SILABUS DAN RPP BLOG

RPP lengkap Kurikulum 2013 dan KTSP

DOWNLOAD MAKALAH KOPERASI KOPERASI SIMPAN PINJAM DI KOTA DAN KABUPATEN MALANG



1.1.1. Keadaan Sosial
                        “ Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”
            Pernyataan tersebut merupakan sila kelima dari Pancasila Indonesia. Sila ini berarti tugas dan kewajiban kita masing-masing untuk mengurangi atau menghilangkan kemiskinan di seluruh kepulauan Indonesia. [1] Di Indonesia pada saat ini ada ribuan orang miskin. Menurut Bank Dunia, persentase penduduk Indonesia yang miskin masih 16.0 per sen. [2] Masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di desa, tidak memiliki konsep tabungan, padahal bisa dikatakan bahwa masih ada beberapa hambatan tabungan, misalnya keadaan hidup mereka yang pas-pasan, hambatan psikologis dan pola penabungan tradisional, yaitu tabungan secara ayam, hewan, motor dan sebagainya. [3] Menurut Nugroho misalnya,
“…dalam komunitas pedesaan jawa, hutang merupakan tindakan sosial yang memiliki konotasi negative dan cenderung tabu dibicarakan…” [4]
Oleh karena itu, orang Indonesia perlu bimbingan dan pendidikan terhadap baik konsep maupun pelaksanaan tabungan. Orang miskin merupakan risiko. Akan tetapi, menurut Remenyi orang miskin merupakan risiko baik dan aset bukan pertanggung. [5] Sikap seperti ini dan juga dengan pengertian Yunus bahwa artinya kredit adalah kepercayaan, [6] sudah menyebabkan fenomena koperasi simpan pinjam berkembang di negara Indonesia.
1.1.2. Konsep Koperasi
            Penelitian ini didasarkan pada koperasi simpan pinjam yang terletak di daerah Malang, Jawa Timur. Walaupun fokus penelitian ini khususnya terhadap koperasi simpan pinjam, masih ada peraturan yang bersangkut-paut untuk semua jenis koperasi yang ada di Indonesia. Sebagai koperasi, ada beberapa peraturan dan syarat yang harus diikuti oleh koperasi masing-masing. Syarat-syarat dan peraturan tersebut merupakan formalitas yang penting dalam pelaksanaan sehari-hari. Pemerintah Indonesia berperan aktif dalam kehidupan koperasinya. Menurut pasal 37 dalam Undang-Undang no.12 tahun 1967, pemerintah berkewajiban untuk memberikan bimbingan, pengawasan, perlindungan dan fasilitas terhadap koperasi serta memampukannya untuk melaksanakan pasal 33 UUD 1945. [7] Oleh karena pendukungan ini, perkembangan koperasi di Indonesia naik secara terus-menerus.
            Menurut Hendrojogi,
“ Koperasi adalah perkumpulan otonom dari orang-orang yang bergabung secara sukarela untuk menemuhi kebutuhan dan aspirasi ekonomi, sosial dan budaya mereka yang sama melalui pemisahan yang dimiliki dan diawasi secara demokratis.” [8]
Menurut Undang-Undang (UU) no.12 tahun 1967, pasal 4, koperasi Indonesia memiliki berfungsi sebagai:
a)      alat perjuangan ekonomi untuk mempertinggi kesejahteraan rakyat
b)      alat perdemokrasian ekonomi nasional
c)      salah satu urat nadi perekonomian bangsa Indonesia
d)     alat pembina insane masyarakat untuk memperkokoh kedudukan ekonomi bangsa Indonesia bersatu dalam mengatur tata laksana perekonomian rakyat.
Yang penting juga adalah mempertinggi taraf hidup anggotanya, meningkatkan produksi dan mewujudkan pendapatan yang adil dan kemakmuran yang merata. [9] Selanjutnya, koperasi Indonesia wajib memiliki dan berlandaskan nilai-nilai menolong diri-sendiri, bertanggung jawab kepada diri-sendiri, demokrasi, persamaan, keadilan dan solidaritas. [10]     
1.1.3. Prinsip Koperasi
            Ketentuan dan prinsip koperasi juga cukup banyak dan berasal dari UU no. 79 tahun 1958. Prinsip-prinsip koperasi sebagai berikut:
a)      berasas kekeluargaan (gotong-royong)
b)      bertujuan mengembangkan kesejahteraan anggotanya pada khususnya dan kesejahteraan masyarakat dan daerah bekerjanya pada umumnya
c)      dengan berusaha:
              i.            mewajibkan dan mengingatkan anggotanya untuk menyimpan secara teratur
            ii.            mendidik anggotanya ke arah kesadaran (berkoperasi)
          iii.            menyelenggarakan salah satu atau beberapa usaha dalam lapangan perekonomian
d)     keanggotaan berdasar sukarela mempunyai kepentingan, kewajiban dan hak yang sama, dapat diperoleh dan akhiri setiap waktu dan menurut kehendak yang berkepentingan, setelah syarat-syarat dalam anggaran dasar terpenuhi [11]
Undang-undang tersebut diperbarui pada tahun 1992 dengan UU no.25, pasal 33 yang menetapkan yang berikut:
1.      Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka
2.      Pengelolaan dilakukan secara demokratis
3.      Pembagian sisa hasil usaha (SHU) dilakukan adil dan sebanding dengan besarnya jasa usaha masing-mading anggota
4.      Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal
5.      Kemandirian [12]
Bisa dilihat dari definisi dan ketentuan koperasi bahwa koperasi Indonesia dalam konteks umum bertujuan untuk kesejahteraan dan kemanfaatan anggota serta mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.
            Fokus pemerintah terhadap pendirian koperasi menyebabkan pertumbuhan koperasi yang luar biasa di seluruh kepulauan Indonesia. Padahal, jumlah koperasi dan anggotanya meningkat 2 kali lipat pada akhir tahun 2001 dibandingkan dengan Desember 1998. Yang paling dominan adalah koperasi kredit, dan jumlah koperasi yang masih terkait dengan program pemerintah tinggal 25%. [13] Berdasarkan pasal 2, PP 60/1959 ada 7 jenis koperasi. Yaitu,
1.      Koperasi Desa
2.      Koperasi Pertanian
3.      Koperasi Perternakan
4.      Koperasi Perikanan
5.      Koperasi Kerajinan/Industri
6.      Koperasi Simpan Pinjam
7.      Koperasi Konsumsi [14]
1.1.4. Koperasi Simpan Pinjam
Fokus penelitian ini adalah Koperasi simpan pinjam. Koperasi sejenis ini didirikan untuk memberi kesempatan kepada anggotanya memperoleh pinjaman dengan mudah dan bunga ringan. Koperasi simpan pinjam berusaha untuk,
“…mencegah para anggotanya terlibat dalam jeratan kaum lintah darat pada waktu mereka memerlukan sejumlah uang…dengan jalan menggiatkan tabungan dan mengatur pemberian pinjaman uang…dengan bunga yang serendah-rendahnya…” [15]
Koperasi simpan pinjam menghimpun dana dari para anggotanya yang kemudian menyalurkan kembali dana tersebut kepada para anggotanya. Menurut Widiyanti dan Sunindhia, koperasi simpan pinjam memiliki tujuan untuk mendidik anggotanya hidup berhemat dan juga menambah pengetahuan anggotanya terhadap perkoperasian. [16]
            Untuk mencapai tujuannya, berarti koperasi simpan pinjam harus melaksanakan aturan mengenai peran pengurus, pengawas, manajer dan yang paling penting, rapat anggota. Pengurus berfungsi sebagai pusat pengambil keputusan tinggi, pemberi nasehat dan penjaga berkesinambungannya organisasi dan sebagai orang yang dapat dipercaya. Menurut UU no.25 tahun 1992, pasal 39, pengawas bertugas melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijaksanaan dan pengelolaan koperasi dan menulis laporan koperasi, dan berwewenang meneliti catatan yang ada pada koperasi, mendapatkan segala keterangan yang diperlukan dan seterusnya. Yang ketiga, manajernya koperasi simpan pinjam, seperti manajer di organisasi apapun, harus memiliki ketrampilan eksekutif, kepimpinan, jangkauan pandangan jauh ke depan dan mememukan kompromi dan pandangan berbeda. Akan tetapi, untuk mencapai tujuan, rapat anggota harus mempunyai kekuasaan tertinggi dalam organisasi koperasi. Hal ini ditetapkan dalam pasal 22 sampai pasal 27 UU no.25 tahun 1992. [17]
1.1.5. Sumber Permodalan
            Seperti dalam semua perusahaan harus ada sumber permodalan. Menurut UU no 12. tahun 1967, sumber permodalan untuk koperasi adalah sebagai berikut:
a)      Simpanan pokok – yaitu semjumlah uang yang diwajibkan kepada anggota untuk diserahkan kepada koperasi pada waktu masuk, besarnya sama untuk semua anggota, tidak dapat diambil selama anggota, menanggung kerugian.
b)      Simpanan wajib – yaitu simpanan tertentu yang diwajibkan kepada anggota untuk membayarnya kepada koperasi pada waktu tertentu, ikut menanggung kerugian.
c)      Simpanan sukarela – berdasarkan perjanijian atau peraturan khusus.
Selanjutnya, sumber permodalan boleh berasal dari koperasi lain, bank atau lembaga keuangan lain. Di samping ini, sumber permodalan boleh berasal dari cadangan, yang menurut pasal 41 Undang-undang no.25 tahun 1992, adalah sejumlah uang yang diperoleh dari penyisihan sisa usaha yang dimasukkan untuk memupuk modal sendiri dan untuk menutup kerugian koperasi bila diperlukan. [18] Yang jelas, sumber permodalan koperasi harus berasal dari lembaga yang sah dan akan berbeda di setiap koperasi.
            Walaupun pengertian tersebut baik luas maupun panjang, diperlukan untuk mendapatkan pemahaman terhadap koperasi yang ada di Indonesia pada saat ini. Bisa dilihat bahwa peraturan dan prisip-prinsip koperasi cukup banyak dan tujuannya sangat luas. Oleh karena itu, peran koperasi di ekonomi Indonesia sangat penting.


