SILABUS DAN RPP BLOG

RPP lengkap Kurikulum 2013 dan KTSP

DOWNLOAD MAKALAH IPA PENERAPAN PENGEMBANGAN PERANGKAT YANG BERORIENTASI PADA MODEL PBI


A.    Latar Belakang
Mata pelajaran IPA di sekolah dikembangkan dengan mengacu pada perkembangan IPA yang ditujukan untuk mendidik siswa agar mampu mengembangkan observasi dan eksperimentasi. Kemampuan observasi untuk melakukan pengamatan dan eksparimentasi ini ditekankan pada melatih kemampuan berpikir eksperimen yang mencakup tata laksana percobaan atau prosedur metode ilmiah dalam percobaan dengan mengenal peralatan yang digunakan baik di dalam laboratorium maupun di alam sekitar kehidupan siswa (Kurikulum 2004 SMA, 2003).
Program Studi S1 PGSD diharapkan menghasilkan lulusan yang berkualitas dan profesional. Guru SD lulusan S-1 PGSD nantinya tidak hanya cukup berkemampuan sebagai pelaksana teknis pembelajaran saja, namun harus memiliki kemampuan untuk: a) mengembangkan diri secara terus menerus mengikuti perkembangan IPTEKS yang begitu pesat; b) mampu memecahkan berbagai permasalahan yang muncul dalam pendidikan dan pembelajaran, maupun dapat melakukan penelitian-penelitian untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pembelajaran. Di samping itu, lulusan PGSD juga harus mempunyai kemampuan: a) beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa; b) memiliki kesadaran tinggi sebagai warganegara dari masyarakat dan bangsa yang Pancasilais; c) menguasai cara berpikir, teori, generalisasi, konsep, prosedur, dan fakta yang penting sebagai dasar pengembangan pengetahuan lebih lanjut; d) memiliki pemahaman yang mendalam mengenai perkembangan kemampuan siswa SD dalam belajar; e) memiliki wawasan, sikap, dan keterampilan keguruan untuk mengembangkan proses dan pelaksanaan pendidikan di SD; f) memiliki kebiasaan, nilai dan kecenderungan pribadi yang menunjang pengembangan profesi guru;  g) memiliki kemampuan berkomunikasi secara sosial dan profesional di lingkungan sejawat maupun masyarakat (SKGK PGSD, 2007).
Untuk mencapai kemampuan tersebut, mahasiswa program S-1 PGSD dibekali dengan berbagai macam pengetahuan dan keterampilan baik melalui kegiatan kurikuler, kokurikuler, maupun ekstra kurikuler. Dalam kegiatan kurikuler, mahasiswa program S-1 PGSD mendapatkan berbagai macam mata kuliah yang kesemuanya bermuara pada satu tujuan untuk menyiapkan mereka menjadi guru yang profesional. Salah satu mata kuliah tersebut adalah Konsep Dasar IPA. Dalam mata kuliah ini diharapkan mahasiswa dapat memahami dan mengaplikasikan berbagai konsep IPA serta nantinya dapat membimbing siswa dalam mata pelajaran IPA dengan baik.
Proses pembelajaran IPA harus mengacu pada hakikat IPA baik IPA sebagai produk, proses, dan pengembangan sikap (Kurikulum 2004 SMA, 2003). Produk IPA berupa fakta, konsep, prinsip, teori, hukum, dan proses IPA, yaitu proses yang dilakukan oleh para ahli dalam menemukan produk IPA. Proses IPA di dalamnya terkandung cara kerja dalam melakukan percobaan dan cara berpikir secara ilmiah bagaimana untuk melakukan percobaan itu. Sedangkan sikap yang dikembangkan dalam pembelajaran IPA adalah sikap ilmiah yang antara lain terdiri atas obyektif, berhati terbuka, tidak mencampuradukkan fakta dan pendapat, bersifat hati-hati, dan ingin tahu.
Di samping itu, pembelajaran IPA harus menekankan pada pemberian pengalaman langsung dan kegiatan praktis untuk mengembangkan kompetensi agar mahasiswa mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pembelajaran IPA diarahkan untuk mencari tahu melalui berbuat/penyelidikan sehingga dapat membantu mahasiswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. Menurut Silaban (1999) dalam penelitiannya yang memanfaatkan perangkat pembelajaran yang menerapkan pembelajaran berdasarkan masalah hasilnya cukup efektif digunakan dalam pembelajaran fisika yang materinya memerlukan penyelidikan.
Selama ini pembelajaran mata kuliah konsep dasar IPA pada program S1 PGSD belum berjalan secara maksimal. Pada umumnya mahasiswa kurang terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran, serta mengutamakan penguasaan konsep-konsep IPA melalui hafalan yang berkaitan dengan teori/materi yang mereka pelajari dan jarang dikaitkan dengan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan di sisi lain, interaksi mahasiswa dengan lingkungan untuk menggali dan menemukan konsep-konsep IPA masih kurang yang mengakibatkan penguasaan proses IPA atau keterampilan proses masih kurang. Hal ini salah satu penyebabnya adalah pembelajaran yang dilakukan oleh dosen belum sepenuhnya mengacu pada proses serta belum tersedianya perangkat pembelajaran yang lengkap untuk mata kuliah Konsep Dasar IPA. Menurut Arends (1997) menyatakan bahwa “It is strange we expect students to learnyet seldom teach them about learning, we expect student to solve problems yetseldom teach them about problem solvingyang berarti dalam mengajar guru selalu menuntut siswa untuk belajar dan jarang memberikan pelajaran tentang bagaimana siswa untuk belajar, guru juga menuntut siswa untuk menyelesaikan masalah, tetapi jarang mengajarkan bagaimana siswa seharusnya menyelesaikan masalah.
Agar hal tersebut tidak terjadi pada pembelajaran konsep dasar IPA pada  S-1 PGSD,  maka dalam penelitian ini mencoba mengembangkan perangkat pembelajaran konsep dasar IPA yang mengacu pada model pembelajaran berdasarkan masalah yang selanjutnya diterapkan dalam pembelajaran konsep dasar IPA dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran di S-1 PGSD.
Dalam teori konstruktivis dijelaskan bahwa mahasiswa harus dapat menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi yang kompleks, mengecek informasi-informasi dengan aturan-aturan lama dan merivisinya apabila aturan-aturan tersebut tidak sesuai. Agar siswa benar-benar memahami dan menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, berusaha untuk menemukan ide-idenya (Slavin, 1994). Semua ini dapat tercapai dengan mengaktifkan atau melibatkan mahasiswa melalui penyelidikan nyata dan bekerja secara berkelompok untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya, sehingga mahasiswa dapat memahami konsep lebih baik, menambah daya ingat yang dapat memudahkan mentransfer pada proses belajar yang baru, mendorong siswa untuk belajar aktif dan berinisiatif, menimbulkan kepuasan bagi diri siswa, dan merangsang siswa untuk belajar lebih giat.
Pembelajaran berdasarkan masalah dipilih dengan pertimbangan bahwa pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan membantu mahasiswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga mahasiswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan dari satu permasalahan/konteks ke permasalahan/konteks lainnya.
Peranan guru pada pembelajaran berdasarkan masalah adalah mengorganisasikan lingkungan belajar dan sebagai fasilitator. Peranan-peranan yang lebih spesifik yakni guru sebagai; model, perencana, peramal, pemimpin, dan penunjuk jalan atau pembimbing ke arah pusat-pusat belajar. Dengan demikian pengetahuan yang diperoleh mahasiswa tentang IPA akan lebih bermakna dan juga penguasaan keterampilan proses mahasiswa akan lebih berkembang.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah Bagaimana hasil uji coba pengembangan perangkat pembelajaran yang berorientasi model pembelajaran berdasarkan masalah di kelas?
Permasalahan ini kemudian dijabarkan menjadi beberapa sub masalah untuk mempermudah pengambilan data menjadi sebagai berikut;
a.       Bagaimana keterlaksanaan sintaks pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran berdasarkan masalah?
b.      Bagaimana aktivitas mahasiswa selama proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan?
c.       Bagaimana hasil belajar mahasiswa setelah pembelajaran dengan menggunakan perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan?
d.      Bagaimana respon mahasiswa terhadap kegiatan pembelajaran dengan menggunakan perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan?
e.       Kesulitan/hambatan-hambatan apa saja yang muncul pada saat menerapkan perangkat pembelajaran yang berorientasi model pembelajaran berdasarkan masalah di kelas?

C.    Tujuan Penelitian
Sesuai dengan  rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut:
1.      Mengembangkan perangkat pembelajaran yang meliputi (1) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, (2) Buku Ajar Mahasiswa, (3) Lembar Kerja Mahasiswa, (4) Tes Hasil Belajar Produk, (5) Tes Hasil Belajar Proses, (6) Tes Hasil Belajar Psikomotorik.
2.      Mendeskripsikan keterlaksanaan sintaks-sintaks pembelajaran berdasarkan masalah yang telah dikembangkan.
3.      Mendiskripsikan aktivitas mahasiswa pada saat proses pembelajaran dengan menggunakan perangkat yang dikembangkan berorientasi model pembelajaran berdasarkan masalah.
4.      Mendiskripsikan hasil belajar mahasiswa setelah diberi perlakuan model pembelajaran berdasarkan masalah dengan perangkat yang telah dikembangkan.
5.      Mendiskripsikan respon mahasiswa terhadap proses pembelajaran yang menggunakan perangkat pembelajaran yang dikembangkan berorientasi model pembelajaran berdasarkan masalah.
6.      Mengidentifikasi hambatan-hambatan dalam mengembangkan perangkat pembelajaran dan pada saat mengimplementasikannya.
D.    Manfaat Penelitian
Dengan tercapainya tujuan penelitian ini maka manfaat yang diharapkan adalah tersedianya perangkat pembelajaran Konsep Energi yang berorientasi Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah, yang diharapkan dapat mencapai hal-hal berikut ini:
1.      Menjadi acuan bagi dosen dalam mengimplementasikan pengembangan perangkat yang berorientasi pada model pembelajaran berdasarkan masalah untuk konsep lain yang relevan bila diajarkan menggunakan model pembelajaran berdasarkan masalah.
2.      Membantu dosen dalam memperkaya pengetahuan tentang berbagai model pembelajaran termasuk model pembelajaran berdasarkan masalah, sehingga dosen dapat melatihkan keterampilan pemecahan masalah bagi mahasiswa.
3.      Apabila penelitian ini berhasil, maka perangkat dan metode yang digunakan dalam penelitian ini dapat menjadi acuan bagi dosen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Konsep Dasar IPA, dan untuk meningkatkan keterampilan proses mahasiswa sehingga IPA menjadi pelajaran yang diminati.

E.     Batasan dan Asumsi Penelitian
1.      Batasan Penelitian
Mengingat adanya keterbatasan waktu dan biaya penelitian, fasilitas jurusan, dan lain-lain, maka penelitian ini dibatasi sebagai berikut:
a.       Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa PGSD FIP Unesa angkatan 2007, dengan Subyek penelitian mahasiswa kelas E sebanyak 12 orang mahasiswa yang mengikuti Perkuliahan pada semester genap pada tahun akademik 2008/2009.
b.      Penelitian ini dilaksanakan pada Mata Kuliah Konsep Dasar IPA  Pokok Bahasan energi.


2.      Asumsi Penelitian
Berbagai asumsi penelitian yang dapat dikemukakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.       Nilai yang diperoleh mahasiswa menunjukkan kemampuan mahasiswa sebenarnya.
b.      Pengamat pada saat memberikan penilaian terhadap kemampuan dosen dalam mengelola pembelajaran dilakukan secara seksama, objektif, dan mandiri dalam menuangkan hasil pengamatannya pada lembar pengamatan.

F.     Penjelasan Istilah
1.      Perangkat Pembelajaran adalah sekumpulan sumber belajar yang memungkinkan guru dan siswa melakukan kegiatan pembelajaran. Pengembangan perangkat pembelajaran meliputi; Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, Buku Ajar Mahasiswa, Lembar Kerja Mahasiswa, Tes hasil belajar produk, Tes hasil belajar proses, Tes hasil belajar psikomotorik.

2.      Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah adalah suatu pendekatan pembelajaran dimana siswa mengerjakan permasalahan yang autentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri (Arends, 1997).





BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Instruction )

Secara garis besar Pembelajaran Berdasarkan Masalah terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri. Peranan guru dalam pengajaran ini adalah mengajukan masalah, memfasilitasi penyelidikan dan dialog siswa, serta mendukung belajar siswa. Pengajaran ini diorganisasikan pada situasi kehidupan nyata yang menghindari jawaban sederhana dan mengundang berbagai pemecahan yang bersaing.
Menurut Arends (1997), pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan yang autentik dengan maksud untuk menyususn pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri.

