SILABUS DAN RPP BLOG

RPP lengkap Kurikulum 2013 dan KTSP

PENELITIAN TINDAKAN KELAS PTK IPA SEKOLAH DASAR KELAS V MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR IPA SISWA KELAS V SDN 208 / IV TELANAI PURA MELALUI METODE KERJA KELOMPOK YANG BERMAKNA



1.1  LATAR BELAKANG
Pendidikan merupakan suatu hal yang penting dalam menjadikan manusia yang berilmu, berbudaya, bertakwa serta mampu menghadapi tantangan masa datang. Dengan pendidikan tersebut juga akan melahirkan peserta didik yang cerdas serta mempunyai kompetensi dan skill untuk dikembangankan ditengah-tengah masyarakat.Untuk mewujudkan hal demikian tidak terlepas dari faktor penentu dalam keberhasilan peserta didik dalam pendidikan. Salah satu faktor utamanya adalah kemampuan guru mengunakan metode  dalam proses pembelajaran.
Dalam proses pembelajaran di SDN No.208/IV Telanaipura, guru menggunakan metode ceramah, pemberian tugas, dan tanya jawab.Guru mengajar mengacu pada kurikulum tingkat satuan pendidikan,menggunakan bahan ajar yang sesuai dengan materi pelajaran dan media yang menunjang proses pembelajaran.Diharapkan dengan proses pembelajaran tersebut,siswa dapat berperan aktif dan indicator yang diharapkan dalam KTSP dapat tercapai.
Selama proses pembelajaran berlangsung,siswa kelas V mengikuti pelajaran dengan baik,tetapi siswa kurang merespon materi yang diberikan oleh guru.Siswa mempelajari materi pelajaran hanya di sekkolah saja dan tidak diulang ketika di rumah,siswa juga tidak memahami konsep pembelajaran sehingga ketika diujikan kembali jawaban siswa tersebut rancu.Selain itu siswa kurang mau terlibat dalam proses pembelajaran,contohnya tidak menjawab pertanyaan yang diajukan guru saat proses pembelajaran berlangsung.Permasalahan tersebut mengganggu jalannya proses pembelajaran dan terkesan siswa pasif serta kurang mau berpikir kritis dan tidak kreatif.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan ditemukan berbagai permasalahan yang mengganggu proses pembelajaran yaitu siswa tidak mengerjakan tugas/PR ,siswa kurang aktif saat proses pembelajaran, siswa keluar masuk selama proses pembelajaran,dan siswa kurang bersemangat dalam KBM serta siswa rebut saat proses pembelajaran.
Masalah yang dipilih untuk diteliti adalah siswa kurang aktif saat proses pembelajaran.Ditemukan masalah ternyata 10 orang siswa kelaas V SDN No 208/ IV Telanai Pura kurang aktif selama proses pembelajaran.Indikator masalah tersebut adalah siswa tidak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan dari guru,siswa tidak mau bertanya tentang materi yang belum dipahami dan saat diberi kesempatan bertanya,dan siswa tidak memperhatikan penjelasan guru pada saat proses pembelajaran.serta siswa sering tidak tuntas mengerjakan tugas/latihan sedangkan jam pelajaran telah habis.Tindakan yang akan dilakukan adalah menggunakan metode kerja kelompok yang bermakna saat proses pembelajaran.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas dapat dirumuskan :
Bagaimana meningkatkan keaktifan belajar IPA  siswa Kelas V SDN No.208/IV Telanai Pura melalui metode kerja kelompok yang bermakna?

1.3  TUJUAN PENELITIAN

Tujuan utama dari penelitian ini adalah :
Untuk mengetahui apakah dengan menerapkan metode kerja kelompok yang bermakna,keaktifan belajar siswa di kelas V SDN No.208/IV Telanai Pura dapat ditingkatkan.