1.2. Sejarah Koperasi di Indonesia
1.2.1. Zaman Belanda
            Sejarah Koperasi di Indonesia, khususnya koperasi simpan pinjam, mulai pada waktu penjajahan oleh Belanda. Konsep koperasi pertama kali diperkenalkan oleh Raden Ana Wiraatmaja, seorang Patih di Purwokerto dengan pendirian bank khusus untuk menolong para pegawai agar tidak terjerat oleh rentenir. Bank ini dinamakan Bank Penolongan dan Tabungan. [19] Pada tahun 1915, ada UU Koperasi yang pertama, yaitu, Verordenin op de Cooperative Vereenigingen. Bisa dikatakan bahwa dengan pelaksanaan UU ini, pemerintah Belanda memang tidak secara ikhlas dan tulus akan mengembangkan dan memajukan koperasi di Indonesia. [20] Jadi, bisa dilihat bahwa negara Indonesia masuk gerakan koperasi sebelum mencapai kemerdekaan.
1.2.2. Zaman Jepang
            Dengan pendudukan Jepang pada tahun-tahun akhir Perang Dunia II, gerakan koperasi di Indonesia berubah secara drastis. Menurut Widiyanti dan Sunindhia, koperasi yang ada di Indonesia pada waktu itu “dihancurkan sama sekali” oleh Jepang. [21] Pemerintah mengeluarkan UU no.23 tahun 1942 yang antara lain menentukan bahwa untuk mendirikan perkumpulan dan mengadakan rapat-rapat harus minta ijin terlebih dulu pada residen. Padahal, koperasi menjadi alat pemerintahan militer Jepang untuk mengadakan pengumpulan dan distribusi barang-barang, berdasarkan ketentuan dan kebutuhan perangnya di pasifik. [22] Oleh karena ini, koperasi Indonesia hampir terpaksa mulai lagi dengan deklarasi kemerdekaan pada tahun 1945.
1.2.3. Zaman Awal Kemerdekaan
            Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya pada tahun 1945. Padahal, ketentuan koperasi ditetapkan di undang-undang dasar 1945. Menurut pasal 33, perekonomian Indonesia disusun berdasarkan asas berikut:
  1. Demokrasi ekonomi
  2. Kekeluargaan
  3. Kebersamaan
  4. Individualisme ditolak
  5. Keadilan sosial [23]
Yang jelas, cocok dengan asas-asas ini adalah koperasi, jadi Undang-undang ini menjamin berlangsungannya perkoperasian di negara Indonesia. [24] Selanjutnya, ada beraneka ragam Undang-undang tentang perkoperasikan yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia, sehingga perkembangan koperasi mengalami percepatan karena adanya kemudahan bagi masyarakat untuk mendirikan koperasi. [25] Pada tahun 1939, jumlah koperasi yang ada di Indonesia adalah 574, sedangkan pada tahun 1958, jumlah ini sudah mencapai 11 863 koperasi. [26] Koperasi tumbuh dengan keinginan masyarakat setempat dalam upayanya meningkatkan kesejahteraan. Koperasi yang didirikan termasuk, koperasi pertanian, perikanan, unggas, konsumsi dan juga koperasi desa. Akan tetapi, dengan fenomena liberalisme yang ada di Indonesia pada waktu menjelang zaman orde baru, tidak ada jalan lancar untuk koperasi oleh karena gerakan politik yang makin lama makin kuat. Di antara tahun 1959 sampi 1965 ada banyak penyalahgunaan oleh pengelola di koperasi Indonesia. [27] Kenyataannya, koperasi Indonesia makin lama makin kehilangan sifatnya sebagai koperasi yang sebenarnya. Bisa dikatakan bahwa koperasi dijadikan alat distribusi sebagai propaganda politik. [28]
1.2.4. Zaman Orde Baru
            Di bawah pemerintahan Presiden Suharto, koperasi Indonesia mengalami pembersihan untuk mengembalikan fungsi yang hakiki dari gerakan koperasi Indonesia, agar dapat berjalan sesuai dengan pasal 33 UUD tahun 1945. Jadi dirumuskan kebijaksanaan baru. Ini diwujudkan dengan PELITA I, tahun 1969-1973. Keberhasilannya bisa dilihat di tabel berikut.


Tabel 1.1     Pertumbuhan banyaknya koperasi dan anggota pada tahun 1969-1973
Tahun
Jumlah Koperasi
Jumlah Anggota
1969
13 349
2 723 056
1970
16 263
2 931 340
1971
16 755
2 750 193
1972
18 054
2 791 076
1973
18 850
2 921 750
Sumber:     Dra. Ninik Widiyanti & Y.W Sunindhia, S.H., Koperasi dan Perekonomian Indonesia, 2003, PT Rineka Cipta & PT Bina Adiaksara, Jakarta, hlm., 95.