1.      Landasan Teoritik
Model pengajaran ini sangat efektif untuk mengajarkan proses-proses berpikir tingkat tinggi, membantu siswa memproses informasi yang telah dimilikinya, dan membantu siswa membangun sendiri pengetahuannya tentang dunia sosial dan fisik di sekelilingnya. Pengajaran berdasarkan masalah bertumpu pada psikologi kognitif dan pandangan para konstruktivis mengenai belajar. Model pengajaran ini juga sesuai dengan yang dikehendaki oleh prinsip-prinsip CTL yaitu; inkuiri, konstruktivis, dan menekankan pada berpikir tingkat lebih tinggi. (Sudibyo, 2003).


2.      Tujuan Hasil Belajar Siswa
Pembelajaran berdasarkan masalah tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. Pembelajaran berdasarkan masalah utamanya dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual serta belajar berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi.

3.      Tingkah laku Mengajar (Sintaks)
Dengan menggunakan model pembelajaran berdasarkan masalah  diharapkan guru dapat lebih jelas dalam memahami materi sehingga siswa juga dapat lebih mudah memahami materi yang sedang dipelajarinya.
Sesuai dengan sintaks model pembelajaran berdasarkan masalah fase ketiga yaitu membimbing penyelidikan individu maupun kelompok disini guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah yang sesuai dengan materi yang sedang dipelajari. Pembelajaran ini juga, memberikan kesempatan pada siswa untuk melakukan pelatihan dan menyajikan hasil karya serta pemberian umpan balik terhadap keberhasilan siswa terhadap pemecahan masalah berdasarkan eksperimen yang dilakukakan. Pada fase kelima menganalisis dan mengevaluasi proses pemcahan masalah dibutuhkan peran guru sangat besar untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan yang telah dilakukan oleh siswanya serta proses-proses yang mereka gunakan dalam penyelidikan tersebut. Kelima langkah tersebut dijelaskan berdasarkan langkah-langkah pada tabel 2.1.





Tabel 2.1.
Sintaks Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Fase-fase
Perilaku Guru
Fase 1
Orientasi siswa kepada masalah



Fase 2
Mengorganisasikan siswa untuk belajar




Fase 3
Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok





Fase 4
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya



Fase 5
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan alat dan bahan yang dibutuhkan, memotivasi siswa dengan menunjukkan fenomena yang terjadi di kehidupan sehari-hari.

Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi oleh siswa, dan membentuk kelompok belajar untuk memecahkan masalah tersebut.

Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai dengan masalah yang dihadapi, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah yang dilakukan secara berkelompok.

Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.

Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses yang mereka gunakan dalam memecahkan masalah yang dihadapi serta memberikan contoh penerapan dalam kehidupan sehari-hari.
(Sumber: Ibrahim & Nur,2005)
Karena penelitian ini merupakan penelitian pengembangan, maka hal pertama yang dilakukan adalah mengembangkan sintaks pembelajaran dari sintaks pembelajaran berdasarkan masalah. Berikut ini sintaks pembelajaran yang telah dikembangkan oleh peneliti kemudian diterapkan di kelas.
Tabel 2.2.
Pengembangan Sintaks Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Fase-fase
Perilaku Dosen
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan mahasiswa

Fase 2
Memunculkan masalah yang autentik




Fase 3
Membentuk kelompok kerja untuk memecahkan masalah yang dihadapi

Fase 4
Membimbing pengamatan dan penyelidikan individu maupun kelompok dalam memecahkan masalah



Fase 5
Mengembangkan dan mempresentasikan hasil kerja kelompok




Fase 6
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah dari masing-masing kelompok

Dosen menjelaskan tujuan pembelajaran yang berkaitan dengan energi, menjelaskan alat dan bahan yang dibutuhkan.

Memotivasi mahasiswa dengan menunjukkan fenomena yang terjadi di kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan materi energi. Misalnya merangkai kit listrik kemudian dosen menanyakan pada mahasiswa perubahan energi apa yang terjadi pada rangkaian listrik?

Dosen membantu mahasiswa mengorganisasikan tugas belajar dan membentuk kelompok belajar untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

Dosen mendorong mahasiswa untuk mengumpulkan informasi dan sumber yang sesuai dengan masalah yang dihadapi, melaksanakan eksperimen/percobaan untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah yang dilakukan secara individu maupun berkelompok.

Dosen membantu mahasiswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, model dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya, sehingga semua anggota kelompok bekerja untuk mendapatkan hasil yang bagus dan sesuai dengan masalah yang dihadapi.

Dosen membantu mahasiswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses yang mereka gunakan dalam memecahkan masalah yang dihadapi serta memberikan contoh penerapan.
Berdasarkan tabel 2.2 yang berkaitan dengan pengembangan sintaks pembelajaran berdasarkan masalah dapat diketahui bahwa peran dosen di dalam Pembelajaran Berdasarkan Masalah antara lain:
1.      Mengajukan masalah atau mengorientasikan mahasiswa pada masalah autentik, yaitu masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari.
2.      Memfasilitasi atau membimbing penyelidikan yang dilakukan baik individu maupun kelompok misalnya melakukan pengamatan atau melakukan eksperimen.
3.      Memfasilitasi dialog  mahasiswa.
4.      Mendukung belajar mahasiswa.

B. Teori belajar yang melandasi Pembelajaran Berdasarkan Masalah
1.      Teori belajar konstruktivisme
Teori konstruktivis menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai. Bagi siswa agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan bekerja keras dengan ide-ide. Teori ini berkembang dari hasil kerja Piaget, Vygotsky, teori-teori pemrosesan informasi, dan teori psikologi kognitif yang lain, seperti teori Bruner (Nur & Wikandari, 1998).
Menurut Piaget (Nur,2005) menyatakan bahwa siswa dalam segala usia secara aktif terlibat dalam proses perolehan informasi dan membangun pengetahuan mereka sendiri. Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan memberi kesempatan pada siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Dalam hal ini guru dapat memberi siswa anak tangga yang membawa siswa ke pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa yang harus memanjat anak tangga tersebut (Nur & Wikandari,1998).

2.      Teori Ausubel
Inti dari teori ausubel adalah pembelajaran yang bermakna. Pembelajaran yang bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang (Dahar,1988). Pernyataan inilah yang menjadi inti dari teori Ausubel. Dengan demikian agar menjadi pembelajaran bermakna, konsep baru atau informasi baru harus dikaitkan dengan konsep-konsep yang sudah ada dalam struktur kognitif siswa.
Berdasarkan teori Ausubel, dalam membantu siswa menanamkan pengetahuan baru dari suatu materi pelajaran, sangat diperlukan konsep-konsep awal yang dikaitkan dengan konsep yang sudah dimiliki oleh siswa berdarkan pengalaman mereka sendiri. Sehingga konsep itu mudah untuk dipahami dan dimengerti oleh siswa, jika dikaitkan dengan pengajaran berdasarkan masalah, dimana siswa mampu menyelesaikan permasalahan yang autentik berdasarkan konsep awal yang sudah mereka miliki.

3.      Teori Bruner
Teori Bruner disebut juga dengan belajar penemuan (Discovery Learning). Bruner menganggap bahwa belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia, dan dengan sendirinya memberi hasil yang lebih baik. Karena siswa akan berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna (Dahar, 1988)
Bruner juga menyarankan agar siswa hendaknya belajar melalui partisipasi secara aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip untuk memperoleh pengalaman dan menemukan prinsip-prinsip itu sendiri.
C.    Analisis Materi Pelajaran
Energi merupakan konsep yang sangat abstrak. Energi tidak memiliki massa, tidak dapat diamati, tidak dapat diukur secara langsung. Energi hanya dapat diamati atau dirasakan perubahannya. Aspek yang paling penting dari semua jenis energi adalah energi total tetap sama setelah proses apapun dengan jumlah sebelumnya. Dengan demikian energi dapat didefinisikan sebagai besaran yang kekal.
Secara tradisional energi didefinisikan sebagai kemampuan untuk melakukan kerja, yakni menyebabkan sesuatu berubah. Hubungan ini memberikan definisi umum bahwa energi adalah kemampuan untuk menyebabkan perubahan. Secara umum ada dua energi dasar yaitu energi kinetik dan energi potensial.

1.      Energi Kinetik
Sebuah benda yang sedang bergerak memiliki kemampuan untuk melakukan kerja dengan demikian dapat dikatakan memiliki energi yang disebut dengan energi kinetik (Giancoli, 2001). Energi kinetik adalah energi yang dimiliki suatu benda yang  bermassa m yang sedang bergerak dengan kecepatan v tertentu. Energi kinetik benda yang sedang bergerak hanya bergantung pada besar kecepatannya (lajunya) dan bukan pada arah ke mana benda itu bergerak atau pada proses yang mengatur geraknya (Sears Zemansky, 2001). Jadi dapat disimpulkan bahwa energi kinetik adalah energi yang dimiliki suatu benda yang sedang bergerak.
Energi gerak disebut energi kinetik, dari bahasa Yunani Kinetikos yang berarti gerak. Besar energi kinetik benda ditentukan oleh massa benda dan kecepatan gerak benda, yang secara matematis dituliskan sebagai berikut :
                                                                                       …..(1)


Ftot
 
                    

Gambar 2.1 Gaya total konstan F mempercepat benda dari laju v1 sampai v2, sepanjang jarak d. Kerja yang dilakukan adalah Wtot = F d
Jika ada sebuah benda yang berpindah dari satu titik ke titik yang lain seperti pada gambar 2.1 maka kerja total yang dilakukan pada benda tersebut adalah :
F.d                                                                                     ……(2)

                                                                      ……(3)

                                                                                    ..…..(4) (Giancoli, 2001).
Dari persamaan 4 dapat diketahui bahwa kerja yang dilakukan pada sebuah benda sama dengan perubahan energi kinetiknya.
2.      Energi Potensial
Energi potensial adalah energi yang dikaitkan dengan gaya yang bergantung pada posisi dan sekelilingnya (Giancoli, 2001). Jadi energi potensial merupakan energi yang dimiliki benda karena kedudukannya. Energi potensial ada beberapa jenis misalnya energi potensial gravitasi dan energi potensial pegas.
a.      Energi Potensial Gravitasi
Energi Potensial Gravitasi adalah energi potensial  benda disebabkan karena gaya gravitasi bumi (Giancoli, 2001). Jika sebuah benda bermassa m yang bergerak ke bawah sepanjang sumbu y (gambar 2.2a). Gaya-gaya yang bekerja pada benda adalah beratnya sendiri yang besarnya  w = m g, dan gaya-gaya lain yang resultannya sama dengan Flain. Untuk perpindahan yang terjadi di dekat permukaan bumi, mengakibatkan perbedaan gaya gravitasi akibat jarak dari pusat bumi diabaikan. Jika benda jatuh dari ketinggian y1 ke y2, maka usaha Wgrav yang dilakukan oleh beratnya sendiri adalah
Wgrav =F.s = w (y2y1)
          = (m g y2 – m g y1)                                                        .......(5)    
Karena y2 lebih kecil dari y1 maka harga Wgrav berharga negatif



                  




Gambar 2.2 sebuah benda bermassa m yang bergerak ke bawah dan keatas sepanjang sumbu y
(Giancoli, 2001:189)
Jika benda bergerak ke atas dari ketinggian yang y1 menuju ketinggian y2 seperti gambar 2.2b. Berat benda w dan pergeserannya berlawanan, maka usaha gaya gravitasi adalah
Wgrav = -w (y2 – y1) = -(mgy2 – mgy1)                          .......(6)    
Usaha gaya gravitasi, hanya bergantung pada ketinggian permulaan dan akhir saja, dan bukan pada bentuk lintasan. Kalau titik-titik ini berada pada ketinggian yang sama, maka usahanya adalah nol. Hasil kali antara berat mg dari benda itu dengan tinggi y dari pusat beratnya di atas bidang patokan, disebut energi potensial gravitasi EP.
            EP (gravitasi) = m g y                                                 ….(7)
Dalam pembahasan di atas, karena perpindahan terjadi di dekat permukaan bumi sehingga gaya gravitasi terhadap suatu benda dapat dianggap konstan.
Jika kita tinjau kejadian yang lebih umum, gaya w dalam gambar 2 adalah gaya tarik gravitasi yang dilakukan bumi terhadap benda itu, dan rumus umum untuk gaya ini adalah
w =                                                                             …(8)
Dengan G adalah gaya gravitasi bumi, mE adalah massa bumi dan r adalah jarak dari pusat bumi. Apabila  r bertambah dari r1 menjadi r2, usaha gaya gravitasi adalah
   wgrav =-GmmE =-                                ...(9)    
Besaran -G(mmE/r) merupakan rumus umum untuk energi potensial gravitasi sebuah benda yang ditarik oleh bumi :
            Ep (gravitasi) = -                                            ....(10)
Energi  mekanik total benda, menjadi
            EM = Ek + Ep = ½ m v2 -                                ....(11) (Sears Zemansky, 2001)   
Dalam  persamaan di atas terdapat tanda negatif karena hal ini tergantung pada pemilihan tinggi patokan pada mana energi poternsial itu dianggap nol. bila kita tentukan EP = 0 maka r = ¥
Artinya, energi potensial gravitasi sebuah benda dianggap nol apabila benda itu terletak jauh tak hingga dari bumi (Sears Zemansky, 2001:169). Energi potensial semakin kecil jika benda itu bertambah dekat bumi, maka energi petensial itu haruslah negatif pada sembarang jarak yang terhingga dari bumi. Maksudnya, Energi potensial semakin kecil apabila jaraknya dari pusat bumi bertambah kecil dari r1 menjadi r2 sehingga energi potensialnya berharga negatif.
b. Energi  Potensial Elastik
Salah satu bentuk EP yang berkaitan dengan bahan-bahan elastik yaitu energi potensial elastis. Suatu contoh sederhana, tinjau suatu kumparan pegas sederhana dalam gambar 2.3.




