SILABUS DAN RPP BLOG

RPP lengkap Kurikulum 2013 dan KTSP

TIPS MENGATASI ANAK TIDAK MAU BERSEKOLAH

Pendidikan memiliki peranan penting untuk menyiapkan masa depan anak. Namun tidak sedikit anak-anak yang justru malah takut atau menjadi malas untuk bersekolah. Jika anak-anak sudah malas masuk sekolah maka orang tua akan kerepotan dibuatnya apalagi jika orang tua telah mengeluarkan biaya banyak untuk bisa masuk ke sekolah tersebut. Mari kita simak tips sederhana dan praktis ini supaya orang tua bisa memahami apa yang sedang terjadi pada diri anak.
1. Identifikasi permasalahan
Orang tua sebaiknya mencari tahu mengapa anaknya enggan untuk masuk sekolah. Hal ini bisa dilakukan secara langsung ke sang anak atau dengan mengamati apa yang terjadi pada lingkungan sekitar termasuk pada orang tua sendiri.
2. Berbicaralah dengan si anak secara lembut
Tidak semua anak ingin berbagi cerita mengapa dia tidak masuk sekolah. Lakukan pendekatan yang baik sehingga sang anal mau menceritakan apa yang sedang terjadi. Ciptakan rasa nyaman jika orang tua juga sebagai temannya untuk berbagi cerita.
3. Amati lingkungan sekolah
Lakukanlah pengamatan secara baik tentang lingkungan sekolah mengapa anak tidak menyukai lingkungan sekolahnya. Catat hal-hal yang membuat anak menjadi enggan ke sekolah seperti faktor fasilitas sekolah, pengajar, dan teman-teman di sekolah.
4. Refleksi orang tua
Orang tua sebaiknya melakukan refleksi diri tentang sekolah anaknya. Apakah pemilihan sekolah tersebut atas kemauan anak atau kemauan orang tua? Apakah sudah ada diskusi dengan anak sebelum memutuskan sekolah? Tidak jarang orang tua bertindak otoriter sehingga anak tidak menikmati sekolahnya.
5. Lakukan konsultasi dengan ahlinya
Jika orang tua tidak sanggup lagi mengatasi anak yang tidak mau masuk sekolah sebaiknya melakukan konsultasi dengan ahlinya seperti pihak bimbingan konseling dari pihak sekolah atau pihak luar seperti psikolog. Tidak jarang anak akan lebih terbuka dengan orang lain daripada orang tuanya sendiri.
Kedewasaan seringkali dijadikan landasan untuk memberikan kebebasan mengatur pola belajar. Ironisnya seringkali siswa / mahasiswa terpeleset dengan rancangan pembelajarannya sendiri sehingga hasil belajarnya justru tidak berkualitas. Rasa malas dan menunda-nunda pekerjaan seringkali menghiasi proses belajar yang tidak terkontrol sehingga kegiatan belajar dengan pemberian target (baca: dipaksa) tetap diperlukan.
Dari obroal dengan beberapa guru, saya menyimpulkan jika siswa cenderung merasa malas untuk belajar jika tanpa adanya intervensi. Hal ini juga diamini oleh beberapa pengajar di perguruan tinggi yang menyatakan jika mahasiswa cenderung mengumpulkan tugas yang kurang berkualitas dan molor jika tugas jika mereka diberikan kebebasan untuk mengelola sendiri pencapaian belajarnya. Mungkin ini bisa dilihat melalui kacamata budaya masyarakat Indonesian yang cenderung untuk didikte.
Seorang mahasiswa mengungkapkan jika dirinya merasa berat ketika dipaksa oleh dosennya untuk ujian TOEFL setiap 4 bulan sekali sebagai prasyarat wajib untuk menjadi asisten. Dia menyampaikan jika selama kuliah dia telah mengambil TOEFL lebih dari 15 X. Semua keterpaksaan itu telah membuahkan hasil. Dia kini merasakan jika skor TOEFLNYA selalu tinggi setiap tes TOEFL. Di status Facebooknya juga mengakui betapa TOEFL yang dijadikan prasyarat pada waktu itu telah memberikanya banyak sekali manfaat. Saat ini ketika mengambil tes TOEFL selalu mendekati 600.
Contoh lainnya adalah mahasiswa akan mengumpulkan tugas tepat waktu jika diberikan informasi sanksi yang berat jika tugas terlambat dikumpulkan. Tidak sedikit mahasiswa yang justru menumpuk-numpuk tugas ketika tugas diberikan dalam jangka waktu yang relatif lama dan banyak toleransi dalam pengerjaannya pengumpulannya.
Semangat belajar yang membara dengan mudah bisa luntur. Misalnya, tidak sedikit mahasiswa yang membangun kebiasaan untuk belajar setiap dini hari. Alarm HP pun sudah disetting sedemikian rupa. Ironisnya ketika alarm membangunkan justru malah dimatikan kembali. Rencan hanya tinggal sebuah rencana tanpa realisasi yang nyata.
Secara teori memang ada banyak sekali metode pembelajaran. Suatu metode yang tidak tepat diterapkan ditempat A bisa jadi cocok untuk diterapkan ditempat B karena metode baru dan hebat ditempat A belum tentu cocok dengan kultur dari masyarakat  setempat.  Menurut saya, metode konvesional tetap bisa diterapkan jika memang hasilnya jauh lebih maksimal daripada metode belajar yang sedang populer yang justru hanya mencari sensasi. Filosofi belajar adalah target utamanya kualitas hasil belajar bukan metode yang diterapkan.
Sekian dan semoga bermanfaat.....
Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "TIPS MENGATASI ANAK TIDAK MAU BERSEKOLAH"

PageRank

PageRank for wirajunior.blogspot.com
 
Template By Kunci Dunia
Back To Top