Sejak Orde Baru, gerakan koperasi di Indonesia makin lama makin besar, hal ini terbukti dengan banyaknya koperasi baru yang didirikan di seluruh daerah di Indonesia.
1.3. Sejarah Koperasi Simpan Pinjam di Malang Menurut Ibu Mursiah Zaafril          Ibu Mursiah Zaafril adalah seorang wanita yang luar biasa. Tahun ini Beliau mencapai usianya 74 tahun. Beliau tidak ada berpendidikan tinggi, tapi dia sudah mencapai banyak hal selama hidupnya. Ibu ini merupakan kunci sejarah koperasi simpan pinjam di kota Malang. Beliau sudah ikut mendirikan dan mengelola beberapa koperasi simpan pinjam di Malang, dan sangat penting dalam perkembangan koperasi simpan pinjam di Jawa Timur.         
            Menurut Ibu Zaafril, pada waktu kemerdekaan, negara Indonesia memiliki pilihan dua. Yaitu, menjadi negara kapitalis dengan efek ‘trickle down’ atau negara sosialis dengan tekanan kepada bersamaan. Ibu Zaafril berpendapat bahwa kapitalisme baik, tetapi selalu ada risiko dan selalu ada kesenjangan di antara kaya dan miskin, jadi Indonesia lebih cocok dengan sosialisme, karena dengan sosialisme ada pembinaan untuk masyarakat. Beliau punya ide untuk mendirikan koperasi yang bergantung kepada dan dipaham oleh masyarakat Indonesia sendiri.
            Ibu Zaafril keliling Jawa Timur dan melihat keadaan. Dia tahu bahwa sudah ada koperasi wanita, khususnya di Kediri dan Ponerogo, tetapi rupanya anggotanya hanya sedikit dan tidak ada perkembangan yang menonjol. Lagipula, Ibu Zaafril sadar tentang sistem arisan yang sudah ada. Arisan merupakan salah satu tradisi Indonesia yang sudah lama masuk kehidupan sehari-hari. Arisan adalah suatu bentuk kerja sama tertentu yang didasari rasa kekeluargaan atau persaudaraan, yang mana para peserta pada waktu tertentu berkumpul di tempat tertentu yang diatur secara bergiliran, yang masing-masing menyerahkan sejumlah uang yang sama dan atas kesepakatan bersama diundi siapakah yang berhak mernarik sejumlah uang yang terkumpul tersubut. Maksud arisan adalah untuk mempererat rasa persaudaraan, menyimpan sejumlah uang tertentu dan yang ketiga untuk membiasakan hidup hemat dan berdisiplin. [29]
            Pada waktu itu, Ibu Mursiah Zaafril ingin memperluas koperasi yang sudah ada didasarkan tradisi arisan. Dari ini muncul ide, diciptakan namanya Sistem Tanggung Renteng (sistem ini akan dibahas secara lengkap di bab berikut). Ibu Zaafril sadar bahwa alasan kegagalan atau perkembangan statis koperasi simpan pinjam di Indonesia berasal dari masalah pembinaan. Oleh karena ini, Beliau tahu harus ada bertanggung jawab, jadi Beliau bekerja dengan keras, alhasil koperasi simpan pinjam di Indonesia mengalami perubahan yang luar biasa.
            Tujuan Ibu Mursiah Zaafril adalah untuk merubah manusia. Menurut dia orang perlu disiplin, “itu yang lebih penting”. Ibu Zaafril percaya bahwa kalau orang masing-masing berubah, maka negara Indonesia akan merubah. Jadi Beliau ingin membuat koperasi untuk membina manusia. Pada waktu kemerdekaan Indonesia sudah dijajah oleh Belanda selama ratusan tahun sehingga walaupun sudah merdeka, masih ada keperluan pembinaan. Oleh karena itu, Beliau ingin menciptakan koperasi-koperasi dengan sistem pembinaan, dan dia berhasil.
            Perjuangannya untuk negara mengalami banyak tantangan, seperti beliau bahkan harus masuk penjara oleh karena keterlibatannya dengan orang komunis. Beliau mencoba masuk orang komunis ke dalam koperasi, katanya, “tujuan saya untuk merubah mereka”. Beliau ikut beberapa koperasi simpan pinjam di Jawa Timur, khususnya di daerah Malang dan oleh karena kemauan dan keinginan Ibu ini sistem koperasi simpan pinjam bisa berjalan lancar sampai hari ini dan pasti pada masa depan. [30]


BAB II

LATAR BELAKANG PENELITIAN


2.1. Tujuan Penelitian
            Menurut Bank Dunia, negara Indonesia merupakan salah satu negara miskin di dunia. Bisa dikatakan bahwa kemiskinan tersebar secara luas di setiap sudut kepulauan, ada jutaan orang Indonesia yang hidupnya di bawah garis kemiskinan. Orang miskin berada di lingkaran setan kemiskinan, kebanyakan dari mereka hidup tanpa harapan atau visi untuk masa depan. Walaupun demikian, ke banyakan orang miskin, sudah ada jalan ke luar dari kemiskinannya, yaitu dengan koperasi simpan pinjam. Makin lama makin banyak orang yang mencapai hidup yang lebih baik dengan sistem koperasi simpan pinjam ini.
            Di seluruh Indonesia ada banyak lembaga dan koperasi simpan pinjam, khususnya di kota Malang, Jawa Timur. Maka, tujuan utama penelitian ini adalah untuk memahami dan mengamati prosedur koperasi simpan pinjam sebagai keseluruhan, dilihat dari semua segi. Yaitu dari pendapat anggota, penanggung jawab atau PJ kelompok, ketua, pengurus, pengawas dan karyawan koperasi.
            Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut, harus ada pemahaman latar belakang koperasi simpan pinjam dulu. Jadi, tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan pengertian tentang sejarah koperasi simpan pinjam di kota Malang, khususnya perkembangan STR atau sistem tanggung renteng. Yang kedua, tujuan penelitian ini adalah untuk mengamati keadaan ekonomi di Malang pada saat ini dan memahami kontribusi, kalau ada, dari koperasi simpan pinjam yang ada.
            Tujuan penelitian utama adalah untuk mendapatkan pemahaman koperasi simpan pinjam dalam hal berikut:
  1. Struktur Organisasi
  2. Anggota
  3. Proses Pinjaman
  4. Pengunaan Pinjaman
  5. Struktur Kelompok
  6. Pendidikan
  7. Pelayanan Lainnya
  8. Manfaat
  9. Masalah.
Dari banyak buku dan artikel, ternyata sistem koperasi simpan pinjam sudah berhasil di Indonesia, dan bisa dikatakan sukses. Selain itu, tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh pemahaman prosedur koperasi simpan pinjam secara keseluruhan, dampak negative, dampak positif, manfaat dan masalah serta upaya mengatasi masalah. Rupanya dengan sedikit uang ada banyak manfaat untuk anggota; koperasi simpan pinjam bisa menghidupi anggotanya, tujuan penelitian adalah untuk mengetahui peran dan mekanisme sistem mikrokredit di Indonesia dalam hal ini koperasi simpan pinjam.