Jika pegas ditarik secara perlahan-lahan dengan gaya yang sama dan berlawanan dengan gaya yang dikerjakan oleh pegas, maka pegas akan memanjang. Karena pegas memberikan gaya F = -k.x, sehingga harus diberikan gaya yang sama dan berlawanan yaitu Fluar = k.x untuk menarik pegas. 
Usaha yang dilakukan oleh gaya luar tersebut adalah
Wluar =  
=  = ½ kx2                                                            .....(12)
Usaha yang diberikan pada pegas ini akan tersimpan sebagai energi potensial pegas. Jadi, persamaan energi potensial pegas adalah
EP = ½ kx2                                                                               .....(13)
3.      Gaya Konservatif
Gaya yang memindahkan benda dalam medan konservatif disebut Gaya Konservatif. Medan konservatif terjadi jika usaha yang dilakukan gaya dari suatu kedudukan ke kedudukan yang lain adalah sama untuk sembarang lintasan yang melalui dua kedudukan tersebut. Gaya konservatif adalah gaya-gaya dimana kerja yang dilakukan tidak bergantung pada lintasan yang ditempuh tapi hanya pada posisi awal dan akhir (Giancoli, 2001). Contoh gaya konservatif adalah gaya gravitasi dan gaya pegas.

Tiga lintasan dalam ruang yang menghubungkan titik 1 dan 2. Jika usaha yang dilakukan oleh gaya konservatif adalah W, maka usaha yang dilakukan pada perjalanan sebaliknya melalui lintasan b adalah –W. Usaha yang dilakukan oleh gaya konservatif dalam lintasan tertutup adalah sama dengan nol. Jadi, gaya yang dilakukan oleh gaya konservatif ketika benda bergerak dari titik 1 ke titik  2 adalah sama untuk setiap lintasan yang menghubungkan kedua titik itu.
Apabila sebuah benda digerakkan dari suatu posisi ke suatu posisi lain (gambar 2.4), maka usaha-usaha gaya gravitasi tidak bergantung pada lintasannya dan sama dengan selisih antara harga akhir dan harga awal yang disebut dengan energi potensial grafitasi. Jika hanya gaya grafitasi yang bekerja pada benda itu, energi mekanik total adalah konstan atau kekal. Jika benda naik, energi potensial grafitasi semakin besar dan energi kinetik semakin kecil, tetapi jika benda sedang turun, energi potensial grafitasi semakin kecil (berkurang) sedangkan energi kinetik semakin besar. Gaya yang menyebabkan perubahan energi kinetik menjadi energi potensial dan sebaliknya selalu kekal disebut gaya konservatif. Secara singkat, usaha yang dilakukan gaya konservatif selalu memenuhi sifat-sifat sebagai berikut :
1.            Selalu dapat dinyatakan sebagai perbedaan antara nilai energi potensial mula-mula dan energi potensial akhir.
2.            Tidak bergantung pada lintasan, tetapi hanya bergantung pada keadaan awal dan keadaan akhir.
3.            Jika benda bergerak dalam lintasan tertutup, usahanya selalu sama dengan nol.

4.      Gaya Non Konservatif
Tidak semua gaya bersifat konservatif. Suatu gaya disebut tak konservatif jika usaha yang dilakukan oleh gaya itu pada sebuah partikel yang bergerak menempuh sebarang putaran perjalanan sampai kembali ke titik semula tidak sama dengan nol (David Halliday dan Robert Resnick, 1987). Contoh gaya yang tidak bersifat konservatif adalah gaya tarikan atau dorongan yang diberikan kepada suatu benda dan juga gaya gesek. Apabila sebuah benda diluncurkan diatas permukaan kasar kembali ke posisinya semula, gaya gesekan akan membalik, dan tidak akan mengembalikan usaha yang sudah dilakukan pada perpindahan semula, bahkan tidak ada usaha untuk mengembalikan benda itu. Jika hanya ada gaya gesekan yang bekerja, energi mekanik total tidak kekal. Jadi gaya gesekan dinamakan gaya non konservatif atau gaya disipatif. Energi mekanik sebuah benda hanya akan kekal jika tidak ada gaya disipatif bekerja padanya (Sears Zemansky, 2001)
5.      Energi Mekanik
Energi mekanik adalah jumlah antara energi kinetik dan energi potensial. Prinsip yang berguna dan penting mengenai energi mekanik yaitu bahwa energi tersebut merupakan besaran yang kekal. Energi mekanik tetap konstan selama tidak ada gaya nonkonservatif yang bekerja : (Ek + Ep) pada titik 1 awal sama dengan : (Ek + Ep) pada titik 2 berikutnya. Yang biasanya dinyatakan dengan DEp = - DEk, dengan demikian jika energi kinetik bertambah maka energi potensial pasti berkurang dengan besar yang sama. Dengan demikian prinsip kekekalan energi mekanik untuk gaya-gaya konservatif adalah Jika hanya gaya-gaya konservatif yang bekerja, energi mekanik total dari sebuah sistem tidak bertambah maupun berkurang pada proses apapun.










 
 








Salah satu contoh hukum kekekalan energi mekanik adalah sebuah batu yang dijatuhkan kebawah (gambar 2.5). Pada kdudukan tertinggi (y1), EP maximum. Saat batu jatuh, EP berkurang karena ketinggian berkurang, tapi Ek bertambah seiring dengan brtambahnya kecepatan., sehingga jumlah keduanya tetap. Saat batu menumbuk lantai, Ek maximum dan EP minimum karena ketinggian nol. Pada setiap titik sepanjang lintasan, energi mekanik total adalah
EM = Ek + EP                                                               ….(14)
Jika tidak ada gaya luar benda, maka energi mekanik pada benda tersebut tetap. Secara umum, Hukum kekekalan energi mekanik sebagai berikut :
    =                                                                                                     
    +  =  +                                                        ….(15)
                   mgh1 + ½ mv12 = mgh2  + ½ mv22                                                 ….(16)
            (Giancoli, 2001)
6.      Bentuk–bentuk lain dari Energi, Perubahan Energi  dan Kekekalan Energi.
Di samping energi kinetik dan energi potensial dari benda-benda biasa, juga terdapat bentuk-bentuk energi lain yaitu energi listrik, energi nuklir, energi panas, energi kimia yang tersimpan dalam makanan dan bahan bakar serta masih banyak lagi energi-energi yang lain.
Dengan munculnya teori atom, bentuk-bentuk energi yang lain ini dianggap sebagai energi kinetik atau potensial pada tingkat atom atau molekul. Sebagai contoh, menurut teori atom, energi panas diinterpretasikan sebagai energi kinetik dari molekul-molekul yang bergerak cepat jika benda dipanaskan, molekul-molekul yang membentuk benda itu bergerak lebih cepat. Dipihak lain, energi yang tersimpan pada makanan dan bahan bakar seperti bensin dapat dianggap sebagai energi potensial yang tersimpan berdasarkan posisi relatif atom-atom dalam molekul yang disebabkan oleh gaya listrik antar atom (disebut sebagai ikatan kimia). Agar energi pada ikatan kimia dapar digunakan untuk melakukan kerja, energi tersebut harus dilepaskan, biasanya melalui reaksi kimia.hal ini analog dengan pegas tertekan yang jika dilepaskan bisa melakukan kerja. Enzim pada tubuh kita memungkinkan pelepasan energi yang tersimpan pada molekul makanan. Masih banyak energi-energi yang lain yang dapat dianalogikan dengan energi potensial dan energi kinetik.
Salah satu hasil fisika yang hebat adalah yang didapat pada proses tersebut adalah hukum kekekalan energi, yang dinyatakan sebagai : "Energi total tidak berkurang dan juga tidak bertambah pada proses apapun. Energi dapat diubah dari satu bentuk kebentuk lainnya, dan dipindahkan dari satu benda ke benda lainnya tetapi jumlah totalnya tetap konstan "  (Giancoli, 2001).
Hukum ini merupakan salah satu hukum yang paling penting dalam semua bidang ilmu. Misalkan Esis adalah energi total suatu sistem tertentu Ein adalah energi yang masuk dan Eout adalah energi yang keluar dari sistem. Maka hukum kekekalan energi menyatakan:
                                                                    …(16)

D.    Model Pengembangan Perangkat Pembelajaran
Model pengembangan perangkat yang digunakan pada penelitian ini yaitu model pengembangan perangkat 4-D seperti yang disarankan oleh Thiargarajan, Semmel, dan Semmel. Secara garis besar model pengembangan perangkat 4-D (Ibrahim, 2003) memiliki beberapa tahap; Tahap pertama yaitu pendefinisian  (define), ada 5 langkah pokok di dalam tahap ini, yaitu: (1) Analisis kebutuhan, (2) Analisis siswa,  (3) Analisis tugas, (4) Analisis konsep, (5) Perumusan tujuan. Tahap kedua yaitu perancangan (design) pada tahap ini dilakukan: (1) penyusunan tes, (2) pemilihan media, (3) pemilihan format, (4) rancangan awal perangkat.
Tahap ketiga yaitu pengembangan (develop), meliputi: (1) Validasi perangkat oleh pakar atau ahli, (2) Simulasi, (3) Uji coba terbatas, (4) Uji coba lanjut. Tahap keempat yaitu penyebaran (disseminate), merupakan tahap penggunaan perangkat yang telah digunakan pada skala yang lebih luas misalnya di kelas lain, di instansi lain, oleh dosen lain.
Adapun alasan peneliti memilih model pengembangan perangkat 4-D, karena pengembangan perangkat model 4-D memiliki beberapa kelebihan antara lain;
1.      Model 4-D merupakan model desain yang dimulai dengan tahap define sehingga pengembangan perangkat sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa, tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran sehingga perangkat yang dikembangkan disesuaikan dengan siswa yang akan diajar menggunakan perangkat tersebut.
2.      Dalam model 4-D juga terdapat tahap develop terutama pada tahap ini adanya validasi pakar atau ahli sehingga perangkat yang digunakan lebih valid dan layak untuk digunakan dalam pembelajaran.

E.     Penelitian yang relevan
1.        Rawi (2005) dalam penelitiannya tentang implementasi PBI dengan prinsip kooperatif menunjukkan bahwa pembelajaran dapat memperbaiki kesulitan siswa SMA dalam menyelesaikan soal bercirikan keterampilan proses.
2.        Suharto (2005) dalam penelitiannya tentang peningkatan kualitas belajar mengajar biologi di SMA bahan kajian lingkungan dengan model PBI menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran cukup efektif untuk diterapkan namun perlu disesuaikan dan kondisi sekolah.
3.        Lia Laela Sarah, Setiya Utari, Parsaoran Siahaan (2005) dalam penelitiannya tentang Pengembangan model pembelajaran PBI untuk meningkatkan hasil belajar siswa menunjukkan bahwa terdapat peningkatan hasil belajar pada ranah kognitif, psikomotor dan afektif kecuali indikator mengkomunikasikan hasil penyelidikan. Selain itu diperoleh bahwa setiap seri pembelajaran memiliki efektivitas yang cukup dan membentuk pola grafik yang cenderung mengalami peningkatan.
4.        Kurnia (2004) dalam penelitiannya tentang Meningkatkan hasil belajar matematika siswa SMU melalui pembelajaran berdasarkan masalah dengan metode penemuan : studi eksperimen pada SMUN 15 Bandung dan SMU Kartika Chandra III-2 Bandung menunjukkan bahwa hasil belajar siswa kelompok eksperimen lebih baik dibandingkan kelompok kontrol. Dengan mengacu pada kurikulum 1994, kedua kelompok belum dapat mencapai ketuntasan belajar kelas. Namun secara individual, baik di SMUN 15 Bandung, maupun di SMU Kartika Chandra III-2 Bandung ketuntasan belajar kelompok eksperimen lebih baik dibandingkan kelompok kontrol. Dari segi lainnya, model pembelajaran ini dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar di kelas, yang pada akhirnya diperoleh respon yang positif terhadap matematika.

F.     Kerangka Konseptual
Berdasarkan beberapa hasil penelitian yang telah dikemukakan di atas nampak bahwa pembelajaran yang berorientasi model pembelajaran berdasarkan masalah berdampak positif baik bagi siswa maupun terhadap guru.
Berdasarkan bukti-bukti empiris serta kajian teori yang mendukung menjadi harapan peneliti dalam mengembangkan suatu perangkat pembelajaran yang berorientasi model pembelajaran berdasarkan masalah yang dapat dijadikan solusi dalam meningkatkan kualitas pembelajaran IPA SD. Visualisasi kerangka konseptual peneliti dapat disajikan seperti pada gambar 2.6.

