SILABUS DAN RPP BLOG

RPP lengkap Kurikulum 2013 dan KTSP

DOWNLOAD KARYA TULIS ILMIAH PENDIDIKAN MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA DALAM MEMBUAT JURNAL PENYESUAIAN MATA PELAJARAN ADMINISTRASI PERKANTORAN MELALUI OPTIMALISASI PEMAHAMAN PSIKOLOGI BELAJAR SISWA KELAS XI


        Latar Belakang
Perubahan tingkah laku bukan di lihat dari perubahan sifat-sifat fisik misalnya tinggi dan berat badan, kekuatan fisik misalnya untuk mengangkat, yang terjadi sebagai suatu perubahan fisiologis dalam besar otot atau efisiensi dari proses-proses sirkulasi dan respirasi , perubahan ini tidak termasuk belajar. Prilaku berbicara , menulis , bergerak , dan lainnya memberi kesempatan kepada manusia untuk mempelajari perilaku-perilaku seperti berpikir , merasa , mengingat , memecahkan masalah , berbuat kreatif , dan lain-lainnya, penibahan ini termasuk hasil belajar. Sedangakan istilah pengalaman membatasi macam-macam perubahan perilaku yang dapat dianggap mewakili belajar. (Syaiful Sagala ;2003).
          Batasan ini penting dan sulit untuk didefinisikan , biasanya bataasan ini di lakukan dengan memperhatikan penyebab-penyabab perubahan dalam perilaku yang tidak dapat di anggap sebagai hasil pengalaman. Jadi, perubahan perilaku yang di sebabkan oleh kelelahan, adaptasi indera, obat-obatan, dan kekuatan mekanis tidak di anggap sebagai perubahan yang di sebabkan oleh pengalaman, dan karena itu tidak dapat dianggap , bahwa belajar telah terjadi. Wilis Dahar (1989:12) memberi ilustrasi, bila seseorang masuk kedalam kamar yang gelap, lambat laun ia akan melihat lebih jelas, perubahan yang di alami orang ini di akibatkan oleh pembukaan pupil dan perubahan-perubahan foto kimia dalam retina, hal ini merupakan suatu yang fisiologis, dan tidak mewakili belajar. Perubahan-perubahan dalam perilaku yang di sebabkan oleh alcohol atau obat-obatan lainnya tidak dapat di anggap sebagai belajar, sebab perubahan-perubahan ini juga bersifat fisiologis.
          Proses lain yang menghasilkan perubahan perilaku, yang tidak termasuk belajar adalah kematangan, yaitu perubahn perilaku disebabkan oleh pertumbuhan dan perkembangan dari organisma-organisma secara fisiologis. Pemikiran tentang belajar mengacu pada proses : (1)  belajar tidak hanya sekedar menghafal, siswa harus mengkonstruksikan pengatahuan di benak mereka sendiri; (2) anak belajar dari mengalami, anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan bukan di beri begitu saja oleh guru; (3) para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang di miliki seseorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang suatu persoalan (Subjek matter) ; (4)  pengetahuan tidak bisa di pisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat di terapkan ; (5)  manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi bam; (6) siswa perlu di biasakan memecahkan masalah menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya , dan bergelut dengan ide-ide ; (7)  proses belajar dapat mengubah struktur otak, pembahan struktur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan orgnisasi pengetahuan dan keterampilan seseorang.
          Untuk itu perlu di pahami, strategi belajar yang salah dan terus menerus di tajamkan , akan mempengaruhi struktur otak , yang pada akhirnya mempengaruhi cara seseorang berperilaku. Suatu tingkat kematangan tertentu merupakan prasyarat belajar berbicara, walaupun pengalaman dengan orang dewasa yang bebicara di butuhkan untuk membantu kesiapan yang di bawa oleh kematangan. Jadi, belajar di hasilkan dari pengalaman dengan lingkungan, dimana terjadi hubungan-hubungan antara stimulus-stimulus dan respon-respon. Hal ini memberi makna bahwa belajar adalah proses aktif individu dalam membangun pengetahuan dan pencapaian tujuan. (Syaiful Sagala ;2003)
          Artinya, di perlukan sebuah pendekatan belajar yang lebih memberdayakan siswa. Proses belajar tidak hanya tergantung pada orang lain, akan tetapi sangat tergantung pada individu yang belajar (Student centered), anak belajar tidak hanya verbalisme tetapi juga dari mengalami sendiri dalam lingkungan yang alamiah, mengkonstruksi pengetahuan, dan memberi makna pada pengetahuan itu. Anak harus tahu makna belajar dan menggunakan pengetahuan serta keterampilan yang telah di peroleh untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. (Nasution , 2003)
          Karena itu, belajar merupakan proses terbentuknya tingkah laku baru yang di sebabkan individu merespon lingkungannya. Melalui pengalaman pribadi yang tidak termasuk kematangan , pertumbuhan atau insting. Belajar sebagai proses akan terarah kepada tercapainya tujuan (GoalOriented) dari pihak siswa maupun dari pihak guru. Tujuan itu dapat di identifikasi dan bahkan dapat di arah kan sesuai dengan maksud pendidikan. Banyak sekali teori belajar menurut iteratur psikologi, teori itu bersumber dari teori atau aliran-aliran psikologi. Secara garis besar di kenal ada tiga rumpun besar teori belajar menurut pandangan psikologi yaitu teori disiplin mental, teori behaviorisme, dan teori cognitive gestalf-filed.
          Oleh Karena itu proses pembelajaran administrasi perkantoran, factor yang terpenting adalah bukan pada tataran kemampuan siswa dalam pengenalan konsep. Namun jauh dari itu tujuan dari tujuan pembelajaran administrasi perkantoran adalah sejauh mana kemampuan siswa mengaplikasikan dalam kehidupan sehari hari. Adanya sebuah kesadaran psikologis di harapkan akan menumbuhkan sebuah kesadaran kognitif pada siswa bagaimana seharusnya bersikap dan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga pada saat berada di tengah-tengah dunia kerja mampu ikut menyelesaikan segala persoalan-persoalan kemasyarakattan. Dengan demikian penelitian ini mengambil sebuah deskripsi penelitian yaitu meningkat kan kemampuan siswa dalam membuat jurnal penyesuaian mata pelajaran administrasi perkantoran melalui optimalisasi pemahaman psikologis belajar siswa kelas XI APK 3 SMK Negeri 1 Surabaya tahun ajaran 2010/2011.

B.   Rumusan Masalah
          Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
     Bagaimana meningkatkan kemampuan siswa dalam membuat jurnal penyesuaian mata pelajaran administrasi perkantoran melalui optimalisasi pemahaman psikologi belajar siswa kelas XI APK 3 SMK Negeri 1 Surabaya tahun ajaran 2010/2011 ?

