SILABUS DAN RPP BLOG

RPP lengkap Kurikulum 2013 dan KTSP

DOWNLOAD BUKU PEDOMAN PENDIDIKAN BUDAYA DAN KARAKTER BANGSA

A. Pendidikan karakter bangsa
Pembangunan karakter yang merupakan upaya perwujudan amanat Pancasila dan
Pembukaan UUD 1945 dilatarbelakangi oleh realita permasalahan kebangsaan yang
berkembang saat ini, seperti: disorientasi dan belum dihayatinya nilai-nilai Pancasila;
keterbatasan perangkat kebijakan terpadu dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila; bergesernya
nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; memudarnya kesadaran terhadap nilainilai
budaya bangsa; ancaman disintegrasi bangsa; dan melemahnya kemandirian bangsa (Buku
Induk Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025). Untuk mendukung
perwujudan cita-cita pembangunan karakter sebagaimana diamanatkan dalam Pancasila dan
Pembukaan UUD 1945 serta mengatasi permasalahan kebangsaan saat ini, maka Pemerintah
menjadikan pembangunan karakter sebagai salah satu program prioritas pembangunan
nasional. Semangat itu secara implisit ditegaskan dalam Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2015, di mana pendidikan karakter ditempatkan
sebagai landasan untuk mewujudkan visi pembangunan nasional, yaitu “mewujudkan
masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah
Pancasila.”

Terkait dengan upaya mewujudkan pendidikan karakter sebagaimana yang
diamanatkan dalam RPJPN, sesungguhnya hal yang dimaksud itu sudah tertuang dalam fungsi
dan tujuan pendidikan nasional, yaitu “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab” (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional --UUSPN).

Dengan demikian, RPJPN dan UUSPN merupakan landasan yang kokoh untuk
melaksanakan secara operasional pendidikan budaya dan karakter bangsa sebagai prioritas
program Kementerian Pendidikan Nasional 2010-2014, yang dituangkan dalam Rencana Aksi
Nasional Pendidikan Karakter (2010): pendidikan karakter disebutkan sebagai pendidikan
nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak yang bertujuan
mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk,
memelihara apa yang baik & mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan
sepenuh hati.

Atas dasar itu, pendidikan karakter bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan
mana yang salah, lebih dari itu, pendidikan karakter menanamkan kebiasaan (habituation)
tentang hal mana yang baik sehingga peserta didik menjadi paham (kognitif) tentang mana
yang benar dan salah, mampu merasakan (afektif) nilai yang baik dan biasa melakukannya
(psikomotor). Dengan kata lain, pendidikan karakter yang baik harus melibatkan bukan saja
aspek “pengetahuan yang baik (moral knowing), akan tetapi juga “merasakan dengan baik atau
loving good (moral feeling), dan perilaku yang baik (moral action). Pendidikan karakter
menekankan pada habit atau kebiasaan yang terus-menerus dipraktikkan dan dilakukan.
Berdasarkan alur pikir pembangunan karakter bangsa, pendidikan merupakan salah
satu strategi dasar dari pembangunan karakter bangsa yang dalam pelaksanaannya harus
dilakukan secara koheren dengan beberapa strategi lain. Strategi tersebut mencakup, yaitu
sosialisasi/penyadaran, pemberdayaan, pembudayaan dan kerjasama seluruh komponen
bangsa. Pembangunan karakter dilakukan dengan pendekatan sistematik dan integratif dengan
melibatkan keluarga, satuan pendidikan, pemerintah, masyarakat sipil, anggota legislatif, media
massa, dunia usaha, dan dunia industri (Buku Induk Pembangunan Karakter, 2010). Sehingga
satuan pendidikan adalah komponen penting dalam pembangunan karakter yang berjalan
secara sistemik dan integratif bersama dengan komponen lainnya.

