SILABUS DAN RPP BLOG

RPP lengkap Kurikulum 2013 dan KTSP

CONTOH MAKALAH PENDIDIKAN GEOGRAFI DALAM ILMU PENGETAHUAN SOSIAL UNTUK MENGEMBANGKAN MODAL SOSIAL



1. Pendahuluan
            Menata kehidupan berbangsa untuk menjadi warga bangsa sekaligus sebagai warga negara yang baik tidak terlepas dari peranan pendidikan, karena pendidikan merupakan salah satu wahana untuk  nation and character building,  menumbuhkan rasa kemanusiaan dan solidaritas, yang merupakan bagian dari modal sosial. Lembaga pendidikan tinggi yang mengembangkan berbagai disiplin ilmu termasuk di dalamnya Ilmu Pengetahuan Sosial dapat berperan nyata dalam mengembangkan modal sosial itu. Modal sosial dapat dimaknai sebagai kristalisasi nilai/norma sosial yang dihayati oleh masyarakat dalam komunitasnya sebagai energi penggerak tumbuhnya rasa solidaritas dan kerjasama.
            Indonesia sebagai bangsa memasuki era reformasi hampir satu dekade mengalami guncangan hebat  ditandai dengan konflik dalam masyarakat secara lateral maupun vertikal sehingga menguras modal sosial. Kecintaan terhadap tanah air sangat terusik karena menguatnya kepentingan pribadi dan golongan, era reformasi harus dibayar mahal, karena biaya sosial yang tinggi. Yumarma (2006) mengungkapkan bahwa, dekadensi cinta terhadap tanah air, diawali dengan hilangnya kesadaran terhadap pentingnya landasan sejarah, geografis, dan kultural yang menyatukan pengalaman bersama, sebagai warga bangsa Indonesia. Para politisi dan negarawan sejati membiasakan kesadaran akan realitas sejarah, kesadaran geografis dan kultural sebagai modal fundamental perjuangan yang mengobarkan kecintaanya terhadap tanah air. Hilangnya landasan itulah yang mengakibatkan kehidupan bangsa carut marut dan hilangnya modal sosial.
Terkurasnya modal sosial ini perlu mendapat perhatian dari berbagai kalangan, termasuk dunia pendidikan. Jika tidak, maka tatanan kehidupan masyarakat menjadi guncang, sehingga menjadi kontra produktif bagi pembangunan bangsa, di tengah-tengah perubahan lingkungan global yang berubah serba cepat. Bidang IPS termasuk di dalamnya Geografi secara epistemologis kedudukannya menjadi penting untuk mengembangkan modal sosial.