2.2. Metode Penelitian
Seperti yang sudah disebutkan di atas, tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan pengertian prosedur koperasi simpan pinjam secara keseluruhan. Secara jelas, oleh karena batasan waktu, tidak mungkin untuk meneliti prosedur di banyak koperasi simpan pinjam di daerah Malang. Jadi, penelitian ini akan difokuskan kepada 2 koperasi simpan pinjam, satu di daerah desa dan satu di kota. Untuk perkotaan koperasi simpan pinjam yang dipilih adalah Koperasi Setia Budi Wanita di kota Malang dan untuk wilayah desa ditetapkan. Koperasi Citra Kartini di kecamatan Sumberpucung. Dipilihnya 2 koperasi ini dengan harapan dapat memberi gambaran data sebanyak mungkin sesuai dengan tujuan penelitian yang telah peneliti tetapkan.
Untuk mencapai tujuan penelitian, metode penelitian yang utama yang akan dipakai adalah pengamatan. Peneliti akan ikut serta dalam semua kegiatan koperasi simpan pinjam, misalnya pertemuan kelompok dan pertemuan DIKLAT (pendidikan dan perlatihan). Selanjutnya, peneliti akan ikut rapat koperasi, misalnya rapat tribulan dan rapat anggota karyawan yang lain.
Metode penelitian yang kedua adalah wawancara. Untuk mendapatkan gambaran umum, peneliti akan mewawancarai anggota, PJ atau penanggung jawab kelompok, pengurus, manajer dan karyawan dari koperasi simpan pinjam yang sudah dipilih. Wawancara akan merupakan bagian besar penelitian ini untuk mendapatkan pemahaman koperasi simpan pinjam dari semua pihak.
            Semoga dengan kedua metode penelitian yang disebutkan diatas peneliti akan mendapatkan wawasan dan pengetahuan yang benar, agar bisa memperoleh data yang peneliti inginkan sesuai dengan tujuan yang telah peneliti tetapkan.
2.3. Keadaan Ekonomi di Kota & Kabupaten Malang Pada Saat Penelitian
Semua orang yang diwawancarai berpendapat bahwa secara umum keadaan ekonomi di Malang kota dan kebupaten sudah cukup baik. Tentu saja masih ada masalah masing-masing, akan tetapi secara luas orang yang diwawancarai senang dengan kemajuan dan perkembangan ekonomi. Menurut Kepala Dinas Perekonomian Kota Malang, sekarang ekonomi makin lama makin baik, dengan prioritasnya terhadap pendidikan (mau membebaskan masyarakat dari SPP, sumbangan penyelenggaraan pendidikan) dan UKM (Usaha Kecil Menengah). [31] Seperti pendapat Bu Anis, Pak Machfudz, salah satu pejabat di Dinas Perekonomian Kabupaten Malang, juga setuju bahwa secara keseluruhan ekonomi di Malang hampir merata. Dia juga menekankan fokusnya kepada UKM dan tekanan pemerintah daerah terhadap pinjaman ekonomi kerakyatan, yang khususnya buat UKM. Padahal, pada tahun 2002, pembinaan PEMDA (Pemerintah Daerah) di Kabupaten Malang mencapai Rp. 6.3 milyar. Pembinaan ini ke arah perternakan, pertanian, kehutanan, dan yang paling utama UKM. Bisa dilihat dari statistik ini bahwa pemerintah Malang berfokus kepada mendorong usaha masyarakat. Selanjutnya, UMR atau upah minimum regional di Malang sekarang adalah Rp. 543 000 per bulan (belum termasuk transportasi, makanan dan sebagainya). Angka ini juga mencerminkan keadaan ekonomi yang bagus dan stabil. [32] Nyonya Rasmiati dari PUSKOWANJATI, yaitu ketua Pusat Koperasi Wanita Jawa Timur, berpendapat bahwa pada saat ini orang yang di kelas bawah merasa kurang baik, sedangkan orang yang dari kelas menengah ke atas tidak terasa begitu, karena biasanya mereka bukan pengusaha jadi tidak ada kekurangan. Dia bilang bahwa kelas menengah ke atas merupakan bidang konsumptif, sehingga pengusaha, yaitu orang dari kelas bawah, bisa meningkat pendapatannya dengan jasanya. [33]
Menurut Kepala Dinas Perekonomian Kota Malang keadaan ini mungkin dikarenakan Malang sebagai “ Tri Bina Cita Kota”, yaitu kota pendidikan, kota pariwisata dan kota industri.
a)      Kota Pendidikan
Pertama-tama Malang adalah kota pendidikan. Ada banyak orang yang datang ke Malang untuk melanjutkan pendidikannya. Ini berdampak positif buat warga kota Malang oleh karena banykanya kebutuhan orang pendatang. Mahasiswa yang sedang kuliah punya kebutuhan pokok dan jasa konsumsi, misalnya pelayanan makanan dengan banyaknya warung makan, pelayanan kendaraan, warnet, wartel dan pondokan lain-lain. Jasa-jasa tersebut menciptakan lapangan pekerjaan baru untuk orang lain yang ada di kota Malang.
b)      Kota Pariwisata
Yang kedua, Malang adalah kota pariwisata. Biasanya turis datang ke Malang sebagai kota transit di antara Bromo atau Batu, bagi turis. Seperti yang di sini untuk kuliah, turis ini juga mempunyai keperluan. Sehingga ada jasa penginapan, makanan, oleh-oleh, yang khususnya menciptakan pekerjaan di bidang UKM, misalnya kerajinan tangan dan batik.


c)      Kota Industri
Yang ketiga, Malang adalah kota industri. Di Malang ada tingkat ketrampilan yang cukup tinggi. Oleh karena itu kota Malang menerima banyak investasti, sehingga teknologi yang sudah ada maju dan bagus.
Semboyan “Tri Bina Cita Kota Malang” yang telah ditetapkan tersebut, berdampak positif terhadap perkembangan dan pertumbuhan ekonomi, baik di kota maupun kebupaten Malang. Fenomena ini yang mampu melindungi Malang dari efek besar waktu ada Krisis Moneter pada tahun 1998. Bisa dikatakan bahwa tidak ada banyak stagnasi pada waktu krisis ini. Walaupun begitu, masalah kemiskinan terus-menurus berdampak di kota dan kabupaten Malang, seperti semua daerah di seluruh Indonesia. Oleh karena masalah ini, kota Malang berusaha untuk mengurangi dampak kemiskinan dengan pemberian sembako, sembilan kebutuhan pokok, misalnya beras kepada orang miskin. Menurut Bu Anis, “…kalau sedikit tetap sedikit bisa…” mengurangi dan mudah-mudahan menghilangkan kemiskinan. [34]
Orang yang diwawancarai juga ada yang berpendapat terhadap efek koperasi simpan pinjam yang ada di kota dan kabupaten Malang. Kalau dari sisi kota Malang, koperasi simpan pinjam dianggap sudah berhasil. Padahal Dinas kota Malang memberikan pembinaan kepada kira-kira 600 koperasi dan juga melaksanakan proses audit setiap tahun untuk koperasi ini. Bu Anis setuju sekali bahwa koperasi simpan pinjam bisa membantu dan memajukan ekonomi kota Malang. [35] Kalau di kabupaten Malang, juga ada pendapat baik terhadap koperasi simpan pinjam. Sekarang ada 109 koperasi simpan pinjam di kabupaten Malang yang berjalan bagus dan membantu ekonomi di bidang spesifik. Yang terkait dengan koperasi adalah UKM. Sudah ada kurang lebih 17 000 di kabupaten Malang yang kuat oleh karena cukup sumber daya manusia (SDM), modal, akses informasi dan tenaga kerja. Selanjutnya, Jawa Timur adalah pusat koperasi di Indonesia dan selalu ada motivasi dan pembinaan dari pemerintah. [36]          
Secara keseluruhan bisa dikatakan bahwa keadaan ekonomi baik di kota maupun kabupaten Malang cukup baik dan terus-menerus memajukan untuk menjadi lebih baik. Ada masalah, khususnya kemiskinan, akan tetapi oleh karena bantuan pemerintah dan pendirian koperasi dan UKM, keadaan makin lama makin baik.
2.4. Diskripsi Wilayah Penelitian
            Penelitian ini berfokus kepada dua koperasi simpan pinjam yaitu, Koperasi Setia Budi Wanita dan Koperasi Citra Kartini. Salah satu koperasi tersebut, Koperasi Setia Budi Wanita terletak di kota Malang. Sedangkan Koperasi Citra Kartini melayani anggota di Sumberpucung, Kabupaten Malang. Statistik paling baru yang tersedia adalah untuk tahun 2002. Oleh karena batasan informasi tersebut, ada kemungkinan pada saat penelitian statistik ini sudah berubah, tetapi pada umumnya statistiknya relevan.


2.4.1. Daerah Penelitian Koperasi Setia Budi Wanita – Kota Malang
2.4.1.1.       Penduduk
Pada tahun 2002, penduduk di kota Malang sudah mencapai 772 642 orang. Distribusi menurut umur dan jenis kelamin bisa dilihat di tabel berikut,
Tabel 2.1     Penduduk Kota Malang berdasarkan Usia & Jenis Kelamin, Tahun 2002

Kelompok Umur

Laki-laki

Perempuan
Jumlah
00-04
29 498
28 346
57 844
05-09
28 920
27 751
56 671
10-14
29 728
29 869
59 597
15-19
42 730
45 835
88 565
20-24
60 503
55 916
116 419
25-29
38 874
36 061
74 935
30-34
31 376
32 291
63 667
35-39
27 375
28 892
56 627
40-44
24 516
24 851
49 367
45-49
19 817
19 001
38 818
50-54
14 069
14 782
28 851
55-59
11 771
12 524
24 295
60-64
9 344
11 407
20 751
65-69
6 110
8 712
14 822
70-74
5 135
6 337
11 472
75+
3 995
6 306
10 301
JUMLAH
383 761
388 881
772 642
Sumber: Kota Malang dalam Angka 2002, BPS Kota Malang, hlm. 7.
Jumlah rumah tangga yang ada di Malang adalah 222 381. [37] Rata-rata, anggota per keluarga pada tahun 2002 adalah 4. [38] Pada umumnya, kepadatan penduduk per km2 pada tahun 2002 sudah mencapai 6 834. Ini sudah naik sedikit, dibandingkan dengan angka kepadatan 6 641 pada tahun 2000. [39] Status rumah yang ditempati oleh penduduk kota Malang sebagai berikut,