B. Tujuan, Fungsi dan Media Pendidikan karakter
Pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang tangguh,
kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik,
berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai
oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.
Pendidikan karakter berfungsi (1) mengembangkan potensi dasar agar berhati baik,
berpikiran baik, dan berperilaku baik; (2) memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang
multikultur; (3) meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia.
Pendidikan karakter dilakukan melalui berbagai media yang mencakup keluarga,
satuan pendidikan, masyarakat sipil, masyarakat politik, pemerintah, dunia usaha, dan media
massa.

C. Nilai-nilai Pembentuk Karakter
Satuan pendidikan sebenarnya selama ini sudah mengembangkan dan melaksanakan
nilai-nilai pembentuk karakter melalui program operasional satuan pendidikan masing-masing.
Hal ini merupakan prakondisi pendidikan karakter pada satuan pendidikan yang untuk
selanjutnya pada saat ini diperkuat dengan 18 nilai hasil kajian empirik Pusat Kurikulum. Nilai
Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter, Puskurbuk, Januari 2011 prakondisi (the existing values) yang dimaksud antara lain takwa, bersih, rapih, nyaman, dan
santun.

Dalam rangka lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter telah teridentifikasi
18 nilai yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional, yaitu:
(1) Religius, (2) Jujur, (3) Toleransi, (4) Disiplin, (5) Kerja keras, (6) Kreatif, (7) Mandiri, (8)
Demokratis, (9) Rasa Ingin Tahu, (10) Semangat Kebangsaan, (11) Cinta Tanah Air, (12)
Menghargai Prestasi, (13) Bersahabat/Komunikatif, (14) Cinta Damai, (15) Gemar Membaca,
(16) Peduli Lingkungan, (17) Peduli Sosial, & (18) Tanggung Jawab (Pusat Kurikulum.
Pengembangan dan Pendidikan Budaya & Karakter Bangsa: Pedoman Sekolah. 2009:9-10). Nilai dan
deskripsinya terdapat dalam Lampiran 1.

Meskipun telah terdapat 18 nilai pembentuk karakter bangsa, namun satuan
pendidikan dapat menentukan prioritas pengembangannya dengan cara melanjutkan nilai
prakondisi yang diperkuat dengan beberapa nilai yang diprioritaskan dari 18 nilai di atas.
Dalam implementasinya jumlah dan jenis karakter yang dipilih tentu akan dapat berbeda
antara satu daerah atau sekolah yang satu dengan yang lain. Hal itu tergantung pada
kepentingan dan kondisi satuan pendidikan masing-masing. Di antara berbagai nilai yang
dikembangkan, dalam pelaksanaannya dapat dimulai dari nilai yang esensial, sederhana, dan
mudah dilaksanakan sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah/wilayah, yakni bersih,
rapih, nyaman, disiplin, sopan dan santun.

Sehubungan dengan hal tersebut, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada puncak
peringatan Hardiknas di Istana Negara (Selasa, 11 Mei 2010) mengutarakan:
”…Saudara-saudara, kalau saya berkunjung ke SD, SMP, Saudara sering mendampingi saya,
sebelum saya dipresentasikan sesuatu yang jauh, yang maju, yang membanggakan, Saya lihat kamar
mandi dan WC-nya bersih tidak, bau tidak, airnya ada tidak. Ada nggak tumbuhan supaya tidak
kerontang di situ. Kebersihan secara umum, ketertiban secara umum. Sebab kalau anak kita TK,
SD, SMP selama 10 tahun lebih tiap hari berada dalam lingkungan yang bersih, lingkungan yang
tertib, lingkungan yang teratur itu ada values creation. Ada character building dari segi itu. Jadi bisa
kita lakukan semuanya itu dengan sebaik-baiknya….”
untuk melatih kebersamaan, peduli lingkungan, kerja keras)
Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter, Puskurbuk, Januari 2011