1.4  MANFAAT PENELITIAN

Penelitian yang dilaksanakan di SDN No. 208/IV Telanai Pura memiliki beberapa manfaat,yaitu :
1.Bagi Peneliti,penelitian ini menjadi pengalaman,sebagai masukan sekaligus sebagai pengetahuan untuk mengetahui upaya meningkatkan keaktifan siswa di kelas melalui metode kerja kelompok yang bermakna
2.Bagi Guru,jika hasil penelitian dirasakan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan para guru agar dapat menerapkan metode kerja kelompok sebagai usaha meningkatkan keaktifan belajar siswa.
3.Bagi Siswa, dengan penelitian ini diharapkan keaktifan belajar siswa di kelas meningkat
4.Bagi Pembaca,penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan referensi untuk melakukan penelitian berikutnya



 
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 TINJAUAN TENTANG  KEAKTIFAN BELAJAR SISWA
2.1.1 Pengertian Keaktifan Belajar
Keaktifan belajar terdiri dari kata kreativitas dan kata belajar. “Keaktifan memiliki kata dasar aktif yang berarti giat dalam belajar atau berusaha” (Ratmi, 2004). Keaktifan belajar berarti suatu usaha atau kerja yang dilakukan dengan giat dalam belajar.
Ciri-ciri Keaktifan Belajar
Ada empat ciri keaktifan belajar siswa yaitu
1) Keinginan dan keberanian menampilkan perasaan,
2) Keinginan dan keberanian serta kesempatan berprestasi dalam kegiatan baik persiapan, proses dan kelanjutan belajar,
3) Penampilan berbagai usaha dan kreativitas belajar mengajar dalam menjalani dan menyelesaikan kegiatan belajar mengajar sampai mencapai keberhasilannya, 4) Kebebasan dan kekeluasaan melakukan hal tersebut di atas tanpa tekanan guru atau pihak lain
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keaktifan Belajar
Mengenai faktor-faktor yang berkontribusi terhadap hasil belajar, Nana Sudjana (dalam Ratmi,04) menyatakan bahwa ada lima hal yang mempengaruhi keaktifan belajar, yakni:
1) stimulus belajar,
2) perhatian dan motivasi,
3) respon yang dipelajarinya,
 4) penguatan,
5) pemakaian dan pemindahan (I Wayan Gde Wiradana,S.Pd)



2.1.2        Pentingnya Upaya Guru dalam Mengembangkan Keaktifan Belajar Siswa
Guru merupakan penanggung jawab kegiatan proses pembelajaran di dalam kelas. Sebab gurulah yang langsung memberikan kemungkinan bagi para siswa belajar dengan efektif melalui pembelajaran yang dikelolanya. Dalam konteks ini Nana Sudjana yang dikutip Cece Wijaya dan A. Tabrani mengemukakan sebagai berikut:
Kehadiran guru dalam proses belajar mengajar atau pengajaran masih tetap memegang peranan penting. Peranan guru dalam proses pengajaran belum dapat digantikan oleh mesin, radio, tape recorder ataupun komputer yang paling modern sekalipun. Masih terlalu banyak unsur manusiawi seperti sikap, sistem nilai, perasaan, motivasi kebiasaan dan lain-lain yang merupakan hasil dari proses pengajaran, tidak dapat dicapai melalui alat-alat tersebut.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa guru memegang peranan penting terhadap proses belajar siswa melalui pembelajaran yang dikelolanya. Untuk itu guru perlu menciptakan kondisi yang memungkinkan terjadinya proses interaksi yang baik dengan siswa, agar mereka dapat melakukan berbagai aktivitas belajar dengan efektif.
Dalam menciptakan interaksi yang baik diperlukan profesionalisme dan tanggung jawab yang tinggi dari guru dalam usaha untuk membangkitkan serta mengembangkan keaktifan belajar siswa. Sebab segala keaktifan siswa dalam belajar sangat menentukan bagi keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran. Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasatya mengemukakan bahwa “proses belajar yang bermakna adalah proses belajar yang melibatkan berbagai aktivitas para siswa. Untuk itu guru harus berupaya untuk mengaktifkan kegiatan belajar mengajar tersebut.”
Selanjutnya tingkat keaktifan belajar siswa dalam suatu proses pembelajaran juga merupakan tolak ukur dari kualitas pembelajaran itu sendiri.Mengenai hal ini E. Mulyasa mengatakan bahwa: Pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) peserta didik terlibat secara aktif, baik fisik, mental maupun sosial dalam proses pembelajaran, di samping menunjukkan kegairahan belajar yang tinggi, semangat belajar yang besar, dan rasa percaya pada diri sendiri.Agar siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran, maka diperlukan berbagai upaya dari guru untuk dapat membangkitkan keaktifan mereka.
Sehubungan dengan pentingnya upaya guru dalam membangkitkan keaktifan siswa dalam belajar, R. Ibrahim dan Nana Syaodih mengemukakan bahwa:
Mengajar merupakan upaya yang dilakukan oleh guru agar siswa belajar. Dalam pengajaran siswalah yang menjadi subjek, dialah pelaku kegiatan belajar. Agar siswa berperan sebagai pelaku dalam kegiatan belajar, maka hendaknya guru merencanakan pengajaran, yang menuntut siswa banyak melakukan aktivitas belajar. Hal ini tidak berarti siswa dibebani banyak tugas. Aktivitas atau tugas-tugas yang dikerjakan siswa hendaknya menarik minat siswa, dibutuhkan dalam perkembangannya, serta bermanfaat bagi masa depannya.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka  dalam pembelajaran upaya guru dalam mengembangkan keaktifan belajar siswa sangatlah penting. Sebab keaktifan belajar siswa menjadi penentu bagi keberhasilan pembelajaran yang dilaksanakan.
2.1.3        Bentuk Upaya Guru dalam Mengembangkan Keaktifan Belajar Siswa
Mengajar merupakan upaya yang dilakukan oleh guru agar siswa belajar. Dalam pembelajaran, siswalah yang menjadi subjek, jadi siswalah yang menjadi pelaku kegiatan belajar. Demikian pula dalam pembelajaran, agar siswa berperan sebagai pelaku dalam kegiatan belajar, maka guru hendaknya mengondisikan pembelajaran yang menuntut siswa aktif dalam melakukan kegiatan belajar.
Beberapa bentuk upaya yang dapat dilakukan guru dalam mengembangkan keaktifan belajar siswa dalam mata pelajaran adalah di antaranya dengan meningkatkan minat siswa, membangkitkan motivasi siswa, menerapkan prinsip individualitas siswa, serta menggunakan media dalam pembelajaran.

