaran. Menurut 22 mahasiswa (41,5%) alas an para dosen mengunakan media pembelajaran adalah agar mahasiswa lebih mengerti, 12 (22,6%) agar mahasiswa tertarik dan tidak membosankan, 8 (15,1%) menghemat waktu, biaya dan tenaga. 6 (11,3%) sesuai perkembangan teknologi, 2 (3,8%) lainnya sedangkan 3 (5,7%) tidak menjawab.
Tabel 11 Penilaian Mahasiswa Terhadap Alasan Dosen Menggunakan Media

Jumlah (orang)
Prosentase (%)
Menghemat waktu, biaya, dan tenaga
8
15.1
Sesuai perkembangan teknologi
6
11.3
Agar siswa tertarik dan tidak membosankan
12
22.6
Agar siswa lebih paham dan mengerti
22
41.5
Lainnya
2
3.8
Tidak menjawab
3
5.7
Total
53
100

  1. Tujuan penggunaan media pembelajaran
Sedangkan tujuan dosen mengunakan media pembelajaran dinilai oleh 22 mahasiswa (41,5%) menjawab untuk meningkatkan daya tarik dan daya ingat siswa, 13 (24,5%) untuk memberikan pengalaman lebih nyata, 11 (20,8%) untuk memberikan variasi dalam pembelajaran, 3 (5,7%) untuk melatih kepekaan sosial dan lingkungan sedangkan 1 (1,9%) menjawab lainnya, dan 3 (5,7%) tidak menjawab.
Tabel 12 Penilaian Mahasiswa Atas Tujuan Dosen Menggunakan Media Pembelajaran

Jumlah (orang)
Prosentase (%)
Memberikan variasi dalam pembelajaran
11
20.8
Melatih kepekaan sosial
3
5.7
Meningkatkan daya tarik dan daya ingat siswa
22
41.5
Memberikan pengalaman lebih nyata
13
24.5
Lainnya
1
1.9
Tidak menjawab
3
5.7
Total
53
100

  1. Ketepatan penggunaan media dalam proses pembelajaran
Dari 53 responden 27 (50.9%) memilih ya, 19 (35.8%) memilih tidak, sedangkan 7 (13.2%) tidak memilih. Ternyata sebanyak 19 mahasiswa atau sebesar 35,8 % menyatakan ketidak tepatan dosen dalam menggunakan media pembelajaran menunjukkan harus ada penyesuaian pemilihan media pembelajaran di kalangan dosen Jurusan Ilmu Komunikasi.
Tabel 13 Ketepatan Dosen Menggunakan Media pembelajaran

Jumlah (orang)
Prosentase (%)
Ya
27
50.9
Tidak
19
35.8
Tidak menjawab
7
13.2
Total
53
100


            


  1. Hambatan dosen dalam penggunaan media
Sementara dalam mengomentari hambatan dosen menggunakan media pembelajaran, sebanyak 21 mahasiswa (39.6%) menjawab jumlahnya terbatas dan sulit didapat. 15 (28.3%) menjawab mahal, 7 (13.2%) menjawab lainnya. 6 (11.3%) sulit dipakai,  1 (1.9%) sulit dimengerti sedangkan  3 (5.7%) tidak menjawab.
Tabel 14 Hambatan Dosen Menggunakan Media Pembelajaran

Jumlah (orang)
Prosentase (%)
Mahal
15
28.3
Sulit dipakai
6
11.3
Jumlahnya terbatas, sulit didapat
21
39.6
Sulit dimengerti
1
1.9
Lainnya
7
13.2
Tidak menjawab
3
5.7
Total
53
100

  1. Harapan perbaikan penggunaan media
Sebanyak 50 (94.3%) mengharapkan adanya perbaikan media, sedangkan 3 (5.7%) tidak mengharapkan perbaikan.
Tabel 15 Harapan Dosen Memperbaiki Media

Jumlah (orang)
Prosentase (%)
Ya
50
94.3
Tidak
3
5.7
Total
53
100


  1. Media tambahan dapat memudahkan proses belajar mengajar
Untuk memudahkan proses pembelajaran ternyata sebanyak 45 mahasiswa (84.9%) menjawab perlunya media tambahan, 3 (5.7%) menjawab tidak, sedangkan 5 (9.4%) tidak menjawab. Media tambahan yang dapat disebutkan dalam kuesioner terbuka disebutkan antara lain kamera, internet, laboratorium radio, handycam, internet, TV, LCD, film
Tabel 16 Media Tambahan


Jumlah (orang)
Prosentase (%)
Ya
45
84.9
Tidak
3
5.7
Tidak menjawab
5
9.4
Total
53
100




  1. Perubahan yang diharapkan dengan penggunaan media tambahan
Harapan mahasiswa dengan adanya media tambahan disebutkan bahwa sebanyak 29 mahasiswa (54.7%) menjawab agar paham atas teori yang diajarkan, 14 (26.4%) menjawab menambah pengetahuan, 8 (15.1%) menjawab adanya perubahan tingkah laku, sedangkan 1 (1.9%) menjawab lainnya. 1 (1.9%) tidak menjawab.
Tabel 17 Harapan Mahasiswa Dengan Adanya Media Tambahan

Jumlah (orang)
Prosentase (%)
Menambah pengetahuan
14
26.4
Paham atas teori yang diajarkan
29
54.7
Adanya perubahan tingkah laku
8
15.1
Lainnya
1
1.9
Tidak menjawab
1
1.9
Total
53
100