D. Proses Pendidikan Karakter
Proses pendidikan karakter didasarkan pada totalitas psikologis yang mencakup
seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, psikomotorik) dan fungsi totalitas
sosiokultural dalam konteks interaksi dalam keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat.
Totalitas psikologis dan sosiokultural dapat dikelompokkan sebagaimana yang digambarkan
pertimbangan bahwa pada hakekatnya perilaku seseorang yang berkarakter merupakan
perwujudan fungsi totalitas psikologis yang mencakup seluruh potensi individu manusia
(kognitif, afektif, dan psikomotorik) dan fungsi totalitas sosial-kultural dalam konteks interaksi
(dalam keluarga, satuan pendidikan, dan masyrakat) dan berlangsung sepanjang hayat.
Konfigurasi karakter dalam kontek totalitas proses psikologis dan sosial-kultural dapat
dikelompokkan dalam: (1) olah hati (spiritual & emotional development); (2) olah pikir (intellectual
development); (3) olah raga dan kinestetik (physical & kinesthetic development); dan (4) olah rasa dan
karsa (affective and creativity development). Proses itu secara holistik dan koheren memiliki saling
keterkaitan dan saling melengkapi, serta masing-masingnya secara konseptual merupakan
gugus nilai luhur yang di dalamnya terkandung sejumlah nilai sebagaimana dapat di lihat pada

BAB II

STRATEGI PENDIDIKAN KARAKTER
A. Strategi di Tingkat Kementerian Pendidikan Nasional
Pendekatan yang digunakan Kementerian Pendidikan Nasional dalam pengembangan
pendidikan karakter, yaitu: pertama melalui stream top down; kedua melalui stream bottom up; dan
ketiga melalui stream revitalisasi program. Ketiga alur tersebut divisualisasikan dalam bagan di
bawah ini:
Bagan 3. Strategi Kebijakan Pendidikan Karakter
Strategi yang dimaksud secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Stream Top Down
Jalur/aliran pertama inisiatif lebih banyak diambil oleh Pemerintah/Kementerian
Pendidikan Nasional dan didukung secara sinergis oleh Pemerintah daerah dalam hal ini
Dinas pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota. Dalam stream ini pemerintah menggunakan
lima strategi yang dilakukan secara koheren, yaitu:
a. Sosialisasi
Kegiatan ini bertujuan untuk membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya
pendidikan karakter pada lingkup/tingkat nasional, melakukan gerakan kolektif dan
pencanangan pendidikan karakter untuk semua.
b. Pengembangan regulasi
Untuk terus mengakselerasikan dan membumikan Gerakan Nasional Pendidikan
Karakter, Kementerian Pendidikan Nasional bergerak mengonsolidasi diri di tingkat
internal dengan melakukan upaya-upaya pengembangan regulasi untuk memberikan
STRATEGI..KEBIJAKAN..PENDIDIKAN..KARAKTER
c. Pengembangan kapasitas
Kementerian Pendidikan Nasional secara komprehensif dan massif akan melakukan
upaya-upaya pengembangan kapasitas sumber daya pendidikan karakter. Perlu disiapkan
satu sistem pelatihan bagi para pemangku kepentingan pendidikan karakter yang akan
menjadi aktor terdepan dalam mengembangkan dan mensosialisikan nilai-nilai karakter.
d. Implementasi dan kerjasama
Kementerian Pendidikan Nasional mensinergikan berbagai hal yang terkait dengan
pelaksanaan pendidikan karakter di lingkup tugas pokok, fungsi, dan sasaran unit utama.
e. Monitoring dan evaluasi
Secara komprehensif Kementerian Pendidikan Nasional akan melakukan monitoring dan
evaluasi terfokus pada tugas, pokok, dan fungsi serta sasaran masing-masing unit kerja
baik di Unit Utama maupun Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, serta Stakeholder
pendidikan lainnya. Monitoring dan evaluasi sangat berperan dalam mengontrol dan
mengendalikan pelaksanaan pendidikan karakter di setiap unit kerja.
2. Stream Bottom up
Pembangunan pada jalur/tingkat (stream) ini diharapkan dari inisiatif yang datang dari
satuan pendidikan. Pemerintah memberikan bantuan teknis kepada sekolah-sekolah yang
telah mengembangkan dan melaksanakan pendidikan karakter sesuai dengan ciri khas di
lingkungan sekolah tersebut.
3. Stream Revitalisasi Program
Pada jalur/tingkat ketiga, merevitalisasi kembali program-program kegiatan
pendidikan karakter di mana pada umumnya banyak terdapat pada kegiatan ekstrakurikuler
yang sudah ada dan sarat dengan nilai-nilai karakter.
Integrasi Tiga Pendekatan (top down-bottom up-revitalisasi)
Ketiga jalur/tingkat top down yang lebih bersifat intervensi, bottom up yang lebih bersifat
penggalian bestpractice dan habituasi, serta revitalisasi program kegiatan yang sudah ada yang
lebih bersifat pemberdayaan.
Ketiga pendekatan tersebut, hendaknya dilaksanakan secara terintegrasi dalam
keempat pilar penting pendidikan karakter di sekolah sebagaimana yang dituangkan dalam
Desain Induk Pendidikan Karakter, (2010:28), yaitu: kegiatan pembelajaran di kelas,
pengembangan budaya satuan pendidikan, kegiatan ko-kurikuler, dan ekstrakurikuler.