1.Meningkatkan minat siswa
Kondisi pembelajaran yang efektif adalah dengan adanya minat dan perhatian siswa dalam belajar. Minat sangat besar pengaruhnya terhadap belajar sebab dengan minat seseorang akan melakukan sesuatu yang diminatinya. Sebaliknya, tanpa adanya minat seseorang tidak mungkin akan melakukan sesuatu. Siswa yang memiliki minat yang besar terhadap suatu pelajaran akan lebih aktif untuk mempelajarinya dan sebaliknya, siswa akan kurang keaktifannya dalam mempelajari pelajaran yang kurang diminatinya. Oleh karena itu, William Jams, seperti di kemukakan Moh. Uzer Usman, yang melihat bahwa minat siswa merupakan faktor utama yang menentukan derajat keaktifan belajar siswa. jadi, minat merupakan faktor yang menentukan keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar.
Selanjutnya minat siswa juga berhubungan dengan perhatian siswa.Perbedaannya adalah minat sifatnya lebih menetap sedangkan perhatian sifatnya lebih sementara dan adakalanya menghilang. Dalam proses belajar siswa, perhatian memegang peranan penting.
            Thomas M. Risk yang dikutip Zakiah Daradjat mengemukakan “no learning takes place without attention.” Dari pernyataan tersebut dapat dikatakan bahwa suatu pelajaran tidak akan berlangsung tanpa adanya perhatian dari siswa.
Dengan demikian proses pembelajaran akan berjalan lancar bila siswa memiliki minat yang besar yang menimbulkan perhatiannya dalam belajar. Oleh karena itu, guru perlu membangkitkan minat siswa-siswanya agar pelajaran yang diberikan mudah dipahami sehingga mereka terlibat aktif dalam pembelajaran.
( http:/abangilham. wordpress. com/feed/ )