C.   Tujuan Penelitian.
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran empiris tentang : meningkatakan kemampuan siswa dalam membuat jurnal penyesuaian mata pelajaran administrasi perkantoran melalui optimalisasi pemahaman psikologi balajar siswa kelas XI APK 3 SMK Negeri 1 Surabaya tahun ajaran 2010/2011.
D.   Manfaat Penelitian.

Kegunaan atau manfaaat yang dapat diperoleh mengenai hubungan sifat (kepribadian guru) dengan motivasi belajar dalam PBM, yaitu:
1.                 informasi yang diperoleh dari hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh guru bidang study bagi pelaksanaan pengajaran yang merupakan tugas utamanya. Dengan adanya informasi tersebut diharapkan guru dapat lebih memperhatikannya, menerapkan, dan meningkatkan kepribadian teladan pada saat PBM sehingga siswa lebih termotivasi untuk belajar.
2.                 bahan pertimbangan dan sumber data bagi guru atau guru pembimbing guna perbaikan dan peningkatak perannya di dunia pendidikan. Guru tidak hanya beretugas sebagai pengajar, dalam arti hanya menyampaikan ilu atau bahan tanpa memeperhatikan kelebihan atau kekurangan yang mumngkun dialami oleh pendidik dan pembimbing agar masalah masalah yang dihadapi siswa terutama dalam hal motivasi dapat diatasi, baik oleh siswa dengan atau tanpa bantuan guru sehungga hasil PBM akan menjadi optimal sesuai dengan kemampuan siswa.
3.                 sebagai kajian teoritis dalam psikologis kurikulum dan     psikologis belajar dalam PBM





BAB II
KAJIAN PUSTAKA



A.  Konsep Belajar

          Apakah sebenarnya belajar itu, belum diketahui sepenuhnya, sama dengan proses psikis lainnya. Bermacam macam teori mencoba menjelaskannya ditinjau dari segi tertentu, dengan dasar filosofis yang berbeda tentang hakikat manusia. Suatu teori belajar ialah suatu pandangan terpadu yang sistematis tentang cara manusia berinteraksi dengan lingkungan sehingga terjadi suatu perubhahan kelakuan. Tiap guru mengajar dapat diketahui tori yang mendasarinya, walaupun guru itu sendiri kurang atau tidak menyadarinya. Mengenal teori kiranya dapat membantu guru mamehami atas dasar apa ia melakukannya . (Nasution, 2003)
          Sejak ada manusia di dunia ini ia belajar dan ada yang mengajarnya. Tiap orang tua mendidik anaknya, mengajarnya berbagai pengetahuan, keterampilan , norma norma, dan sebagainya. Rasanya semua lancar walaupun tak seorangpun memikirkan atau menghiraukan ada tidaknya dasar teorinya belajar dan mengajar dan semua belajar secara wajar. Namun orang mendirikan sekolah belajar itu dijadikan masalah, dan ternyata sangat kompleks dan pelik. Apa yang dipelajari di sekolah brbeda sekali dirumah atau diladang.
                 Definisi belajar berbeda menurut teori yang dianut secara trdisional belajar dingggap sebagai menabah pengetahuan. Yang diutamakan ialah aspek intelektual. Anak anak disuruh mempelajari berbagai macam mata pelajaran yang memberinya berbagai pengetahuan yang menjadi miliknya, kebanyakan dengan menghafalnya. (Usman, 1999)
       Pendapat lain yang lebih popular ialah memandang belajar sebagai perubahan kelakuan, suatu “ change of behaviour” . suatu definisi yang sering dikutip ialah yang diberikan oleh Ernest R. Hilgard, sebagai berikut:

                    Seorang belajar bila ia ingin melakukan sesuatu kegiatan sehingga kelakuan berubah . ia dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak dapa dilakukannya. Ia menghadapi situasi dengan cara lain. Kelakuan harus kita pandang dalam arti yang luas yang meliputi pengamatan, pengenalan, perbuatan, keterampilan, minat, penghargaan, sikap, dan lain lain. Jadi belajar tidak hanya mengenali bidang intelektual saja, akan tetapi seluruh pribadi anak, kognitif, efektif , mauppun psikomotor. Bila guru mengajar matematika, sejarah, biologi, dan lain lain, ia hendaknya jangan merasa puas bila pengetahuan anak bertambah , akan tetapi juga agar anak mempunyai sikap anak yang positif dan menyukai mata pelajaran itu. Perubahan karena mabuk atau keletihan bukan hasil belajar karena tidak diperoleh melalui kegiatan belajar. Demkin pula kemampuan binatang karena pertumbuhan instink , seperti membuat sarang, bukan hasil belajar.
          Bila kita terima belajar sebagai perubahan kelakuan , maka pendidik menghadapi tiga soal:
1.       Ia harus mengetahui kelakuan apa yang diharapkan dari anak. Hal ini berkenan dengan tujuan yang akhirnya ditentukan oleh falsafah pendidikan.
2.       Ia mengetahui hingga manakah taraf perkembangan anak, agar bahan pelajaran dapat dikusai anak.
3.       ia harus tahu bgaimana anak belajar sebagaiman guru mengajakannya , kondisi apa yang harus dipenuhi agar terjadi proses belajar yang berhasil. (Nasution., 2003)
          Sepertiyang telah dikemukakan diatas, kita akan lebih lanjut membicarakan beberapa teori belajar ynag banyak diterpakan dalam proses belajar mengajar.