2. Pembahasan
2.1  Permasalahan Aktual Bangsa
            Indonesia menikmati kemerdekaan sejak 17 Agustus 1945, menyelenggarakan pembangunan di bawah pemerintahan yang demokratis yang dirancang spesifik Indonesia. Pemerintahan Soekarno mengumandangkannya sebagai demokrasi terpimpin, dalam kurun waktu 1959 – 1965. Penggantinya adalah Presiden Soeharto, dari            tahun 1966 – 1998, memilih demokrasi Pancasila  untuk menjadi landasan pembangunan bangsa .
Era demokrasi terpimpin waktu itu dipandang tepat karena yang namanya bangsa Indonesia baru terbentuk dan untuk menumbuhkannya dibutuhkan kepemimpinan yang kuat, memiliki kapasitas memimpin bangsa yang pluralistik, sehingga demokrasinya bercorak demokrasi terpimpin. Nafas demokrasi saat itu benar-benar berada pada sang pemimpin, yang dituntut mampu meletakkan dasar nasionalisme untuk mempersatukan berbagai etnisitas, golongan yang sangat beragam. Pada era demokrasi Pancasila, selama 32 tahun pembangunan berjalan sesuai tahapan yang direncanakan, namun demokrasi Pancasila implementasinya jauh dari kehidupan demokrasi yang sesungguhnya, karena pemerintahan yang otoriter dan militeristik, sehingga kehidupan demokrasi yang sesungguhnya terpasung.
Kehidupan demokrasi terpimpin dan demokrasi Pancasila berlansung lebih dari lima dekade, rakyat Indonesia sudah terbiasa dengan dominasi pemimpin dan kurangnya kesempatan bagi rakyat untuk melakukan pilihan sesuai dengan potensi yang dimiliki. Demokrasi terpimpin, nampaknya bisa dipahami, karena negara baru terbentuk, bangsa Indonesia baru terwujud, kehidupan politik dan pemerintahan belum stabil, sehingga membutuhkan pemimpin yang kuat tak tergoyahkan. Periode berikutnya, Demokrasi Pancasila, dikenal sebagai rezim Orde Baru, mengukuhkan Pancasila sebagai ideologi dan falsafah negara yang lahir dan digali dari nilai-nilai luhur bangsa. Pemerintah pada masa ini terkesan mencapai hasil karena didukung oleh aparatur pemerintah yang loyal. Loyalis-loyalis dari tingkat pusat sampai ke daerah menjalankan perintah dari pusat secara setia dan loyal, namun demokrasinya terkesan semu karena pendekatan dengan cara-cara militer dan sentralistik sangat kental.
            Perjalanan bangsa setelah dua babak itu, dikenal sebagai era Reformasi, yang merupakan bangkitnya kesadaran dan tumbuhnya keinginan melakukan perubahan di segala bidang kehidupan bernegara, terus bergulir sampai sekarang yang mencoraki bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, hak azazi manusia, pertahanan dan keamanan. Tiga isu yang mendapat perhatian khusus dalam era reformasi ini adalah pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme yang populer dengan sebutan KKN. Usaha perombakan kehidupan negara besar-besaran ini memasuki kondisi kehidupan yang kritis. Situasi ini disebut kritis karena dampak pemerintahan rezim sebelumnya, karena   sesungguhnya kurang berhasil terutama dalam pembangunan ekonomi dan pendidikan, yang ditandai dengan masih banyaknya kemiskinan, pengangguran, dan bahkan masih terdapat warga negara yang buta aksara. Pada masa ini, semua komponen bangsa ingin mengadakan perubahan dalam bentuk reformasi di segala bidang, namun sesungguhnya bangsa ini belum siap betul secara mental psikologis untuk berdemokrasi. Inilah yang menimbulkan chaos dalam kehidupan berbangsa, pemerintahan, perpolitikan di negeri ini. Penegakan hukum carut marut, kemiskinan dan pengangguran, keamanan dan ketertiban masyarakat tidak terwujud. Penyampaian aspirasi tidak melalui saluran yang benar, namun disampaikan melalui cara yang tidak elegan sehingga menimbulkan konflik, dan gerakan-gerakan yang anarkhis. Di sinilah modal sosial bangsa terkuras seperti berada di titik nadir, benar-benar kembali ke titik nol.
Mengutip pernyataan Abdulah (2000), yang mengemukakan bahwa, bangsa Indonesia semakin kikir simpati, empati kepada sesama bangsa Indonesia, makin rendah mutu rasionalitas dan tipisnya rasa kemanusiaan. Rasionalitas kita sudah berantakan dan kemanusiaan kita seakan-akan sudah hilang dari pusat kesadaran. Mutu rasionalitas bangsa kita ini telah terjerembab jatuh mengikuti spiral kebodohan yang terjun menukik ke bawah. Orang Indonesia mulai kehilangan akal sehat, rasa kemanusiaan dan kesediaan hati memberikan rasa simpati dan empatinya kepada orang lain. Di sinilah sebenarnya merupakan hakikat bahwa modal sosial hilang dari akar kehidupan masyarakat dan bangsa. 
Indonesia tidak bisa steril dari dinamika global, dalam konteks ini. Maynard (1999), menganalisis fenomena politik global yang mengungkapkan bahwa  pasca  perang dingin, karakter konflik di berbagai belahan dunia mengalami pergeseran dari konflik idiologis ke konflik identitas yang antara lain juga berlatarbelakang etnik dan agama. Di tanah air dalam beberapa kasus kerusuhan dikait-kaitkan dengan isu etnik dan agama, persoalan ini menjadi bahaya laten. Contoh aktual yang sangat membekas adalah di Kalimantan Tengah antara Dayak dan Madura, di Ambon, antara komunitas Islam dan komunitas Kristen demikian juga Poso sampai sekarang belum stabil. Konflik antar kelompok masyarakat, kasus-kasus peledakan bom oleh teroris yang menyebar rasa takut, kelompok dalam masyarakat, yang menamakan organisasi tertentu melakukan tindakan  anarkhis, yang menganggap aparat berwenang tidak mampu menanganinya, itulah yang dijadikan dalih. Pemilihan kepala daerah, misalnya, diwarnai dengan kerusuhan yang menghancurkan harta benda bahkan menimbulkan korban jiwa. Situasi ini seperti dikemukakan oleh Latif (2006), jalan menuju demokrasi telah ditempuh, dengan ongkos mahal, terlalu sia-sia jika muncul gerombolan, yakni demokrasi tanpa pemimpin, kepentingan warga negara mudah muncul menjadi anarkhis.