2.2 TINJAUAN TENTANG MATA PELAJARAN IPA DI SD
2.2.1 Pengertian IPA
Ilmu pengetahuan alam (IPA) atau Sains dalam arti sempit telah dijelaskan diatas merupakan disiplin ilmu yang terdiri dari physicalsciences (ilmu fisik) dan life sciences (ilmu biologi). Yang termasuk physical sciences adalah ilmu-ilmu astronomi, kimia, geologi, mineralogi, meteorologi, dan fisika, sedangkan life science meliputi anatomi, fisiologi, zoologi, citologi, embriologi, mikrobiologi.
IPA (Sains) berupaya membangkitkan minat manusia agar mau meningkatkan kecerdasan dan pemahamannya tentang alam seisinya yang penuh dengan rahasia yang tak habis-habisnya. Dengan tersingkapnya tabir rahasia alam itu satu persatu, serta mengalirnya informasi yang dihasilkannya, jangkauan Sains semakin luas dan lahirlah sifat terapannya, yaitu teknologi adalah lebar. Namun dari waktu jarak tersebut semakin lama semakin sempit, sehingga semboyan " Sains hari ini adalah teknologi hari esok" merupakan semboyan yang berkali-kali dibuktikan oleh sejarah. Bahkan kini Sains dan teknologi manunggal menjadi budaya ilmu pengetahuan dan teknologi yang saling mengisi (komplementer), ibarat mata uang, yaitu satu sisinya mengandung hakikat Sains (the nature of Science) dan sisi yang lainnya mengandung makna teknologi (the meaning of technology).
IPA membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun secara sistematis yang didasarkan pada hasil percobaan dan pengamatan yang dilakukan oleh manusia. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Powler (dalam Wina-putra, 1992:122) bahwa IPA merupakan ilmu yang berhubungan dengan gejala-gejala alam dan kebendaan yang sistematis yang tersusun secara teratur, berlaku umum yang berupa kumpulan dari hasil obervasi dan eksperimen.Mata pelajaran ini pula di gunakan dalam UN dan UASBN

2.2.2 Sains dalam kurikulum Sekolah Dasar

Sains adalah ilmu pengetahuan yang mempunyai Obyek, menggunakan metode Ilmiah sehingga perlu diajarkan di Sekolah Dasar. Setiap guru harus paham akan alasan mengapa sains perlu diajarkan di sekolah dasar. Ada berbagai alasan yang menyebabkan satu mata pelajaran itu dimasuk ke dalam kurikulum suatu sekolah. Usman Samatowa (2006) menegemukakan empat Alasan sains dimasukan dikurikulum Sekolah Dasar yaitu:
  • Bahwa sains berfaedah Bagi suatu bangsa, kiranya tidak perlu dipersoalkan panjang lebar. Kesejahteraan materil suatu bangsa banyak sekali tergantung pada kemampuan bangsa itu dalam bidang sains, sebab sains merupakan dasar teknologi, sering disebut-sebut sebagai tulang punggung pembangunan. Pengetahuan dasar untuk teknologi ialah sains. Orang tidak menjadi Insinyur elektronika yang baik, atau dokter yang baik, tanpa dasar yang cukup luas mengenai berbagai gejala alam.
  • Bila diajarkan sains menurut cara yang tepat, maka sains merupakan suatu mata pelajaran yang memberikan kesempatan berpikir kritis; misalnya sains diajarkan dengan mengikuti metode "menemukan sendiri". Dengan ini anak dihadapkan pada suatu masalah; umpamanya dapat dikemukakan suatu masalah demikian". Dapatkah tumbuhan hidup tanpa daun?" Anak diminta untuk mencari dan menyelidiki hal ini.
  • Bila sains diajarkan melalui percobaan -percobaan yang dilakukan sendiri oleh anak. maka sains tidaklah merupakan mata pelajaran yang bersifat hafalan belaka.
  • Mata pelajaran ini mempunyai: nilai – nilai pendidikan yaitu mempunyai potensi yang dapat membentuk keprbadian anak secara keseluruhan.
Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) IPA di SD/ MI merupakan standar minimum yang secara nasional harus dicapai oleh peserta didik dan menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum di setiap satuan pendidikan. Pencapaian SK dan KD didasarkan pada pemberdayaan peserta didik untuk membangun kemampuan, bekerja ilmiah, dan pengetahuan sendiri yang difasilitasi oleh guru. ( Wikipedia.com )