B. Teori Ilmu Jiwa Daya atau Mental Disiplin
          Teori pelajar yang palin tua ini beranggapan, bahwa “ otak “ atau mental manusia terdiri atas sejumlah “ faculties” atau daya daya. Tiap daya mempunya fungsi tertentu, maka ada daya ingat , daya pikir, daya tanggap , daya fantasi, dan lain lain. Tujuan pendidkan ialah memperkkuat daya d aya itu dan ini dilakukan dengan latihan untuk mendisiplinnya. Daya ingat misalnya dapat dilatih dengan menghafal nama nama kota, nama panlawan, tahun tahun sejarah , kata kata asing , bahkan juga kata atau suku kata yang tidak mengandung arti. Daya pikir dilatihdengan menghadapkan anak dengan berbagai soal, makin sulit makin baik, karena nilai latihnya makin tinggi. Mata pelajaran yang di anggap paling ampuh untuk mendisiplinkan daya-pikir ialah matematika, dahulu juga bahasa latin yang cukup pelik. Seperti pada daya ingat, juga pada daya pikir ini tak dihiraukan apa yang dipelajari, bukan penguasaan bahan yang dipentingkan. Itu semua boleh dilupakan. Akan tetapi yang tinggal ialah daya ingat , daya pikir. Daya pikir yang telah terlatih akan dapat digunakan untuk memikirkan apa saja. Siswa yangtelah terlatih daya pikirnya melalui matematika akan mudah melanjutkan pelajaran untuk menjadi ahli hokum, insinyur, akuntan, ahli manajemen, apa saja. Jadi melatih daya daya mentalitu banyak persammannya dengan melatih otot. Otot terlatih dapat mengerjakan  apa saja. Demikian pula “otak” yang sudah diasah sampai tajam dapat “menyayat” segala masalah. Ini berarti bahwa transfer menurut teori ini bersifat mutlak. Daya yang terlatih dapat digunakan untuk apa saja. Kesanggupan berpikir yang terlatih diaggap dengan sendirinya dapat dipakai, dapat dipindahkan atau di transfer dalam bidang bidang lain dalam kehidupan. Disini yang diutamakan bukan penguasaan bahan, peningkatan kemampuan berbagai daya mental itu. Teori ini lazim juga di sebut teori mental disiplin, jug teori berdasarkan “faculty psychology (Usman, 1999)
          Teori “mental discipline” ini sekarang tidak dapat diterima oleh kebanyakan ahli psikologi dan pendidik professional. Penelitian eksperimen membuktikan, bahwa daya ingat tidak bertambah meningkatkan kemampuannya dengan menghafal sejak-sejak. Demikian pula latihan mental dengan matematika tidak dengan sendirinya meningkatkan kemampuan belajar politik atau bahasa. Walaupun telah di anggap tak berlaku lagi, namun di sekolah teori ini masih dianut. Ada pula sejumlah ilmuwan, pendidik, dan orang tua merasa yakin akan nilai fisika, matematika untuk meningkatkan untuk meningkatkan kemampuan anak berpikir.
          Teori ini didasarkan atas anggapan, bahwa manusia terdiri atas dua bagian, yakni bagian rohaniah (dalam istilah psikologi ini “mind”) dan bagian jasmaniah (substance, matter, body). Substansi fisik ada persamaannya dengan benda lain seperti batu, gunung, binatang, tanaman, mempunyai ukuran panjang, lebar, berat. Akan tetapi “mind” tidak mempunyai ukuran namun sesuatu yang nyata ada. Kepercayaan akan dualisme pada manusia, jiwa raga, rohaniah jasmaniah, masih banyak dianut. Lokasi “mind” tak dapat ditentukan dengan pasti, namun dianggap dalam “otak” yang dianggap alat untuk berbagai kegiatan mental.
          Untuk mendidik anak, perlu “mind”nya dikembangkan dan ini dilakukan dengan latihan. Dianggap makin keras latihannya, makin berkembang “mind” itu. Salah satu fungsi mental ialah berpikir yang dapat dikembangkan dengan bahan pelajaran seperti matematika, Karen sulitnya. Tujuan latian ini yang utama bukan untuk menguasai bahan matematika. Yang paling berharga ialah latihan yang di berikan oleh pelajaran itu. Bahannya dapat dilupakan, akan tetapi kemampuan berpikir itu sebagai akibat latihan itulah yang penting, karena kemampuan ini akan memungkinkan anak memikirkan segala hal lain. “Mind substance” di anggap sama dengan otot, yang dapat dilatih menjadi kuat dan dapat digunakan untuk berbagai pekerjaan. Makin keras latihan, makin kuat otot itu.
          Salah satu pendirian dalam aliran ini ialah faculty psychology, yang menganggap bahwa “mind” itu terdiri atas sejumlah bagian atau “faculty”, yang masing masing mempunyai fungsi atau daya tertentu. Yang utama ialah daya pengenalan, perasaan dan kemauan. Daya pengenalan terbagi dalam daya persepsi, imajinasi, ingatan, dan berpikir atau penalaran. Daya pikir memberi kemampuan untuk memecahkan berbagai masalah untuk mengambil keputusan. Daya kemauan juga di anggap sangat penting. Tanpa kemauan yang baik, manusia tidak dapat memperoleh kebahagian dalam hidupnya dalam masyarakat. Kalo manusia di anggap tidak intrinsic jahat sejak lahir, maka perlulah di latih kemauan anak kea rah yang baik . kemauan yang baik dapat menaklukkan hawa nafsu jahat dan memberi kekuatan untuk memilih dan melakukan yang baik. Kemauan adalah kunci keberhasilan. Sepertyi halnya dengan latihan otot, kemauan juga harus di beri latihan keras dengan memberi pekerjaan yang berat, sulit dan membosankan. Kalo perlu guru tak perlu segan memberi kecaman, celaan, hukuman, bahkan menggunakan cambuk untuk memaksa anakmenyelesaikan pekerjaannya. Pendidikan serupa ini tidak menghiraukan keinginan atau minat anak, juga tidak memperhitungkan tingkat perkembangan anak. (Usman, 1999)
          Pendirian “mental disiplin” ini banyak mendapat kritil dan di bantah kenbenarannya secar ilmiah. Thorndike dan Woodworth melakuakan berbagai eksperimen untuk menguji kebenaran teori ini dan memperoleh kesimpulan, bahwa teori ini tak dapat di pertahankan secara ilmiah. Latihan daya mental dalam suatu bidang tidak dengan sendirinya meningkatkan kemampuan dalam bidang lain. Melatih kebersihan dalam bidang taerataentu, misalnya pakaian, tidak dengan sendirinya mempengaruhi kebersihan tulisan anak. Demikian pula di buktikannya bahwa peningkatan kemampuan mental umum hanya sedikit akibat pelajaran di sekolah. Peneliti lain membuktikan bahwa dalam peningkatan kemampuan mental tidak ada kelebhan satu mata pelajaran di banding dengan pelajaran lain, misalnya matematika tidak lebih unggul dalam melatih anak berpikir di banding dengan sejarah atau ilmu bumi. Anak yang pintar sering mengambil matematika dimana ia dapat menunjukkan kepintarannya dan ia akan banyak memperoleh manfaat dari pelajaran itu. Akan tetapi anak yang tidak pintar, tidak akan banyak mendapat keuntungan dari pelajaran itu. (Usman,1999)
          Sekolah yang menjalankan teori mental disiplin ini cenderung di sebut sebagai skolah yang baik, karena mengutamakan pelajaran yang sulit seperti matematika dan fisika, akan tetapi dapat di sanksikan kebenarannya, kareana banyak anak yang tak tahan akan keluar atau di keluarkan dari sekolah, sehingga yang tinggal hanya anak yang pandai. Jadi sekolah itu baik bukan karena keunggulan pengajaran dalam matematika, fisika, kimia, dan lain-lain, melainkan karena keunggulan siswa yang masih bertahan.
          Ini teori mental disiplin ini sudah tidak diterima lagi di kalangan kebanyakan ahli psikologi. Namun masih ada lagi ilmuwan, orangtua dan guru yang yakin akan kebaikan latihan mental ini dan mempraktikannya di sekolah maupun dalam lingkungan keluarga. Dari segi penelitian ilmiah telah di buktikan bahwa latihan daya-daya mental tidak otomatis dapat di transfer dalam bidang bidang lain. Transfer memang masih ada, tetapi bukan dengan cara mendisiplin daya mental.