G.    Hipotesis
 Berdasarkan kajian pustaka peneliti berhipotesis:
“Kualitas pembelajaran konsep energi di PGSD dengan menggunakan pengembangan perangkat yang berorientasi pembelajaran berdasarkan masalah lebih baik daripada kualitas pembelajaran Konsep energi di PGSD secara konvensional yang biasa dilakukan dosen



T1  :  Pretes (pemberian tes sebelum pembelajaran)
T2  :  Postes (pemberian tes setelah pembelajaran)
Xa :  Pembelajaran dengan menerapkan perangkat  pembelajaran yang telah dikembangkan oleh peneliti.



C.    Subyek  Penelitian
Subyek penelitian ada 2 yaitu 1) subyek pengembangan perangkat yang meliputi RPP, Buku ajar siswa, dan LKM; 2) subyek uji coba perangkat yang telah dikembangkan adalah mahasiswa PGSD yang mengikuti pembelajaran Mata Kuliah Konsep Dasar IPA pada semester genap tahun akademik 2008/2009 yaitu kelas E sebanyak 12 orang mahasiswa. Pertimbangan peneliti dalam penetapan jurusan PGSD adalah fasilitas jurusan dalam hal ini sarana dan prasarana tersedia, jurusan PGSD terbuka dalam menerima inovasi dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran, dan atas saran dari ketua jurusan PGSD sehingga produk perangkat yang dihasilkan dapat diterapkan pada jurusan PGSD ke depan.

D.    Waktu  Penelitian
Uji coba I dilaksanakan  dari tanggal 21 s/d 23 Mei 2008 di Jurusan PGSD FIP Unesa.

E.     Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
1.      Variabel bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah penggunaan perangkat pembelajaran yang berorientasi pada model pembelajaran berdasarkan masalah pada pokok bahasan energi yang telah dikembangkan oleh peneliti.
2.      Variabel Terikat
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kualitas pembelajaran yang dilihat dari aspek  keterlaksanaan sintaks, aktivitas mahasiswa, hasil tes belajar mahasiswa, dan respon mahasiswa setelah pembelajaran dengan menggunakan perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan.


3.      Variabel Kontrol
Variabel kontrol dalam penelitian ini adalah materi pembelajaran, waktu belajar, kemampuan awal mahasiswa diperoleh dengan cara memberikan pretest sebelum diberikan pembelajaran dengan menggunakan perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan.

F.     Desain Pengembangan Perangkat Pembelajaran
Pengembangan perangkat pembelajaran dalam penelitian ini mengadaptasi pengembangan perangkat Model 4–D yang dikemukakan oleh Thiagarajan, Semmel dan Semmel (Ibrahim, 2003). Proses pengembangan terdiri dari empat tahap yaitu define (pendefinisian), design (perancangan), develop (pengembangan), dan disseminate (penyebaran). Karena hasil penelitian ini tidak disebarkan pada Instansi/Lembaga lain (selain tempat penelitian) maka hanya digunakan tiga tahap, yaitu sampai tahap pengembangan. Gambar 3.1 menunjukkan diagram alir pengembangan perangkat yang mengadaptasi model 4D menjadi 3D.


Untuk memperjelas diagram Model 3D, masing-masing tahap secara singkat dapat digambarkan sebagai berikut:
1.                        Tahap Define (Pendefinisian)
Tujuan tahap ini adalah menetapkan dan mendefinisikan syarat-syarat pembelajaran. Penetapan tahap ini dilakukan dengan menganalisis tujuan dan batasan materi pelajaran. Ada lima langkah kegiatan dan tahap define, yaitu:
a.      Analisis Ujung Depan
Tujuan analisis ujung depan adalah untuk menemukan masalah dasar yang dapat diselesaikan dengan pengembangan bahan pembelajaran. Hasil analisis ujung depan berupa penentuan bahan kajian, yaitu energi, penyusunan LKM, penyusunan rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP, pemilihan media, alat dan bahan ajar).
b.      Analisis Mahasiswa
Sangatlah penting pada awal perencanaan diperhatikan ciri, kemampuan, dan pengalaman mahasiswa, baik sebagai kelompok maupun perorangan. Analisis mahasiswa meliputi karakteristik mahasiswa antara lain: kemampuan akademik, usia dan tingkat kedewasaan, motivasi terhadap mata perkuliahan, pengalaman, keterampilan mekanis, kemampuan bekerja sama dan ciri-ciri sosial. Berdasarkan tingkat perkembangan Piaget, mahasiswa telah berada dalam tahap operasi formal, yaitu mahasiswa mampu berpikir abstrak dan memahami kemungkinan yang akan terjadi. Dalam hal ini sudah dapat menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih baik dan kompleks daripada anak yang di dalam tahap operasional konkrit. Jadi anak mempunyai kemampuan menganalisis dan mengevaluasi (Slavin,1997)
c.       Analisis Tugas
Sesuai dengan pokok bahasan yang dipilih yaitu energi, maka berdasarkan kurikulum PGSD 2006 diperoleh analisi sebagai berikut.

1)      Analisis Struktur Isi
Pada kurikulum PGSD 2006 untuk mata kuliah Konsep Dasar IPA, untuk pokok bahasan energi adalah sebagai berikut: (1) pengertian energi, (2) bentuk-bentuk energi, (3) perubahan energi, (4) hukum kekekalan energi, (5) energi potensial, (6) energi kinetik, dan (7) energi mekanik.
2)      Analisis Prosedural
Analisis prosedural digunakan untuk mengidentifikasi tahap-tahap penyelesaian tugas sesuai dengan bahan kajian. Berdasarkan analisis struktur isi maka analisis prosedural dalam pembelajaran ditunjukkan oleh gambar 3.2-3.4.
e.       Perumusan Tujuan
Untuk bahan pokok bahasan energi dapat disusun tujuan pembelajaran atau indikator sebagai berikut.
1)        Rencana Pelaksanaan Pembelajaran I
Sub Konsep:
Pengertian energi
Bentuk-bentuk energi
a)      Indikator Produk
Setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar, mahasiswa diharapkan dapat:
(1)   Mendefinisikan konsep energi.
(2)   Memberikan contoh-contoh bentuk energi dalam kehidupan sehari-hari.
(3)   Menggunakan satuan-satuan energi dengan tepat.
(4)   Menjelaskan bentuk-bentuk energi yang dimiliki suatu benda.
b)     Indikator Proses
Setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar melalui pengamatan dan percobaan, mahasiswa diharapkan dapat:
(1)   Merumuskan hipotesis.
(2)   Mengidentifikasi variabel kontrol dan manipulasi.
(3)   Mengidentifikasi variabel respon.
(4)   Menarik kesimpulan.
(5)   Mengembangkan dan mempresentasikan hasil karyanya.
c)      Indikator Psikomotor
Setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar, mahasiswa diharapkan dapat terampil merancang percobaan sederhana tentang energi.

2)        Rencana Pelaksanaan Pembelajaran II
Sub Konsep:
Perubahan energi
Hukum kekekalan energi
a)      Indikator Produk
Setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar, mahasiswa diharapkan dapat:
(1)     Menyebutkan bunyi hukum kekekalan energi.
(2)     Menjelaskan perubahan bentuk energi yang terjadi pada suatu benda.
(3)     Menganalisis perubahan bentuk energi pada beberapa peristiwa dalam kehidupan sehari-hari.
(4)     Menghubungkan konsep hukum kekekalan energi dengan konsep perubahan bentuk energi.
(5)     Menentukan yang paling tepat dalam upaya penghematan energi.
b)     Indikator Proses
Setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar melalui pengamatan dan percobaan, mahasiswa diharapkan dapat:
(1)   Merumuskan hipotesis.
(2)   Mengidentifikasi variabel kontrol.
(3)   Mengidentifikasi variabel manipulasi.
(4)   Mengidentifikasi variabel respon.
(5)   Menarik kesimpulan.
(6)   Mengembangkan dan mempresentasikan hasil karyanya.


c)      Indikator Psikomotor
Setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar, mahasiswa diharapkan dapat terampil merangkai kit listrik.
3)        Rencana Pelaksanaan Pembelajaran III
Sub Konsep:
Energi potensial
Energi kinetik
Energi mekanik

a)      Indikator Produk
Setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar, mahasiswa diharapkan dapat:
(1)   Mendefinisikan pengertian energi potensial dan energi kinetik.
(2)   Menjelaskan bahwa energi mekanik terdiri dari energi potensial dan energi kinetik.
(3)   Menentukan besar energi potensial dan energi kinetik yang dimiliki suatu benda.
(4)   Menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi energi potensial dan energi kinetik.
(5)   Menentukan hubungan antara energi potensial,energi kinetik dan energi mekanik.

b)     Indikator Proses
Setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar melalui pengamatan dan percobaan, mahasiswa diharapkan dapat:
(1)   Merumuskan hipotesis.
(2)   Mengidentifikasi variabel kontrol.
(3)   Mengidentifikasi variabel manipulasi.
(4)   Mengidentifikasi variabel respon.
(5)   Menarik kesimpulan.
c)      Indikator Psikomotor
Setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar, mahasiswa diharapkan dapat:
(1)   Terampil menggunakan stopwatch.
(2)   Terampil menggunakan penggaris.
2)                      Tahap  Design (Perancangan)
Tujuan tahap ini adalah merancang prototype perangkat pembelajaran. Dalam tahap ini dilakukan penyusunan tes, pemilihan media, dan pemilihan format.
a)        Penyusunan Tes
Penyusunan tes merupakan langkah yang menjembatani tahap pendefinisian dan perancangan. Tes merupakan suatu alat ukur untuk mengukur terjadinya perubahan tingkah laku pada diri mahasiswa setelah berlangsung serangkaian kegiatan belajar mengajar. Perubahan tingkah laku mahasiswa yang diharapkan berupa produk, proses, dan psikomotor. Tes disusun berdasarkan indikator yang telah dirumuskan. Dalam tabel 3.2 berikut ini disajikan jenis, dan jumlah butir soal untuk tes hasil belajar.





Tabel 3.2
Jenis dan jumlah tes hasil belajar
No
Jenis tes
Jenis soal
Jumlah butir soal
1
Tradisional
Produk
Obyektif
Subyektif
39
5
Proses
Obyektif
Subyektif
7
21
2
Kinerja
Proses
Subyektif
5
Psikomotor
Subyektif
5

b)   Pemilihan media
Tahap pemilihan media dilakukan untuk menentukan media yang tepat dalam penyampaian materi pembelajaran, dan disesuaikan dengan karakteristik mahasiswa dan fasilitas yang terdapat di jurusan. Pada proses ini juga ditentukan jenis alat dan bahan yang diperlukan selama proses pembelajaran. Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam proses ini disajikan dalam tabel 3.3.
Tabel 3.3
Media yang digunakan dalam pembelajaran
No
KBM
Media
1
RPP-1
Pembelajaran: Laptop, LCD, dan Powerpoint
Alat dan bahan: Papan kayu, Penyangga, Kelereng, Kaleng, Kertas
2
RPP-2
Pembelajaran: Laptop, LCD, dan Powerpoint
Alat dan bahan: Lampu, Baterai, Kabel, Penghubung, Kit listrik


Tabel 3.3 (lanjutan)
No
KBM
Media
3
RPP-3
Pembelajaran: Laptop, LCD, dan Powerpoint
Alat dan bahan: Plastisin, Paku, Kelereng, kecil, kelereng besar, stop watch, penggaris

c)      Pemilihan format
Pemilihan format dilakukan dengan mengkaji format-format perangkat yang ada. Format dalam penelitian ini diadopsi dari perangkat pembelajaran yang relevan.
(1)   Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Rencana pelaksanaan pembelajaran adalah panduan langkah-langkah yang akan dilakukan oleh dosen dalam kegiatan pembelajaran yang disusun dalam skenario kegiatan. Rencana pelaksanaan pembelajaran disusun untuk setiap pertemuan yang terdiri dari tiga rencana pelaksanaan pembelajaran, yang masing-masing dirancang untuk pertemuan selama 100 menit. Pemilihan format rencana pelaksanaan pembelajaran dikembangkan berdasarkan rencana pembelajaran Mulyasa (2006). Skenario kegiatan pembelajaran dikembangkan dari rumusan indikator untuk mencapai hasil belajar sesuai kurikulum berbasis kompetensi.