B. Strategi di Tingkat Daerah
Ada beberapa langkah yang digunakan pemerintah daerah dalam pengembangan
pendidikan karakter, dimana semuanya dilakukan secara koheren.
1. Penyusunan perangkat kebijakan di tingkat kabupaten/kota.
Pendidikan adalah tugas sekolah, keluarga, masyarakat dan pemerintah. Untuk
mendukung terlaksananya pendidkan karakter di tingkat satuan pendidikan sangat
dipengaruhi dan tergantung pada kebijakan pimpinan daerah yang memiliki wewenang
untuk mensinerjikan semua potensi yang ada didaerah tersebut termasuk melibatkan
instansi-instansi lain yang terkait dan dapat menunjang pendidikan karakter ini. Untuk itu
diperlukan dukungan yang kuat dalam bentuk payung hukum bagi pelaksanaan kebijakan,
program dan kegiatan karakter.
2. Penyiapan dan penyebaran bahan pendidikan karakter yang diprioritaskan
Bahan pendidikan karakter yang dibuat dari pusat, sebagian masih bersifat umum dan
belum mencirikan kekhasan daerah tertentu. Oleh karena itu diperlukan penyesuaian dan
penambahan baik indikator maupun nilai itu sendiri berdasarkan kekhasan daerah. Selain
itu juga perlu disusun strategi dan bentuk-bentuk dukungan untuk menggandakan dan
menyebarkan (bukan hanya dikalangan persekolahan tapi juga di lingkungan masyarakat
luas).
3. Memberikan dukungan kepada Tim Pengembang Kurikulum (TPK) tingkat
kabupaten/kota melalui Dinas Pendidikan
Pembinaan persekolahan untuk pendidikan karakter yang bersumber nilai-nilai yang
diprioritaskan sebaiknya dilakukan terencana dan terprogram dalam sebuah program di
dinas pendidikan. Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan oleh tim professional tingkat daerah
seperti tim TPK Kabupaten/kota.
4. Dukungan sarana, Prasarana, dan Pembiayaan
Dukungan sarana, prasarana, dan pembiayaan ditunjang bukan hanya oleh dinas
pendidikan tapi juga oleh dinas-dinas lain yang terkait seperti dinas
pertamanan/pertanian dalam mengadakan tanaman hias atau tanaman produktif