TEORI APERSEPSI HERBART
          J.F. Herbart (1776-1841) pengganti filsuf jerman terkenal Imanuel Kant tahun 1841, dapat di pandang sebagai tokoh pertama psikologi belajar modern yang menyimpang dari teori ilmu jiwa daya. Pengaruh Herbart dalam abad 20 sangat besar. Buah pikirannya mendominasi pendidikan guru dan pendidikan umumnya di Amerika Serikat dan bagian lain dunia ini dan hingga sekarang idenya masih banyak digunakan, walaupun tidak di bawa namanya. Secara teoritis namanya telah lenyap dari dunia psikologi dewasa ini, namun dala praktik apa yang dikemukakannya masih berlaku.
         
          Herbart terkenal karena konsep appersepsi yang dikemukakanya. Apersepsi ialah proses asosiasi antara ide tau Vorstel-lung yang baru dengan yang lama yang tersimpan dalam bawah sadar individu. Setiap ada masuk persepsi baru maka ia di sambut oleh yang lama. Ide yang lama berloma kekuatan untuk memasuki alam bawah sadara untuk menyambut ide baru. Bila seseorang melihat kapal terbang misalnya, maka mungkn akan timbul ide burung, atau perjalanan yang pernah dilakukan ke luar negeri, atau kemajuan atau teknologi, entah yang mana bergantung pada kekuatan ide yang di simpan atau bahan persepsi yang tersedia. Persepsi atau pengamatan di peroleh dari lingkungan melalui alat-dria. Melalui asosiasi di peroleh ide yang sederhana yang menjadi lebih kompleks melalui asosiasi selanyjutnya. Penggabungan ide-ide dapat di bandingkan dengan proses kimiawi atau “mental chemistry”.

          Sebelumnya, Jhon locke (1632-1704) telah mengemukakan teori “tabula rasa” yang mengatakan bahwa “otak” (mind) manusia semulanya waktu lahir, masih kosong seperti papan tulis bersih . akan tetapi perangsang, pengalaman dari luar, mengisi mind itu. Apa saja yang di ketahui manusia dating nya dari luar diri orang itu. Dalam “otak” itu terjadi hubungan atau asosiasi antara ide-ide.

          Masalah asosiasitelah dikemukakan Aristoteles pada abad ke 4SM. Dikatakan nya bahwa asosiasi cenderung terjadi antara hal-hal yang tampil bersamaan (kontiguitas), yang dating berurutan (suksesi), yang mempunyai persamaan arti (similaritas) dan yang berlawanan (kontras). (nasution,2003)

          Menurut locke ide-ide itu pasif. Herbart sebaliknya, berpendapat bahwa ide-ide itu aktif, dinamis, mempunyai kekuatan untuk bergabung, jadi berlomba untuk bergabung dengan ide baru yang masuk. Akan tetapi manusia itu sendiri pasif, dan hanya merupakan wadah tempat asosiasi itu berlangsung. Jadi “mind” itu adalah isinya.ide mempunyai kekuatan bergabung atau menolak bergabung, ada afinitas menarik atau menolak, misalanya “murid” dan “guru” akan saling menarik, akan tetapi “murid” dan “ra-malan cuaca” mungkin tidak.
         
Bagi herbart semua persepsi pada hakikatnya apersepsi, oleh setiap persepsi cenderung akan bergabung dengan bahan yang telah ada. Tanpa pengalaman yang ada suatau pengamatan atau ide tak ada artinya dan tak akan di perdulikan sebaliknya ide yang telah tersimpan, akan tetapi tak mempunyai kesempatan bergabung lambat laun akan lenyap dengan sendirinya.

Herbart percaya , bahwa ide yang baik akan menghasilkan kemauan yang baik dan perbuatan yang baik. Jadi kemauan bergantung pada pikiran. Tugas guru adalah memberikan pikiran yang baik agar anak berbuat baik. Tujuan pendidikan, menurut herbart ialah mendidik anak menjadi manusia yang bermoral baik. Seni megajar adalah menyajikan buah pikiran yang dapat digunakan siswa sepanjang hidupnya. Guru dapat di pandang “arsitek” dan pembangunan “mind” dan demikian pula watak siswa.

Minat sangat di pentingkan, pelajarn harus di buat menarik dan ini tercapai dengan metode mengajar yang baik, di dukung oleh bahan apersepsi yang banyak. Apa yang disebut apersepsi, sekarang di beri nama “entry behavior

Walaupun teori herbart ini menunjukan kelemahan karma terlampu peranan guru, banyak pula sumbangan – nya kepada pendidikan, antara lain :

1. Ia telah mengencam teori ilmu-jiwa daya.
2. Ia menekankan pendekatan pisikologis dalam belajar mengajar dan mengemukakan metode mengajar yang dapat di pertanggung jawab kan.
3. Pendidikan guru menjadi usaha yang penting.
4.Ia mengemukakan pentingnya minat siswa dalam proses belajar.
5.Ia juga membuka jalan untuk mengadakan penelitian eksperimen ini mengenai prose belajar mengajar.

          Metode mengajar yang di kemukakan oleh herbart dan kawan-kawan yaitu terima langkah itu, sudah cukup terkenal yakni :

1.Persiapan.Guru mengingatkan siswa tentang pengalaman atau pelajaran yang lampau agar ide-ide yang relefan timbul dalam kesadaran siswa.
2.Penyajian. Guru menyajikan fakta baru, mungkin melalui demonstrasi tentang pokok yang dibicarakan.
3.Berbandingan dan abstraksi. Jika guru melakukan ke dua langkah di atas dengan baik, siswa akan melihat kesamaan ide yang baru dengan yang telah di ketahui maka terjadi asosiasi antara yang baru dan yang lama. Dengan abstraksi di maksud melihat unsur-unsur bersamaan.
4.Generalisasi. pada langkah ini siswa mencoba memberi : nama kepada kedua pasangan fakta atau ide sebagai suatu prinsip.
5.Aplikasi. prinsip yang baru di temukan itu di terapkan untuk    menjelaskan fakta yang lain untuk memecahkan soal lain. Guru dapat meminta siswa untuk menjelaskan gejala, atau masalah lain.

          Walaupun metode ini telah kolot, belun banyak guru yang menerapkannya sepenuhnya. Sering guru anya menjelaskan sesuatu, kadang-kadang ada yang membangkitkan pengetahuan yang relevan yang telah dimiliki siswa, atau dengan istilah sekarang, mengadakan pre-test. Tak banyak guru pula yang memberi kesempatan kepada siswa untuk merumuskan generalisasi dalam bentuk suatu prinsip dan seterusnya menyuruh siswa untuk menyerapkannya dalam situasi lain. Jika pendidikan kita masih berpusat pada guru, maka metode Herbart masih dapat membantu guru.