  1. Hambatan yang ditemui dalam proses belajar mengajar
Data tentang hambatan dosen yang melakukan proses pembelajaran kepada mahasiswa didapat bahwa 18 responden (34%) menjawab penyampaian materi  dosen kurang menarik,  17 (32.1%) menjawab situasi kelas kurang kondusif, 13 (24.5%) menjawab kurangnya penguasaan materi, materi tidak up to date, 4 (7.5%) daya tangkap siswa kurang,  sedangkan 1 (1.9%) menjawab lainnya.
Tabel 18 Hambatan Dosen Dalam Proses Pembelajaran

Jumlah (orang)
Prosentase (%)
Penyampaian materi kurang menarik
18
34
Kurangnya penguasaan materi, materi tidak up to date
13
24.5
Situasi kelas kurang kondusif
17
32.1
Daya tangkap siswa kurang
4
7.5
Lainnya
1
1.9
Total
53
100

  1. Ketepatan penyampaian materi dosen dengan harapan mahasiswa
Sedangkan ketepatan dosen dalam menyampaikan materi di kelas didapat data bahwa 44 responden (83%) menjawab tidak, 4 (7.5%) menjawab ya, sedangkan 5 (9.4%) tidak menjawab.
Tabel 19 Ketepatan Penyampaian Materi Dosen Dalam Proses Pembelajaran


Jumlah (orang)
Prosentase (%)
Ya
4
7.5
Tidak
44
83
Tidak menjawab
5
9.4
Total
53
100




  1. Pencapaian tujuan pembelajaran dosen menurut mahasiswa
Hal yang cukup mendapat perhatian bagi dosen adalah pencapaian tujuan pembelajaran bagi mahasiswa selama ini dirasakan mereka berbanding terbalik dengan tujuan pembelajaran mahasiswa di awal proses pembelajaran. Ternyata 36 mahasiswa (67.9%) menjawab bahwa tujuan pembelajaran dosen tidak tercapai, 13 (24.5%) menjawab ya, sedangkan 4 (7.5%) tidak menjawab.
Tabel 20 Pencapaian Tujuan Pembelajaran Dosen Menurut Mahasiswa


Jumlah (orang)
Prosentase (%)
Ya
13
24.5
Tidak
36
67.9
Tidak menjawab
4
7.5
Total
53
100







KESIMPULAN
Proses pembelajaran dosen di Jurusan Ilmu Komunikasi telah menggunakan bentuk-bentuk komunikasi instruksional yang cukup memadai meskipun belum efektif, terbukti mayoritas dosen telah melakukan kontrak pembelajaran di awal proses pembelajaran dengan melibatkan mahasiswa dalam mencapai aturan main yang ingin dicapai (88,7%). Untuk  penggunaan media pembelajaran, mayoritas sudah digunakan oleh para dosen (77,4%) meskipun tetap diperlukan upaya perbaikan (94,3%). Dalam pelaksanaan proses pembelajaran pun para dosen sudah melibatkan mahasiswanya yang mayoritas menggunakan bentuk diskusi atau tanya jawab (54,7%), meskipun dalam penyampaian materi seringkali para dosen belum sesuai harapan mahasiswa (83%) dan saat menyampaikan materi kurang menarik (34%) atau situasi kelas kurang kondusif (32,1%). Hal ini menyebabkan 58,5% mahasiswa mengaku tidak nyaman dengan sistem pembelajaran yang ada dan menjadi salah satu sumber kenapa tujuan pembelajaran dosen belum tercapai (67,9%). Dalam menggunakan metode pembelajaran yang banyak diterapkan dosen adalah ceramah (43.4%), sedangkan tipe pengajar yang paling banyak disukai mahasiswa adalah yang humoris (37.7%).

SARAN
Agar komunikasi instruksional dosen lebih efektif perlu dilakukan hal-hal berikut:
  1. Penyampaian materi oleh dosen disajikan dengan lebih menarik, diselingi beberapa humor yang fresh dan menghibur untuk menjaga perhatian mahasiswa.
  2. Perlu adanya komunikasi untuk mengetahui sasaran pembelajaran dosen maupun target mahasiswa dalam pembelajaran dengan lebih jelas dan tidak hanya pada sisi dosen saja.
  3. Materi yang disampaikan pada saat kuliah dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa sehingga tidak terlalu textbook saja. Selain tercermin dalam perilaku sehari-hari, nilai pembelajaran juga tecermin dalam cara pikir mahasiswa yang lebih ilmiah.

DAFTAR PUSTAKA

Effendy, Onong Uchyana. 1995. Ilmu teori dan filsafat komunikasi. Remaja Rosdakarya. Bandung
Nazir, M. 1988. Metode penelitian. Ghalia. Jakarta.
Sutikna, Nana. Istiyanto, S. Bekti. 2007. Menelusuri kemampuan dan minat melanjutkan pendidikan anak-anak usia sekolah pada masyarakat pedesaan Kabupaten Banyumas. Purwokerto
Yusuf, M. Pawit. 1998. Komunikasi instruksional dan komunikasi pendidikan. Remaja Rosdakarya. Bandung.
Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "DOWNLOAD CONTOH JURNAL PENDIDIKAN KOMUNIKASI INSTRUKSIONAL DOSEN JURUSAN ILMU KOMUNIKASI DI MATA MAHASISWA JURUSAN ILMU KOMUNIKASI "

PageRank

PageRank for wirajunior.blogspot.com
 
Template By Kunci Dunia
Back To Top