C. Strategi di Tingkat Satuan Pendidikan
Strategi pelaksanaan pendidikan karakter di satuan pendidikan merupakan suatu kesatuan dari
program manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah yang terimplementasi dalam
pengembangan, pelaksanaan dan evaluasi kurikulum oleh setiap satuan pendidikan. Strategi
tersebut diwujudkan melalui pembelajaran aktif dengan penilaian berbasis kelas disertai
dengan program remidiasi dan pengayaan.
1. Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran dalam kerangka pengembangan karakter peserta didik dapat
menggunakan pendekatan kontekstual sebagai konsep belajar dan mengajar yang membantu
guru dan peserta didik mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata,
sehingga peserta didik mampu untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka. Dengan begitu, melalui
pembelajaran kontekstual peserta didik lebih memiliki hasil yang komprehensif tidak hanya
pada tataran kognitif (olah pikir), tetapi pada tataran afektif (olah hati, rasa, dan karsa), serta
psikomotor (olah raga).
Pembelajaran kontekstual mencakup beberapa strategi, yaitu: (a) pembelajaran
berbasis masalah, (b) pembelajaran kooperatif, (c) pembelajaran berbasis proyek, (d)
pembelajaran pelayanan, dan (e) pembelajaran berbasis kerja. Kelima strategi tersebut dapat
memberikan nurturant effect pengembangan karakter peserta didik, seperti: karakter cerdas,
berpikir terbuka, tanggung jawab, rasa ingin tahu.
2. Pengembangan Budaya Sekolah dan Pusat Kegiatan Belajar
Pengembangan budaya sekolah dan pusat kegiatan belajar dilakukan melalui kegiatan
pengembangan diri, yaitu:
a. Kegiatan rutin
Kegiatan rutin yaitu kegiatan yang dilakukan peserta didik secara terus menerus dan
konsisten setiap saat. Misalnya kegiatan upacara hari Senin, upacara besar kenegaraan,
pemeriksanaan kebersihan badan, piket kelas, shalat berjamaah, berbaris ketika masuk
kelas, berdo’a sebelum pelajaran dimulai dan diakhiri, dan mengucapkan salam apabila
bertemu guru, tenaga pendidik, dan teman.
b. Kegiatan spontan
Kegiatan yang dilakukan peserta didik secara spontan pada saat itu juga, misalnya,
mengumpulkan sumbangan ketika ada teman yang terkena musibah atau sumbangan
untuk masyarakat ketika terjadi bencana.
c. Keteladanan
Merupakan perilaku dan sikap guru dan tenaga kependidikan dan peserta didik dalam
memberikan contoh melalui tindakan-tindakan yang baik sehingga diharapkan menjadi
panutan bagi peserta didik lain. Misalnya nilai disiplin, kebersihan dan kerapihan, kasih
sayang, kesopanan, perhatian, jujur, dan kerjakeras.
d. Pengkondisian
Pengkondisian yaitu penciptaan kondisi yang mendukung keterlaksanaan pendidikan
karakter, misalnya kondisi toilet yang bersih, tempat sampah, halaman yang hijau dengan
pepohonan, poster kata-kata bijak yang dipajang di lorong sekolah dan di dalam kelas.
IMPLEMENTASI..PENDIDIKAN..KARAKTER..DALAM..KTSP
1...Integrasi dalam
mata pelajaran
yang..ada
Mengembangkan silabus dan RPP..pada kompetensi
yang..telah ada sesuai dengan nilai yang..akan
diterapkan
2...Mata..pelajaran
dalam Mulok
..Ditetapkan oleh sekolah/daerah
..Kompetensi dikembangkan oleh sekolah/daerah
3...Kegiatan
Pengembangan
Diri
..Pembudayaan&..Pembiasaan
..Pengkondisian
..Kegiatan rutin
..Kegiatan spontanitas
..Keteladanan
..Kegiatan terprogram
..Ekstrakurikuler
Pramuka; PMR; Kantin kejujuran
UKS; KIR;..Olah raga,..Seni;..OSIS
..Bimbingan Konseling
Pemberian layanan bagi anak yang..mengalami
masalah
3. Kegiatan ko-kurikuler dan atau kegiatan ekstrakurikuler
Demi terlaksananya kegiatan ko-kurikuler dan ekstrakurikuler yang mendukung
pendidikan karakter, perlu didukung dengan dengan perangkat pedoman pelaksanaan,
pengembangan kapasitas sumber daya manusia dalam rangka mendukung pelaksanaan
pendidikan karakter, dan revitalisasi kegiatan ko dan ekstrakurikuler yang sudah ada ke arah
pengembangan karakter.
4. Kegiatan keseharian di rumah dan di masyarakat
Dalam kegiatan ini sekolah dapat mengupayakan terciptanya keselarasan antara
karakter yang dikembangkan di sekolah dengan pembiasaan di rumah dan masyarakat. Agar
pendidikan karakter dapat dilaksanakan secara optimal, pendidikan karakter dapat
diimplementasikan sebagaimana yang terdapat dalam Tabel di bawah ini.
Tabel 1. Implementasi Pendidikan Karakter dalam KTSP