PSIKOLOGI KOGNITIF JEROME BRUNER
         
          Jerome Bruner (1915) menjadi sangat terkenal dalam dua pendidikan, setelah Sputnik, sewaktu Amerika Serikat mencari kurikulum baru untuk mengejar ketinggalan dalam pendidikan dibanding dengan Uni Sovyet. bruner mengumpulkan ilmuwan yang paling terkemuka yang bersamaan dengan ahli pendidikan menyusun buku pelajaran baru dengan proses belajar-mengajar yang baru pula.

          Ada dua prinsip penting yang dikemukakan dalam tulisanya, yakni :
1. Perolehan pengetahuan adalah proses aktif.
2. Individu secara aktif merekonstruksi pengalamanya dengan menghubungkan pengetahuan baru dengan “internal modal” atau struktur kognitif yang telah dimilikinya. (Nasution, (2003)

          Dalam proses belajar, anak itu partisipan aktif, ia memilih dan mentransformasi. Tiap orang membentuk suatu model berstruktur tentang dunia. Ia melihat dunia dengan caranya sendiri. Model itu memungkinkannya untuk meramalkan, menginter-polasi, mengekstrapolasi. Dengan intrapolasi dimaksud mengubah pandangan dengan mengaplikasi pengetahuan baru. Ekstrapolai ialah mengangkat informasi pada taraf yang melebihi taraf sekedar informasi.

          Menurut Bruner, kita melihat dunia ini bukan seperti melihatnya pada cermin, akan tetapi sebagai konstruk atau model dengan mengorganisasi informasi dalam bentuk yang lebih umum, sehingga dapat digunakan untuk berbagai tujuan. Model itu bukan sekedar kumpulan informasi, akan tetapi jauh melebihinya. Adanya model itu timbul karena adanya kemampuan manusi untuk mendeskriminasikan, melihat persamaan dan membentuk konsep atau katagori.

          Belajar ialah memperoleh informasi, yang bersamaan atau yang bertentangan dengan yang ada, mentransformasi nya, yaitu memanipulasinya dengan intrapolasi dan ekstrapolasi, agar sesuia dengan tugas yang dihadapi, dan mengecek keserasiannya dengan tugas. Untuk ini diperlukan pertimbangan dan penilaian.

          Perkembangan menurut Brunner melalui tiga fase, yakni fase “enactive, iconic, dan symbolic”. Anak menjelaskan sesuatu melalui perbuatan (ia bergeser ke depan atau ke belakang di papan mainan untuk menyesuaikan beratnya dengan berat temanya bermain), ini fase “ enactivge”. Kenudian pada fase “iconic”, ia menjelaskan kesimbangan pada gambar atau bagan, dan akhirnya ia menggunakan bahsa ubtuk menjelaskan prinsip keseimbangan ini fase “symbolic”.

          Menurut Bruner, sekolah didirikan masyarakt sebagai alat untuk meningkatakan kemampuan intelektual anak.
Bagaimana pendidikan melakukan tugas itu?
1.     Menerjemahkan teori menjadi stuktur yang dapat dipahami anak melalui dialog atara guru dan anak.
2.     mengembangkan rasa kepercayaan pada siswa akan kemampuannya memecahkan masalah dengan menggunakna kemampuan mentalnya.
3.     membimbing siswa agar ia sendiri dapat  mempelajari berbagai macam bahan pelajaran atau memcahkan masalah yang dirumuskan sendiri.
4.     menggunakan kemampuan mentalnya secara ekonomis dengan mncari relevansi dan memahami stuktur bahan yang dipelajarinya.
5.     memumpuk kejujuran intelektual.

Dalam mempelajari ilmu pengetahuan ialah mempelajari disiplin ilmu. Walaupun isinya berguna, namun yang lebih penting ialah mempelajari cara berpikir dalam disiplin ilmu itu, cara ilmu itu memcahkan masalah.

          Dalam mempelajari ilmu pengetahuan ialah mempelajari disiplin ilmu. Waqlaupun isinyta berguna, namun yang lebih penting ialah mempelajari cara berpikir dalam disiplin ilmu itu, cara ilmu itu memecahkan masalah.

          Mengenai proses belajar-mengajar Bruner memberikan beberapa petujuk :
         
1.     memberi pengalaman agar siswa belajar, bagaiman cara memecahkan maslah.
2.     menstruktur pengetahuan,mengusahakan agar siswa memahami struktur pelajaran. Memahami berarti dapat menghubungkannya dengan berbagai hal lain. Kita tak dapat mengajarkan prinsip-prinsipnya yang pokok, yang disebut strukturnya.
3.      urutan penyajian bahan dapat dilakukan dari yang sederhana sampai yang lebih abstrak. Tiap pengetahuan dapat disajikan dalam bentuk yang sederhana yang dapat dipahami anak pada tingakt usianya. Kepada anak dapat diartikan tentang computer, statistic, dalam bentuk yang benar dan jujur, misalnya dengan taraf enactive, kemudian iconic, dan akhirnya symbolic. (Nasutio, 2003)

Suatu konsep, prinsip, atau masalah pokok tidak dapat dipahami sgera, bahkan ada yang tidak kunjung dipahami segera, bahkan ada yang tidak kunjung dipahami sepenuhnya, akan tetapi berangsur-angsur makin dipahami sepenuhnya, akan tetapi berangsur-angsur makin diphami. Bahkan serupa itu dapat di ajarkan di SD, SMP, SMA, bahkan selanjutnya di Perguruan Tinggi. Kurikulum yang membicarakan pokok yang sama pada tingkatan yang senantiasa bertambah tinngi, disebut kurikulum spiral. Pancasila misalnya, dapat dibicarakan pada berbagai tingkat pendidikan. Keuntungan kurikulum spiral ialah bahwa bahan dapat di ajarkan lebih awal dan dengan demikian mempercepat kesepian atau “readiness” tanpa menunggunya secara pasif. Itu sebabnya, Brunner tidak merasa terikat oleh perkembangan menurut fase perkembangan seperti dikemukakan oleh Piaget. Pengaruhnya sangat besar bagi perkembangan kurikulum dengan memberikan sejumlah mata pelajaran jauh lebiyh awal daripada sedia kala .
4.     Motivasi belajar. Bruner menganjurkan untuk mengurangi motivasi entrinsik, sering berupa pujian, hadiah, angka baik, dan lain-lain dan mengutamakan motivasi intrinsic. Motivasi intrinsic ialah bila siswa menguasai pelajaran, sanggup memecahkan masalah yang sulit, menaruh minat, merasa turut terlibat, merasa diri kompeten. Keberhasilan dan kegagalan bertalian dengan tugas dapat menjadi motivasi intrinsic. Keberhasilan tak perlu lagi diberi hadiah atau pujian, ada kemungkinan siswa belajar untuk memperolehnya. Hadiah yang paling beharga terdapat dalam keberhasilan melakukan tugas. Kegagalan dapat menjadi motivasi intrinsic bila menjadi cambuk untuk mengeluarkan usaha yang lebih banyak. Akan tetapi kegagalan yang disertai hukuman akan merusak.