(2)   Buku Ajar Mahasiswa
Buku ajar mahasiswa merupakan buku panduan mahasiswa dalam kegiatan pembelajaran yang memuat materi pelajaran, kegiatan penyelidikan berdasarkan konsep, kegiatan sains, informasi, dan contoh-contoh penerapan sains dalam kehidupan sehari-hari. Format buku mahasiswa mengacu pada buku Mata Kuliah Konsep Dasar IPA-fisika SD (2003) oleh Suryanti, dkk .
(3)   Lembar Kegiatan Mahasiswa
Lembar kegiatan mahasiswa (LKM) adalah panduan yang digunakan oleh mahasiswa untuk melakukan kegiatan penyelidikan atau pemecahan masalah melalui eksperimen. Format  LKM mengacu pada buku Physical Science (2004) dari Glencoe Science.
(4)   Tes Hasil Belajar
Tes hasil belajar adalah tes yang digunakan untuk mengukur kemampuan mahasiswa. Tes hasil belajar yang dikembangkan disesuaikan dengan jenjang kemampuan kognitif. Untuk penskoran hasil tes, menggunakan panduan evaluasi yang memuat kunci dan pedoman penskoran setiap butir soal. Format pengembangan tes hasil belajar diadopsi dari buku Physical Science (2004) dari Glencoe Science, dan buku Mata Kuliah Konsep Dasar IPA-Fisika SD (2003) oleh Suryanti, dkk.
Selain perangkat pembelajaran, untuk mengamati kegiatan pembelajaran, aktivitas mahasiswa selama kegiatan pembelajaran, juga dikembangkan lembar pengamatan pengelolaan kegiatan pembelajaran model pembelajaran berdasarkan masalah.
3)        Tahap develop (Pengembangan)
Tahap ini bertujuan untuk menghasilkan perangkat pembelajaran yang telah direvisi berdasarkan masukan dari pakar. Tahap ini meliputi tujuh langkah yaitu (1) validasi perangkat oleh pakar, (2) revisi pertama, (3) uji coba I, (4) revisi kedua, (5) uji coba II.


a)      Validasi pakar
Tahap ini bertujuan untuk memperoleh saran dari para ahli yang berkompeten bagi peningkatan bahan pembelajaran melalui kegiatan validasi perangkat pembelajaran yang telah dihasilkan pada tahap perancangan. Jenis perangkat yang divalidasi serta nama-nama validator disajikan pada tabel 3.4.
Tabel 3.4
Jenis perangkat yang divalidasi dan nama validator
No
Jenis Perangkat
Validator
1
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Prof. Dr. Prabowo, M.Pd
Dra. Hj.Sri Mulyaningsih, M.S
Dra. Suryanti, M.Pd
2
Lembar Kegiatan Mahasiswa (LKM) dan lembar penilaian formatif
Prof. Dr. Prabowo, M.Pd
Dra. Hj.Sri Mulyaningsih, M.S
Dra. Suryanti, M.Pd
3
Buku Ajar Mahasiswa
Prof. Dr. Prabowo, M.Pd
Dra. Hj.Sri Mulyaningsih, M.S
Dra. Suryanti, M.Pd
4
Tes Hasil Belajar
Prof. Dr. Prabowo, M.Pd
Dr. Z.A Imam Supardi, M.Si
Dra. Hj.Sri Mulyaningsih, M.S
Dra. Suryanti, M.Pd



b)     Uji coba I
Uji coba I dilakukan untuk memperoleh masukan, komentar dari mahasiswa, pengamat, dosen mitra, dan dosen pembimbing untuk merevisi perangkat pembelajaran yang dihasilkan pada kegiatan sebelumnya serta mencari reliabilitas instrumen yang telah dikembangkan. Uji coba I merupakan uji coba terbatas pada sampel 12 orang mahasiswa PGSD angkatan 2007  dari tanggal 21 s/d 23 Mei 2008.
c)      Variabel dan Definisi Operasional Variabel
(1)   Sintaks pembelajaran adalah urutan atau tahapan yang ditempuh selama pembelajaran dengan model pembelajaran berdasarkan masalah.
(2)   Aktivitas mahasiswa adalah persentase keterlibatan dan aktivitas antara mahasiswa dengan mahasiswa selama melakukan eksperimen, melakukan pengamatan, membaca lembar kegiatan mahasiswa, membaca buku mahasiswa, mengemukakan ide maupun pertanyaan baik pada teman maupun dosen.
(3)   Hasil Belajar Siswa adalah tingkat ketuntasan belajar yang dicapai siswa terhadap indikator yang dihitung berdasarkan tes hasil belajar. Hasil belajar siswa meliputi produk, proses, dan psikomotor.
(4)   Respon Siswa adalah persentase pendapat siswa tentang komponen-komponen yang terlibat dalam kegiatan pembelajaran, yang terdiri dari materi pelajaran, lembar kegiatan siswa, buku siswa, cara guru menyajikan materi pelajaran, serta aktivitas selama proses pembelajaran berlangsung.
(5)   Kesulitan atau hambatan-hambatan yang muncul saat proses pembelajaran berlangsung adalah bentuk-bentuk kesulitan maupun hambatan dalam mempelajari konsep energi yang diajarkan dengan pembelajaran berdasarkan masalah.
G.    Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat untuk mengumpulkan data. Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan adalah sebagai berikut.
1.     Instrumen validasi perangkat yang meliputi; (1) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, (2) Buku Ajar Mahasiswa, (3) Lembar Kegiatan Mahasiswa, (4) Tes Hasil Belajar.
2.     Lembar pengamatan aktivitas mahasiswa dalam KBM.
Lembar pengamatan aktivitas mahasiswa digunakan untuk mengetahui aktivitas mahasiswa dalam proses pembelajaran, kerja kelompok, dan dalam memecahkan masalah. Aktivitas mahasiswa ditentukan oleh dua pengamat dengan melihat kecocokan hasil pengamatan, maka reliabilitasnya dihitung dengan menggunakan rumus Percentage of Agreements (R).
3.      Tes Hasil Belajar.
Tes ini digunakan untuk mengetahui ketuntasan indikator pencapaian hasil belajar dengan menggunakan tes hasil belajar.
4.      Angket respon mahasiswa terhadap kegiatan pembelajaran.
Angket respon mahasiswa terhadap pembelajaran berdasarkan masalah digunakan untuk memperoleh respon dari mahasiswa terhadap proses pembelajaran dan perangkat yang digunakan dalam pembelajaran.

H.    Teknik  Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini sebagai berukut:
1.      Observasi
Observasi dilakukan bertujuan untuk mengumpulkan data penelitian mengenai aktivitas mahasiswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Observasi ini dilakukan 2 pengamat dengan menggunakan lembar pengamatan yang telah dikembangkan.

2.      Pengisian angket
Angket digunakan untuk mengetahui respon mahasiswa terhadap pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan peneliti dan perangkat yang digunakan oleh mahasiswa yaitu LKM dan buku mahasiswa. Pengisian angket ini dilakukan setelah selesai kegiatan pembelajaran.
3.      Tes
Tes yang digunakan adalah tes awal yang dilakukan pada awal kegiatan pembelajaran digunakan untuk mengukur persiapan dan kemampuan mahasiswa dalam memasuki konsep yang akan diajarkan. Kemudian tes hasil belajar yang dilakukan setelah akhir pembelajaran, yang bertujuan untuk mengetahui ketuntasan indikator pencapaian hasil belajar.

I.       Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensial untuk mengkelompokkan data yang belum teratur menjadi susunan yang teratur dan mudah diinterprestasikan.
1.      Analisis Data Instrumen Penelitian
a.    Perhitungan Reliabilitas Instrumen
Perhitungan reliabilitas digunakan untuk mengetahui baik atau tidaknya instrumen yang digunakan dalam penelitian ini. Instrumen dikatakan baik (reliabel) jika nilai reliabilitas yang diperoleh > 0,75 (Borich, 1994:385). Dengan menggunakan rumus:
………………(Borich, 1994)
dengan:
A = Frekuensi tertinggi pengamatan
B = Frekuensi terendah pengamatan
Rk = Reliabilitas instrumen
Instrumen yang dihitung reliabilitasnya adalah lembar pengamatan pengelolaan pembelajaran dengan PBI dan lembar pengamatan aktivitas mahasiswa di kelas.

2.      Analisis Data Hasil Penelitian
a.    Analisis Keterlaksanaan Sintaks
Penilaian dilakukan dengan mengamati kelas setiap kali tatap muka. Pengamatan dilakukan oleh dua pengamat yang sudah dilatih sehingga dapat mengoperasikan lembar pengamatan dengan benar.
Analisis keterlaksanaan sintaks-sintaks pembelajaran memiliki dua tujuan, yaitu: untuk melakukan uji keajegan pengamat dalam memberikan penilaian terhadap kinerja dosen dalam melaksanakan pembelajaran dan untuk mengevaluasi apakah sintaks-sintaks dari model pembelajaran yang direncanakan benar-benar dilaksanakan oleh dosen. Jika pengamat menyatakan sintaks-sintaks pembelajaran terlaksana, maka dapat disimpulkan penerapan pembelajaran berdasarkan masalah telah dilaksanakan dengan baik. Jika pengamat menyatakan sintaks-sintaks pembelajaran tidak terlaksana, maka dapat disimpulkan penerapan pembelajaran berdasarkan masalah tidak dilaksanakan dengan baik.

b.    Analisis Pengamatan Aktivitas Mahasiswa di kelas
Pengamatan dan penilaian dilakukan setiap kali tatap muka oleh dua orang pengamat yang sudah dilatih sehingga dapat mengoperasikan lembar pengamatan dengan benar. Pengamatan dilakukan setiap 2 menit sekali. Berdasarkan rata-rata penilaian dari dua orang pengamat untuk tiap kategori yang diamati, setiap Rencana Pelaksanaan Pembelajaran akan ditentukan persentasenya (P), dengan rumus:
c.    Analisis tes hasil belajar
Standar yang digunakan untuk menentukan ketuntasan belajar mahasiswa digunakan acuan yang ditetapkan oleh Jurusan PGSD. Seorang mahasiswa dapat dikatakan tuntas bila persentase (P) indikator yang dicapai sebesar > 75% (Buku Pedoman Unesa, 2008). Secara klasikal tuntas apabila > 75% individu tuntas. Rumus persentase (P) untuk ketuntasan individual dan klasikal masing-masing sebagai berikut.


d.   Analisis Respon Mahasiswa
Analisis respon mahasiswa dilakukan berdasarkan hasil angket respon mahsiswa yang dibagikan setelah kegiatan pembelajaran. Perhitungan persentase respon mahasiswa untuk tiap indikator berdasarkan total jawaban mahasiswa pada masing-masing skala jawaban untuk tiap sub indikator. Selanjutnya hasil yang diperoleh dari masing-masing sub indikator untuk tiga indikator yang disediakan dijumlah.

3.      Analisis Hipotesis Penelitian dengan Uji-t
Sebelum data tersebut diuji t terlebih dahulu dianalisis tentang normalitas dan homogenitas.
Langkah – langkah analisisnya adalah sebagai berikut:
a.  Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah sampel berdistribusi normal atau sebaliknya. Untuk itu digunakan uji chi-kuadrat dengan rumus;
               (Sudjana, 1996)
Keterangan:
             =  normalitas sampel
              =  frekuensi yang diharapkan
             = frekuensi pengamatan
Kriteria pengujian adalah :
            Tolak Ho jika  hitung tabel
Langkah pengujian :
1)      Merumuskan hipotesis
Ho  = sampel random berasal dari populasi yang berdistribusi normal
Hi = sampel random berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal

2)      Menyusun skor pretes pada tabel distribusi frekuensi
3)      Menghitung rata-rata
=,
dengan :    fi = jumlah siswa
                  xi = tanda kelas interval
4)      Menentukan varians (s)
s2 =
5)      Menentukan bilangan baku (z)
z = , dengan  xi batas kelas interval
6)      Menentukan luas tiap kelas interval dengan melihat harga pada tabel F
7)      Menentukan harga frekuensi harapan ( )
 = n x luas tiap kelas interval
8)      Menentukan dk = (k-3), k adalah banyak kelas interval
9)      Menghitung harga x2
10)  Menarik kesimpulan

b.   Uji Homogenitas
Untuk menguji homogenitas sampel, digunakan uji Bartlett dengan langkah sebagai berikut :
1)      Merumuskan hipotesis
Ho = tidak ada perbedaan varians di antara kelompok sampel
Hi  = ada perbedaan varians di antara kelompok sampel
2)      Menyusun skor pretes kelas kontrol dan eksperimen dalam tabel distribusi frekuensi
3)      Menghitung mean (1 dan 2  )
4)      Menentukan varians gabungan (sgab)
s2gab. =
5)      Menentukan bilangan baku (B)
B = (log s2gab.)
6)      Menentukan harga X2
X2 = (ln 10)
7)      Kriteria pengujian, tolak Ho jika X2 ≥ X2 (1-α)(k-1)
8)      Menarik kesimpulan



c.  Uji Hipotesis
Uji t sebagai pengujian terhadap hipotesis dalam penelitian ini yaitu dengan langkah sebagai berikut :
1)      Merumuskan hipotesis
2)      Menentukan taraf signifikan = 0.05 dan dk = (n1+n2) – 2
3)      Menentukan kriteria pengujian
4)      Menentukan varians gabungan
  (Sudjana, 1996: 208)
      keterangan:
 = rata – rata nilai kelompok eksperimen
       = rata – rata nilai kelompok kontrol
       = jumlah siswa kelompok eksperimen
       = jumlah siswa kelompok  kontrol
       s2  = varians
        = simpangan baku kelompok  eksperimen
*  = simpangan baku kelompok kontrol
5)      Menentukan nilai statistik uji t
  (Sudjana, 1996)
Kriteria pengujiannya adalah terima hipotesis bila -di mana  diperoleh dari daftar distribusi t dengan derajat kebebasan =    
6)      Menarik kesimpulan
 


BAB IV
HASIL PENELITIAN

Penelitian ini mengimplementasikan perangkat yang telah dikembangkan oleh peneliti  dan direvisi sesuai saran validator dan dosen pembimbing. Analisis terhadap hasil penelitian menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensial. Statistik deskriptif berupa deskripsi skor rata-rata, proporsi, dan persentase. Sedangkan statistik inferensial digunakan untuk menguji hipotesis null. Berikut ini deskripsi tentang perangkat yang dikembangkan serta hasil uji coba.
A.  Deskripsi perangkat pembelajaran yang dikembangkan
1.    Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
RPP yang dikembangkan merupakan pedoman dosen dalam melaksanakan proses pembelajaran. Dalam penyusunan perangkat, disusun tiga RPP yaitu RPP 01  alokasi waktu (100 menit) tentang pengertian energi dan bentuk-bentuk energi, RPP 02 alokasi waktu (100 menit) tentang perubahan energi dan hukum kekekalan energi, dan  RPP 03 alokasi waktu (100 menit) tentang energi potensial, energi kinetik dan energi mekanik. RPP ini dikembangkan dengan mengikuti sintaks model pembelajaran berdasarkan masalah yang telah dikembangkan terlebih dahulu oleh peneliti. Hasil validasi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dapat dilihat pada tabel 4.1.
Tabel 4.1 Hasil Validasi RPP oleh Validator
No
Instrumen
Bagian yang diperbaiki
1.
RPP
1.    Waktu yang digunakan disesuaikan dengan kegiatan yang pada waktu proses pembelajaran.
2.    Tahap-tahap harus mengacu pada sintaks pembelajaran yang telah digunakan.