D. Penambahan Alokasi Waktu Pembelajaran
Apabila pendidikan karakter diintegrasikan dalam ko-kurikuler dan ekstrakurikuler
akan memerlukan waktu sesuai dengan kebutuhan dan karakteristiknya. Untuk itu,
penambahan alokasi waktu pembelajaran dapat dilakukan, misalnya:
1. Sebelum pembelajaran di mulai atau setiap hari seluruh siswa diminta membaca surat-surat
pendek dari kitab suci, melakukan refleksi (masa hening) selama 15 s.d 20 menit.
2. Di hari-hari tertentu sebelum pembelajaran dimulai dilakukan kegiatan muhadarah
(berkumpul dihalaman sekolah) selama 35 menit. Kegiatan itu berupa baca Al-Quran dan
terjemahan, maupun siswa berceramah dengan tema keagamaan sesuai dengan kepercayaan
masing-masing dalam beberapa bahasa (bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa
Daerah, serta bahasa asing lainnya), kegiatan ajang kreatifitas seperti: menari, bermain
musik dan baca puisi. Selain itu juga dilakukan kegiatan bersih lingkungan dihari Jum’at
atau Sabtu (Jum’at/Sabtu bersih).
3. Pelaksanaan ibadah bersama-sama di siang hari selama antara 30 s.d 60 menit.
4. Kegiatan-kegiatan lain diluar pengembangan diri, yang dilakukan setelah jam pelajaran
selesai.
5. Kegiatan untuk membersihkan lingkungan sekolah sesudah jam pelajaran berakhir
berlangsung selama antara 10 s.d 15 menit.

E. Penilaian Keberhasilan
Untuk mengukur tingkat keberhasilan pelaksanaan pendidikan karakter di satuan
pendidikan dilakukan melalui berbagai program penilaian dengan membandingkan kondisi
awal dengan pencapaian dalam waktu tertentu. Penilaian keberhasilan tersebut dilakukan
melalui langkah-langkah berikut:
1. Menetapkan indikator dari nilai-nilai yang ditetapkan atau disepakati
2. Menyusun berbagai instrumen penilaian
3. Melakukan pencatatan terhadap pencapaian indikator
4. Melakukan analisis dan evaluasi
5. Melakukan tindak lanjut

BAB III

PENGEMBANGAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

A. Komponen KTSP
Pendidikan karakter merupakan satu kesatuan program kurikulum satuan pendidikan.
Oleh karena itu program pendidikan karakter secara dokumen diintegrasikan ke dalam
kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Dengan kata lain, pendidikan karakter harus
tertera dalam KTSP mulai dari visi, misi, tujuan, struktur dan muatan kurikulum, kalender
pendidikan, silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
B. Tahapan Pengembangan
Pelaksanaan pendidikan karakter di satuan pendidikan perlu melibatkan seluruh warga
satuan pendidikan, orangtua siswa, dan masyarakat sekitar. Prosedur pengembangan
kurikulum yang mengintegrasikan pendidikan karakter di satuan pendidikan dilakukan melalui
tahapan sebagai berikut:

1. Melaksanakan sosialisasi pendidikan karakter dan melakukan komitmen bersama antara
seluruh komponen warga sekolah (tenaga pendidik dan kapendidikan serta komite
sekolah).