Bisa dilihat bahwa kebanyakan penduduk Malang, atau lebih dari 60% tinggal di rumah milik sendiri. Berkenaan dengan banyaknya kematian dan kelahiran, kota Malang sudah mengurangi angka tersebut secara drastis dalam tahun 2002. Angka kematian mengalami penurunan dari 3 917 pada tahun 2001, sampai 3 537 pada tahun 2002. Selanjutnya, jumlah angka kelahiran juga mengalami penurunan dari jumlah 28 191 pada tahun 2001 sampai 25 006 pada tahun 2002. [40]
2.4.1.2 Kesehatan
Kesehatan di kota Malang akan dibahas dalam rangka keluhan kesehatan. Tabel berikut menggambarkan keadaan berkenaan dengan keluhan kesehatan pada tahun 2002.
Tabel 2.2 Keluhan Kesehatan di Kota Malang, Tahun 2002

Tidak
Ya (1)
Ya (2)
Laki-laki
61.82
21.62
16.56
Perempuan
62.30
21.64
16.06
Sumber: Penduduk Kota Malang, Hasil Registrasi Akhir Tahun 2000-2002, BPS Kota Malang. Hlm, 84.
Keterangan
·         Ya (1) menyebabkan terganggunya pekerjaan, sekolah dan kegiatan sehari-hari.
·         Ya (2) tidak menyebabkan terganggunya pekerjaan, sekolah dan kegiatan sehari-hari.

Informasi di atas menggambar bahwa pada umumnya keadaan kesehatan di kota Malang cukup baik.
2.4.1.3  Pendidikan
Tingkat pendidikan di kota Malang bisa dilihat di tabel berikut,
Tabel 2.3 Tingkat Pendidikan di Kota Malang, Tahun 2002
Kelompok Umur
Tidak/Belum pernah sekolah
Masih sekolah
Tidak sekolah lagi
7-12
0.51
97.97
1.52
13-15
0.85
94.88
4.27
16-18
0.00
72.30
27.70
Sumber: Kota Malang dalam Angka 2002, BPS Kota Malang, hlm. 34.
Tabel ini menggambarkan tingkat pendidikan di Kota Malang yang cukup bagus. Selanjutnya, jumlah sekolah, murid dan guru menurut tingkat pendidikan negeri sebagai berikut,


Tabel 2.4     Jumlah Sekolah, Murid & Guru berdasarkan Tingkat Pendidikan Negeri, Tahun 2002


Sekolah
Murid
Guru

SD

256
58 251
2 447
SMP
22
19 502
1 136
SMU
10
8 363
606
SMK
6
4 660
373
Sumber: Kota Malang dalam Angka 2002, BPS Kota Malang, hlm. 26.
Kalau menurut pendidikan swasta, angka untuk Kota Malang begini,
Tabel 2.5     Jumlah Sekolah, Murid & Guru berdasarkan Tingkat Pendidikan Swasta, Tahun 2002


Sekolah
Murid
Guru
SD
58
12 649
679
SMP
68
14 661
1 163
SMU
38
12 974
1 036
SMK
38
16 087
1 157
Sumber: Kota Malang dalam Angka 2002, BPS Kota Malang, hlm. 26.
Tabel-tabel atas menggambarkan dominasi pendidikan swasta di kota Malang, khususnya di tingkat pendidikan yang lebih tinggi.
2.4.1.4. Pekerjaan
Tabel berikut menjelaskan penduduk usia 10 ke atas menurut kegiatan utama pada tahun 2002.


Tabel 2.6     Penduduk kota Malang Usia 10 ke atas Menurut Kegiatan Utama, Tahun 2002

Jenis Kegiatan Utama
Banyaknya (jiwa)
Persentase
1.   Angkatan Kerja


  • Bekerja
300 958
88.04
  • Mencari pekerjaan
40 899
11.96
Sub Jumlah
341 857
100.00
2.   Bukan Angkatan Kerja


  • Sekolah
152 231
49.05
  • Mengurus Rumah Tangga
112 844
36.36
  • Lainnya
45 276
14.59

Sub Jumlah

310.351
100.00
Sumber: Kota Malang dalam Angka 2002, BPS Kota Malang, hlm. 20.
Selanjutnya, persentase penduduk laki-laki dan perempuan usia 10 ke atas yang bekerja menurut lapangan usaha digambarkan di diagram berikut,

Dari diagram ini, kita bisa lihat bahwa pekerjaan yang paling dominan di kota Malang adalah industri, perdagangan dan jasa. Jenis pekerjaan utama juga penting untuk mendapatkan gambaran umum tentang pekerjaan. Di Kota Malang, persentase jenis pekerjaan utama menurut laki-laki dan perempuan sebagai berikut,
Tabel 2.7     Jenis Pekerjaan berdasarkan Jenis Kelamin di Kota Malang, Tahun 2002

Laki-laki
Perempuan
Profesional
5.62
10.88
Administrasi
1.33
0.3
Tata Usaha
7.85
9.60
Penjualan
23.10
30.49
Jasa
11.52
24.79
Pertanian
4.4
1.68
Produksi
46.13
22.26
Sumber: Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional Tahun 2002, Propinsi Jawa Timur, BPS Propinsi Jawa Timur, hlm. 171,172.

Lagipula, status pekerjaan utama penting untuk memahami keadaan di daerah penelitian kota Malang. Status pekerjaan utama menurut laki-laki dan perempuan bisa dilihat di tabel berikut,
Tabel 2.8     Status Pekerjaan Utama di Kota Malang berdasarkan Jenis Kelamin, Tahun 2002

Laki-laki
Perempuan
Berusaha sendiri
22.86
22.39
Berusaha dibantu buruh tidak tetap
7.02
7.82
Berusaha Bantu buruh tetap
8.29
2.18

Buruh/pekerja dibayar

59.64
62.51
Pekerja bebas di pertanian
0.43
0.00
Pekerja bebas di non-pertanian
0.43
0.00
Pekerja tidak dibayar
1.33
5.10
Sumber: Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional Tahun 2002, Propinsi Jawa Timur, BPS Propinsi Jawa Timur, hlm. 174,175.
            Pengeluaran perkapita sebulan di Kota Malang pada tahun 2002 sebagai berikut,



Tabel 2.9 Pengeluaran Perkapita Sebulan di Kota Malang, Tahun 2002.
Jumlah Uang (rupiah)
Persentase
< 40 000
0.00
40 000 – 59 999
0.00
60 000 – 79 999
0.00
80 000 – 99 999
4.12
100 000 – 149 999
18.86
150 000 – 199 999
19.70
200 000 – 299 999
23.36
300 000 – 499 999
19.88
> 500 000
14.09
Sumber: Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional Tahun 2002, Propinsi Jawa Timur, BPS Propinsi Jawa Timur, hlm. 214,215.

2.4.1.5. Profil Koperasi
Jumlah koperasi di kota Malang sudah cukup banyak. Tabel yang berikut menggambarkan keadaan koperasi pada tahun 2002 di kota Malang,
Tabel 2.10 Data tentang Koperasi di Kota Malang, Tahun 2002.
Jenis Koperasi
KUD
Primer Non KUD
Kop. Sekunder TKII
Jumlah koperasi
4
597
7
Jumlah anggota (orang)
5 220
90 081
84
Jumlah karyawan (orang)
18
1 480
21
Modal sendiri (000 Rp.)
238.528
55 390 403
1 905 343
Modal luar (000 Rp.)
2 311 324
80 042 178
1 027 109
Volum usaha (000 Rp.)
1 098 913
157 363 543
2 958 462
Sisa hasil usaha (000 Rp.)
20 791
7 823 756
129 582
Sumber: Kota Malang dalam Angka 2002, BPS Kota Malang, hlm. 106.
Jadi menurut profil tersebut, fokus penelitian ini adalah Koperasi Setia Budi Wanita, sebagai salah satu koperasi yang memiliki asset besar dibandingkan dengan koperasi lainnya di Kota Malang.