Tabel 4.1 lanjutan
No
Instrumen
Bagian yang diperbaiki
1.
RPP
3.    Pemberian motivasi pada awal kegiatan pembelajaran lebih menarik supaya mahasiswa antusias dalam KBM.

2.    Lembar Kegiatan Mahasiswa (LKM)
Lembar kegiatan mahasiswa ini berguna bagi mahasiswa sebagai pedoman dalam  bekerja kelompok maupun bekerja mandiri untuk memahami konsep-konsep yang hendak dipelajari dalam kegiatan pembelajaran, membelajarkan mahasiswa untuk bekerja mengikuti langkah-langkah pada lembar kerja mahasiswa yang  telah dikembangkan oleh peneliti sesuai dengan RPP yang digunakan dalam proses pembelajaran pada saat itu. Dalam hal ini dikembangkan tiga LKM yang digunakan yaitu LKM 01 tentang bentuk-bentuk energi,  LKM 02 tentang perubahan energi, dan LKM 03 tentang energi potensial dan kinetik. Hasil validasi Lembar Kegiatan Mahasiswa (LKM) disajikan pada tabel 4.2.

Tabel 4.2 Hasil Validasi LKM oleh Validator
No
Instrumen
Bagian yang diperbaiki
1.
LKM
1.    Disesuaikan dengan karakteristik mahasiswa
2.    Harus mengacu pada RRP yang digunakan pada saat kegiatan pembelajaran.
3.    Waktu yang digunakan disesuaikan dengan kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa.
4.    Perlu diberi ruang kosong yang cukup untuk jawaban uraian.



3.    Lembar Penilaian Formatif
Lembar penilaian ini digunakan untuk mengevaluasi apakah tahap-tahap berpikir ilmiah yang dilatihkan dalam LKM telah dikuasai oleh mahasiswa. Lembar penilaian ini diberikan setiap akhir pembelajaran. Lembar penilaian yang dikembangkan ada 3 yaitu E-01, E-02, dan E-03. Hasil validasi lembar penilaian formatif disajikan pada tabel 4.3.

Tabel 4.3 Hasil Validasi Lembar Penilaian Formatif oleh Validator
No
Instrumen
Bagian yang diperbaiki
1.
Lembar Penilaian Formatif
1.    Waktu yang digunakan disesuaikan dengan jumlah soal.
2.    Kunci jawaban lebih dijabarkan
3.    Pertanyaan disesuaikan dengan karakteristik mahasiswa PGSD.

4.    Buku Ajar Mahasiswa
Buku ajar mahasiswa yang dikembangkan merupakan panduan dan sumber belajar bagi mahasiswa baik selama mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas maupun belajar mandiri di rumah. Dalam hal ini dikembangkan sebuah buku mahasiswa dengan tiga sub unit materi pengertian energi dan bentuk-bentuk energi, perubahan energi dan hukum kekekalan energi, dan  energi potensial, energi kinetik dan energi mekanik. Setiap materi berisi komponen tentang: judul, indikator, kata-kata sains, uraian materi, gambar, penggunaan matematika, pemecahan masalah, dan daftar pustaka. Hasil validasi buku ajar mahasiswa disajikan pada tabel 4.4.



Tabel 4.4
Hasil Validasi Buku Ajar mahasiswa oleh Validator
No
Instrumen
Bagian yang diperbaiki
1.
Buku Ajar Mahasiswa
1.    Tulisan dan bahasa yang digunakan mudah dipahami dan dimengerti.
2.    Ada contoh soal
3.    Diupayakan ada gambar yang mendukung untuk memperjelas kedalaman materi.
4.    Ada latihan lanjutan.

5.    Tes Hasil Belajar (THB)
Tes Hasil Belajar yang dikembangkan merupakan alat yang digunakan untuk mengukur hasil belajar mahasiswa. THB yang dikembangkan terdiri dua macam, yaitu THB tradisional produk dan proses, serta THB kinerja proses dan psikomotor. Penyusunan THB didasarkan pada kompetensi yang ingin dicapai oleh dosen dalam pembelajaran. Hasil validasi Tes hasil Belajar disajikan pada tabel 4.5.
Tabel 4.5
Hasil Validasi Tes Hasil Belajar oleh Validator
No
Instrumen
Bagian yang diperbaiki
1.
Tes tradisional produk
1.    Waktu yang digunakan.
2.    Ranah yang digunakan disesuaikan dengan soal.
3.    Komposisi persentase ranah yang digunakan dalam soal.
2.
Tes tradisional proses
1.    Kata-kata dalam pilihan lebih operasional
2.    Tata letak pilihan

3.
Tes kinerja proses
1.    Ruang jawaban esai diperlebar
4.
Tes kinerja psikomotor
1.    Petunjuk percobaan lebih operasional

B.   Hasil Validasi Instrumen di lapangan
Sebelum digunakan sebagai alat evaluasi dalam instrumen penelitian, butir-butir tes tersebut diujicobakan terlebih dahulu untuk mengetahui validitas atau kesahihan dan reliabilitas butir tes. Uji coba tersebut dilakukan pada mahasiswa kelas F angkatan 2007 sebanyaka 34 mahasiswa.
 Soal-soal yang diujicobakan sebanyak 50 butir soal dalam bentuk pilihan ganda (tes butir soal kognitif). Setelah diujicoba instrumen penelitian ini, kemudian dianalisis meliputi validitas dan reliabilitas.
1.      Analisis butir soal
Analisis item tes yang dilakukan meliputi validitas, reliabilitas butir soal, daya beda, dan taraf kesukaran.
a.      Validitas
Berdasarkan analisis 50 butir soal yang telah diuji cobakan diperoleh 2 soal yang berkategori tinggi, 29 soal berkategori cukup, 8 soal berkategori rendah dan 11 soal berkategori sangat rendah. Seperti terlihat pada tabel 4.6 sebagai berikut (perhitungan pada lampiran XXVII) :
Tabel 4.6
Hasil Validitas soal tes

No
Kategori
No. Soal
Jumlah
1
Tinggi
17,43
2
2
Cukup
1,2,3,6,8,12,13,14,18,19,21,22,24,25,27,
29,30,32,33,34,35,36,37,38,41,45,47,50
29
3
Rendah
5,7,9,15,20,26,42,49
8
4
Sangat rendah
4,10,11,16,23,28,31,39,40,44,48
11




b.     Reliabilitas
Dengan menggunakan rumus reliabilitas Spearman-Brown, diperoleh nilai = 0,70840543 dan nilai = 0,829318, karena nilai  lebih besar dari  untuk N = 34 yaitu 0,287, maka butir soal yang digunakan dalam penelitian ini adalah reliabel. (perhitungan pada lampiran XXVII).

c.      Daya beda
Daya beda digunakan untuk mengetahui kemampuan soal dalam membedakan antara siswa berkemampuan tinggi dan siswa berkemampuan rendah. Seperti terlihat pada tabel 4.7 (perhitungan pada lampiran XXVII):
Tabel 4.7
Hasil Daya Beda Butir Soal
No
Kategori
No. Soal
Jumlah
1
Baik
8,12,14,17,24,26,27,29,33,41,43,45,50
13
2
Cukup
1,2,3,5,6,9,13,15,18,19,22,25,30,32,34,
35,36,37,38,42,46,47,49
23
3
Jelek
4,7,10,11,16,20,21,23,28,39,44,48,31,40
14

d.     Taraf kesukaran
Taraf kesukaran diguanakan untuk mengetahui tingkat kesukaran soal. Seperti terlihat pada tabel 4.8 (perhitungan pada lampiran XXVII):
Tabel 4.8
Hasil Taraf Kesukaran Butir Soal
No
Kategori
No. soal
Jumlah
1
Mudah
3,4,6,8,9,11,12,13,16,17,18,19,22,25,26,
27,28,29,30,34,35,38,41,43,46,47,50
27
2
Sedang
1,2,7,10,14,15,23,24,31,33,36,37,40,44,45,48
16
3
Sukar
5,20,2132,39,42,49
7

Berdasarkan analisis 50 butir soal yang telah diuji cobakan diperoleh 31 soal yang layak dipakai (lampiran XXVII). Soal yang layak dipakai dan soal yang tidak layak dipakai dapat dilihat pada tabel 4.9
Tabel 4.9
Soal Layak Dipakai Dan Tidak Layak Dipakai
No Soal Layak Dipakai
No Soal Tidak Layak Dipakai
1, 2, 3, 6, 8, 12, 13, 14, 17, 18, 19, 22, 24, 25, 27, 26, 29, 30, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 41, 43, 45, 46, 47, 50
4, 5, 7,  9, 10, 11, 15, 16, 20, 21, 23, 28, 31, 39, 40, 42, 44, 48, 49

Dari 31 soal yang layak digunakan diambil 30 soal untuk digunakan sebagai tes, yaitu dengan membuang butir soal nomor 26. Hal ini dikarenakan kriteria validitas yang rendah walaupun soal tersebut termasuk soal yang layak digunakan. Tes yang dilakukan yaitu pre-test yang diberikan sebelum pembelajaran, dan digunakan sebagai post-test yang diberikan setelah pembelajaran.

C.  Hasil Penerapan Pembelajaran Berdasarkan Masalah
1.  Keterlaksanaan Sintaks Pembelajaran Model PBI
Data keterlaksanan sintaks model pembelajaran berdasarkan masalah pada subpokok bahasan energi diringkas dari hasil catatan-catatan pengamat yang ditulis dalam instrumen pengamatan keterlaksanaan sintaks seperti yang disajikan dalam tabel 4.10.







Tabel 4.10
Keterlaksanaan Sintaks Pembelajaran pada Uji Coba I (Kelas E)
Sintaks Pembelajaran
RPP 01
RPP02
RPP03
1.    Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan mahasiswa
2.    Memunculkan masalah yang autentik
3.    Membentuk kelompok kerja untuk memecahkan masalah yang dihadapi
4.    Membimbing pengamatan dan penyelidikan individu maupun kelompok dalam memecahkan masalah
5.    Mengembangkan dan mempresentasikan hasil kerja kelompok
6.    Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah dari masing-masing kelompok
Terlaksana

Terlaksana

Terlaksana


Terlaksana



Terlaksana


Terlaksana
Terlaksana

Terlaksana

Terlaksana


Terlaksana



Terlaksana


Terlaksana

Terlaksana

Terlaksana

Terlaksana


Terlaksana



Terlaksana


Terlaksana



Tabel 4.10 merupakan hasil analisis yang menyatakan bahwa pada uji coba I, sintaks model pembelajaran berdasarkan masalah telah dilaksanakan oleh dosen untuk semua RPP dalam kegiatan belajar mengajar.

2.  Aktivitas Mahasiswa di kelas
Data aktivitas mahasiswa dalam kgiatan pembelajaran diperoleh dari hasil pengamatan dengan menggunakan intrumen 6 oleh dua orang pengamat dalam hal ini dosen mitra (Fisika) yaitu Drs. Mintohari, M.Pd sebagai pengamat I dan Fitria Hidayati sebagai pengamat II. Persentase hasil perhitungan pengamatan aktivitas mahasiswa dapat dilihat pada tabel 4.11.