2. Membuat komitmen dengan semua stakeholder (seluruh warga sekolah, orang tua siswa,
komite, dan tokoh masyarakat setempat) untuk mendukung pelaksanaan pendidikan
karakter.

3. Melakukan analisis konteks terhadap kondisi sekolah (internal dan eksternal) yang
dikaitkan dengan nilai-nilai karakter yang akan dikembangkan pada satuan pendidikan yang
bersangkutan. Analisis ini dilakukan untuk menetapkan nilai-nilai dan indikator
keberhasilan yang diprioritaskan, sumber daya, sarana yang diperlukan, serta prosedur
penilaian keberhasilan.

4. Menyusun rencana aksi sekolah berkaitan dengan penetapan nilai-nilai pendidikan karakter.
5. Membuat perencanaan dan program pelaksanaan pendidikan karakter, yang berisi:

.. Pengintegrasian melalui pembelajaran
.. Penyusunan mata pelajaran muatan lokal
.. Kegiatan lain
.. Penjadwalan dan penambahan jam belajar di sekolah
6. Melakukan pengkondisian, seperti:

.. Penyediaan sarana
.. Keteladanan
.. Penghargaan dan pemberdayaan

7. Melakukan penilaian keberhasilan dan supervisi
Untuk keberlangsungan pelaksanaan pendidikan karakter perlu dilakukan penilaian
keberhasilan dengan menggunakan indikator-indikator berupa perilaku semua warga dan
kondisi sekolah/instansi yang teramati. Penilaian ini dilakukan secara terus menerus melalui
berbagai strategi. Supervisi dilakukan mulai dari menelaah kembali perencanaan,
kurikulum, dan pelaksanaan semua kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan karakter,
yaitu:

.. Implementasi program pengembangan diri berkaitan dengan pengembangan nilai
pendidikan budaya dan karakter bangsa dalam budaya sekolah

.. Kelengkapan sarana dan prasarana pendukung implementasi pengembangan nilai
pendidikan budaya dan karakter bangsa

.. Implementasi nilai dalam pembelajaran

.. Implementasi belajar aktif dalam pembelajaran

.. Ketercapaian Rencana Aksi Sekolah berkaitan dengan penerapan nilai-nilai pendidikan
budaya dan karakter bangsa

.. Penilaian penerapan nilai pendidikan karakter dan budaya bangsa pada pendidik,
tenaga kependidikan, dan peserta didik (sebagai kondisi akhir)

.. Membandingkan kondisi awal dengan kondisi akhir dan merancang program lanjutan.
8. Melakukan penyusunan KTSP yang memuat pengembangan nilai-nilai pendidikan
karakter dan budaya bangsa.

.. Mendata kondisi dokumen awal (mengidentifikasi nilai-nilai pendidikan budaya dan
karakter bangsa dalam dokumen I)
.. Merumuskan nilai-nilai pendidikan karakter dan budaya bangsa di dalam (latar
belakang pengembangan KTSP, Visi, Misi, Tujuan Sekolah, Struktur dan Muatan
Kurikulum, Kalender Pendidikan, dan program Pengembangan Diri)
.. Mengitengrasikan nilai-nilai pendidikan karakter dan budaya bangsa dalam dokumen
II (silabus dan RPP)

C. Penyiapan Perangkat dalam rangka Pelaksanaan Pendidikan Karakter di Satuan

Pendidikan
Terkait dengan penyiapan perangkat itu telah dilakukan kegiatan-kegiatan berikut:
1. Pembentukan Tim “Penggerak” Tingkat Nasional, Tingkat Propinsi, Tingkat
Kabupaten/Kota, dan Tingkat Satuan Pendidikan

2. Pemetaan kesiapan pelaksanaan pendidikan karakter di PAUD, SD, SMP, SMA, SMK,
SLB dan PKBM untuk setiap Kabupaten/Kota (Sumber: Bantuan Teknis Profesional

Tim Pengembang Kurikulum di Tingkat Propinsi dan Kab/Kota, 2010; ToT Tingkat
Utama dan Tingkat Nasional terhadap 1.200 orang peserta dari unsur-unsur unit
Utama Kemendiknas, Dinas Pendidikan Provinsi & Kab/Kota, P4TK; LPMP; dan
Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta)