2.3.TINJAUAN TENTANG METODE KERJA KELOMPOK YANG BERMAKNA
Metode berasal dari Bahasa Yunani “Methodos’’ yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah,maka metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Fungsi metode berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan.Pengetahuan tentang metode-metode mengajar sangat di perlukan oleh para pendidik, sebab berhasil atau tidaknya siswa belajar sangat bergantung pada tepat atau tidaknya metode mengajar yang digunakan oleh guru.( Oemar Hamalik : 2001 ).
Salah satu bentuk metode yang digunakan dalam pembelajaran adalah metode kerja kelompok. Kerja kelompok merupakan salah satu metode mengajar yang diterapkan pada hampir semua bentuk pembelajaran. Kerja kelompok dilakukan sebagai pendekatan pembelajaran, karena:
  1. Melatih bekerja dalam kelompok (teamwork)
  2. Melatih keterampilan berkomunikasi
  3. Pembagian kerja
  4. Melatih kemampuan bertanggung jawab
  5. Melatih keterampilan sosial (kepemimpinan, sikap positif)

Untuk menjadikan kerja kelompok bermakna dan bukan hanya sekedar sebagai metode yang diharapkan dilaksanakan, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut.
  1. Pengelolaan Kerja Kelompok
1.      Anggota kelompok tidak boleh lebih dari 6 karena dapat mengganggu komunikasi.
2.      Untuk SD/SMP sebaiknya setiap kelompok diberi nama (misalnya nama binatang, bintang, ilmuwan)
3.      Setiap kelompok harus mempunyai pembicara, penulis, yang diatur secara bergantian
4.      Anggota kelompok harus saling mengenal satu sama lain
    1. Pembentukan kelompok dilakukan oleh siswa sendiri namun guru dapat mengubah sesuai dengan situasi kelas.
6.      Kelompok-kelompok harus mengetahui apa yang akan dilakukan dan dapat mengatur posisi kerja kelompok.
7.      Perintah harus diberikan kepada siswa dalam bentuk tertulis sebelum siswa bekerja sehingga setiap anggota kelompok mengetahui apa yang menjadi tugasnya.
8.      Guru harus menentukan waktu untuk kegiatan kerja kelompok.
9.      Pembicara kelompok harus melaporkan hasil kelompok kepada kelas. Hasil observasi serta hasil lain harus ditulis di papan tulis.
10.  Sementara siswa bekerja guru berkeliling untuk membantu siswa yang menemui kesulitan. Harus diingat bahwa guru hanya membantu bila diperlukan.
2.      Memformulasi petunjuk untuk bekerja kelompok
Untuk memperoleh hasil kerja kelompok seperti yang diharapkan maka petunjuk-petunjuk harus dirumuskan secara cermat dan dengan memperhatikan tingkat kesukaran serta disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak, terutama jika di SD.
  • Petunjuk tentang peraga, alat-alat, bahan eksperimen, dan lain-lain harus sederhana. Ini untuk menjaga supaya setiap orang berbicara tentang hal yang sama. Petunjuk ini dapat berupa:
    Amatilah..., Deskripsikan/Uraikan..., Apa yang kamu temukan.?..., dll.
  • Berikan pertanyaan yang menantang, yang memerlukan aktivitas keterampilan proses, komunikasi, serta kerja sama antar anggota kelompok.
  • Formulasikan petunjuk yang mendorong pemecahan masalah
  • Menurut pengalaman seharusnya instruksi tidak boleh lebih dari 3 hal. (Hadi Suwono : 2004)

2.4 KERANGKA BERPIKIR
Berdasarkan uraian di atas, maka terdapat secara teori hubungan langsung sebab akibat antara variabel dependent dan variabel independent, bahwa metode kerja kelompok yang bermakna diperkirakan dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa dalam mata pelajaran IPA. Hubungan antara variabel dependen dan independent dapat digambarkan dengan diagram berikut ini :

2.5 HIPOTESIS TINDAKAN
Berdasarkan uraian teori dan kerangka berpikir maka hipotesis penelitian ini dapat di rumuskan sebagai berikut :
Keaktifan siswa selama proses pembelajaran dalam pembelajaran IPA akan meningkat dengan menggunakan metode kerja kelompok yang bermakna.