Tabel 4.11 Persentase Aktivitas Mahasiswa Dalam Kegiatan Pembelajaran pada Uji Coba I (kelas E)
Aktivitas Mahasiswa
Persentase (%)
Rata-rata (%)
RPP 01
RPP02
RPP03
2.       Berdiskusi antar mahasiswa
3.       Membaca buku/bahan ajar/LKM
4.       Mengajukan/menanggapi pertanyaan
5.       Membuat rumusan masalah
6.       Merumuskan hipotesis
7.       Melakukan penyelidikan
8.       Menganalisis data hasil percobaan
9.       Mempresentasikan hasil percobaan
9,09

9,09
10,91
9,09
12,73
10,91
16,36
9,09
12,73
9,80

7,84
11,76
9,80
9.80
13,73
11,78
13,73
11,76
11,48

9,84
9,84
9,84
11,48
11,48
11,48
11,46
13,10
10,12

8,92
10,84
9,58
11,34
12,04
13,21
11,43
12,53
Jumlah
100,00
100,00
100,00
100,00


Berdasarkan tabel 4.11 tampak bahwa pada Uji Coba I pembelajaran berpusat pada mahasiswa, terbukti 88,88% aktivitas berpusat pada mahasiswa (aktivitas nomor 2 sampai 9) dan hanya 10,12% mahasiswa mendengarkan/memperhatikan penjelasan dosen (aktivitas nomor 1). Aktivitas melakukan penyelidikan memiliki persentase terbesar baik pada pembelajaran satu,dua, dan tiga yang berturut-turut 16,36%, 11,76%, dan 11,48% (aktivitas nomor 7). Begitu pula untuk aktivitas-aktivitas yang lain seperti; membaca buku/bahan ajar/LKM, mengajukan/menanggapi pertanyaan, merumuskan hipotesis, melakukan penyelidikan, menganalisis data hasil percobaan, dan mempresentasikan hasil percobaan dengan persentase yang cukup. Sedangkan aktivitas berdiskusi antar mahasiswa mendapat persentase yang lebih kecil dibandingkan dengan aktivitas yang lainnya dan terjadi perubahan nilai untuk tiap RPP.
Reliabilitas instrumen 6 (Lembar pengamatan aktivitas mahasiswa PBI) dapat dituliskan dalam tabel 4.12.
Tabel 4.12 Reliabilitas Instrumen Aktivitas Mahasiswa
Pengamatan terhadap Aktivitas Mahasiswa
Reliabilitas tiap RPP  (%)
Rata-rata
RPP 01
RPP 02
RPP 03
Uji Coba I (Kelas E)
90,90
94,11
95,08
93,36

Berdasarkan tabel 4.12 dapat diketahui bahwa reliabilitas aktivitas mahasiswa untuk setiap RPP pada Uji Coba I tertinggi pada RPP 03 sebesar 95,08% dan terendah pada RPP 01 sebesar 90,90%. Tetapi jika dilihat reliabilitas setiap RPP pada uji coba I > 75%, sehingga instrumen pengamatan aktivitas mahasiswa PBI termasuk instrumen yang baik (Borich, 1994).

3.    Hasil Belajar Mahasiswa
Hasil belajar mahasiswa diperoleh melalui uji awal dan uji akhir. Analisis deskriptif terhadap skor yang diperoleh mahasiswa pada tes ini. Berdasarkan analisis tersebut diperoleh informasi tentang peningkatan hasil belajar mahasiswa dari uji awal ke uji akhir, ketuntasan individu, ketuntasan klasikal baik indikator produk, proses, maupun psikomotor.

a.    THB Produk
Ringkasan analisis data ketuntasan indikator produk dan sensitivitas butir soal disajikan pada tabel 4.13.




Tabel 4.13 Ketuntasan Individu dan Klasikal THB Produk
pada Uji Coba I (Kelas E)
No
NIM
Proporsi (%) Uji Coba I
Ketuntasan Uji Coba I
Individu P> 75
Klasikal
P> 75
U1
U2
U1
U2
U1
U2
1
071644104
61,43
77,04
TT
T
TT
T
2
071644096
67,14
78,52
TT
T
TT
T
3
071644097
65,71
87,41
TT
T
TT
T
4
071644098
57,14
88,15
TT
T
TT
T
5
071644099
58,57
81,48
TT
T
TT
T
6
071644100
65,71
83,70
TT
T
TT
T
7
071644101
71,43
85,93
TT
T
TT
T
8
071644102
58,57
83,70
TT
T
TT
T
9
071644103
64,29
81,48
TT
T
TT
T
10
071644105
67,14
80,74
TT
T
TT
T
11
071644106
65,71
82,96
TT
T
TT
T
12
071644107
62,86
83,70
TT
T
TT
T
Rata-rata
63,81
82,90
TT
T
TT
T


Berdasarkan tabel 4.13, pada Uji Coba I untuk Uji awal semua mahasiswa tidak tuntas baik secara individu maupun secara klasikal dengan rata-rata 63,81%. Proporsi ketuntasan yang dicapai oleh mahasiswa paling rendah 57,14% dan paling tinggi 71,43%. Uji akhir menunjukkan bahwa  semua mahasiswa tuntas untuk tes hasil belajar produk dengan rata-rata 82,90%. Proporsi ketuntasan yang dicapai mahasiswa terendah 77,04% dan tertinggi 88,15%. Jadi persentase ketuntasan mahasiswa untuk uji awal dan uji akhir meningkat dari 63,81% menjadi 82,90% sebesar 19,09%.



b.   THB Tradisional Proses
Ringkasan analisis data ketuntasan indikator proses dan sensitivitas butir soal pada Uji Coba I disajikan pada tabel 4.14.
Tabel 4.14 Ketuntasan Individu dan Klasikal THB Proses
pada Uji Coba I (Kelas E)
No
NIM
Proporsi (%) Uji Coba I
Ketuntasan Uji Coba I
Individu P> 75
Klsikal
P> 75
U1
U2
U1
U2
U1
U2
1
071644104
68,00
97,33
TT
T
TT
T
2
071644096
72,00
92,00
TT
T
TT
T
3
071644097
73,33
94,67
TT
T
TT
T
4
071644098
69,33
89,33
TT
T
TT
T
5
071644099
65,33
85,33
TT
T
TT
T
6
071644100
70,67
89,33
TT
T
TT
T
7
071644101
73,33
90,67
TT
T
TT
T
8
071644102
68,00
93,33
TT
T
TT
T
9
071644103
66,67
85,33
TT
T
TT
T
10
071644105
73,33
93,33
TT
T
TT
T
11
071644106
72,00
94,67
TT
T
TT
T
12
071644107
73,33
90,67
TT
T
TT
T
Rata-rata
70,44
91,33
TT
T
TT
T

Berdasarkan tabel 4.14 tampak bahwa pada Uji Coba I untuk kelas E  semua mahasiswa tidak tuntas baik secara individu maupun klasikal untuk uji awal dan uji akhir dengan rata-rata 70,44%. Uji akhir menunjukkan bahwa semua mahasiswa tuntas baik secara individu maupun klasikal dengan rata-rata 91,33% dan mengalami kenaikkan sebesar 20,89%.




c.    THB Kinerja Psikomotor
Ringkasan analisis data ketuntasan indikator kinerja psikomotor  disajikan pada tabel 4.15.
Tabel 4.15 Ketuntasan Indikator Kinerja Psikomotor
pada Uji Coba I (Kelas E)
No
NIM
Proporsi kinerja (%)
Ketuntasan
ketuntasan

Membuat percobaan sederhana tentang energi
Menggunakan kit listrik
Menggunakan stopwatch
Menggunakan mistar
Rata-rata
U1
U2
U1
U2
U1
U2
U1
U2
U1
U2
U1
U2
1
071644104
50,00
80,00
40,00
90,00
70,00
90,00
70,00
90,00
57,50
87,50
TT
T
2
071644096
50,00
90,00
30,00
100,00
60,00
100,00
70,00
100,00
52,50
97,50
TT
T
3
071644097
60,00
80,00
60,00
80,00
40,00
80,00
60,00
80,00
55,00
80,00
TT
T
4
071644098
40,00
100,00
60,00
100,00
60,00
100,00
70,00
100,00
57,50
100,00
TT
T
5
071644099
70,00
90,00
70,00
80,00
40,00
80,00
60,00
80,00
60,00
82,50
TT
T
6
071644100
60,00
100,00
50,00
70,00
70,00
100,00
40,00
70,00
55,00
85,00
TT
T
7
071644101
70,00
80,00
40,00
90,00
70,00
90,00
70,00
90,00
62,50
87,50
TT
T
8
071644102
40,00
90,00
60,00
80,00
70,00
70,00
60,00
100,00
57,50
85,00
TT
T
9
071644103
70,00
80,00
50,00
90,00
50,00
80,00
50,00
90,00
55,00
85,00
TT
T
10
071644105
60,00
100,00
70,00
80,00
60,00
100,00
70,00
70,00
65,00
87,50
TT
T
11
071644106
70,00
90,00
70,00
90,00
50,00
90,00
60,00
80,00
62,50
87,50
TT
T
12
071644107
60,00
80,00
70,00
80,00
70,00
80,00
70,00
90,00
67,50
82,50
TT
T
Rata-rata
58,33
88,33

55,83
85,83
59,17
88,33

62,50
86,67
58,96
87,29



Berdasarkan tabel 4.15 tampak untuk setiap indikator kinerja psikomotor pada uji awal semua mahasiswa tidak tuntas dengan rata-rata terendah sebesar 55% dan tertinggi 67,50% sedangkan untuk uji akhir semua mahasiswa tuntas dengan rata-rata terendah sebesar 80% dan tertinggi 97,50%. Jika kita lihat dari rata-rata untuk uji awal dan uji akhir secara keseluruhan uji awal sebesar 58,96% dan uji akhir 87,29% sehingga mengalami kenaikan sebesar 28,33%. Sedangkan jika kita lihat dari ketuntasan setiap indikator kinerja  psikomotor terdapat beberapa mahasiswa yang tidak tuntas yaitu satu mahasiswa menggunakan stopwatch, satu mahasiswa menggunakan kit listrik dan dua mahasiswa menggunakan mistar.

4.  Respon Mahasiswa terhadap Penerapan Pengembangan Perangkat yang Berorientasi pada Model PBI
Respon mahasiswa secara tertulis terhadap proses pembelajaran maupun perangkat yang digunakan untuk menanyakan pada mahasiswa apakah penerapan pengembangan perangkat yang berorientasi pada model pembelajaran berdasarkan masalah baik atau tidak, sangat baik, cukup atau tidak baik untuk digunakan dalam proses pembelajaran. Data hasil respon mahasiswa terhadap penerapan perangkat yang telah dikembangkan dapat dilihat pada grafik 4.1.

Grafik 4.1 Rata-rata Respon Mahasiswa Terhadap Penerapan pengembangan perangkat yang berorientasi pada model pembelajaran berdasarkan masalah pada Uji Coba I


Berdasarkan grafik 4.1  terlihat bahwa respon mahasiswa terhadap pengembangan perangkat yang diterapkan di kelas untuk ketiga aspek respon mahasiswa yaitu implementasi PBI dengan persentase tertinggi 53,85% dan terendah 5,44%; buku ajar mahasiswa yang digunakan mahasiswa persentase tertinggi 58,53% dan terendah 6,73%; dan lembar kegiatan mahasiswa persentase tertinggi 34,24% dan terendah 8,21%.
Jika dilihat dari perbedaan persentase yang signifikan dapat dikatakan bahwa respon mahasiswa terhadap penerapan PBI, buku ajar mahasiswa dan lembar kerja mahasiswa cukup baik.

5.  Hambatan-hambatan dalam Pengembangan Perangkat dan Proses Pembelajaran
Kesulitan-kesulitan dan hambatan yang dihadapi oleh peneliti selama Uji Coba I, dapat dilihat pada tabel 4.16
Tabel 4.16 Hambatan-hambatan yang ditemui dalam penerapan pengembangan perangkat yang berorientasi pada model pembelajaran berdasarkan masalah
Uji Coba
RPP
Hari/tanggal
Hambatan-hambatan
Solusi
I
I
Rabu/
21-05-2008
1.  Mahasiswa belum terbiasa dengan PBI


2.  Mahasiswa belum terbiasa dengan menyusun laporan percobaan

1.  Dosen menjelaskan tentang  PBI

2.  Dosen menjelaskan cara membuat laporan yang benar.

II
Kamis/
22-05-2008
Kesulitan pengkondisian waktu untuk percobaan
Melakukan pembagian waktu antara teori dengan percobaan
III
Jumat/
23-05-2008
Tidak ada
Tidak ada

BAB V
 DISKUSI HASIL PENELITIAN

Hasil yang diharapkan dalam penelitian ini adalah tersedianya perangkat pembelajaran yang berorientasi pada pembelajaran berdasarkan masalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran mata kuliah Konsep Dasar IPA untuk mahasiswa PGSD. Diskusi hasil penelitian membahas lebih lanjut secara singkat deskripsi hasil penelitian tentang pengembangan perangkat pembelajaran dan penerapannya pada Uji Coba I di kelas sebagaimana diuraikan pada Bab IV sebelumnya.