2.4.2.      Daerah Penelitian Koperasi Citra Kartini – Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang
2.4.2.1  Penduduk
Jumlah penduduk kecamatan Sumberpucung sudah mencapai 51 616 orang pada tahun 2000. Tabelnya berikut menggambarkan jumlah rumah tangga, penduduk, rasio jenis kelamin dan rata-rata anggota rumah tangga di kecamatan Sumberpucung.
Tabel 2.11   Jumlah Rumah Tangga, Penduduk, Rasio Jenis Kelamin & Rata-rata Anggota Rumah Tangga di Sumberpucung, Tahun 2002


Jumlah

Rumah tangga
13 658
Penduduk laki-laki
25 652
Penduduk perempuan
26 024
Rasio jenis kelamin
98.57
Rata-rata anggota rumah tangga
4
Sumber: Kabupaten Malang dalam Angka 2002, BPS Kabupaten Malang, hlm. 43.
Kepadatan penduduk di kecamatan Sumberpucung adalah 1.360/km2. [41] Penduduk menurut kelompok umur bisa dilihat di tabel berikut,


Tabel 2.12 Penduduk Sumberpucung Menurut Kelompok Usia, Tahun 2002

Kelompok Umur

Laki-laki
Perempuan
Jumlah
00-04
2 126
2 034
4 160
05-09
2 190
2 031
4 221
10-14
2 260
2 177
4 377
15-19
2 556
2 472
5 028
20-24
2 072
1 949
4 021
25-29
2 243
2 005
4 248
30-34
1 922
2 019
3 941
35-39
1 898
2 184
4 082
40-44
1 751
1 878
3 629
45-49
1 536
1 467
3 003
50-54
1 246
1 359
2 605
55-59
1 232
1 272
2 504
60 +
2 620
3 177
5 797
Sumber: Kabupaten Malang dalam Angka 2002, BPS Kabupaten Malang, hlm. 47-51.
2.4.2.2. Kesehatan
Berkenaan dengan kesehatan, fasilitas di kecamatan Sumberpucung sudah cukup baik. Padahal, nomor kunjungan ke Puskesmas menurun secara drastis di antara tahun 2000 dan 2001. Walaupun demikian nomor kunjungan sudah naik lagi pada tahun 2002.

Diagram di atas menggambarkan fluktuasi kunjungan ke puskesmas, dengan aksis vertikal merupakan kunjungan ribuan. Selanjutnya, pada tahun 2002 didirikan 1 rumah bersalin yang terletak di Sumberpucung. [42] Ini merupakan perkembangan bagus dibandingkan dengan kecamatan lain di kabupaten Malang. Juga ada 2 dokter dan 12 paramedis. Tenaga kesehatan di SUmberpucung sudah mencapai 1 122 ditambah dengan 20 dukun terlatih. [43]
2.4.2.3.Pendidikan
Tingkat pendidikan di kecamatan Sumberpucung lumayan dibandingkan dengan kecamatan lain di kabupaten Malang. Tabel berikut menggambarkan keadaan pendidikan pada tahun 2002.
Tabel 2.13 Jumlah Sekolah, Guru & Murid di Sumberpucung Tahun 2002.

Banyaknya

Sekolah

26
Guru
63
Murid Laki-laki
729
Murid Perempuan
753
Jumlah Murid
1 482
Sumber: Kabupaten Malang dalam Angka 2002, BPS Kabupaten Malang, hlm. 70.
Pada tahun 2001, jumlah murid SMK adalah 771. Dari jumlah ini sebanyak 224 lulus pada tahun itu dan ada 16 yang putus sekolah. [44]


2.4.2.4. Pekerjaan
Menurut tabel berikut, bisa dilihat bahwa kebanyakan angkatan kerja di kecamatan Sumberpucung bekerja di lapangan pertanian pangan, perdagangan dan
jasa.
Tabel 2.14   Lapangan Pekerjaan Menurut Jenis Kelamin di Sumberpucung, Tahun 2002


Laki-Laki
Perempuan
Jumlah
Pertanian Pangan
4 928
3 915
8 843
Perkebunan
32
16
48

Perikanan

146
13
159
Perternakan
182
54
236
Pertanian Lainnya
369
246
615
Industri Pengolahan
783
284
1 067
Perdagangan
1 773
2 482
4 255
Jasa
3 839
2 351
6 190
Angkutan
996
60
1 056
Lainnya
1 545
1 140
2 685
Sumber: Kabupaten Malang dalam Angka 2002, BPS Kabupaten Malang, hlm. 58-63.
            Jumlah kios di kecamatan Sumberpucung sudah mencapai 547, sedangkan jumlah pedagang adalah 519 pada tahun 2002. [45]
2.4.2.5. Profil Koperasi
Perkembangan koperasi di kecamatan Sumberpucung sudah cukup banyak. Pada tahun 2002 ada 17 koperasi dengan jumlah anggota 10 153. Jumlah simpanan dari koperasi tersebut sudah lebih dari Rp. 1 milyar. Walaupun demikian, jenis koperasi ini terutama konsumen dan produsen. Hanya ada satu koperasi simpan pinjam, yaitu Koperasi Citra Kartini yang terletak di Desa Senggreng. [46]
2.5. Kesempatan Lain untuk Kredit di Daerah Penelitian
“ Uang telah menjadi alat yang paling penting dalam kehidupan sosial.” [47]
            Menurut Nugroho, kalimat ini merupakan inti yang melatar munculnya beraneka ragam lembaga keuangan formal dan informal di negara Indonesia. Semua orang perlu uang, dan untuk jutaan warga negara Indonesia masalah uang terus-menerus berdampak kepada hidupnya, yang paling terpengaruh secara jelas adalah orang miskin. Selanjutnya,
“…proses-proses ekonomi, termasuk tindakan ekonomi individu, tidak bisa dipisahkan dari pengaruh faktor-faktor sosial budaya yang berlaku dalam sebuah masyarakat…” [48]
Proses peminjaman uang sebenarnya tidak mudah, dan ada beberapa jalur yang tersedia untuk kredit. Yang pertama, uang bisa dipinjamkan dari bank. Menurut Hudiyanto, syarat-syarat bank yang diperlukan kalau mau dapat kredit sebagai berikut:
1.      Karakter – watak dan pribadian nasabah yang memungkinkan bisa dipercaya.
2.      Kapasitas – kemampuan yang memadai bagi nasabah dalam mengelola usaha yang dibiayai dengan kredit.
3.      Kapital (permodalan) – kemampuan keuangan yang diukur dari perimbangan jumlah hutang dengan modalnya sendiri.
4.      Jaminan – menyangkut ketersediaan barang-barang dalam perusahaan yang bisa dijadikan jaminan sesuai dengan jumlah hutangnya.
5.      Syarat-syarat – berkaitan dengan kecendurungan usaha dalan hubunganny dengan kondisi lingkungan usaha atas perekonomian. [49]
Bisa dilihat, bahwa syarat-syarat bank sangat lengkap dan rumit, dan pada umumnya tidak mungkin bagi para orang miskin yang ada di Indonesia untuk meminjamkan di bank. Menurut beberapa anggota Koperasi Citra Kartini, kalau mau pinjam dari bank susah sekali, harus ada survei, dan jaminan yang orang miskin tidak punya. [50] Anggota lain dari koperasi yang sama, setuju dengan pendapat ini, mengeluhkan tentang tuntutan berat, bunganya tinggi dan prosesnya yang rumit. [51] Jadi, bisa dikatakan bahwa untuk kebanyakan orang di Indonesia proses dan syarat yang wajib kalau mau pinjam dari bank tidak cocok dengan keperluan orang masing-masing. Salah satu anggota KPPK (Kelompok Pengusaha Perdagang Kecil) dari Koperasi Setia Budi Wanita berkomentar bahwa walaupun Indonesia adalah negara berkembang prosedur peminjaman uang di bank yang dilaksanakan sama dengan prosedurnya dari negara maju, jadi tidak pantas dengan kebutuhan negara ini. [52]
            Oleh karena keadaan ini, ada banyak lembaga keuangan informal yang muncul, yang merupakan respon terhadap rigitas aturan yang dibuat oleh lembaga-lembaga kredit formal seperti bank. Lembaga keuangan informal termasuk rentenir, komisi pinjaman, kelompok tabungan dan kredit non-rotasi, mindrink, rumah gadai, pedagang-pedagang besar, tuan tanah, bank-bank tradisional, bank harian dan koperasi. [53] Yang paling lazim di daerah penelitian adalah bank harian. Bank harian ini dimana-mana, dan sangat penting dalam peredaran uang di Malang. Salah satu contoh bank harian yang sedang beroperasi di kota Malang akan dibahas dalam penelitian ini.
2.5.1. Bank Harian – SEJAHTERA
Salah satu anggota dari KPPK di Koperasi Setia Budi Wanita sudah memiliki bank harian selama 4 tahun. Terletak di kota Malang, bank harian ini, belum resmi, namanya “Sejahtera”, memberikan pinjaman kepada kurang lebih 400 orang. Pinjaman minimal adalah Rp. 100 000 dan pinjaman maksimal adalah Rp. 5 juta. Simpanan mencapai Rp. 50 000 setiap Rp. 1 juta pinjaman, dan simpanan ini dikembalikan pada waktu Lebaran. Bunganya di bank harian ini adalah 20 per sen, jumlah ini rata biasa untuk bank harian lain yang ada di daerah Malang. Untuk bank harian ini jangka waktu dengan pinjaman adalah 24 hari. Kebanyakan anggota mempunyai usaha atau pekerjaan seperti penjual di pasar, dan pemilik bank harian ini selalu mencari nasabah sendiri. Syarat untuk menjadi anggota sangat mudah, tanpa KTP (kartu tanda penduduk), pemiliknya hanya menginspeksi rumah dan berbicara dengan nasabah. Menurut pemiliknya,
                        “…lebih dimudahkan jadi saya banyak nasabah…”
Selanjutnya, tidak ada jaminan resmi, hanya saling percaya di antara nasabah dan pemilik. Prosesnya angsuran sangat informal dan dilaksanakan secara relaks untuk manfaat anggotanya dan pemilik sendiri. Anggotanya mencari pemilik, biasanya mereka bertemu di rumah pemilik, jam kerjanya bebas biar semua pihak senang. Lagipula, kalau ada nasabah yang belum lunas tetapi ingin pinjam lagi, mereka biasanya boleh, kalau dipercayai mampu. Selanjutnya, uang transport tersedia supaya anggota bisa datang ke rumah pemilik tanpa tambah harga. Menurut pemilik, secara umum tidak ada masalah. Kalau ada nasabah yang tidak bisa bayar mereka bisa bayar hari yang berikut, katanya pemilik, “…tidak apa-apa…”.
            Bisa dikatakan bahwa pemilik bank harian ini sangat berhasil dan pintar. Dengan pinjaman sendiri dengan bunga 3% dari KPPK, Koperasi Setia Budi Wanita, anggota ini meminjamkan uangnya kepada nasabah bank harian dengan bunganya 20% dan mendapatkan keuntungan sebesar 17%. Katanya pemilik, kalau bunganya sedikit, malas jalannya.
            Bisa dilihat bahwa ada beberapa perbedaan di antara bank harian dan koperasi simpan pinjam, yaitu, data, bunga, pelayanan dan simpanan. Selanjutnya, koperasi simpan pinjam merupakan pemilikan anggota, sedangkan bank harian merupakan pemilikan perorangan. Juga, tidah ada sisa hasil usaha di bank harian. Studi kasus ini menggambarkan salah satu alternatif yang tersedia di daerah penelitian untuk kredit.[54]