2.2  Indonesia dalam Perspektif  Geografi
            Indonesia adalah negara kepulauan (archipellagos), terdiri dari 17508 pulau, diapit oleh dua benua dan dua samudera luas. Wilayah geografis Indonesia yang luas memiliki garis pantai yang sangat panjang, memiliki variasi geologis, topografis, dan klimatologis.  Penduduknya terdiri dari berbagai ras dan etnisitas, memiliki tradisi, budaya, bahasa daerah dan religi yang beragam, sehingga bangsa Indonesia bersifat multi kultural. Multikultural dibentuk oleh  multi etnik, multi bahasa, multi tradisi, multi religi, dan multi-multi lainnya. Karakteristik ini dibentuk oleh sejarah bangsa yang panjang yang penuh dinamika dan romantika.  Di sisi lain, keragaman kondisi yang demikian dalam perspektif Geografi, dipandang sebagai korelasi kausal antara lingkungan fisiogeografis dan lingkungan sosiogeografis. Fakta dan fenomena ini merupakan konsekuensi logis dari keadaan geografis yang demikian, sehingga pemahaman dan eksistensi multikulturalisme menjadi sangat penting dan strategis.
            Dalam perjalanan kehidupan berbangsa, keragaman sosial semakin luas dimensinya  karena dampak dari berbagai program pembangunan yang diferensial. Hal itu muncul dalam aspek sosioekonomi masyarakat yang tercermin dalam strata sosial antara lain mencakup pendidikan, kesehatan dan ekonomi terutama pendapatan. Kondisi ini tidak mungkin dibuat serba sama, serba seragam, dan homogen, sehingga terjadilah disvaritas regional dan sektoral. Dalam beberapa kasus disvaritas disebabkan oleh kekuatan internal dan eksternal, sehingga timbullah kesenjangan antarkelompok, antarkomunitas secara dikotomis. Contohnya adalah dikotomi masyarakat maju versus primitif, modern versus tradisional, kelompok kaya versus kelompok miskin, masyarakat pedesaan versus perkotaan, kelompok berkembang versus marginal, kelompok mayoritas versus minoritas. Kondisi yang senjang ini cenderung melebar dan menimbulkan disharmoni, jika kesenjangan tidak dikelola secara baik sangat berpotensi menimbulkan konflik. Konflik di masyarakat dapat bersifat internal dan eksternal, atau konflik lateral dan konflik vertikal, jika ini terjadi maka akan menciptakan terkurasnya  modal sosial.     
            Demokrasi, penegakan hukum, penegakan hak azasi manusia (HAM) jika dibangun di atas landasan yang rapuh, sangat sulit diwujudkan karena sebagaian besar warga negara berpendidikan rendah, miskin dengan pendapatan yang relatif rendah, hidup dalam kemiskinan dan masih banyak pengangguran. Membangun demokrasi di tengah kemiskinan, kebodohan banyak menghadapi benturan, dapat terjadi di mana saja di belahan dunia lain, demikian juga halnya. Berdemokrasi dan menegakkan hukum dan HAM di dalam masyarakat yang pendidikannya baik dan ekonomi juga baik akan lebih mudah dan berjalan secara elegan. Orang-orang ini sangat piawai berargumentasi mempergunakan nalar dan pikiran yang rasional dan sehat, dengan kata lain mencari solusi atas suatu permasalahan atau pertentangan di masyarakat, ada selogan di masyarakat bahorang pintar pakai “otak”, orang bodoh pakai “otot”.
Dalam konteks ini, nampaknya benar seperti yang dikemukakan oleh Tim Peneliti yang dipimpin Prof. Adrian Raine, dari University of Southern California, dimuat dalam Journal of  Psychiatri, yang menyatakan bahwa anak kurang gizi cenderung agresif dan anti sosial.  Kurang gizi diindikasikan oleh kurangnya zat penting seperti seng (Zn) dan zat besi, sehingga kekurangan vitamin B dan protein, akibatnya IQ rendah, perilakunya agresif dan perilaku anti sosial, pada usia 17 tahun, bukan sikap anti sosial saja, namun berpotensi melakukan tindakan kriminal seperti mencuri atau mengkonsumsi obat-obatan terlarang, narkoba (TEMPO, 15 Desember 2004, h 1080). Terdapat  korelasi yang positif antara kehidupan sosioekonomi dengan kehidupan sosiopolitik suatu komunitas. Bangsa-bangsa di Eropah, Amerika Serikat, Kanada, Jepang, Korea, kehidupan demokrasinya jauh lebih baik dibanding orang-orang Asia lainnya, dan Amerika Latin. Indonesia jika dibandingkan dengan negara-negara di benua Afrika yang sebagian besar tingkat ekonomi dan pendidikan rendah, kehidupan demokrasinya jauh lebih baik.