A.    Hasil Pengembangan Perangkat Pembelajaran
Pembahasan hasil penelitian pengembangan perangkat pembelajaran didasarkan telaah oleh para validator beserta perangkat pendukungnya. Berdasarkan telaah dan masukan dari para validator dapat diketahui bahwa secara umum perangkat yang dikembangkan telah layak digunakan dengan perbaikan seperti yang diuraikan pada tabel 4.1 s.d tabel 4.5 pada bab IV sebelumnya. Untuk  draft I setelah direvisi berdasarkan telaah oleh para validator menghasilkan draft II, secara umum seperti penulisan beberapa kata telah disesuaikan dengan ejaan yang berlaku dan penggantian format untuk rancangan tabel kisi-kisi soal dan pemberian contoh pada buku ajar mahasiswa serta gambar yang mendukung.
Berdasarkan masukan dari peserta simulasi pada RPP 2 dan perangkat pendukungnya diketahui masih ada beberapa kekurangan pada perangkat terutama yang berkaitan dengan lembar kegiatan mahasiswa yang masih membutuhkan penjelasan lanjut dari dosen serta pengelolaan dalam proses pembelajaran pada simulasi tersebut. Hal ini diakibatkan mahasiswa yang menjadi peserta simulasi belum pernah mengikuti proses pembelajaran berdasarkan masalah sehingga setelah proses pembelajaran berakhir dosen memodelkan proses pembelajaran berdasarkan masalah dan diharapkan mahasiswa tidak canggung dalam proses pembelajaran selanjutnya.
B.     Keterlaksanaan Sintaks Pembelajaran
Hasil analisis keterlaksanaan sintaks pembelajaran menunjukkan bahwa pada uji coba I, sintaks pembelajaran berdasarkan masalah dilaksanakan dengan baik oleh dosen, baik pada RPP 01, RPP 02, maupun RPP 03 sesuai dengan tabel 4.10.
Berdasarkan hasil analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa sintaks pembelajaran berdasarkan masalah dapat dilaksanakan dengan baik oleh dosen untuk setiap tahapnya. Dalam pembelajaran berdasarkan masalah terdapat lima tahap utama.

C.    Aktivitas Mahasiswa di kelas
Pada Uji Coba I, persentase frekuensi aktivitas mahasiswa dapat dilihat pada tabel 5.1 berikut.
Tabel 5.1
Aktivitas Mahasiswa Pada Uji Coba I
Uji Coba
Kelas
Berpusat pada Mahasiswa
Mendengar/memperhatikan penjelasan dosen
I
E
88,88%
10,12%

Berdasarkan tabel 5.1 di atas dapat diketahui untuk aktivitas mahasiswa yang mendengarkan sebesar 10,12% dan berpusat pada mahasiswa sebesar 88,88%. Dari data ini nampak bahwa implementasi perangkat untuk RPP 01, RPP 02, dan RPP 03 mampu mengaktifkan mahasiswa. Dengan demikian dalam kegiatan pembelajaran ini mahasiswa terlibat aktif dalam penemuan konsep yang baru bagi dirinya melalui langkah-langkah pembelajaran berdasarkan masalah dengan melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah nyata sesuai dengan materi yang sedang mahasiswa pelajari. Dari teori perkembangan kognitif sebagai besar ditentukan oleh interaksi aktif anak dengan lingkungan dan interaktif sosial dengan teman sebaya, khususnya berargumentasi dan berdiskusi membantu memperjelas pemikiran yang pada akhirnya memuat pemikiran menjadi logis (Nur,1998).
Berdasarkan kategori yang diamati selama kegiatan pembelajaran berlangsung menunjukkan langkah-langkah pembelajaran berdasarkan masalah yang diuraikan dalam langkah-langkah pembelajaran pada setiap rencana pelaksanaan pembelajaran dapat terlaksana. Hal ini dapat dilihat reliabilitas instrumen aktivitas mahasiswa pada tabel 4.8. Dengan demikian secara keseluruhan implementasi perangkat yang dikembangkan ini mampu mengaktifkan siswa.

D.    Hasil Belajar Mahasiswa
Berdasarkan hasil pada uji awal dan uji akhir, untuk tes hasil belajar menunjukkan bahwa pada uji coba I, semua mahasiswa tuntas baik secara individu maupun klasikal pada uji akhir. Terjadi peningkatan persentase ketuntasan belajar dari 63,81% pada uji awal menjadi 82,90% pada uji akhir untuk indikator produk, dan peningkatan persentase dari 70,44% pada uji awal menjadi 91,33%  pada uji akhir untuk indikator proses.
Ketuntasan hasil belajar mahasiswa berdasarkan penelitian ini relevan dengan teori yang melandasi pembelajaran berdasarkan masalah. Teori pembelajaran konstruktivis menyatakan bahwa mahasiswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai. Agar mahasiswa benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus memecahkan masalah, menentukan segala sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan susah payah dengan ide-ide. Dengan demikian kegiatan pembelajaran dengan menggunakan perangkat yang dikembangkan berorientasi pembelajaran berdasarkan masalah, mampu mencapai ketuntasan belajar siswa dengan tingkat keberhasilan yang optimal.


E.     Respon Mahasiswa terhadap Penerapan Pengembangan Perangkat yang Berorientasi pada PBI
Uji coba I menunjukkan bahwa penilaian mahasiswa terhadap kegiatan belajar mengajar dengan penerapan perangkat berorientasi pada pembelajaran beradasarkan masalah yang dikembangkan oleh peneliti cukup baik. Respon mahasiswa yang tertinggi yaitu penerapan PBI (53,85%) dan buku ajar mahasiswa (58,53%) untuk respon terendah LKM yang digunakan (34,24%).
Secara keseluruhan penerapan PBI dan perangkat yang telah dikembangkan pada RPP 01, RPP 02, dan RPP 03 direspon dengan baik dan sangat baik oleh mahasiswa. Hal ini diperkuat oleh antusias mahasiswa dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.

F.     Hambatan-hambatan dalam Pengembangan Perangkat dan Proses Pembelajaran
Secara umum hambatan yang ditemui oleh peneliti dalam mengembangkan perangkat adalah terletak pada format dan struktur perangkat tersebut baik RPP, buku ajar, LKM, dan lembar pengamatan. Namun semuanya bisa di atasi, mengingat perangkat yang digunakan dalam penelitian disimulasikan dan diuji validasi terlebih dahulu. Berkat saran-saran dari pembimbing, peserta simulasi dan validator perangkat. Berbagai hambatan dalam pengembangan perangkat dapat di atasi oleh peneliti.
Hambatan yang ditemui selama implementasi perangkat di kelas seperti ditunjukkan pada tabel 4.16 di antaranya, alokasi waktu, mahasiswa belum terbiasa dengan PBI dan kelemahan dalam menyusun laporan percobaan. Namun kesemuanya dapat diatasi berkat kerjasama peneliti dengan dosen mitra yang mengajar di PGSD.


G.    Kualitas Pembelajaran Konsep Dasar IPA (Fisika)
Kualitas proses pembelajaran adalah tingkat keterlaksanaan kegiatan pembelajaran yang direfleksikan melalui berbagai indikator dalam proses pembelajaran. Indikator yang dimaksud yaitu, keterlaksanaan sintaks pembelajaran, pengelolaan kelas, aktivitas mahasiswa dalam kegiatan pembelajaran, respon mahasiswa selama pembelajaran berlangsung, dan hasil belajar mahasiswa yang disajikan pada tabel 5.2.


Berdasarkan tabel 5.2 dari sekumpulan indikator selama proses pembelajaran yaitu keterlaksanaan sintaks pembelajaran, aktivitas mahasiswa yang tinggi, respon mahasiswa yang sangat baik, serta hasil belajar mencapai ketuntasan maka implementasi pembelajaran mata kuliah Konsep Dasar IPA pokok bahasan energi yang berorientasikan pada pembelajaran berdasarkan masalah yang dilaksanakan di Jurusan PGSD khususnya angkatan 2007, berkualitas.




BAB VI
PENUTUP

A.    Simpulan
Berdasarkan temuan pada penelitian pengembangan perangkat pembelajaran berorientasi pada pembelajaran berdasarkan masalah pada pokok bahasan energi dapat disimpulkan bahwa pengembangan perangkat berorientasikan pada pembelajaran berdasarkan masalah pokok bahasan energi dikategorikan baik mampu meningkatkan hasil belajar mahasiswa dan kualitas proses pembelajaran.
B.     Saran
1.      Pengembangan perangkat yang dilakukan oleh seorang dosen sangat perlu untuk divalidasi oleh pakar atau diujikan terlebih dahulu pada mahasiswa sebelum digunakan.
2.      Dalam proses pembelajaran berdasarkan masalah seorang dosen perlu mengaktifkan mahasiswa untuk melakukan penyelidikan sendiri dalam menemukan konsp-konsep baru yang berkaitan dengan materi yang dipelajari di kelas.
3.      Seorang dosen harus mengatur waktu dengan tepat jika menerapkan pembelajaran berdasarkan masalah di kelas sehingga dicapai hasil yang maksimum.





Daftar Pustaka

Aiken, L.R. (1997). Psychological Testing and Assessment. Ninth edition. New York: Mc Graw-Hill Company

Arends, R.I. (1997). Classroom Instructional Management. New York: Mc Graw-Hill Company

Arikunto, Suharsimi. (1997). Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Borich, G.D. (1994). Observation Skill for Effective Teaching. New York: Macmillan Publishing Company

Dahar, R.W. (1988). Teori-Teori Belajar. Jakarta: Depdikbud

Depdikbud. (1994). GBPP SD. Jakarta: Depdikbud

Depdiknas. (2004). Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Depdiknas

Douglas, C. Giancoli. (2001). Jilid 1. Fisika. Jakarta : Erlangga

Halliday,Resnick. (1987). Fisika. Jilid 1. Jakarta: Erlangga

Ibrahim, M & Nur, M. (2005). Pengajaran Berdasarkan Masalah. Surabaya: Unesa University press

Jauhartina, A. (2006). Pemodelan teman sebaya sebagai tutor dalam pembelajaran fisika konsep usaha dan energi di SMAN 2 Sidoarjo. Tesis Magister Pendidikan, UNESA

Kurikulum 2004 SMA. (2003). Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian. Jakarta: Depdiknas

Kurnia. (2004). Meningkatkan hasil belajar matematika siswa SMU melalui pembelajaran berdasarkan masalah dengan metode penemuan : studi eksperimen pada SMUN 15 Bandung dan SMU Kartika Chandra III-2 Bandung. digilib.upi.edu/pasca/available/etd-1005106-143918/ - 10k -

Laela Sarah, Lia., dkk. (2005). Pengembangan model pembelajaran PBI untuk meningkatkan hasil belajar siswa. lialaesa.wordpress.com/2006/11/07/pengembangan-model-problem-based-instruction/ - 11k –

Maimunah, Siti. (2005). Pengaruh pembelajaran fisika dengan pendekatan Discovery Inquity terbimbing terhadap hasil belajar siswa SMP negeri 1 Wonoayu Sidoarjo. Tesis Magister Pendidikan, UNESA

Nur, M & Wikandari, P.R. (1998). Pendekatan-pendekatan Konstruktivis dalam Pembelajaran. Surabaya: Unesa University press


Rawi, A. (2005). Implementasi Model PBI dengan prinsip Kooperatif untuk Mengatasi Kesulitan Siswa dalam Mengerjakan Soal Bercirikan Keterampilan Proses pada Pokok Bahasan Pencemaran. Tesis Magister Pendidikan, UNESA

Silaban, B. (1999). Pengembangan Perangkat Pembelajaran Fisika SMU Bahan Kajian Gelombang dengan Penerapan Pengajaran Berdasarkan Masalah. Tesis Magister yang tidak dipublikasikan. Surabaya: UNESA.

Slavin, R.E. (1994). Educational Psychology. Four Edition. Massachusetts: Allyn and Bacon Publishers

Sudibyo, Elok. (2003). Beberapa Model Pengajaran dan Strategi Belajar dalam Pembelajaran IPA-Fisika. Jakarta: Depdiknas

Sudjana. (1996). Metode Statistika. Bandung: Tarsito Bandung.

Suharto. (2005). Peningkatan Kualitas Proses Belajar Mengajar Biologi di SMA Bahan Kajian Lingkungan dengan Model PBI.Tesis Magister Pendidikan, UNESA

Sumardi, Yos, dkk. (1994). Materi Pokok Mekanika. Jakarta: Universitas Terbuka, Depdikbud

Suparmanto, A. (2004).  Penerapan Metode Proyek dalam Seting Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah untuk Mengajar Biologi di SMA. Tesis Magister Pendidikan, UNESA

Zemansky, Sears. (2001). Fisika Untuk Universitas I. Bandung: Bina Cipta
Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "DOWNLOAD MAKALAH IPA PENERAPAN PENGEMBANGAN PERANGKAT YANG BERORIENTASI PADA MODEL PBI"

PageRank

PageRank for wirajunior.blogspot.com
 
Template By Kunci Dunia
Back To Top