BAB III

HASIL PENELITIAN


3.1. STR – Sistem Tanggung Renteng
STR atau Sistem Tanggung Renteng dilahirkan di KoperasiSetia Budi Wanita oleh pendirinya Ibu Mursiah Zaafril. STR merupakan basis untuk prosedur pinjaman di kebanyakan koperasi simpan pinjam di Malang. STR dipakai sebagai jaminan sosial yang tercipta berdasarkan nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat, yaitu, kebersamaan, tolong-menolong dan kepercayaan antar anggota masyarakat. Inilah sistem bergotong-royong dan kebersamaan, biar kalau ada kesulitan, kelompoknya kerja sama untuk meringankan. Kalau ada yang jahat, semua anggota lain di kelompok harus bertanggung jawab. Oleh karena ini, proses untuk menjadi anggota di koperasi simpan pinjam harus selektif dan anggota harus sudah kenal sama anggota baru. [55]
Jadi, STR ini, dilaksanakan sebagai berikut. Semua anggota yang ada di setiap kelompok harus bertanggung jawab kepada anggota masing-masing. Yang disampaikan di Rapat Triwulan di Koperasi Citra Kartini,
“…semua anggota harus setuju, anggota harus berani menahan risiko atau harus berani menolak…itulah tanggung renteng…” [56]
Kalau ada anggota baru yang minta ijin masuk, semua anggota lain harus membuat kesepakatan didasarkan tingkat kepercayaan sama anggota itu. Selanjutnya, pertemuan menjadi hal yang wajib, karena bagaimana bisa muncul jiwa kebersamaan bila di antara anggota tidak terjadi interaksi, dan kalau tidak ada jiwa kebersamaan, bagaimana mungkin di antara mereka mau saling menanggung jiwa individu yang justru akan menonjol? Maka, bisa dikatakan bahwa sistem ini, yaitu STR, merupakan dasar koperasi simpan pinjam. STR merupakan alat yang dikembangkan agar fasilitas pelayanan terhadap kebutuhan anggota tidak susut bahkan terus dikembangkan.
Lagipula, pelaksanaan STR mengurangi masalah pembayaran secara drastic. Dengan STR, kalau ada anggota yang tidak membayar kewajibannya maka, seluruh anggota dalam kelompok itu menanggungnya jadi mau tidak mau, setiap anggota akan saling kontrol dan mengingatkan supaya tidak lalai dalam menemuhi kewajibannya. [57] Setiap kelompok berkewajiban untuk mengembangkan nilai-nilai kebersamaan, kepercayaan, kepedulian, dan empati, baik dalam sisi kemanusiaan maupun kewajiban berupa finansial. Mekanisme tanggung renteng dapat digunakan sebagai alat untuk pemberdayaan anggota melalui pembinaan, serta dapat dipakai sebagai pengaman aset koperasi melalui bentuk saling menanggung pada segi finansial bila terjadi masalah. [58] Selanjutnya, kelompok menyediakan interaski, saling tanggung rasa, saling menghargai dan menjaga diri – harus ada disiplin dan kebersamaan dalam menemuhi kewajiban sebagai menerima kredit. Oleh karena ini, ada peningkatan harga diri, kesejahteraan masyarakat dan rasa tanggung jawab sosial.
“ Melalui kelompok rakyat miskin menjadi ‘bankable’ karena tanggungan dapat ditanggung renteng.” [59]
STR yang diciptakan oleh Ibu Mursiah Zaafril merupakan permulaan kredit yang berbeda untuk orang Indonesia dan hal ini masih merupakan inti kebanyakan koperasi simpan pinjam.
3.2. PUSKOWANJATI – Pusat Koperasi Wanita Jawa Timur
3.2.1. Fungsi
PUSKOWANJATI atau Pusat Koperasi Wanita Jawa Timur, merupakan salah satu warna koperasi yang memperkuat gerakan koperasi di Indonesia dalam rangka melaksanakan proses pemberdayaan masyarakat terutama dalam bidang ekonomi. PUSKOWANJATI adalah sekunder untuk 45 koperasi simpan pinjam atau koperasi primer di daerah Jawa Timur, Indonesia. Jumlah anggotanya PUSKOWANJATI sudah mencapai 40 000 orang. Semua koperasi simpan pinjam yang dibina oleh PUSKOWANJATI memakai STR atau Sistem Tanggung Renteng sebagai dasarnya pinjaman.
VISI:
Memperjuangkan harkat dan martabat perempuan.
MISI:
  1. Memberdayakan koperasi wanita dan masyarakat.
  2. Membentuk jaringan kerjasama antara koperasi wanita.
  3. Memperjuangkan hak-hak ekonomi perempuan.
PUSKOWANJATI menyediakan dana pertama untuk koperasi primernya dan berperan sebagai pembina untuk koperasi simpan pinjam yang berada di bawah payung PUSKOWANJATI. Sebenarnya, 72% sumber dana berasal dari pemupukan modal sendiri, sedangkan 28% yang lain berasal dari pihak lain. PUSKOWANJATI bekerja sama dengan beraneka ragam organisasi, antara lain, USAID, CCA, CRS, FES, Ford Foundation dan Asia Foundation. PUSKOWANJATI berusaha mengaplikasikan semangat koperasi, yaitu gotong-royong, kebersamaan dan kemandirian.
3.2.2. Daftar dan Lokasi Koperasi Primer PUSKOWANJATI
1.      Koperasi Waspada – Surabaya
2.      Koperasi Madubronto – Madiun
3.      Koperasi Trisula – Mojokerto
4.      Koperasi Sidomukti – Caruban, Madiun
5.      Koperasi Rahayu – Lamongan
6.      Koperasi Amrih Rahayu – Tulangan, Sidoarjo
7.      Koperasi Rukun Wanita Jaya – Kediri
8.      Koperasi Sidoluhur – Madiun
9.      Koperasi Setia Bhakti Wanita – Surabaya
10.  Koperasi Setia Budi Wanita – Malang
11.  Koperasi Setia Kawan - Probolinggo
12.  Koperasi Wanita Hemat – Probolinggo
13.  Koperasi Setia Kartini Wanita – Sidoarjo
14.  Koperasi Wanita Utama – Bangkalan