BAB III
METODE PENELITIAN


3.1 SUBJEK PENELITIAN

Penelitian ini akan dilaksanakan di SDN 208/IV Telanai. Subjek penelitian adalah siswa kelas 5. Kelas lima berjumlah 32 orang; dua puluh orang siswa laki-laki dan dua belas orang siswa peremuan. Siswa kelas lima berumur rata-rata antara 10 tahun sampai 12 tahun. Siswa kelas lima SDN 208/IV Telanai Pura memiliki kecerdasan menengah dengan nilai rata-rata kelas 6 untuk pelajaran IPA. Siswa kelas 5 berasal dari keluarga prasejahtera. Pendidikan orang tua siswa rata –  rata hanya lulusan SD.

3.2 PROSEDUR PENELITIAN

Penelitian Tindakan Kelas ini akan dilaksanakan selama tiga siklus. Setiap siklus terdiri dari empat fase; perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.

3.2.1 PERENCANAAN

Dalam tahap perencanaan peneliti melakukan 6 kegiatan utama; meneliti kelas untuk menentukan dan merumuskan masalah penelitian, mentukan tindakan, membuat Rencana Pelakasanaan Pembelajaran Perbaikan, membuat lembaran observasi, menentukan jadwal penelitian, dan membuat matrik metodologi penelitian.
  1. Meneliti kelas
Dalam tahapan pertama ini, peneliti menemukan beberapa masalah;
ü  siswa tidak mengerjakan tugas/PR ,
ü  siswa kurang aktif saat proses pembelajaran,
ü  siswa keluar masuk selama proses pembelajaran,
ü  siswa kurang bersemangat dalam KBM
ü  siswa ribut saat proses pembelajaran.

Berdasarkan masalah-masalah tersebut  peneliti mengambil salah satu masalah yaitu ; 10 orang siswa kelas 5 dari 32 orang siswa SDN 208/IV Telanai Pura Bangko Pintas tidak aktif selama proses pembelajaran IPA.
  1. Menentukan tindakan
    1. Metode mengajar yang digunakan adalah metode kerja kelompok yang bermakna.
    2. Memberikan latihan-latihan
  2. Membuat RPP Tindakan
Penelitian tindakan kelas ini berlangsung selama 3 siklus.
RPP tindakan atau perbaikan terlampir.
d.      Membuat lembaran observasi
Masalah yang diteliti adalah keaktifan siswa dalam mata pelajaran IPA. Keaktifan siswa dalam mata pelajaran IPA akan dilihat dalam hal faktor; (1)perhatian siswa sewaktu guru menerangkan materi (2)keberanian dalam bertanya sewaktu guru menerangkan pelajaran, (3)kehadiran siswa, (4) keberanian siswa dalam menjawab pertanyaan guru (5) jawaban siswa pada buku tugas(6)siswa mengerjakan tugas yang diberikan guru ( 7) ketuntasan siswa dalam melakukan tugas dengan waktu yang diberikan guru
Lembaran observasi yang disiapkan dapat dilihat pada lampiran 2.
e.   Membuat jadwal penelitian
Jadwal penelitian yang akan dilaksanakan disesuaikan dengan jadwal pelajaran IPA.
f.Membuat matriks penelitian


3.2.2 PELAKSANAAN TINDAKAN

Penelitian ini dilaksanakan di SDN No.208/IV Telanai Pura semester I tahun ajaran 2010/2011.


3.2.3 OBSERVASI

Observasi dilaksanakan waktu penelitian,teknik yang dilakukan adalah tekhnik obervasi terstruktur.Dalam melakukan observasi peneliti menggunakan pedoman berupa angket siswa dan lembaran obervasi.  
Observasi ini dilakukan selama penelitian berlangsung agar data yang didapatkan valid.