3. Menyiapkan bahan pelaksanaan pendidikan karakter pada setiap satuan pendidikan
(Buku Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter, 2011)
4. Penyiapan bahan sosialisasi berupa bahan/materi pelatihan untuk pelaksanaan
pendidikan karakter dengan waktu/masa pelatihan yang bervariasi berupa booklet, leaflet
diperuntukan bagi pemangku kepentingan dalam pelaksanaan pendidikan karakter di
setiap satuan pendidikan

5. Contoh-contoh Best practice pelaksanaan pendidikan karakter di setiap jenjang
pendidikan (Sumber: Laporan Pelaksanaan Hasil Piloting dari 16 propinsi di 16
Kab/Kota yang dilaksanakan oleh Pusat Kurikulum pada Tahun Anggaran 2010).

BAB IV

PELAKSANAAN PENDIDIKAN KARAKTER
Pada bab ini disajikan gambaran umum pelaksanaan pendidikan karakter (best practice)
di semua jenjang satuan pendidikan. Gambaran umum ini diharapkan dapat menjadi bahan
belajar (lesson learn) bagi setiap satuan pendidikan. Satuan pendidikan yang dipilih sebagai
contoh dalam naskah pedoman ini adalah 7 satuan pendidikan (PAUD/TK, SD. SMP, SMA,
SMK, SLB, PKBM) dari satuan pendidikan yang menjadi peserta program “sekolah piloting”
di 16 kab/kota dengan 125 sekolah sebagai sekolah rintisan. Berikut ini disajikan contoh the
best practice tersebut:

A. Pendidikan Anak Usia Dini
Pendidikan Anak Usia Dini dipilih salah satu TK, yaitu TKN Pembina Kota Mataram
yang terletak di Jl. Pemuda No. 61 Mataram. Keadaan pendidik dan tenaga kependidikan di
TK Pembina adalah (1) Jumlah Guru Negeri : 7 Orang, (2) Jumlah Guru Honor : 5 Orang
(3) Kwalifikasi akademik : S1 4 orang Guru Negeri dan 2 org Guru Honor, (4) Sertifikasi
Guru : 2 Orang. Untuk keperluan pengetikan merekrut 1 orang tenaga administrasi.
Pada saat ini Dokumen I yang disusun sudah mulai disempurnakan sesuai dengan
hasil analisis konteks dan sudah menggunakan acuan Peraturan Menteri Pendidikan Nasioanal
No. 58 tahun 2009 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini dan sudah memasukkan nilainilai
pembentuk karakter yang menjadi prioritas. Ini terlihat dalam rumusan visi dan misi.
Setiap guru telah menyusun Rencana Kegiatan Mingguan (RKM) dan Rencana Kegiatan
Harian (RKH) yang juga telah mengintegrasikan nilai-nilai pembentuk karakter yang menjadi
prioritas, seperti kemandirian, kebersihan, religius, dan sopan-santun.
1. Prosedur dan langkah pengembangan pendidikan Karakter di sekolah
Untuk merealisasikan pendidikan karakter dalam seluruh kegiatan di TKN Pembina
Kota Mataram dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Memilih dan menentukan nilai-nilai yang diprioritaskan untuk dikembangkan berdasarkan
hasil analisis konteks dengan mempertimbangkan ketersediaan sarana dan kondisi yang
ada.

Untuk mengunduh Buku pedoman pendidikan budaya dan karakter bangsa ini? Silahkan Klik  DOWNLOAD

Nah demikian postingan untuk kali ini semoga apa yang diberikan wirajunior blog pagi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Dan terima kasih sudah berkunjung......

Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "DOWNLOAD BUKU PEDOMAN PENDIDIKAN BUDAYA DAN KARAKTER BANGSA"

PageRank

PageRank for wirajunior.blogspot.com
 
Template By Kunci Dunia
Back To Top