15.  Koperasi Kartika Candra – Pandaan
16.  Koperasi Dian Wanita – Prigen, Tretes
17.  Koperasi Mekarsari – Situbondo
18.  Koperasi Sekar Kartini – Jember
19.  Koperasi Kartini – Madiun
20.  Koperasi Kencono Wungu – Mojokerto
21.  Koperasi Sedar – Lumajang
22.  Koperasi Bestari – Probolinggo
23.  Koperasi Arga Dewi – Gedog, Blitar
24.  Koperasi Potre Koneng – Sumenep
25.  Koperasi Citra Kartini – Malang
26.  Koperasi Citra Lestari – Lawang
27.  Koperasi Mandiri – Nganjuk
28.  Koperasi Karunia Wanita – Bangil
29.  Koperasi Arga Kencana – Jombang
30.  Koperasi Kinanti – Malang
31.  Koperasi Ratna Puri – Prigen, Tretes
32.  Koperasi Kowapi Kencana – Mojokerto
33.  Koperasi Sekartaji – Kediri
34.  Koperasi UP2K PKK – Rahayu – Kediri
35.  Koperasi Kartnin – Nganjuk
36.  Koperasi Mawar Putih – Sukun, Malang
37.  Koperasi Cahaya – Wagir, Malang
38.  Koperasi Sukun Makmur – Malang
39.  Koperasi Kartini Mandiri – Batu
40.  Koperasi Nurul Yaqin – Probolinggo
41.  Koperasi Srikandi – Gudo, Jombang
42.  Koperasi Sakinah – Jombang
43.  Koperasi Al Hikmah – Nongkojajar, Pasuruan
44.  Koperasi Setia Rahayu – Ngawi
45.  Koperasi Dharma Medika - Probolinggo
3.2.3. Sejarah
            PUSKOWANJATI berawal pada tahun 1957 dari terbentuknya sekunder koperasi batik yang dipimpin oleh ibu-ibu, di daerah Madiun dengan namanya ‘MANTRASTUTI’. ‘MANTRASTUTI’ melangkah lebih jauh dengan mengembangkan koperasi sekunder untuk koperasi wanita di seluruh daerah Jawa Timur. Maka, dari pergabungan 3 koperasi batik tersebut, MANTRASTUTI memperluas untuk menjadi apa yang dikenal sebagai PUSKOWANJATI ini.
Pada tanggal 1 Maret 1959, di Jalan Ijen, ada deklarasi PUSKOWANJATI. Deklarasi ini dihadiri oleh 20 koperasi primer wanita dengan semangat yang tetap sama, yaitu untuk mempersatukan koperasi wanita dan menjalin kerukunan di antara wanita di Jawa Timur. Pada awalnya PUSKOWANJATI diketuai oleh Ibu Suradji. Dari tanggal tersebut PUSKOWANJATI mengembangkan untuk menjadi lebih luas dan lebih terkenal di wilayah Jawa Timur.
Di rapat PUSKOWANJATI pada tanggal 20 Oktober 1968 dan sesudah akte bertanggal 4 November 1968, ada perubahan nama PUSKOWANJATI menjadi Pusat Koperasi Karya Wanita Jawa Timur. Perubahan ini terjadi oleh karena persepsi kurang baik terhadap kalimat koperasi wanita yang diidentikkan dengan wanita dikoperasikan.
Pada tahun 1978 pengurus PUSKOWANJATI belajar di Koperasi Setia Budi Wanita, yang terletak di Malang. Sebenarnya, pada waktu ini, kantornya PUSKOWANJATI dipindahkan dari Surabaya ke Malang. Dengan perbaikan manajemennya PUSKOWANJATI bertujuan,
“ Mewujudkan kemajuan kaum perempuan melalui penguatan organisasi.”
            Pada tahun 1985, kantor PUSKOWANJATI dipindahkan ke Jl. Trunojoyo, Malang. Untuk memperlancar aktifitas penguatan organisasi primer pada tahun 1986, PUSKOWANJATI mengangkat pembina sebagai petugas lapangan membantu tugas pengurus melakukan pembinaan di primer.
            Di antara tahun 1980 dan 1987, PUSKOWANJATI,
“…mampu mengumpulkan kembali anggotanya yang tersebar membangun dan menyadarkan primer-primer yang sedang kolaps untuk bangun serta memotivasi mereka secara terus-menerus mampu membuat rasa aman bagi anggota dengan PUSKOWANJATI sebagai penangan bila terjadi sesuatu, menjadi tempat bertanya dan mengadu apabila terjadi masalah kelembagaan…”
Akhirnya, pada tahun 1988, kantor PUSKOWANJATI dipindahkan lagi ke Jl. Balearjosari 38, dan tetap di sana sampai sekarang. Selanjutnya, pada tahun 1994, nama organisasi ini dikembalikan ke asalnya yaitu Pusat Koperasi Wanita Jawa Timur. [60]
3.2.4. Hubungan Primer dan Sekunder
PUSKOWANJATI berperan sebagai koperasi sekunder untuk 45 koperasi simpan pinjam primer yang terletak di seluruh wilayah Jawa Timur. PUSKOWANJATI merupakan sebuah jaringan informasi, usaha, pusat studi, pemberdayaan dan pengembangan sumber daya manusia bagi primer-primer anggota. Koperasi sekunder, yaitu PUSKOWANJATI memberikan pelindungan serta pelayanan bagi primer koperasi wanita untuk meningkatkan kwalitas SDM koperasi. PUSKOWANJATI berfungsi sebagai saluran aspiratif primer untuk tingkat hubungan yang lebih tinggi. Di pihak lain, koperasi primer merupakan pengelola langsung pemberdayaan dan peningkaran kwalitas SDM di tingkat anggota perorangan, juga kewajiban menumbuhkan dan mengembangkan jiwa wirausaha di tingkat bawah bagi perempuan.
Hubungan ini saling menopang di mana keterkaitan hubungan tersebut membawa dampak yang menguntungkan antara 2 pihak. Ini adalah hubungan struktural yang mencerminkan prinsip subsidaritas dan demokrasi dalam koperasi. Struktur hubungan ini bisa dilihat di diagram yang berikut.

Ingin versi Lengkap dari makalah koperasi yang berjudul koperasi simpan pinjam di kota dan kabupaten malang ini? , Silahkan klik Download

Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "DOWNLOAD MAKALAH KOPERASI KOPERASI SIMPAN PINJAM DI KOTA DAN KABUPATEN MALANG"

PageRank

PageRank for wirajunior.blogspot.com
 
Template By Kunci Dunia
Back To Top