2.3  Eksistensi disiplin geografi
            Geografi mengkaji bumi sebagai planet dan kehidupan yang ada di atasnya secara holistik dan komprehensif. Planet bumi menjadi media makhluk hidup termasuk manusia menyelenggarakan  kehidupannya sudah berabad-abad lamanya. Luas cakupan objek yang dipelajari, mengakibatkan geografi seolah-olah menjadi induknya ilmu (themother of sciences). Objek kajian geografi yang demikian luas tentang bumi mengakibatkan geografi berada pada dua kelompok besar bidang ilmu yakni ilmu-ilmu eksakta dan ilmu-ilmu sosial.
            Geografi pada Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan seperti IKIP dan FKIP menempatkan Geografi sebagai bagian dari Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Di dalamnya terdapat  jurusan Pendidikan Geografi, Pendidikan Ekonomi, Sejarah, dan PPKn. Pengelompokkan ini sesuai dengan tugas dan fungsinya mencetak sarjana pendidikan untuk menjadi guru di Sekolah Menengah Atas (SMA). Geografi sebagai suatu disiplin ilmu, secara konseptual mengkaji bumi sebagai ekosfer, yang membentuk lingkungan hidup, sebagai media atau tempat makhluk hidup menyelenggarakan kehidupannya. Obyek material Geografi adalah lingkungan fisiogeografis mencakup aspek topologi, yang meliputi, letak, luas, bentuk, aspek geologi, hidrologi, klimatologi. Lingkungan sosiogeografis yang mempelajari penduduk dari perspektif demografi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Aspek knowledge dari disiplin Geografi adalah mengkaji suatu daerah atau komunitas secara holistik dan komprehensif. Dengan demikian, para pembelajar geografi akan memahami secara baik kondisi dan potensi suatu daerah atau region. Di samping itu, geografi juga akan dapat memahami karakteristik suatu daerah atau region, yang dihuni oleh suatu komunitas. Karakteristik suatu daerah terbentuk oleh resultante dari hubungan kausal antara lingkungan fisiogeografis dan sosiogeografisnya.  
           
2.4  Disharmoni Sosial
            Secara spesifik, yang dikaitkan dengan tema artikel ini, di mana  ada korelasi fenomena alam dan fenomena sosial. Dampak dari kesenjangan sosial dan ekonomi memicu konflik karena disharmoni sosial yang berdampak pada terkurasnya modal sosial. Fenomena alam yang kita amati adalah terjadinya berbagai bentuk bencana alam dan yang sering terjadi di tanah air adalah: gempa bumi, tsunami, gunung berapi, banjir, kekeringan. Bencana alam yang terjadi berakibat pada hancurnya permukiman, lahan usaha dan dapat menimbulkan berbagai macam penyakit . Dampak bencana ini tentu sangat berpengaruh pada kondisi psikologis yang berdampak pada kehidupan sosial jika tidak ditangani secara baik, akan menimbulkan disharmoni sosial.
            Multikultural  bangsa Indonesia terwujud dalam bentuk atribut suku bangsa, agama, adat, tradisi, sekte, dalam tata pergaulan terjadi interaksi individu satu dengan lainnya. Kesadaran hidup bersama dalam tatanan yang harmonis adalah tujuan bersama, namun tidak mustahil, akan terjadi distorsi yang mengakibatkan disharmoni sosial.