3.2.4 REFLEKSI

Kegiatan penelitian dilaksanakan secara sistematis, yaitu penelitian dilakukan tahap demi tahap untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa setelah perbaikan dilakukan
Adapun kegiatan yang dilakukan antara lain :
a. Menganalisa data.
Untuk data tentang aktivitas siswa dianalis dengan cara penilaian setiap siswa diberikan penilaian 1 untuk yang memenuhi/sesuai dengan indikator sedangkan yang tidak memenuhi indikator diberikan skor nol, selanjutnya skor masing-masing siswa dicari melalui jumlah skor yang didapat siswa dibagi dengan jumlah skor maksimal yaitu 20 dikalikan dengan 100, selanjutnya dikonversi kedalan pedoman konversi berikut.
A =  Sangat baik ( 80 – 100 )B =  Baik ( 70 – 79 )C =  Cukup ( 60 – 69 )
D =  Kurang ( 50 – 59 )E  =  Sangat kurang ( 50 kebawah )

Untuk data tentang prestasi belajar siswa dianalisis dengan memberikan skor 5 pada setiap item soal, sedangkan prestasi masing-masing siswa di dapat dari jumlah item soal benar dikalikan dengan 5, selanjunya baru dibandingkan dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk mata pelajaran IPA kelas V yaitu 60 untuk menentukan apakah siswa tersebut sudah tuntas atau belum.

Indikator keberhasilan kinerja dalam penelitian ini dapat ditetapkan sebagai berikut.
Aktivitas siswa dikatakan berhasil jika kualifikasinya berkatagori baik atau dengan nilai paling rendah 70.
Prestasi belajar siswa dikatakan berhasil jika nilai rata-rata yang diperoleh siswa lebih besar dari KKM yaitu 60.
Tanggapan siswa dikatakan positif jika 75% siswa setuju dengan penerapan metode kerja kelompok yang bermakna

b. Menyajikan hasil analisis.
Setelah dilakukan analisis data, maka peneliti menyajikan hasil penelitian dalam bentuk proposal yang dibuat secara sitematis.
c. Menginterprestasikan hasil analisis.
Apabila hasil siklus I belum seperti yang diharapkan,berdasarkan hasil refleksi peneliti mengadakan perbaikan pada Daur 2.


3.2.5 MATRIKS METODE PENELITIAN
Judul               :  Meningkatkan Keaktifan Belajar IPA Siswa SDN No.208/ IV Telanai Pura melalui metode kerja kelompok yang bermakna.
Nama Peneliti  :     HARTINA

           
No
Rumusan Masalah
Variabel yang di amati
Defenisi operasional variabel
Instrumen
Sumber data
Cara pengambilan data
Analisis
1.

Bagaimana meningkatkan keaktifan belajar IPA  siswa Kelas V SDN No.208/IV Telanai Pura melalui metode kerja kelompok yang bermakna?












Keaktifan belajar siswa











Siswa kelas V






3.2.6 JADWAL PENELITIAN


No
Kegiatan
Minggu ke
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Perencanaan











2
Proses pembelajaran









3
Evaluasi











4
Pengumpulan data










5
Analisis Data










6
Penyusunan Hasil










7
Pelaporan Hasil













DAFTAR PUSTAKA

Oemar Hamalik, Proes Belajar Mengajar, Jakarta : 2001 : Bumi Aksara
Ratna Willis Dahar. 1989. Teori-teori Belajar. Erlangga: Jakarta

Ratmi, Ni Wayan, 2004. Implementasi metode demonstrasi dan beberapa media belajar untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar mata pelajaran matematika pada siswa kelas III semester II tahun pelajaran 2003/2004 di sekolah dasar nomor 13 sesetan kecamatan denpasar selatan. Skripsi (tidak diterbitkan) IKIP Negeri Singaraja.

Sugiono. 2009 .Metode Penelitian Pendidikan ( pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D ) . Bandung : CV.Alfabeta.

Wardhani,IGAK.& Wihardit,Kuswaya. 2008 . Penelitian Tindakan Kelas . Jakarta : Universitas Terbuka.
http://abangilham.wordpress.com/2009/03/31/pentingnya-upaya-guru-dalam-mengembangkan-keaktifan-belajar-siswa/

www.Wikipedia.com

www.disdikklungkung.net
Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "PENELITIAN TINDAKAN KELAS PTK IPA SEKOLAH DASAR KELAS V MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR IPA SISWA KELAS V SDN 208 / IV TELANAI PURA MELALUI METODE KERJA KELOMPOK YANG BERMAKNA "

PageRank

PageRank for wirajunior.blogspot.com
 
Template By Kunci Dunia
Back To Top