Pemecahan masalah dilakukan dengan merumuskan hipotesis yang di cek kebenarannya berdasarkan data yang relevan. Pemecahan masalah dapat juga tercapaqi dengan menggunakan intuisi, yaitu proses berpikir yang tidak dapat di verbalisasi. Diharapkan siswa didik agar dapat menemukan jawaban atas masalah dengan usaha sendiri. Apa yang ditemukan sendiri lebih mantap dan mempunyai nilai transfer tinggi




.
PRINSIP-PRINSIP UMUM

          Walaupun belum ada satu teori belajar yang berlaku bagi semua jenis belajar, menurut Hilgard, telah ada sejumlah prinsip yang umum dapat diakui kebenaranya.
1.       Ada perbedaan individual mengenai kesanggupan beljar. Apa yang dapat dipahami oleh anak pandai, belum daopat dipahami oleh anak yang kurang pandai.
2.       motivasi mempertinggi hasil belajar.
3.       Motivasi yang berlebih-lebihan dapat menimbulkan gangguan emosional, dan mengurangi aktivitas belajar.
4.       pada umumnya hadiah, pujian, dan sukses lebih menggiatkan orang belajar daripada hukuman, celaan, dan kegagalan.
5.       Motivasi intrinsic memberi hasil yang lebih baik daripada motivasi intrinsic.
6.       Kegagalan dalam belajar sebaiknya diatas dengan adanya keberhasilan pada masa yang lampau.
7.       tujuan hendaknya realistis, jangan terlampau tinggi atau rendah menimbulkan kegiatan belajar yang tinggi.
8        .Hubungan tidask baik dengan guru dapat menghalangi prestasi balajar yang tinggi.
9.       Hasil blajar yang sebaik-baiknya dicapai apabila murid turut aktif mengolah dan mencernakan bahan pelajaran dan tidak sekedar mendengarkan saja.
10.     Bahan dan tugas yang bermakna bagi murid lebih diterima dan dipeljari murid daripada bahan dan tugas yang tak dipahami maksudya.
11.     untuk menguasai sesuatu sepenuhnya, misalnya memainkan lagu pada piano, diperlukan latihan yang banyak sehingga tercapai “overleaming”.
12.              keterangan tentang hasil yang baik atau kesalahn yang baik atau kesalahan yang dibuat, membantu murid beljar.
13.     Transfer hal yang dipelajari kepada situasi atau problema baru, akan lebih terjamin bila murid itu sendiri menemukan hubungan antara kedua hal itu dan selama belajar mendapat kesempatan menerapkannya dalam berbagai macam situasi.
14. ulangan sebaiknya dilakukan secara berkala agar lebih lama dapat diingat. (Nasution, 2003


C. Pengaruh Teori Belajar Terhadap Kurikulum

          Teori ilmu jiwa daya bertujuan mencapai mental disiplin, yakni melatih daya mental terutam daya pikir. Tujuan ini sangat sempit. Bahan pelajaran dapat uniform bagi anak. Bahan pelajaran yang melatih daya pikir menduduki tempat yang penting. Dalam penentuan bahan, faktor anak tak berapa dihiraukan. Bahan itu disusun menurut urutan yang logis sesuai dengan sistematik mata pelajaran itu, jadi biasanya dimulai dengan definisi atau klasifikasi ilmiah baru kemudian obyek-obyek atau contoh-contoh yang konkrit.
          Teori asosiasi mengutamakan bahan pelajaran yang spesifik, yang terdiri atas sejumlah S-R dan dikuasai melalui penyajian yang cermat, hafalan, dan ulangan. Yang disajikan adalah unsur-unsur yang atomistis, bukan ide-ide yang prinsipil. Penyajian hal-hal yang spesifik dengan cara yang sangat teliti itu tampak dalam pengajaran berprograma (programmed instruction) dan “teching machines”. Juga “job analysis” seperti dilakukan untuk pertama kalinya oleh charters didasarkan atas teori itu.
          Teori Gestalt atau field theory mempunyai tujuan yang luas, yakni bukan hanya memberikan pengetahuan tapi juga proses menghadapi dan memecahkan masalah, pengembangan anak, lingkungan masyarakat anak dan bahan dari berbagai mata pelajaran. Kurikulum meliputi perkembangan social, emosional, dan intelektual. Organisasi bahan mata pelajaran dan metode mengajar mengutamakan hubungan dan integrasi serta pemahaman. Fakta-fakta atau informasi spesifik diperlukan untuk memperoleh pemahaman itu. Berbeda dengan teori asosiasi, yang banyak memberi peranan “pasif” kepada anak, teori Gestalt ini memandang belajar sebagai proses yang memerlukan aktivitas anak. Karena itu digunakan metode problem-solving dan inquiry-approach. Anak sendiri harus amenemukan jawan masalah, dengan bimbingan serta bantuan guru sejauh diperlukan.

TEORI BELAJAR DAN ILMU MENGAJAR
          Mengenai proses belajar itu sendiri kita hadapi berbagai –bagai kesulitan. Banyak macam-macam teori tentang belajar yang di-pakai secara campur aduk dalam praktek. Teori belajar menurut “mental discipline” atau ilmu jiwa daya digunakan bersam dengan teori belajar menurut teori stimulus dan response serta teori conditioning. Lagi pula banyak jenis-jenis belajar, seperti belajar keterampilan motoris, mengingat fakta-fakta dan informasi, ke-trampilan intelektual seperti membentuk konsep, belajar menurut “inquiry approach” memecahkan masalah, dan belajar sikap, emosi, nilai-nilai, hubungan social, dan sebagainya. Karena itu tidak ada satu teori umum sebagia pegangan untuk segala jenis belajar itu.
          Kebanyakan teori itu tidak didukung oleh eksperimen-eksperimen. Penelitian hanya dilakukan mengenai bentuk belajar yang sederhana dengan binatang. Kita dapat menyangsikan apakah hasil penelitian itu berlaku pula bagi manusia dalam belajar hal-hal yang jauh lebih kompleks. Penelitian mengenai belajar dalam situasi belajar dalam kelas bersifat penelitian jangka pendek, bukan mengenai hal-hal jangka panjang. Variabel dalam situasi belajar dalam kelas tidak dapat dikuasai sepenuhnya karena banyak variabel itu. Lingkungan tempat anak belajar perlu pula diperhatikan, karena anak itu senantiasa merupakan organisme dalam lingkungan yang turut memepengaruhinya dalam belajar. (Nasution,2003)
Lagi pula arti istilah-istilah dan pengertian pokok dalam berbagai teori belajar  sebenarnya masih kabut, misalnya “insight” dalam teori Gestalt, “reinforcement” “trial-and-error” dan pengaruh pujian dan hukuman dalam belajar menurut teori asosiasi.
Pada umumnya dapat kita katakana bahwa teori asosiasi lebih serasi untuk mempelajari hal-hal yang sederhana, akan tetapi kurang sesuai untuk soal-soal yang memerlukan proses mental yang kompleks seperti berpikir atau memecahkan suatu masalah dan untuk mempelajari sikap, minat, atau emosi. Akan tetapi cara belajar menurut teori ini lebih mudah dikuasai, hasilnya segera dapat diketahui dan dinilai. Bahkan untuk belajar serupa ini Thorndike telah merumuskan sejumlah “laws of learning”, misalnya bahwa hubungan S-R bertambah erat bila sering diulangi, bila hubungan itu disertai rasa senang atau puas, dan sebagainya.
Di lain pihak teori Gestalt atau field theory lebih sesuai untuk mempelajari hal-hal yang kompleks, yang mengandung masalah. Akan tetapi kelemahannya ialah, bahwa teori ini terlampau banyak variabelnya, terlampau kompleks dan tidak dapat dituangkan dalam bentuk prinsip-prinsip dan hokum-hukum yang cepat dan cermat. Hanya petunjuk-petunjuk umum yang dapat diberikan.
          Oleh sebab belum ditemukan teori belajar yang pasti, maka sebenarnya belum dapat disusun suatu ilmu mengajar atau “science of teaching” yang dapat meramalkan dengan pasti hasil suatu kegiatan  mengajar.
D. Hipotesis Tindakan
          Optimalisasi pemahaman psikologi belajar dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam membuat jurnal penyesuaian mata pelajaran administrasi perkantoran siswa kelas XI APK 3 SMK Negeri 1 Surabaya tahun ajaran 2010/2011.




BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Identifikasi Masalah
          Permasalahan yang muncul dalam proses belajar mengajar sehingga mendasari penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan adalah rendahnya kemampuan siswa dalam menganalisis masalah yang bersifat penalaran. Di samping itu seringkali dalam membuat jurnal penyesuaian mata pelajaran administrasi perkantoran siswa masih mengalami banyak kesalahan dan menyepelekan pembelajaran Administrasi perkantoran.
B. Perencanaan
 Proses Penelitian putaran I (CI)
1.     Melaksanakan observasi dasar
Observasi dasar dilakukan kepada seluruh siswa kelas XI APK 3 SMK Negeri 1 Surabaya tahun ajaran 2010/2011 yang berjumlah 2 kelas. Observasi dasar dilaksanakan dalam kondisi siswa mengikuti pelajaran Administrasi perkantoran di dalam kelas. Waktu observasi dilaksanakan selama 2 kali pertemuan. Setiap pertemuan dilaksanakan selama dua jam pelajaran. Tujuan observasi dasar tersebut adalah: (1) untuk mengetahui seberapa besar motivasi siswa mengikuti pelajaran Administrasi perkantoran, (2) mengetahui bagaimana kemampuan siswa dalam menganalisis masalah berdasarkan penalaran,
2.     Latihan melaksanakan tindakan

Dalam latihan pelaksanaan tindakan kelas ini sebagai pelaksaannya adalah guru mata pelajaran yang berjumlah 2 orang. Pelaksanaan tindakan dilakukan dengan menggunakan system klasikal. Materi pelatihan berupa metode penerapan pemahaman psikologi belajar yang telah disiapkan secara matang oleh guru dan lama pelaksanaan selama 2 hari dengan waktu 2 jam pelajaran setiap pertemuan. Tujuan pelatihan ini untuk mengetahui bagaimana kesiapan guru untuk menerapkan metode ini dengan benar.



3.     Melaksanakan tindakan

Dalam pelaksanaan tindakan kelas ini sebagai pelaksananya adalah guru kelas yang berjumlah 2 orang. Pelaksanaan tindakan dilakukan dengan menggunakan system klasikal. Materi pelatihan berupa penerapan pemahaman psikolog belajar yang telah disiapkan secara matang oleh guru. Pelaksanaan tindakan dilakukan selama 4 kali pertemuan dengan waktu 2 jam pelajaran setiap pertemuan. Tujuan tindakan ini untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menganalisis masalah.

4.     Refleksi

Pada bagian ini, yang dikemukakan adalah seberapa hasil perubahan yang telah diperoleh dari pelatihannya. Selanjutnya dilaksanakan diskusi dengan tim peneliti. Hasil diskusi tersebut digunakan untuk menindaklanjuti hasil penelitian pada putaran pertama.

Proses Penelitian Putaran II (CII)
1. Melaksanakan pelatihan ulang kepada guru

          Pelatihan ulang dilaksanakan selama 2 kali pertemuan dengan tujuan mengoreksi dan memperbaiki kelemahan dan kekurangan pemberian tindakan putaran I.

2. Melaksanakan tindakan

          Dalam pelaksaan tindakan kelas ini sebagai pelaksanaannya adlah guru Administrasi perkantoran yang berjumlah 2 orang. Untuk melaksanakan tindakan ini dengan menggunakan system klasikal. Materi pelatihan berupa penerapan, pemahaman psikologi , lama pelaksanaan selama 4 hari dengan waktu masing-masing 2 jam pertemuan.

          Pada waktu pelaksanaan tindakan ini, guru melakukan observasi dengan tujuan sama seperti pada putaran pertama yakn: 1) untuk mengetahui seberapa besar motivsi siswa mengikuti pelajaran Administrasi perkantoran , 2) mengetahui berbagai kemampuan siswa dalam menganalisis maslah berdasarkan penalaran.





          Pada bagian ini, yang dikemukakan adalah seberapa hasil perubahan yang telah diperoleh dari pelatihan. Selanjutnya , dilaksanakan diskusi dengan tim peneliti, guru sebagai praktisi penelian. Hasil diskusi tersebut mencoba meningkatkan efektivitas penerapan pemahaman psikologi belajar secara tenstruktur terhadap mata pelajaran Administrasi perkantoran yang digunakan untuk menindaklanjuti hasil penelitian pada putaran kedua.

Proses Penelitian Putaran III (CIII)
1.     Melaksanakan pelatihan ulang kepada guru

Pelatihan ulang difokuskan pada metode meningkatkan motivasi belajar siswa melalui penerapan pemahaman psikologi belajar secara terstruktur. Pelatihan dilaksanakan selama 2 kali pertemuan denga tujuan mengoreksi dan memperbaiki kelemahan dan kekurangan pemberian tindakan putaran II yang khusus berkaitan dengan usaha meningkatkan partisipasi siswa dalam belajar.

2.     Melaksanakan tindakan

Dalam pelaksanaan tindakan kelas ini sebagai pelaksananya adalah guru yang berjumlah 2 orang. Untuk pelaksanaan tindakan ini tetap menggunakan system klasikal. Materi pelatihan berupa penerapan pemahaman psikologi belajar secara terstruktur dan lama pelaksanaan, selama 4 hari dengan waktu masing-masing dua jam pertemuan.