2.5  Kajian Geografi dan Pengembangan Modal Sosial
Belajar pada hakikatnya merupakan proses perubahan psikologis dan perilaku yang terjadi pada seseorang dari yang tidak tahu menjadi tahu. Kini, pembelajaran ditetapkan oleh Unesco sebagai learning to know, learning to do, learning to be and learning to livetogether, sehingga dalam pembelajaran ada proses mendapatkan pengetahuan melalui melihat, membaca, mendengar, mengamati, menyikapi, dan menindaki. Bloom menggolongkannya menjadi aspek kognitif, afektif, dan konatif (psikomotorik).
Pembelajaran membentuk kepribadian, yang mencakup watak, sifat, adaptasi, minat, sikap, dan motivasi. Jika konsep pembelajaran ini diterapkan dalam geografi, maka para pembelajar akan mendapat pengetahuan tentang aspek fisiogeografi dan aspek sosiogeografi suatu daerah, apakah pedesaan, perkotaan, kabupaten, provinsi, atau negara. Daerah atau wilayah dapat juga berupa dataran rendah, dataran tinggi, daerah pantai, daerah pegunungan, pulau-pulau atau benua sekalipun adalah bagian dari studi Geografi. Geografi mempunyai tugas untuk eksplanasi, analisis, sintesis dan aplikasi,  fenomena alam dan sosial, dalam perspektif kelingkungan dan kewilayahan dalam konteks keruangan. Landasan pemikiran Geografis adalah berfikir holistik tentang ruang yang dibentuk oleh elemen fisiogeografis dan sosiogeografi. Indonesia adalah kesatuan geografis berupa lingkungan hidup yang di dalamnya terdapat beragam kehidupan termasuk penduduk dengan segala identitasnya. 
Di sisi lain dapat dikemukakan bahwa Geografi secara khusus melakukan pengkajian terhadap fenomena keterbelakangan. Forbes (1986), merilis Geography of Underdevelopment, mengemukakan bahwa para ahli Geografi Pembangunan dapat diarahkan kembali kepada analisis terhadap hubungan-hubungan sosial dan reproduksi sosial, peranan formatif manusia dan pentingnya analisis keruangan, atau secara konsepsional lebih luas yakni environment atau lingkungan, sebagai agen yang aktif dalam proses sosial. Keterbelakangan pada hakikatnya tidak sekadar tingkat produktivitas ekonomi, tabungan atau akumulasi modal, tetapi yang lebih penting adalah konteks sosial dan spasial dalam hubungannyan dengan ekonomi untuk dikembangkan. Fenomena inilah harus menjadi perhatian sentral para ahli Geografi.
Bagaimana Geografi mengkaji planet bumi dan kehidupan yang ada di atasnya secara komprehensif dan holistik, sehingga memberi kontribusi bagi peningkatan kesadaran geografis dan pengembangan modal sosial? Berikut dikemukakan berbagai mata kuliah yang merupakan bagian dari kurikulum Geografi.  (1) Geografi mengkaji lingkungan abiotik/fisik meliputi: Geologi Umum, Geologi Sejarah, Geologi Sumberdaya, Geografi Tanah, Geomorofologi, Hidrologi, Oseanografi, Meteorologi, Klimatologi (Earth Science).  Dikemukakan oleh Sills (2003), bahwa Earth Scientis mempelajari planet secara keseluruhan. (2)  Geografi mengkaji lingkungan biotik:   Zoogeografi dan Fitogeografi.  (3) Geografi mengkaji lingkungan sosial ekonomi: Geografi Ekonomi, Geografi Perdagangan, Geografi Industri, Geografi Transportasi, Geografi Pertanian, Geografi Pariwisata.  (4) Geografi mengkaji lingkungan sosial budaya: Geografi Budaya, Geografi Manusia, Geografi Penduduk/Demografi, Geografi Politik, Sosiologi dan  Antropologi.  (5) Geografi mempelajari lingkungan: Geologi Lingkungan, Geografi Lingkungan dan di FKIP ada mata kuliah Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup.  (6) Geografi mempelajari wilayah dikenal sebagai Geografi Regional seperti: Geografi Regional Indonesia, Geografi Regional Asia, Geografi Regional Eropa, Geografi Regional Amerika dan sebagainya.  (7) Geografi mempelajari lingkungan permukiman Geografi Pedesaan dan Geografi  Perkotaan.    (8) Geografi  mengkaji aspek keteknikan, meliputi, GIS (Geographyical Information System) dan Remote Sensing (Penginderaan Jauh) dan Kartografi (mempelajari dan praktek membuat peta).
            Kajian yang utuh terhadap lingkungan fisiogeografis dan sosiogeografis Negara Indonesia akan dapat memberi kesadaran untuk bersyukur dan memberi apresiasi yang sublime terhadap kemahakuasaan dan kemurahan Tuhan untuk semua ciptan-Nya, khususnya tanah air tercinta, Indonesia.