Pada waktu pelaksanaan tindakan ini, guru melakukan observasi dengan tujuan sama seperti pada putaran pertama dan kedua, yakni: 1) untuk mengetahui seberapa besar motivasi siswa mengikuti pelajaran Administrasi perkantoran, 2) mengetahui bagaimana kemampuan siswa dalam menganalisis masalah berdasarkan penalaran
      
 3. Refleksi
           
          Pada bagian ini, dikemukaan hasil perubahan yang telah diperoleh dri penerapan pemahaman psikologi belajar secara terstuktur. Selanjutnya, dilaksanakan diskusi dengan tim penelitian yaitu guru sebagai praktis peneliti. Hasil diskusi tersebut mencoba merumuskan efektivitas pemahaman psikologi belajar secara terstuktur terhadap mata pelajaran administrasi perkantoran yang digunakan untuk menindaklanjuti hasil penelitian pada putaran kedua.

C. Lokasi Penelitian

          Penelitian ini akan dilaksanakan disalah satu SMK Negeri 1 surabaya tahun ajaran 2010/2011 lebih memudakan proses penelitian meningkatkan hasil belajar siswa.




BAB IV

HASIL PENELITIAN




A. Deskripsi setting penelitian
         
          penelitian ini merupakan tindakan kelas. Adapun jenis tindakan yang diteliti adalah sebagai berikut. 1) untuk mengetahui seberapa besar motivasi siswa mengikuti pelajaran administrasi perkantoran, 2) mengetahui bagaimana kemampuan siswa dalam menganalisis masalah berdasarkan penalaran

B. Setting / subjek penelitian

          Setting atau lokasi PTK ini siswa XI APK 3 SMK Negeri 1 surabaya tahun ajaran 2010/2011 dengan jumlah siswa 24 ank

C. Laporan per siklus.

          1. Siklus 1
         
          Hasil pada siklus pertama, siswa dalam satu kelas dibagi menjadi 4 kelompok masing-masing 6 anak.





Kemampuan menganalisis masalah dalam menyelesaikan jurnal penyesuaian mata pelajaran administrasi perkantoran
Kelompok I
3 siswa
Kelompok II
2 siswa
Kelompok III
2 siswa
Kelompok IV
2 siswa



Motivasi belajar
Kelompok I
3 siswa
Kelompok II
3 siswa
Kelompok III
2 siswa
Kelompok IV
2 siswa

2. Siklus 2


Kemampuan menganalisis masalah dalam menyelesaikan jurnal penyesuaian mata pelajaran asministrasi perkantoran
Kelompok I
3 siswa
Kelompok II
5 siswa
Kelompok III
4 siswa
Kelompok IV
3 siswa
Motivasi belajar
Kelompok I
4 siswa
Kelompok II
3 siswa
Kelompok III
3 siswa
Kelompok IV
3 siswa

          3. Siklus 3

Kemampuan menganalisis masalah dalam menyelesaikan jurnal penyesuaian mata pelajaran administrasi perkantoran
Kelompok I
6 siswa
Kelompok II
6 siswa
Kelompok III
5 siswa
Kelompok IV
6 siswa
Motivasi belajar
Kelompok I
6 siswa
Kelompok II
5 siswa
Kelompok III
6 siswa
Kelompok IV
6 siswa
D. Pembahasan
         
          Hasil penelitian menunjukan bahwa optimalisasi pemahaman psikologi belajar dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam membuat jurnal penyelesaian mata pelajaran administrasi perkantoran melalui siswa kelas XI APK 3 SMK Negeri 1 surabya tahun ajaran 2010/2011 adalah memuaskan. Secara keselurahan hasil penelitian menunjukan adanya peningkatan, baik dalam menganalisis masalah maupun motivasi belajar siswa, seperti pada table berikut :


Tabel IV Profil Hasil Penelitian


Kemampuan menganalisis masalah memebuat juranal penyesuaian mata pelajaran administrasi perkantoran
Siklus
I
9
37,5%
II
15
62,5 %
III
23
95,8%
Motivasi belajar
Siklus
I
10
41,6%
II
13
54,1%
III
23
95,8%





BAB V

SIMPULAN DAN SARAN



A. Simpulan
         
          Hasil penelitian menunjukan bahwa optimalisasi pemahaman psikologi belajar dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam membuat jurnal penyelesaian mata pelajaran administrasi perkantoran melalui siswa kelas XI APK 3 SMK Negeri 1 surabya tahun ajaran 2010/2011 adalah memuaskan. Secara keselurahan hasil penelitian menunjukan adanya peningkatan baik dalam menganalisis masalah maupun motivasi belajar siswa.





B. Saran
         
          Teori belajar yang dianut berpengaruh terhadap kurikulum yang dibina. teori ilmu jiwa daya mengutamakan latihan mental yang diperoleh melalui bahan pelajaran, teori asosiasi mengutamakan penguasaan bahan pelajaran sendri, sedangkan teori gestalt mementingkan perkembangan pribadi anak dalam usahan memecahkan masalah-maslah yang dihadapinya dalam hidupnya.
          Teori belajar juga mempengaruhi proses dan kegiatan mengajar-belajar. Namun mengajar belum didukung oleh psikologi belajar yang diperkuat oleh eksperimentasi. Karena belajar dalam kelas banyak variabel yang tidak dapat dikuasai, maka percobaan kebanyakan dapat dilakukan tentang belajar menurut asosiasi.





DAFTAR PUSTAKA


Slameto, Drs belajar, dan factor-faktor yang mempengaruhinya reneka cipta. Jakarta 1995

Elita D. Noegroho. Aspek – aspek efektif dalam karakteristik siswa puspen unika atma jaya. Jakarta. 1982

Hamalik, oemar. Metode belajar dan kesulitan-kesulitan belajar. Tarsito bandung. 1975.

Keiter, dorthy. Apa rahasia belajar yang berhasil. Pusat bimbingan. Universitas Kristen satya wacana. Salatiga.

Moh. User usman, 1999 dan lilies setiawati, upaya optimalisasi kegiatan belajar mengajar, remaja rosdakarya, bandung.

………………., 2000, menjadi guru profersional, remaja rosdakarya, bandung.

Nana sudjana, 1988, cara belajar siswa aktif, sinar baru, Jakarta
.
Sutrisno hadi, 1989, metodologi research III, andi offset, yogyakarta.

Herman hudoyo, 1990 proses belajar mengajar yang efektif, Jakarta, sinar baru.

Warji, 1987, langkah-langkah pengajaran remedial , bandung, graham utama

Nasution, 2003. asas-asas kurikulum. Jakarta. Bumi aksara.
Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "DOWNLOAD KARYA TULIS ILMIAH PENDIDIKAN MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA DALAM MEMBUAT JURNAL PENYESUAIAN MATA PELAJARAN ADMINISTRASI PERKANTORAN MELALUI OPTIMALISASI PEMAHAMAN PSIKOLOGI BELAJAR SISWA KELAS XI "

PageRank

PageRank for wirajunior.blogspot.com
 
Template By Kunci Dunia
Back To Top