3. Penutup
Hasil pembelajaran Geografi yang demikian kompleks, komprehensif, dan holistik,  dapat membentuk intelektualisme yang universal, sehingga terwujud nilai, penghargaan atau apresiasi terhadap kemanusiaan dan lingkungan, solidaritas kemanusiaan dan solidaritas global. Empat fungsi sikap yang dikembangkan dalam Geografi  dalam Ilmu Pengetahuan Sosial adalah: fungsi pengetahuan (a knowledge function), fungsi penyesuaian diri (adjustive function), fungsi manfaat (utilitarian function) dan fungsi ekspresi nilai (valueexpressive function).
            Fungsi pengetahuan untuk mampu memahami karakteristik lingkungan fisiogeografis dan lingkungan sosiogeografis, sehingga timbul sikap menghargai lingkungan dan kehidupan yang ada di atasnya sebagai anugerah Tuhan. Fungsi penyesuaian diri, untuk menghargai perbedaan dan kemampuan penyesuaian diri terhadap tatanilai yang ada.. Fungsi manfaat adalah kemampuan mengambil manfaat atau nilai guna dari berbagai unsur alam dan aset sosial yang berguna bagi penunjang kehidupan. Fungsi ekspresi nilai, adalah fungsi untuk mengaktualisasi nilai-nilai moral dan etika dalam berinteraksi terhadap sesama  warga sesama bangsa dan lingkungan yang membentuk komunitas. 
            Dari pembahasan tersebut di atas dapat disarankan beberapa hal sebagtai beikut.  (1)   Pendidikan IPS Geografi perlu tetap dikembangkan di sekolah-sekolah untuk mengembangkan jiwa nasionalisme dan bangga terhadap tanah air yang memiliki berbagai potensi sumberdaya alam.  (2) Pendidikan IPS Geografi dapat juga dikembangkan pada komunitas profesi untuk membangkitkan modal sosial agar tumbuh kecintaan terhadap negara dan bangsa yang memiliki keunggulan dan karakteristik.  (3) Pendidikan IPS Geografi di kalangan warga negara pada umumnya dapat mengembangkan kesadaran geografis dan cinta terhadap lingkungan hidup untuk mengembangkan modal sosial yang berimplikasi pada solidaritas nasional dan solidaritas kemanusiaan untuk saling menghargai dan saling menghormati.

DAFTAR PUSTAKA
Abdulah, Taufik. 2000. Masayarakat Makin Kehilangan Empati dan Rasa Kemanusiaan KOMPAS. Jumat 3 Nopember 2000. hlm  7.
Forbes, Dean K.1986. Geografi Keterbelakangan: Sebuah Survai Kritis. Jakarta: LP3ES.
Latif, Yudi. 2006. Demokrasi dan Meritokrasi, KOMPAS. Sabtu 20 Mei 2006. hlm 6.
Maynard, Kimberly A. 1999. Healing Communities in Conflict .dikutip S. Bayu Wahono. 2001. Humaniora dan Kearifan Bangsa.  KOMPAS. Selasa 15 Mei 2001.
Raine, Adrians. 2004. Kurang Gizi Membikin Agresif. TEMPO, 15 Desember 2004.
Sills, Alan D. 2003. Earth Science: The Easy Way. New York: Barron’s Educational Series. Inc.
Yumarma, Andreas. 2006. Cinta Kepada Tanah Air. KOMPAS. Sabtu 8 Juli 2006. hlm 6.

Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "CONTOH MAKALAH PENDIDIKAN GEOGRAFI DALAM ILMU PENGETAHUAN SOSIAL UNTUK MENGEMBANGKAN MODAL SOSIAL"

PageRank

PageRank for wirajunior.blogspot.com
 
Template By Kunci Dunia
Back To Top